Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 50 Terbukanya Hati


__ADS_3

"Aaaaaah..."


"Hmmmm..."


"Aaaaaah..."


Semakin kuat. "Aaaaaah..."


Pelan lagi. "Emmmm... Enak."


Plak!


"Gila lu Sha, mendesah gitu. Gimana kalau orang luar dengarin lu seperti itu. Bisa-bisa di katain lesbian kita di sini. Masalah Mas Abyan sama gitar spanyol belum selesai, elu nambahin masalah." kesal rasanya lagi pijitin Falisha berakhir memukul bokongnya. Akibat terpeleset di depan kamar, pembantu lagi ngepel lantai dirinya sibuk berlarian keluar.


Gue yang turun mau bikin sarapan, nggak jadi. Untung hanya gue yang lihat yang lain masih di kamar. Hanya ada asisten yang lagi ngepel lantai sih.


Dimana merasa sedikit kesal setelah semalam mencium pipi Mas Abyan dengan pintanya. Kami berdua langsung tidur aja. Nggak ada bermain goyangan zumba.


Giliran gitar spanyol, langsung ngap sedangkan gue.


Aaaaaah!


Kesal gue, ingin marah nggak bisa. Emang salah gue juga pakai acara jual mahal. Tunggu! Kenapa gue yang agresif gini ya? Ih sadar Zahra sadar memukul kepala pelan.


"Habis enak Ra, pijatan elu." balas Falisha yang guling telungkup.


"Iya diam aja, nggak perlu mendesah juga kali." lanjut memijit punggung Falisha.


"Iya iya! Eh elu semalam gimana sama Mamas. Udah baikan belum atau lanjut main kuda-kudaan?"


"Udah baikkan dengan cara mencium pipi Mas Abyan. Udah berdebat, cium, tidur."


"Itu aja?"


"Iya aneh ‘kan elu, sama gue juga."


Falisha duduk. "Benaran hanya itu aja. Gue kok nggak percaya."


"Nih nggak percaya." langsung berdiri lompat-lompat, goyang pinggul, nari balet.


"Elu kenapa Ra, kesurupan?" aneh Falisha melihatku.


"Bukan! Ini adalah pertanda masih virgin, kalau udah buka segel nggak seperti ini." masih menari.


Berhenti kembali duduk di atas ranjang. "Eh masih penasaran gue, gimana lu bisa ngajak Ayah, Oma, Ibu, Hanum, Mas Darman dan beberapa asisten rumah tangga? Kata Hanum semua ruangan kedap suara, kenapa bisa terdengar?" ingin tau gue.


"Oh itu, semalam gue temuin Bi Tanti dan tiga lainnya di kamar mereka. Gue minta mereka berakting sebagus mungkin untuk mendapatkan perhatian Ayah, Ibu, Oma, Hanum, Mas Darman. Siapa yang bisa membawa mereka kumpul dengan alasan menangkap maling, yang bersembunyi di salah satu kamar, mereka berhasil, gue kasih hadiah handphone mahal keluaran terbaru. Lagian mereka juga suka ngadu sama gue, soal Siska yang suka bersikap sombong. Menganggap dirinya itu nyonya besar disini. Oh ya, soal kita semua bisa mendengar suara, gue pasang alat khusus di depan pintu menyuruh asisten rumah tangga."


"Oh gitu! Terus gue nggak di kasih."


"Elu minta sama Mamas, suami elukan kaya."


"Elukan adiknya."


"Elukan istrinya Mamas gue." gigihnya dalam berdebat.


"Ah nggak seru."


"Iya udah entar gue bagi." ngalahnya.


"Nggak jadi."


"Ih nggak komitmen banget sih lu."


"Terus-terus pas gue di kamar, tuh gitar spanyol di apain?"


"Jelaslah berakting sedih, merasa di rugikan dengan kerasnya dia."


"Nggak seru, gue nggak lihat."


"Tapikan seru elu sama Mamas di kamar."


"Mana ciuman doang. Tapi serunya gue bisa nyindir, marah, semuanya gue luapkan. Sampai-sampai gue tanya Mamas tuh cinta nggak sama gue."


"Jawabannya?"


"Hanya sayang aja. Nggak cinta."

__ADS_1


"Mungkin malu Ra mengungkapkannya."


"Emang dia cewek malu? Sudahlah gue merasa di tolak."


"Eh elu suka sama Mamas ya?"


"Entahlah."


"Serius Ra?"


"Hmmm, sepertinya iya Sha."


"Hore..." Falisha berdiri lompat-lompat.


"Lu udah sembuh lompat gitu, perasaan tadi jalan ke kamar aja seperti orang patah tulang."


"Itu hanya akting supaya elu ke sini."


"Jadi elu minta pijitin supaya apa coba?"


"Gue ‘kan suka dengan pijitan elu yang khas."


"Hmmm, Iya udah nggak usah terlalu senang gitu juga kali, ni ranjang bisa-bisa ambles ke bawah."


"Biarin! Mari hari ini kita berpesta, atas terbukanya hati Zahra setelah delapan tahun lamanya."


"Gue dinas masuk malam."


"Yah, kenapa nggak ambil cuti aja?"


"Nggak bisa Sha, kemarinnya lagi gue udah libur tiga hari, gara-gara lembur. Ini aja gantian shift sama Mika."


"Besoknya masuk apa?"


"Belum lihat jadwal gue."


"Gue kasih hadiah aja."


"Terserah elu lah, jangan aja aneh-aneh."


"Entar aja, tunggu Mamas benar-benar mencintai elu."


"Di jamin." memejamkan mata sebelah, dengan gaya emoji ok.


"Oh iya gue mau tanya kemarin lupa. Itu Ishana sama Oma mau ke Paris katanya gua buka stand di sana. Lu tau nggak kabar burung dari mana itu?"


"Oh itu, gue yang buat." senyumnya.


"Lu jangan berbuat merugikan orang lain lah, kasian yang sudah di sana. Jelek banget entar nama gue."


"Tenang, itu yang nyebarin bukan gue langsung. Tapi orang suruhan gue aja."


"Yah tapikan Sha, tetap aja itu salah, sampai-sampai gue kena imbasnya. Oma marah-marah tau."


"Marah gimana?


"Katanya kalau Zahra yang asli mau dan setuju, Mas Abyan harus menjadikannya istri ke-dua. Terus gue di suruh mundur perlahan."


"Arwah elu maksudnya di suruh mundur."


"Jin qorin! Terus gue yang di sebut barang tiruan ini, nggak boleh ikut kemanapun kalau ada acara."


"Segitunya."


"Iya."


"Tapi kemarin Oma sama Ibu datang ke apartemen dengan waktu yang kurang tepat."


"Kenapa bisa gitu?"


"Gue lagi ciuman panas sama Mas Abyan. Lambat datang habis gue buka segel."


"Ih nggak seru! Kenapa pula kalian bisa ciuman gitu."


"Mas Abyan sepertinya ngerayu gue. Gara-gara gitar spanyol. Gue sebagai istri lihat gituan, terus suami menjelaskan tanpa bukti. Hayo apa yang elu pikirkan?"


"Jelaslah gue marah Ra. Kalau bisa minta pisah."

__ADS_1


"Nah masalahnya gue nggak gitu. Gue masih marah dan mau ke kamar aja mensterilkan pikiran gue yang nggak tau salah atau benar."


"Terus?"


"Yang mana?"


"Oma ngapain sama Ibu kesana?"


"Sepertinya mau minta maaf, mungkin ucapannya nggak boleh datang ke acara apapun. Iya gue menjelaskan sama Mas Abyan ke pembahasan yang lain dengan alasan Oma kesal gara- gara gue menumpahkan minuman jus nggak sengaja terkena pakaian Oma. Jelas Mas Abyan hampir marah, Oma langsung bicara langsung meminta gue agar hadir yang di sampaikan oleh Ibu Sari sebagai juru bicara. Tanpa kata maaf! Gue rasa Oma mau minta maaf namun malu atau hal lain nggak tau gue."


"Oh gitu! Terus elu sama Mamas tadi gimana?"


"Mas Abyan langsung aja menarik gue duduk kembali, terjadilah adegan panas."


"Coba Oma sama Ibu nggak datang."


"Selesai urusan persegelan. Bisa jadi enggak."


"Iya kalau udah gitu pastilah terjadi Ra nggak mungkin."


"Eh belum tentu, siapa tau Mas Abyan nggak selera sama gue. Buktinya tadi malam damai aja."


"Tapikan itu udah panas, biasanya setan mulai bersorak gembira. Hayo lanjutkan, nikmat, enak, tebas sampai habis jangan di kasih sisa."


"Lu masih virgin ‘kan, Sha?"


"Masihlah! Pacaran aja di putusin terus, dengan alasan gue terlalu tinggi untuk di gapai."


"Tapi cerita elu ngeri gue."


"Walau gue belum pengalaman, gue banyak nonton film dan baca novel."


"Gila lu mesum."


"Bukan mesum, mencari ide buat perfilman."


"Emang elu mau bikin film biru?"


"Enggaklah Ra, gila lu."


"Lu yang gila."


"Iya udah kita sama-sama aja gilanya hahaha..."


"Yuk kita ke rumah sakit jiwa."


"Ngapain."


"Periksa gangguan mental kita hahaha... Lama jomblo banyak hayalan nggak bermanfaat. Sampai-sampai urusan negatif di tuntaskan."


"Elu mah enak ada suami, kalau nggak tahan tinggal minta. Lah gue bisa apa?"


"Enak aja lu kalau berucap, tinggal minta. Di katain apa gue oleh Mamas elu pikirnya bisa jadi gue nggak virgin lagi. Elu juga nikah sana paksa Pak Aziz. Seperti gue di paksa Mamas elu."


"Nggak mungkin Mamas berpikiran begitu."


"Napa?"


"Keluar banyak cairan merah."


"Kalau enggak gimana? Bisa aja udah pecah gara-gara gue jatuh, atau terlalu semangat beraktivitas bisa ‘kan sobek tanpa terduga."


"Iya juga sih."


"Nah makanya sabar. Lu urusin aja Pak Aziz keburu tuh laki di ambil orang lain. Cari tau dulu udah punya pasangan belum? Entar elu di cap jadi pelakor, merebut kekasih orang."


"Iya juga sih, lu tunggu aja kabar berikutnya."


"Siap."


"Terus udah pulang Oma sama Ibu nggak lanjut apa adegan panasnya?"


"Gue aja bingung Mamas lu malah santai-santai aja nyuruh gue ganti pakaian. Dirinya pergi ke dapur masak buat makan."


"Aneh."


"Sama gue juga gitu, mungkin rayuannya aja kali."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2