
Memarkirkan mobil di bawah lantai gedung. "Kita udah sampai, yuk jalan ke atas." Mas Abyan melepas sabuk pengaman.
"Hmmm, iya Mas." mengikutin arahan.
Kami berdua menaiki lift ke lantai atas, keluar dari lift barulah masuk ke dalam mall, melihat ada apa saja di dalam?
Ternyata banyak toko baru yang buka sehabis pandemi melanda, sadarku melihat posisi kami berdua. Seperti orang yang baru datang dari luar kota, baru sampai di Jakarta, belum pernah gitu lihat mall sebesar ini, berjalan dengan memperhatikan satu persatu, lingkungan sekitar.
Mas Abyan memakai jeans biru tua, kaos oblong dan topi berwarna hitam lagi, tetapi yang ini berbeda bentuknya, kemarin ada warna, ini polos gitu. Mas Abyan nih suka warna hitam atau hijau dan cream, ah napa gue mikirin apa yang Mas Abyan suka, gue aja nggak tau apa warna favorit gue yang paling di sukai, menurut gue cocok udah pakai tanpa berpikir panjang dengan bentuk dan rupa.
Di perhatikan lagi nih, seperti mengikutin idola berjalan, walau topi menutupin wajah Mas Abyan, bukan tertutup malah tambah maximal kegantengannya.
Melihat sekeliling, banyak perempuan muda hingga dewasa, melihat ke arah Mas Abyan.
Ingin gue berkata, Mamas jalannya duluan, sekitar lima meter baru gue jalan. Tapi gimana mau bilang gitu? Tangan gue aja di jepit di ketiak Mas Abyan, seperti Bapak takut anaknya hilang.
Akhirnya kami berdua berhenti juga di studio permainan. "Ay, Mamas main ini boleh nggak?" tunjuknya mesin penjepit mainan berisi berbagai macam bentuk boneka.
"Hmmm, iya Mas." terserah dirimu Mas, gue ikut aja.
"Kita beli kartu dulu." ajaknya dengan menarik ke dalam menuju kasir.
"Bang saya beli kartu, berapa?" tanya Mas Abyan pada pegawai yang berjaga.
"Di sini kartu sama isinya minimal pembelian lima puluh ribu, Bang." jawabnya menunjuk kertas yang terpajang di atas meja kaca dengan isi berbagai macam benda untuk hadiah.
Mas Abyan mengeluarkan uang senilai enam ratus ribu. "Banyak banget Mas?" suka heran, buat apa? Bisa jadi Mas Abyan mau lama-lama bermain di sini.
"Sisanya untuk lain kali, sayang." jawabnya tersenyum.
Mas elu senyum di tambah panggil sayang terus, lama-lama elu tersangkut di hati gue Mas.
Tunggu sebentar, Mas Abyan bilang buat main nanti, berati kita bakal jalan-jalan lagi dong. Bisa juga Mas Abyan jalan-jalan bersama teman-temannya kemarin waktu datang di acara resepsi.
"Ayo." ajaknya selesai mendapatkan kartu.
Mengikutin langkah kaki Mas Abyan yang berhenti di depan permainan tadi. Mas Abyan mulai fokus, menggesek kartu pada alat, tibanya menggerakkan tombol agar penjepitnya bergerak, sedangkan gue hanya bersandar santai di kaca, mau lari nggak bisa tangan gue masih di tempat semula, gue coba lepas dulu kali ya, biar Mas Abyan lebih fokus dan gue terbebas, bisa jalan kemana gitu, udah selesai Mas Abyan main, gue baru ke sini lagi ngajak makan.
__ADS_1
Satu, dua, tiga, perlahan tapi pasti. "Ay..." berhenti bermain. "Jatuhkan nggak dapat." nyalahin gue. "Diam di sini tanganya." manarik kembali tanganku di jepit di ketiaknya, yang hampir lepas.
Mau marah nggak bisa, terpaksa mengikutin maunya Mas Abyan seperti apa, pandangan gue teralihkan saat sadar, di lihatin perempuan tua maupun mudah di sekeliling kami. Entah apa yang mereka perhatikan dengan berbicara berbisik-bisik, setelah itu tersenyum-senyum.
Penglihatan mereka sih, ke arah Mas Abyan, ada yang mengambil fotonya secara diam-diam.
"Mas udah belum, makan." ajakku merasa kesal, ini kaki udah pegal bentar lagi encok lama berdiri, di tambah kesal di kelilingi banyak wanita.
"Bentar, Ay. Mamas ke kasir." dirinya berjalan ke dalam, gue di tinggal. Akhirnya nih tangan di lepas juga.
Sudahlah gue berjalan mendekatin batas pagar yang bisa melihat lantai bawah. Kalau terjun mati nggak gue? Nggak mati, hanya arwah gue yang hidup terbang naik ke atas langit. Membayangkan jauhnya pandangan ke bawah, kira-kira lima lantai.
"Ay, jangan lompat ke bawah." peluk Mas Abyan di leherku.
"Mas bisa lepas nggak, nggak bisa bernafas." belum juga lompat gue mati duluan, di jepit gini.
"Ah, iya Ay." melepas pelukan.
Melihat Mas Abyan, tibalah boneka beruang besar, setengah tubuhku di serahkan. Oh kalah main, jadi Mas Abyan membelikan gue boneka yang susah di bawa ini.
"Yuk, Ay. Kita cari makan." ajaknya.
"Makan dimana Mas?" tanyaku menurunkan sedikit boneka yang menutupi penglihatan gue ke Mas Abyan.
"Cari aja dulu, keliling." memberi solusi.
"Iya Mas."
Gimana mau jalan, ini boneka besar banget?
"Sini biar Mamas yang bawa." ambilnya boneka di pelu 'kan ku, menggendongnya seperti membawa bayi enam bulan, mungkin Mas Abyan ngeh gitu lihat gue susah bawa boneka.
Gue hanya bisa mengulum tawa, ada aja yang aneh lu buat Mas.
Mas Abyan mengambil tanganku lagi, kali ini di genggam erat. Penglihatan orang lain melihat, mungkin kami berdua di bilang romantis kali ya.
"Yuk, Ay." menarikku berjalan kembali.
__ADS_1
Melihat satu persatu toko yang berbaris penuh dengan makanan. "Sepertinya yang itu enak, Ay." menunjuk makanan yang menurut gue baru lihat.
"Emang Mamas pernah makan di situ?"
"Belum sih, tapi kelihatannya enak, Ay."
Dari mana Mas Abyan tau itu makanan enak, di coba aja belum. Janganlah tertipu dengan rupanya saja, kalau belum tau isi dan rasanya, Mamas-Mamas.
"Ay kamu duduk dulu, cari tempat buat kita. Mamas mau pesan, kamu mau makan apa?" tawarnya.
"Mamas aja yang pilih."
"Iya sudah, nih bonekanya. Entar Mamas nyusul." menyerahkan ke gue lagi.
"Iya Mas."
Mas Abyan jalan ke kasir, berusaha memposisikan ini boneka agar kelihatan jalan. Mencari tempat duduk yang nyaman, dengan berjalan pelan.
Brak!
Tibalah nggak sengaja menabrak orang, dengan kaki boneka yang menyentuh bawaan orang lain bersisi makanan. Langsung meletakan boneka di kursi dulu, yang berada di sampingku.
"Maaf, Mbak." ucapku membantu bawaannya terjatuh. Mungkin itu makanan yang di pesan, belum juga di makan sudah jatuh duluan akibat gue tabrak.
"Nggak apa-apa Mbak, salah saya tadi nggak memperhatikan jalan." ucapnya wanita cantik berkulit putih, dengan rambut lurus sebatas bawah telinga.
"Entar saya ganti ya, Mbak." ucapku yang kurang nyaman, menabraknya tadi.
"Nggak-nggak usah Mbak, saya juga belum lapar ini pesanan suami saya." tolaknya.
Oh perempuan ini sudah menikah. "Ada apa sayang?" suara laki-laki yang pernah gue dengar mendekatin kami.
Melihat wajahnya. "Abang Doni." terkejutku bertemu sang mantan delapan tahun yang lalu.
"Zahra..." panggilnya yang terkejut juga, melihatku.
Bersambung...
__ADS_1