Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 114 Terakhir


__ADS_3

Kami berdua telah siap. Mas Abyan membawa tasku yang di letakkan di atas sikunya. Melihat jalan Mas Abyan kenapa jadi begini geli gue. "Mas, bisa nggak jalannya santai aja. Nggak usah centil gini." protesku.


"Emang beginikan, Ay. Jalannya wanita." masihnya bergaya centil.


"Iya nggak usah gini juga kali, Mas." nggak suka gue.


Mas Abyan tertawa sambil menutup mulutnya. Sumpah geli gue. Dah jalan aja, terserah dirinya.


Keluar rumah melihat Pak Amin sedang duduk di teras sambil minum kopi, Sedangkan Bi Ning nyapu halaman.


Mereka terkejut melihat Mas Abyan sambil mengulum tawa.


"Tertawa aja, Bi. Jangan di tahan." ucap Mas Abyan.


"Hahaha... Hahaha... Hahaha..." puas Bi Ning dan Pak Amin tertawa.


"Kenapa kamu bisa begini, Nak?" tanya Bi Ning sekarang sudah seperti orang tua kami.


"Zahra mau jalan-jalan ke pasar, Bi. Tapi saya harus berpenampilan begini." jelas Mas Abyan terlihat pasrah oleh permintaanku.


Pak Amin meminum kopinya. "Ngidamnya Istri memang aneh-aneh, Pak." ucapnya saat setelah meneguk air kopi. "Dulu kalau saya, di pinta naik pohon kelapa jam sebelas malam. Bibi mau minum kelapa muda harus dari pohonnya langsung." jelas Pak Amin membuat kami terkejut.


Mas Abyan melihatku. "Ay, Mamas ikhlas seperti ini. Jangan minta di suruh naik pohon kelapa malam-malam, Ay. Mamas nggak bisa. Serius."


"Haha... Haha..." geliku membayangkan hal itu.


"Iya jika Nona mau, kamu harus mau." canda Bi Ning.


Lagian mana tega gue nyuruh Mas Abyan begitu.


Mas Abyan terlihat cemas. "Nggak, Mas. Tenang aja." upayaku menenangkan pikiran Mas Abyan. "Ini aja udah cukup." padahal gue bukan ngidam, hanya ingin Mas Abyan nggak memamerkan kegantengannya aja.


"Iya udah Bi, Pak. Kami berangkat dulu." ucap Mas Abyan.


"Hati-hati." ucap Bi Ning.


Pak Amin membuka pagar.


"Iya Bu." jawabku.


Kami berdua masuk ke dalam mobil, memasangkan sabuk pengaman. "Bismillahirrahmanirrahim." ucap Mas Abyan menjalankan mobil.


Tin!


Memberikan kode pada Pak Amin kami berangkat.


Pak Amin hanya tersenyum-senyum, masihnya menahan geli melihat Mas Abyan.


Jujur sih, gue melihat Mas Abyan ingin tertawa di sertai rasa kagum.


Sepanjang jalan kami satu sama lain hanya mengulum tawa. Kejadian pagi ini membuat kami merasa bahagia. Ada-ada aja kelakuan gue minta Mas Abyan begini. Apa benar ini ngidam atau gimana?


Mobil di parkirkan Mas Abyan.


Kami turun dari sana. Berjalan masuk ke pasar tradisional. Mataku mencari letak dimana kepiting itu berada. fokusku mencari kepiting, tapi melihat akang-akang yang jualan seperti aneh mataku melihat ke Mas Abyan.


Apa mereka terkesima dengan penampilan Mas Abyan?

__ADS_1


Mulai menghembuskan nafas kasar. "Neng, boleh minta nomor handphonenya." jelas lelaki terlihat ganteng menghampirin Mas Abyan.


Lah sudah, menjauhi kamu hawa, yang datang kaum Adam.


Mas Abyan mengulum senyum.


"Foto boleh nggak?" tanya laki-laki yang datang menghampiri.


Entah gue bingung harus apa?


"Mbak yang hamil duduk aja di sini sebentar, kok." ucap lelaki yang datang membawa kursi plastik di dekatku.


"Oh boleh." mengikuti arahan, lagian kakiku pegal berjalan mencari kepiting yang tak satupun terlihat jelas.


Mas Abyan terlihat pasrah aja di foto, walau bobot tubuhnya paling tinggi dari laki-laki lain.


Sempurna itu Mas Abyan memainkan perannya.


Apa mungkin rambut palsu di rumah itu, milik Mas Abyan?


"Mbak, mau nggak menikah dengan saya." ucap lelaki ganteng itu dengan gagahnya pada Mas Abyan. "Saya memiliki saham dan beberapa investasi yang menguntungkan. Di jamin hidup kamu akan bahagia." jelasnya dengan merayu Mas Abyan.


Melihat Mas Abyan hanya bisa mengulum tawa. Gue pun sama. "Maaf ya, Mas." ucap Mas Abyan dengan nada kecentilan.


Amit-amit cabang bayi, mengelus perut. Anak kami jangan seperti itu.


"Saya sudah beristri." jelas Mas Abyan.


Mereka semua terdiam. "Beristri gimana?" tanya lelaki yang ngajak nikah.


"Mbak ini suami saya, Mas." jelasku santai dengan tersenyum.


Okelah udah cukup! Berdiri memegangin tangan Mas Abyan. "Mas, ayo cari kepiting lagi."


Mas Abyan hanya mengulum senyum, menganggukkan kepala tandanya menyetujui.


"Eh, Mbak. Masa main pergi aja." tangan Mas Abyan di pegang lelaki yang satunya.


Mas Abyan tersenyum-senyum, memberikan kode dengan melepaskan tangannya seperti untuk menghubunginya lewat handphone saja. Entah nomor yang di beri Mas Abyan asli atau palsu.


Mereka semua tersenyum-senyum. Kami berdua lanjut jalan lagi mencari kepiting. "Ah itu dia." tunjukku pada kepiting berukuran besar dengan cepat kami berjalan.


"Berapa ini?" tanya Mas Abyan pada akang penjualan.


"Ini dua ratus lima puluh ribu perekor, Neng." jawab akan itu tersenyum manis melihat Mas Abyan.


Rasanya kenapa gue sebagai perempuan tidak ada harganya ya?


Untung Mas Abyan laki-laki, kalau perempuan semua kaum hawa pada punah sisalah dirinya seorang, bisa jadi begitu.


"Saya beli empat, Mas." ucapku yang ingin makan bersama Bi Ning dan Pak Amin.


"Sebentar saya bungkus dulu." ucap akang penjualan langsung mengambil kepiting berukuran jumbo.


"Beli empat, Ay. Nggak kebanyakan?" tanya Mas Abyan terlihat bingung.


"Nggak, Mas. Kita makan ngajak Pak Amin dan Bi Ning seperti biasa." bisikku.

__ADS_1


Mas Abyan hanya diam, sepertinya mengerti.


"Ini, Neng." ucap Akang penjualan memberikan ke Mas Abyan.


"Ini, Mas." Mas Abyan menyerahkan uang ke akang penjualan.


"Terimakasih ya, Neng." ucap akan penjualan terlihat bahagia sambil mengedipkan mata satu pada Mas Abyan.


Mas Abyan hanya tersenyum.


"Ayo, Mas." ajakku.


Mas Abyan mengikuti, masihnya tersenyum.


"Mas, beli minum dulu, yuk." ajakku merasa haus.


"Tadi Mamas lihat di seberang jalan ada kafe. Kamu tunggu di mobil, Mamas ke sana sebentar?" jelas Mas Abyan terlihat nggak mau lagi aku jalan.


"Duduk di halte aja, Mas." pintaku, sekalian lihat-lihat jalan. Bosan kalau di mobil.


"Panas, Ay." Mas Abyan terlihat khawatir dengan cuaca yang terbilang sinar mentari di atas kepala.


"Nggak, Mas. Aku sudah biasa. Lagian bosan di mobil." inginku.


Terdengar jelas hembusan nafas kasar Mas Abyan, sepertinya masih nggak rela gue duduk di halte. "Mamas juga hanya beli air minum. Nggak papa aku tunggu di sana." tunjukku di halte tak jauh dari kami.


Mas Abyan hanya menganggukkan kepala. Dirinya mulai berjalan menyeberangi jalan.


Terlihat dirinya bingung melintasi jalan saat berdiri di tengah jalan. Kendaraan hari ini begitu ramai.


Mas Abyan tibanya melihatku dengan wajah khawatir. "Awas Zahra..." pekiknya melihat ke arah belakang.


Langsung aja melihat ke arah belakang ada apa?


Mobil berwarna hitam pekat melaju sangat cepat ke arahku.


Brak!


Bruk!


Brak!


Duargh!


Aw....


"Zahra..." itulah yang hanya terdengar di telingaku.


Entah apa yang ku rasakan saat ini? Sakit. Rasanya banyak sekali yang mengalir di sekujur tubuhku.


"Ay..." Mas Abyan terlihat sangat khawatir, wajahnya memerah penuh dengan air mata. Diriku telah di kelilingi berbagai wujud manusia. Telihat di wajah mereka penuh khawatir.


"Mas, aku masih bisa bertahan, selamatkan anak kita." hanya itu yang bisa ku sampaikan.


"Ay... Bertahan, Ay." ucapan Mas Abyan yang terus menerus meneteskan air mata. Bibirnya gemetar dengan hebat.


Penglihatanku semakin menghitam.

__ADS_1


"Ay..." teriakan Mas Abyan yang terkahir ku dengar.


Bersambung...


__ADS_2