Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 25 Keluarga Besar


__ADS_3

"Maaf, Mas. Tadi itu aku berkata mencintai Mamas karena ada Dokter Idris." jelasku agar tidak menimbulkan kesalah pahaman. "Aku tidak sama sekali mencintai Dokter Idris, Mas." sambungku, mungkin Mas Abyan juga berpikir, perasaanku dengannya sama seperti ke Dokter Idris. Sebenarnya gue takut Mas Abyan merasa di tolak.


"Hahaha..." tawa Mas Abyan, membuatku bingung. "Iya Ay, tadi itu Mamas hanya bercanda. Mamas pikir, Idris masih di luar depan pintu untuk mendengar kita bicara." jelasnya.


Mendengar ucapan Mas Abyan, gue juga berpikir hal yang sama, tapi kenapa rasanya hati gue seperti kurang nyaman? Apa gue mempunyai perasaan pada Mas Abyan? Atau hanya sekedar mengidolakannya saja, sebagai laki-laki ganteng yang di ukir secara sempurna dan memiliki kelebihan lainnya.


Di pikir-pikir sepertinya gue lebih ke arah mengidolakannya saja deh. Mas Abyan juga sepertinya tidak mencintai gue, ucapannya hanya akting saja. Mau bilang sedih, apa yang harus di sedih ‘kan? Tidak semudah itu juga, gue sampai ke permukaan dari dalamnya lautan.


"Ah iya Mas." jawabku langsung.


***


Memakai lipstik berwarna nude, sedikit warna pink mudaku letakkan di kelopak mata.


Berdiri di depan cermin, merapikan lagi hijab berwarna hijau wardah. Pakaian atas berlengan panjang, setengah lutut dan celana dasar berwarna avocado, pemberian Ibu mertuaku. Mungkin dengan memakai pakaian ini, dirinya akan senang.


Sudah siap menemui keluarga besar, Mas Abyan. Jalan keluar membawa tas kecil seperti biasa di letakkan di atas bahu. Mas Abyan juga baru keluar dari dalam kamar. "Yuk, Ay." ajaknya.


"Hmmm." senyumku.


Selama perjalanan kami berdua hanya diam, dengan tangan yang dingin sekali, gugup itu menyertai. Bagaimana nanti di rumah mertua gue, banyak perselisihan atau pertengkaran seperti cerita di beberapa novel dan drama? Jantungku semakin kuat main musik, awas ya lepas kalian di dalam sana.


Mobil masuk ke dalam pekarangan rumah, kami berdua turun. "Assalamu'alaikum." kami berdua ucapkan saat masuk ke dalam rumah.


Bi Tanti sedikit berlarian ke arah kami. "Itu Tuan muda dan Nona Zahra langsung aja kebelakang, Ibu nyuruh ke sana." jelasnya.


"Iya Bi." jawab Mas Abyan. "Yuk, Ay." ajaknya.


"Iya Mas." mengikuti jalan Mas Abyan dan Bi Tanti ke arah belakang.


Melihat taman di belakang rumah, sesuai sekali dengan acara bakar-bakar malam ini, keluarga besar Mas Abyan sedang duduk di dekat meja makan ada juga tempat lainnya untuk anak-anak bermain.


"Itu mantu saya udah datang." ucap Ibu Sari menunjukkan pada mereka.


Berjalan langsung menghampiri Ibu Sari dan bersalaman dengannya. "Kenalkan Ra, ini semua keluarga besar kita." tunjuk Ibu Sari pada semua orang yang berada di sana.


Berjalan lagi, satu persatu bersalaman dengan mereka, berkenalan. Rata-rata usia mereka tiga puluh dua tahun ke atas, dan beberapa anak kecil yang sedang bermain.


Selesai berkenalan kembali lagi ke samping Mas Abyan, wanita cantik berpakaian dress berlengan pendek panjangnya sebatas lutut berwarna hitam pekat.


Wanita ini adalah orang yang memeluk Mas Abyan di waktu acara resepsi, dengan gue saja tidak terpaut tangan saat salaman.


Peran antagonis yang ke-dua.


Memegang cangkir berisi jus jambu, langsung memeluk Mas Abyan dengan mesra di hadapan gue, silahkan saja kalian berdua mau apa silahkan ingin gue berkata seperti itu.


"Mas lama banget si?" tanyanya manja.

__ADS_1


Mas Abyan tersenyum, pasrah gitu aja di peluk-peluk. "Sedikit macet di jalan." jawabnya.


Pikiranku mulai negatif, jangan-jangan ini simpanan Mas Abyan.


Jiwa detektifku mulai bermunculan, ingin tauku sangat kuat soalnya.


"Ay, kenalkan, ini Ishana. Anak Bu Arum dan Pak Sofian tadi. Mereka sahabat Ayah, dan Ishana sudahku anggap adikku." ucap Mas Abyan masih memegang bahu Ishana sedangkan Ishana memegang pinggang Mas Abyan.


Di perhatikan Falisha aja nggak seperti itu, melihat beberapa hari kebelakang ke Mas Abyan dan Falisha. Adanya mereka seperti tikus dan kucing.


Di perhatikan lagi, warna pakaian Mas Abyan dengan Ishana sama. Sepertinya mereka deh yang pasangan suami istri, bukan gue sama Mas Abyan. Mereka berdua pantas banget di bilang begitu, dengan saling berpegangan.


"Sepertinya kalian berdua deh yang pasangan pengantin baru, bukan Mbak Zahra dan Mamas. Serasi sekali kalian berdua, dari pakaian saja udah sama. Pakai acara berpegangan mesrah lagi." ucap ketus Falisha yang datang menghampiri dari belakangku.


"Iya deh, kenapa nggak kalian aja yang nikah?" sambung Hanum datang juga menghampiri.


Kalian berdua kalau bicara, hati gue langsung legah deh, terwakili rasanya. Senyumku pada Falisha dan Hanum.


Mas Abyan langsung melepaskan pegangannya, salah tingkah di depanku.


"Sepertinya." ucapku langsung menyindir.


"Enggak, Ay." Mas Abyan memeluk dari belakang, tanganya melingkar di pinggangku, dengan senyum kecut menoleh ke arahnya. Enak ya, meluk gue gini.


"Cie cie cie." ucap Falisha, Hanum, dan keluarga lainnya.


"Lain ya Mbak yu, kalau pengantin baru." ucap Bu Nia.


"Aku ke sana dulu ya Mbak, Mas." ucap Falisha ke arah meja makan.


"Aku juga ya, Mbak." jalannya mengikutin Falisha.


"Hmmm." jawabku mengangguk pelan.


Mas Abyan masih memeluk, kira-kira sampai kapan Mas? Elu nggak salah kok, menyentuh adik yang di anggap begitu.


Malu gue di lihatin Ibu-Ibu awet mudah, langsung melepas pelukan Mas Abyan.


"Ay, jangan marah." rayunya.


Gue hanya tersenyum.


Mas Abyan terdiam memegangi keningnya, mungkin bingung dengan reaksiku, kalau di rumah udah di khutbah lagi gue, walau salahnya dia. Ancam-mengancam lagi kita berdua, lanjut sesi perang dunia ke-empat.


"Lain ya, pengantin baru. Ishana jangan di pikirin. Anaknya suka begitu sama Mamasnya manja." ucap Bu Ita.


Sepertinya mereka memperhatikan kami tadi.

__ADS_1


"Iya Nak, Ishana emang gitu. Ibu aja suka marahi dia, tapi masuk kuping kanan keluar lagi kuping kiri. Oh ya, selamat ya semoga cepat mendapatkan keturunannya yang shaleh dan shalihah." ucap Bu Arum.


"Aamiin." jawab Mas Abyan.


Melihatku hanya diam tanpa menjawab. "Khem!" pura Mas Abyan memberitahu, menyuruhku menjawab.


Dengan terpaksa mengikuti Mas Abyan. "Aamiin, Bu." dengan tersenyum.


Nggak di turuti salah, di turuti salah. Seperti lagu simalakama aja gue.


"Kalau lagi baru-baru, memang lagi hot-hotnya ya nggak?" Ibu Ita mengompori yang lainnya.


Kami berdua di dekatin Ibu-Ibu sosialita deh.


Gue dan Mas Abyan hanya tersenyum-senyum mendengar mereka berbicara.


"Sering-sering mainnya biar cepat dapat momongan." sambung Bu Kana.


"Ih jeng, nggak baik juga loh sering-sering." sambung Bu Lala.


"Iya apa?" jawab Bu Kana.


"Iya benar, seperti saya dulu keseringan, lama dapatnya." jawab Bu Yasmin.


Gue yang umurnya udah di bilang matang, mendengar mereka bicara begitu, malu sumpah demi apapun. Untung saja anak-anak di bawah umur mainnya sedikit jauh, di lihat oleh pengasuh mereka, jadi nggak dengar.


Terpaksa gue ikut nyambung. "Oh gitu ya Bu, nggak boleh sering-sering." tanyaku biar akrab sama mereka, siapa tau bisa ngerumpi bersama banyak ilmu gue.


Mas Abyan melihatku, dengan mengerutkan ke-dua alis.


"Mas, biar mereka sama aku akrab aja, jangan di ambil hati." bisik di telinga Mas Abyan.


Mas Abyan tersenyum-senyum, sambil memegang hidung yang di tempel handiplast kemarin.


"Iya, biar dapatnya cepat loh. Kalau keseringan nggak matang bibitnya, soalnya belum matang udah jatuh duluan." jawab Bu Muna.


"Emang berapa kali si sehari, kalian berdua?" tanya Bu Kana ingin tau.


"Ih bikin malu aja deh lu." jawab Bu Yasmin


"Lima kali." jawabku spontan. Serukan ya, candain mereka.


Mas Abyan melihat ke arahku lagi. "Ay, malu di jelasin." ucap Mas Abyan memberi kode, agar tidak di bahas.


"Duh kalian, bikin menantu saya malu aja." ucap Ibu Sari datang menghampiri. "Kita lanjuti makannya jangan ganggu pengantin baru." bantu Ibu Sari membawa mereka ke meja makan lagi.


Kami berdua hanya menggelengkan kepala dengan tersenyum-senyum.

__ADS_1


Kita berdua kalau jadi artis sepertinya masuk nominasi deh.


Bersambung...


__ADS_2