Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 108 Awas!


__ADS_3

POV Abyan


Gue berjalan keluar kamar, mengeluarkan handphone di dalam saku. Menekan layar, menelepon Fadel.


"Ada apa, Mas? Tenang aja ular keket masih aman." ucap Fadel santai, dirinya selalu mengetahui apa yang gue inginkan. Di sisi lain baguslah dirinya tau, gue nggak susah-susah menjelaskan apa mauku.


"Kenapa bisa bertemu, Zahra?" kesalku yang memuncak.


"Elu tau, Mas. Dirinya itu diam-diam banyak simpanan."


Simpanan? Ah masa bodohlah.


"Gue nggak mau tau, bagaimana caranya Cherly tidak boleh menemui Zahra lagi." perintahku yang takut kondisi Zahra sedang hamil.


Gue nggak mau terjadi apa-apa antara Zahra dan anakku.


Sudah cukup selama ini gue menelantarkan Zahra yang ternyata sedang hamil. Jika terjadi suatu saat gue tidak berada di dekatnya. Entah apa yang gue lakukan? Selain menyerahkan nyawaku padanya. Semoga anakku dan Zahra baik-baik saja.


"Siap, Mas." jawab Fadel.


"Awa-" ucapku berhenti, saat melihat sesosok tangan putih mulus itu melingkar di perutku.


Ceklek!


Saat itu juga Zahra keluar dari dalam kamar. Tepat sekali, gue seperti terlihat sedang selingkuh untuk kesekian kalinya.


Wajah Zahra begitu datar tibanya tersenyum. "Maaf mengganggu." ucapnya santai masuk ke dalam kamar.


Dup!


"Ay..." ucapayaku mengejar Zahar, takut dirinya salah paham sambil memutuskan panggilan.


Tapi tangan itu memelukku kuat. Sudah jelas ini pasti perbuatan Cherly.


"Lepas..." perintahku.


"Mas..." suaranya terdengar menangis.


Gue memegang tangan Cherly, memaksanya lepas.


Melihat ke arahnya dengan pakaian masih menggunakan bekini, hanya saja di lapisi kain bermotif batik bagian dada sampai pangkal paha. Gue nggak tergiur dengan penampilan yang di bilang memikat. Dari dulu dirinya selalu memakai pakaian seksi. "Sudah cukup, Cherly. Aku telah memiliki istri, dan kamu." menujuk Cherly. "Telah memiliki anak dari Reyhan, dan berbuat begitu keji, sampai aku tenggelam dengan permainan kalian." ucapku begitu kesal.


"Mas..." Cherly ingin kembali memelukku, tapi gue menjauh. "Kamu harus dengarin penjelasan aku dulu, Mas." selalu hal itu yang dirinya ucapkan.


Gue sendiri nggak butuh penjelasan darinya lagi.


"Mas..."

__ADS_1


Cherly memegang tanganku saat gue mau kembali ke kamar.


"Lepas..." perintahku yang sudah tidak mau lagi mendengar ucapan Cherly.


"Mas..." ucap Cherly semakin menangis. "Aku lakukan itu semua demi kamu, Mas."


Deg!


Lakukan,


"Mas, aku mencintaimu. Sungguh, Mas. Aku di jebak oleh Rayhan, Mas. Gara-gara dia memberikan aku minuman. Makanya aku hamil anaknya, Mas. Aku pergi meninggalkan kamu, saat itu juga. Aku nggak mau kamu marah, Mas."


Gara-gara elu gue tenggelam.


"Mas, aku nggak bisa jauh darimu, Mas. Sudah cukup enam tahun yang lalu, kita berpisah, Mas."


Gue melepaskan tangan Cherly secara paksa.


"Dimana hati elu, Cher? Saat gue di rumah sakit jiwa, dengan kondisi gue hampir bunuh diri karena merasa bersalah." tanyaku jujur.


"Mas, aku nggak berani mendekati kamu kare-"


"Cukup, Cherly. Aku sudah putuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan kamu." ucapku tegas. "Aku mempunyai istri dan calon anakku." gue perjelas. "Di hatiku ada mereka." Gue ingin pergi, Cherly memegang tanganku.


Kembali ku lepaskan.


"Gue peringatkan lagi." menujuk Cherly. "Saat ini dan sampai kapanpun. Tidak ada lagi elu di hati gue. Ingat! Mulai detik ini jauhi gue dan semuanya." malasku melihat wajah wanita yang telah membuat gue hancur.


Deg!


Gue berhenti sejenak, mendengar ancaman Cherly.


"Terserah." hanya itu yang bisa gue ucapkan.


Kedepannya gue akan menjaga Zahra seketat mungkin, jangan sampai Cherly berbuat yang tidak-tidak pada Zahra.


Ceklek!


Gue masuk ke dalam kamar.


Melihat Zahra keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian dress berlengan pendek panjangnya batas lutut, dengan santai dirinya tersenyum.


"Mamas udah reunian bersama mantan?"


Deg!


Berjalan langsung mendekati Zahra dan memeluknya. Gue harap Zahra tidak salah paham yang kesekian kalinya.

__ADS_1


"Ay, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Emang apa sih Mas, yang aku pikirkan?" tanyanya santai tapi berhasil membuat gue tersindir.


Melepas pelukan dan memegang bahu Zahra. "Ay, tadi itu Mamas benar-benar tidak tau kalau Cherly di belakang dan memeluk Mamas, Ay. Dan situasi benar-benar tepat saat kamu keluar." upayaku menjelaskan. "Ay, Mamas benar-benar nggak mempunyai perasaan apa-apa pada Cherly."


"Terus kenapa Mas, wanita itu ada di sini?" tanya Zahra membuat gue juga tidak tau kenapa Cherly berada di Bali.


"Mamas nggak tau, Ay. Demi apapun, Mamas nggak ada hubungan apa-apa lagi. Termasuk memintanya ke sini." entah gue bingung harus bagaimana meyakinkan Zahra, kalau gue benar-benar mencintainya.


Air mata Zahra mengalir. "Ay, yakinlah Mamas benar-benar mencintai kamu." mengusap air mata di wajah Zahra.


"Terus, Mamas mau apa sekarang, saat Cherly berada di sini?" pertanyaan yang membuat gue bingung harus apa, kecuali.


"Kita pulang ke Jakarta." ajakku.


Lebih baik menjauhi Cherly.


"Kasihan Mas, dengan yang lain sedang berlibur. Di tambah aku ingin di sini. Lebih baik Mamas aja yang pulang."


Deg!


Gue di usir Zahra.


"Ay, jangan begitulah. Mamas nggak bisa jauh dari kamu. Apalagi..." ancaman Cherly tadi, membuat gue nggak bisa meninggalkan Zahra dan anakku.


"Apalagi, apa, Mas?" terlihat Zahra penasaran.


Gue tersenyum. "Apalagi ada untun, Ay." memegang perut Zahra. "Mamas nggak mau pisah darinya." jawabku mengalihkan ke yang lain. Tidak mungkin gue memberi tau Zahra, bahwa Cherly akan berbuat sesuatu. Gue nggak mau, jika Zahra tau atas ancaman Cherly, membuat dirinya stres dan mengakibatkan kesehatannya terganggu. Lebih baik gue yang bertindak sendirian melindungi Zahra dan anakku.


Semenjak mengetahui Zahra hamil. Gue benar-benar merasa mendapat sesuatu yang tidak ternilai harganya. Anak ini adalah darah daging yang selama ini gue nantikan. Beberapa bulan lagi, sebutan Ayah akan terdengar. Gue yakin bisa melindungi Zahra.


"Iya udah kalau memang tidak ada hubungannya dengan Mbak Cherly. Mamas di kamar aja, sedangkan aku jalan-jalan. Biar Mamas nggak bertemu pelakor." jelas Zahra membuat gue semakin mencintainya.


Gue tau Zahra menyembunyikan rasa sakit saat melihat Cherly hidup kembali dan berusaha mendapatkan gue lagi.


"Ay, jangan gitulah." rayuku yang memegang pinggang Zahra agar kami bersentuhan. Rasa perutnya yang mulai membesar itu, membuatku merasa bahagia. Ada cinta kami di dalam sana.


"Iya udah, kita biarin aja dirinya, Mas. Tapi, satu kali lagi aku melihat kamu bersama dirinya sambil berpelukan. Kita pisah kamar, Mas."


Deg!


Ancaman Zahra membuat gue ingin terjun ke dasar jurang. Lebih baik begitu dari pada berpisah walau hanya sebatas kamar.


"Mamas usahakan Cherly tidak akan melakukan hal itu lagi." memeluk Zahra.


"Awas!" ucapnya mengancam kembali, sambil menahan agar tidak menangis.

__ADS_1


"Iya, Ay. Janji." mengusap bahu Zahra agar dirinya tenang.


Bersambung...


__ADS_2