Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 99 Terimakasih


__ADS_3

Hati dan pikiran gue terus merasa cemas dan khawatir mendengar ucapan Fadel.


Secepat mungkin gue harus pulang malam ini.


Gue benar-benar telah membiarkan Zahra selalu sendirian demi ingin tau kenapa Cherly tiba-tiba muncul dan membuat perbuatan yang terbilang cukup bahaya.


Gue terlalu bodoh, selama ini. Benar-benar tenggelam dengan permainan Cherly.


Tapi berkatnya, gue bertemu Zahra.


Gue benar-benar rindu, pada senyuman dan tawa Zahra.


Pulang pukul 2 malam.


Ceklek!


Gue masuk dengan lampu kuning menerangi wajah cantik yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.


Duduk jongkok di hadapan Zahra.


Sesaat air mataku mengalir, sekuat tenaga jangan sampai Zahra bangun gara-gara suaraku.


Terimakasih atas semuanya sayang, jika bukan berkatmu aku nggak bisa berdiri di sini.


Bahkan, Tuhan pun akan marah padaku.


Banyak sekali kesalahan yang aku perbuat di masa lalu, tapi Tuhan selalu memberikan jalannya untukku agar bisa kejalan yang benar.


Aku janji, akan menjaga dirimu selamanya. Apapun yang ingin di lakukan olehmu, akan aku coba untuk membantumu.


Ay, cita-cita yang selama ini tertunda menjadi penulis akan aku kabulkan.


Saat inilah, waktunya kamu bersinar.


Selama ini, hanya tertutup awan hitam yang selalu menghalangi setiap sinarmu.


Jalan di atas karpet merah, gue benar-benar melihat malaikatku bersinar.


Sempat Zahra melihatku dengan wajah yang terbilang cukup sedih, walau tertutup cadar. Mungkin dirinya takut, gue akan marah.


Senyuman manis yang gue curahkan agar Zahra tidak perlu khawatir dengan pikiran negatifnya. Kedipan matanya memberi kode, seperti meminta maaf.


Zahra menaiki panggung, berdiri di samping Falisha.


"Hallo semua..." ucapnya malu melihat orang-orang yang hadir.


"Aaaaa... Zahra..." sorakan banyak orang di belakang. Gue melihat banyak yang membawa berbagai poster bertulis I love you Zahra, Will you marry me, dan banyak lagi kata-kata yang membuat gue ingin mengusir mereka semua.


"Maaf saya baru bisa hadir di sini." ucap Zahra.


Teriakan di belakang semakin jadi meramaikan isi ballroom.


"Oke, stop!" Falisha menengahi para fans Zahra. "Kita selesaikan dulu, Mbak Zahranya berbicara. Kalau kalian teriak Mbak Zahra bisa turun." Falisha tersenyum-senyum. "Oke, lanjut." Falisha melihat Zahra.


"Nggak pula juga kali, Sha." ucap Zahra tersenyum.


"Aaaa..." teriakan para fans kembali memenuhi ballroom.


"Udah kita pulang." Falisha menarik Zahra sambil bercanda.


"Jangan..." teriak fans lagi.


"Ok! Kalian harus diam, deal." ucap Falisha.


"Deal..." jawab mereka serentak.


Kami semua tersenyum-senyum.

__ADS_1


"Mas, banyak saingan kamu?" bisik Idris.


"Udah kurang satu." gue menyindir Idris.


"Siapa?"


"Lu nggak sadar diri." langsung gue sindir.


"Ck! Itukan dulu, Mas."


"Siapa tau aja, hal itu masih bersemi di hati lu."


"Gue nggak seperti elu." Idris membalikkan keadaan.


"Gue nggak cinta dari awal." jelasku jujur.


"Sudahlah, Mas. Jujur aja. Kalau elu memang nggak cinta. Ngapain elu tidur di rumah sakit jiwa."


"Gue merasa bersalah aja. Jika elu di posisi gue, elu juga gitu."


"Gue masih punya ini." Idris menunjuk kepalanya.


"Maksud elu, gue nggak punya otak?"


"Pikiran bukan otak! Jika nggak punya otak, elu nggak hidup." jelasnya yang nggak mau kalah.


"Posisinya gue menerima dia, dan tiba-tiba kecelakaan tanpa meninggalkan jejak. Bahkan bisa di bilang hangus." jelasku mengingat hal itu, jika benar terjadi.


Idris memegangin bahuku. "Gue paham, hanya bercanda tadi."


"Hmmm!"


Gue nggak sadar saat melihat Zahra telah menerima banyak buket bunga. Berdiri dan berfoto bersama laki-laki lain. Tibalah yang bikin gue terkejut adalah laki-laki itu mengeluarkan kotak berukuran kecil berwarna merah.


Di belakangnya pada memegang poster bertulis will you marry me. Zahra terlihat tersenyum-senyum.


Rasanya ubun-ubun kepala gue ingin meledak, istri gue di lamar secara terang-terangan. Itu nyindir gue, atau gimana.


"Mas, elu diam aja?" Ayah terlihat gelisah.


"Zahra saja Yah, yang menjawab. Jika dirinya mencintai aku." puraku sedih.


Zahra melihatku terlihat kurang nyaman.


"Bukan aku menolak ya." jawab Zahra kurang nyaman. "Tapi saya sudah bersuami."


"Apa?" semua terlihat terkejut. "Kenapa kami nggak tau, Mbak?" ucap salah satu fans fanatiknya.


"Kalian mau tau?" Falisha bertanya.


"Ah... Saya tertolak." ucap Lelaki yang memegang kotak tadi, meneteskan air mata.


"Kita panggil Bapak Abyan Angkasa." teriak Falisha.


Kamera mulai menyorotiku, wajahku jelas sekali terlihat di layar belakang Zahra dan Falisha.


Gue berdiri dengan tersenyum, menyapa semua yang hadir berjalan pelan ke atas panggung.


Semuanya terlihat tersenyum-senyum.


Bisa di bilang merasa kagum.


Gue memegang bahu Zahra. "Maaf saya baru bisa memberitahu, bahwa ini adalah istri saya. Penulis dari film Jadi Istri Pak Bos." gue melihat Zahra terlihat sedih. "Terimakasih sayang, atas perjuangannya." senyumku agar Zahra merasa nyaman.


Dengan menganggukkan kepala dirinya memberi kode.


"Wah, mari kita duduk santai boleh ya?" ucap presenter.

__ADS_1


Kami menganggukkan kepala, sepertinya mereka semua pada penasaran dengan cerita gue dan Zahra.


Gue siap bertarung membuktikan pada dunia, inilah malaikatku yang susah di gapai itu, dan akhirnya kami saling mencintai.


Pegawai mulai menyiapkan kursi. "Untuk para fans silahkan kembali ketempat kalian semula. Pak Abyan, Ibu Zahra, dan Ibu Falisha silahkan duduk. Kita berbincang sebentar."


Kami bertiga duduk, gue di tengah-tengah antara Falisha dan Zahra. Terlihat jelas, gue seperti mempunyai istri dua.


"Oke! jadi sebenarnya cerita ini, di ambil dari kisah penulisnya langsung? Apa ini benar dugaan saya, Ibu Zahra." tanya presenter.


Zahra melihatku, bingungnya menjawab.


"Jadi begini, awalnya saya mengejar Zahra secara diam-diam." jelasku benar adanya.


"Aaaaaaaa..." teriak semua orang di ballroom.


"Jadi Bapak mengejar Ibu Zahra?" tanya presenter penasaran.


"Iya, jadi istri saya tidak tau akan hal itu. Tibanya saya melamar, tapi keluarga Zahra meminta langsung ijab kabul saat itu juga. Tanpa sepengetahuan Zahra." jelasku melihat Zahra.


Zahra hanya diam melihatku dengan wajar datarnya.


"Aaaaaa..." teriakan mereka kembali.


"Reaksi Ibu Zahra bagaimana saat itu?" presenter semakin penasaran.


"Zahra malah meminta pisah." jelasku.


"Mas jangan di ceritain." bisik Zahra.


"Filmnya aja gitu, Ay." gue balik berbisik, salahnya dimana?


Zahra terlihat menggemaskan, bingungnya ingin membantah.


"Wah, berbeda ya Pak Abyan, Ibu Zahranya." tanya presenter.


Gue memegang tangan Zahra. "Saya akuin, selama mengenal Zahra. Dirinya adalah wanita yang berbeda. Sampai saya mengejar cintanya cukup lama setelah menikah."


"Aaaaa..." teriakan kembali terdengar.


"Jadi, kapan Ibu Zahra mencintai Bapak Abyan?"


"Baru sekitar kurang lebih 2 bulan yang lalu." jelas Zahra membuka suara.


"Aaaaaa..." itulah yang selalu terdengar.


"Jadi cinta Pak Abyan baru terbalaskan penonton. Laki-laki yang terbilang sempurna." ucap presenter memujiku. "Baru mendapatkan cintanya. Wah sungguh berbeda Ibu Zahra. Apa yang membuat Ibu tidak tertarik pada Pak Abyan?"


"Itu-"


"Dia bilang, saya ini lelaki yang suka di kelilingi banyak wanita. Sedangkan dirinya tidak menyukai lelaki seperti saya. Inginnya biasa-biasa saja. Mungkin Zahra pikir saya akan selingkuh setelah menikahi dirinya. Secara pikir Zahra dirinya tak secantik mereka. Tapi bagiku, dirinya sempurna, melebihi apapun." langsungku jawab agar semua rahasia Zahra hanya gue dan orang-orang tertentu saja, sambil memuji kesempurnaan Zahra yang benar adanya.


Zahra melihatku seperti penuh tanda tanya.


Teriakan ballroom semakin menggelegar.


"Semua penonton semakin panas ingin tau cerita mereka berdua. Tapi kita harus berhenti di sini, karena acara masih banyak dan waktu semakin dikit. Kapan-kapan lagi kita berbicara. Jika ada waktu." ucap presenter yang sebenarnya ingin banyak pertanyaan, tapi pihak acara memberi kode acara harus di selesaikan pada waktunya. Ini pasti Aziz yang membantu.


"Yaah..." terdengar semuanya merasa kecewa, saat presenter memutuskan pertanyaan yang terbilang cukup menyenangkan bagi mereka.


"Ibu Zahra, Ibu Falisha, dan Pak Abyan. Kami ucapakan terimakasih atas penjelasannya. Semoga rumah tangga kalian menjadi sakinah, mawadah dan warahmah dan secepatnya di berikan keturunan yang shaleh dan shalihah. Aamiin ya rabbal alamin." ucap presenter memberi doa.


"Aamiin..." semua orang di ballroom berucap serentak.


Gue hanya bisa tersenyum bahagia, semoga doa kalian terkabulkan, itulah yang hanya bisa gue harapkan saat ini di antara gue dan Zahra. Agar kami berdua tidak lagi ada kata pisah selamanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2