
Hari semakin malam, hujan baru saja berhenti, desiran kilat masih menyambar. Di rumah Bu Inem gue hanya duduk di terangkan oleh lampu teplok yang terbuat dari kaleng bekas, di atasnya di bentuk agar sumbunya terbakar sempurna.
Jadi teringat zaman-zamannya susah dulu, seperti itulah kalau mati lampu.
Tok tok tok.
Terdengar jelas suara ketukan pintu.
"Siapa yang datang? Ah mungkin kayub anak saya neng." ucap Bu Inem sambil berdiri mendekatin pintu.
Ceklek!
Melihat ke arah pintu, tapi terhalang karena posisinya gue duduk di belakang pintu.
"Pak Abyan?" ucap Bu Inem membuatku terkejut.
Mamas! "Assalamualaikum Bu, ada Zahra di sini?" suaranya terdengar cemas. Langsung berdiri mendekati Mas Abyan.
"Ay," Mas Abyan langsung memeluk. Dirinya yang basah mungkin terkena air hujan.
"Kamu nggak hubungin Mamas kalau pergi." cemasnya melepaskan pelukan, memegang bahuku.
"Maaf Mas, aku lupa." jelasku merasa bersalah. "Mamas kenapa mandi hujan?" cemasku melihat Mas Abyan basah begini.
"Mamas nyariin kamu, Ay. Takut kejadian waktu itu terulang." jelasnya merasa panik.
"Aku nggak apa-apa, Mas. Mamas tau aku di sini dari siapa?"
"Pak Paijo yang ngasih tau,"
"Terus Mamas naik apa ke sini? Bukannya naik mobil susah untuk melintas daerah sini."
"Minjam motor Pak Paijo, Ay. Ayo sekarang pulang sebelum hujan kembali."
"Hmmm iya Mas," melihat Bu Inem. "Bu, terimakasih atas tumpangannya."
Bu Inem terlihat ketakutan. "Maaf ya Pak Abyan, ini salah saya mengajak neng Zahra ke sini." jelasnya terlihat cemas.
"Nggak apa-apa Bu, yang penting istri saya aman." jelas Mas Abyan tersenyum.
"Alhamdulillah! Oh ya, sebentar Neng. Ibu ambil obat tadi, udah siap." jalannya ke arah dapur.
"Obat apa, Ay?" Mas Abyan terlihat penasaran.
Hanya bisa tersenyum-senyum aja, entarlah di rumah ngasih tau.
"Ini Neng, obatnya. Di minum berdua, sebelum bermain. Semoga berhasil." Bu Inem memberikan botol plastik, tertutup plastik hitam.
Mengambil. "Terimakasih ya Bu,"
"Iya Neng, sama-sama." jawabnya tersenyum-senyum.
"Ayo, Ay." ajak Mas Abyan.
"Iya Mas," melihat Bu Inem lagi. "Saya permisi dulu Bu, pulang."
"Iya, Neng."
"Assalamu'alaikum, Bu." ucapku dan Mas Abyan serentak.
"Waalaikumussalam." balas Bu Inem.
Keluar rumah berjalan dengan Mas Abyan, menaikin motor. Perlahan melaju meninggalkan rumah Bu Inem, di perjalanan hujan semakin lebat, di tambah jalan yang licin membuat perjalanan kami semakin terhambat.
"Kita seperti film India ya Mas, main hujan-hujanan." candaku pada Mas Abyan.
"Seru ya, Ay. Sudah lama Mamas nggak mandi hujan."
"Emang terakhir kapan, Mas?"
__ADS_1
"Hmmm, nggak salah, masih usia lima tahun."
"Lama banget ya, Mas. Kalau aku hampir pulang kerja mandi hujan." ingatku pada perjuangan masa-masa penjajahan.
"Udah ini, jangan lagi ya, Ay." pintanya.
"Kenapa, Mas?"
"Mamas nggak mau kamu sakit." Hmmm... Perhatiannya suamiku.
"Insyaallah, Mas."
Kami akhirnya sampai juga, langsung turun, Mas Abyan memarkirkan motor di belakang rumah.
Membuka pintu, pakaianku basah, terpaksa lap lantai dulu. Jalan cepat meletakan obat di atas meja, kemudian ke dalam kamar mandi membuka pakaian. Menggunakan handuk kimono, mengepel lantai sebelum Mas Abyan masuk, entar kepeleset jatuh, nggak enak, kan.
Mas Abyan terlihat basah, mau masuk berhenti di depan pintu, melihatku yang sedang mengelap lantai. "Mamas masuklah cepetan, aku mau mengelap lantai supaya nggak licin." perintahku.
"Hmmm, iya Ay."
"Pelan-pelan." mengingatinya.
Mas Abyan jalan ke kamar mandi, gue langsung menutup pintu, takut di lihat orang, dengan tubuh yang hanya pakai handuk gini.
"Selesai juga." mengeringkan lantai.
"Ay, sini berendam sama Mamas di dalam bathtub." ajaknya, membuat jantung ini mulai hebo.
"Iya Mas, sebentar." meletakkan kain di dalam wastafel tempat cuci piring.
Perlahan masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu.
Ragu mau masuk ke dalam bathtub. "Ayo sini." ajaknya terlihat menantikanku untuk masuk ke dalam air.
Aduh, nih jantung, kenapa nggak tau kondisi sih, detaknya? Perlahan masuk ke dalam bathub, yang telah berisi air hangat dan busa sabun melimpah, duduk berhadapan dengan Mas Abyan, membuka handuk yang basah.
Hanya bisa mengangguk. "Hmmm, iya Mas janji nggak lagi." gue yang antusias ingin melihat air terjun, lupa membawa tas berisi handphone.
"Mamas tadi benar-benar pasrah, Ay. Jika kamu terjadi apa-apa." jelasnya.
"Maaf Mas."
"Malam ini kamu harus di hukum." jelas Mas Abyan.
"Kenapa di hukum?"
"Kamu udah buat Mamas jantungan." jelasnya terdengar lucu.
"Hukumannya?"
Mulai tangan Mas Abyan menarikku untuk mendekat.
"Tunggu Mas!" cegahku ingat dengan obat yang di berikan Bu Inem.
"Hmmm, kenapa Ay?"
"Minum obat dulu."
"Obat apa, Ay?"
"Obat yang di beri Bu Inem tadi."
"Emang kamu sakit?"
"Nggak Mas, itu obat herbal yang di racik Bu Inem agar cepat mendapatkan keturunan." jelasku.
"Ay, emang kamu sudah siap, hamil? Bukannya kamu sendiri yang bilang, mau pacaran dulu."
Menggelengkan kepala. "Enggak Mas, aku udah puas pacaran sama kamu. Lagian kamu sekarang sibuk banget, aku di rumah pasti nantinya bosan, jadi ingin aja hari-hariku mengurus anak kita." jelasku membayangkan ada malaikat kecil di tengah-tengah kami.
__ADS_1
Mas Abyan tersenyum-senyum. "Hmmm, ayo kita mandi, selesai minum obat." ajaknya.
"Hmmm, iya Mas."
Mulai kami berdua keluar dari dalam bathtub, malunya di lihat Mas Abyan dan sebaliknya gue melihat tubuh polos Mas Abyan, membasuh tubuh kami dengan air hangat sambil pemanasan. Nggak lama kami berdua keluar dari dalam kamar mandi memakai handuk kimono.
Mengambil dua cangkir meletakkan di atas meja, sedangkan Mas Abyan duduk melihatku serius menuangkan obat yang terlihat pahit itu.
"Mas, Pak Aman tidur di mana?" ingatku pada Pak sopir.
"Mamas suruh tidur di penginapan dekat sini." jelasnya.
"Perasaan di belakang ada rumah lagi deh Mas." sempat melihat juga di belakang rumah ini, saat mendekati Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang lagi berbicara.
"Mamas minta kosongkan." Mas Abyan tersenyum pahamlah gue.
"Iya Mas. Ini di minum sampai habis." mendekati cangkir yang berisi air berwarna hijau.
"Pahit nggak, Ay?"
"Belum tau, aku coba dulu."
Duduk, mulai menelan air di dalam cangkir. Hmmm, manis. "Manis Mas, enak. Di kira pahit, lihat wujudnya seram gini." sempatku bercanda.
"Iya apa, Ay." Mas Abyan tidak percaya, mulainya meminum ramuan obat itu. "Hmmm, iya Ay, enak. Seperti di beri madu."
"Iya deh Mas, sepertinya di kasih madu asli. Rasanya itu nggak bikin enek di lidah."
"Ini buat sendiri ya, Ay?" Mas Abyan minum perlahan mencicipi rasa yang terbilang enak itu, kami berdua seperti minum jus bukan, teh bukan, apalagi kopi.
"Hmmm, iya Mas. Tadinya aku juga bantuin Bu Inem ambil rempah-rempahnya di dekat air terjun." jelasku bercerita.
"Ada air terjun juga ya Ay, di sana?"
"Hmmm di belakang rumah nggak terlalu jauh, juga nggak dekat, seru Mas pokoknya."
"Kenapa Mamas nggak lihat ya tadi?"
"Udah malam Mas, kalau mau besok kita ke sana lagi."
"Yah nggak bisa, Ay. Besok kita harus pulang ke Jakarta." jelas Mas Abyan.
"Hmmm cepat banget Mas, baru juga sampai tadi pagi." kesalku.
"Lain kali aja, ya sayang. Soalnya Mamas banyak banget kerjaan semenjak Aziz cuti di tambah persaingan dunia perfilman." jelas Mas Abyan memegang tanganku.
"Hmmm, Mamas aja ya yang pulang, entar aku nyusul."
"Jangan gitulah, Ay. Mamas nggak bisa fokus kerja kalau kamu di sini." pinta Mas Abyan.
Mau gimana lagi, gue juga harus nulis naska.
"Hmmm iya Mas, kalau itu sudah keputusan kamu. Aku ikut aja."
"Hmmm, iya sayang."
Mas Abyan berdiri, mulai menggendongku, berjalan ke arah kamar. Meletakkanku secara perlahan. "Maafin Mamas kemarin melakukannya, tanpa sadar."
Mas Abyan mencium tanganku. "Emang nggak sadar ya, Mas?" perasaan Mas Abyan masih sempat berbicara.
"Hmmm, bisa di bilang ukuran dari seratus persen itu bagi dua. Jadi lima puluh perbandingan lima puluh. Kalau nggak di gigit kamu, nggak sadar, Ay." jelasnya
Melihat bahu dan bibir Mas Abyan yang telah mengering lukanya. "Maaf ya Mas." ucapku merasa bersalah.
"Mamas maafkan asal malam ini, di layani dengan baik."
"Hmmm..."
Bersambung...
__ADS_1