
"Ay, Mamas mau bicara." selesainya Mas Abyan mandi dengan rambut sedikit basah.
Sekarang ingin mendekat.
Gue yang duduk di ujung ranjang sedang memainkan handphone, mendengar suara Mas Abyan ingin berbicara, jantungku goyang aerobik.
Gue tau, pasti Mas Abyan mau menjelaskan masalah kemarin.
Duk!
Duk!
Duk!
Melihat Mas Abyan yang berhenti melangkah, mungkin juga mendengarnya, Mas Abyan mengambil handphone dan melihat sesuatu.
"Apa, Mas?" tanyaku penasaran, ada apa di depan pintu.
"Lihat ini!" ucap Mas Abyan mengarahkan layar handphone ke arahku.
Terlihat jelas, orang-orang yang sedang berada di depan pintu, menempelkan telinga mereka.
Cctv tak jauh dari kamar, bisa melihat mereka berada di sana.
Itu orang kenapa di situ? Seperti mau mendengar sesuatu.
Jelas sekali wajah itu terlihat Falisha, Ibu Sari, Oma Farra, Hanum, Yayu Diyah, Yayu Zainisa, dan Yayu Dina.
Senyumku melihat wajah Mas Abyan yang keberatan, melihat mereka di depan pintu. Gue ikuti permainan kalian.
Meletakkan handphone di atas meja.
"Mas, sini." ajakku dengan suara berbisik memanggil Mas Abyan untuk mendekat.
"Apa, Ay?" ucap Mas Abyan berbicara dengan nada tinggi.
Telunjukku mengarah ke mulut.
Syuuut!
Memanggil Mas Abyan dengan tangan menyuruhnya mendekat.
Mas Abyan langsung saja mendekat, mengangkat ke-dua alis, tandanya ada apa setelah duduk di dekatku.
"Mas sepertinya mereka, berpikir yang aneh deh." ucapku berbisik kembali.
"Maksudnya, Ay?" Mas Abyan juga berbicara berbisik.
Kita berdua seperti lagi bisik-bisik tetangga ya hehe...
"Mungkin malam pertama, Mas."
Mas Abyan terdiam sebentar. "Terus kita harus apa, Ay?" mikirnya mungkin mencari solusi tapi nggak tau apa yang harus di lakukan.
"Mas kita main suit, siapa yang kalah di cubit. Kalau sakit harus ngeluarin nada sedikit sensitif ya, Mas." ajakku agar Mas Abyan setuju.
"Sensitif gimana, Ay?" tanyanya polos.
Mamas polos atau polos sih? Gitu aja nggak tau. "Mendesah Mas, biar mereka terhibur."
"Apaan sih, Ay?" jawab Mas Abyan dengan wajah yang memerah. "Biar Mamas usir mereka." inginnya berdiri, gue langsung memegang tangan Mas Abyan.
"Mas, kamu mau aku jadi pembicaraan nantinya." merayunya.
"Tapi, Ay-"
"Ya sudah kalau Mamas nggak mau! Nggak usah kita jadi bestiean." puraku merajuk.
"Kamu marah, Ay?" duduknya lagi di atas ranjang.
"Nggak, kok Mas." melihat ke arah lain.
"Iya, Ay. Mamas mau." wajah yang tersenyum paksa.
__ADS_1
"Benaran?" memastikan lagi.
"Iya, benar." setujuhnya.
"Oke kita mulai. Satu, dua, tiga."
Jreng!
Mas Abyan kalah, gue memasang jempol Mas Abyan memasang telunjuk.
"Mulai ya, Mas?" tangan putih Mas Abyan gue elus-elus, tibalah mencubit kuat-kuat, anggap saja membalaskan dendam yang tersimpan, akibat dirimu main nikah aja tanpa perundingan.
"Aaaaaah..." wajah Mas Abyan memerah usai mendesah.
Gue menahan tawa.
"Satu, dua, tiga." ucapku melanjutkan permainan.
Jreng!
Gue kalah, Mas Abyan mengelus-elus dulu, tibalah cubitannya pelan.
"Mas kurang kuat." ucapku dengan nada tinggi sedikit mendesah.
"Ayo main lagi." ajaknya main lagi, mungkin harapnya Mas Abyan saja yang kalah.
"Satu, dua, tiga." ucapku berbisik.
Jreng!
Gue kalah lagi, Mas Abyan bernafas kasar mengelus tanganku dulu, tibanya Mas Abyan mencubit.
"Aaaaaah, Mash." menahan sakit di kulit. Balas dendam sepertinya Mas Abyan.
Wajah Mas Abyan berubah menjadi kepiting rebus melihat layar handphone.
Gue hanya bisa mengulum tawa terus, serunya mainin anak orang.
Melihat handphone Mas Abyan, keluarga kami seperti kegirangan.
"Mas mereka belum pergi, kita lanjuti dengan permainan yang lain yuk."
"Apa, Ay?"
"Ayo, naik ke ranjang." memegang tangan Mas Abyan mengajaknya berdiri di atas ranjang.
Mas Abyan mengikuti.
Sekarang memegang tangan Mas Abyan seperti sudah terbiasa, akibat di pegang Mas Abyan terus-menerus.
"Ngapain, Ay?" tanyanya.
"Kita main lompat, Mas." ajakku.
"Hmmm." setujunya.
Kami berdua mulai menggoyangkan ranjang dengan pelan, lama-lama semakin kuat.
Takut gue dengan ranjang yang ambles ke bawah. "Mas, aaah... Pelan-pelan nanti ranjangnya rusak." suaraku meninggi.
"Nggak apa-apa, Ay" balas Mas Abyan mengikuti permainan.
Mas Abyan semakin bergoyang kuat. "Mash, pelan-pelan." takutku.
Gue aja lompat hanya sekedarnya.
"Asyik, Ay."
"Aaah, Mash, ranjangnya rusak nanti."
"Nggak apa-apa, sayang."
"Capek, Mash." pegal kakiku, ingin menyerah.
__ADS_1
"Bentar, Ay. Bentar lagi keluar." jawab Mas Abyan.
Gila banget Mamas, mengikutin permainan. Lihat lu ya?
"Apa Mash yang keluar, Aaaah..." ucapku semakin panas.
Wajah Mas Abyan benar-benar berubah seperti kepiting rebus, sudah matang tinggal ngap telan.
"Kamukan orang kesehatan, Ay. Masa nggak tau."
Gue tambah semangat bercandai Mas Abyan.
"Maskan Bosnya."
Hayo jawab apa lu? Menahan tawa.
"Berudu, Ay."
"Anak kodok, itu Mas?" akhirnya kami berdua nahan tawa.
"Anak kita, Ay."
"Masak, bentuknya berudu Mas."
"Bukan itu, Ay. Benih kita, bentuknya berudu."
Apaan sih? Mamas ngejelasinnya buat gue bingung aja.
Gue berhenti melompat. "Enggak ada Mas, benih itu bentuknya berudu."
Mas Abyan ikut berhenti. "Kamu nggak pernah lihat, pakai microscope benih manusia bentuk aslinya gimana?" tanya Mas Abyan.
"Kalau lihatnya langsung, belum pernah. Mau ambil yang siapa coba?" tanyaku polos, benar adanya.
"Jadi pernah lihat di mana?"
"Di Mbah google." jawabku nggak mau kalah.
"Nah, bentuknya di Mbah google seperti apa?"
Gue kalau berdebat sama Mas Abyan pasti kalah. Emang benar sih bentuknya hampir sama seperti berudu.
"Apa?" tantangnya.
"Iya, aku salah maaf."
"Hmmm!"
Gue mulai bergoyang lagi, Mas Abyan mengikuti. Sekitar kurang lebih dua menit kami bergoyang pelan, sambil berpegangan tangan.
"Mas, udah belum? Capek."
"Udah." berhentinya.
Kami berdua melihat lagi ke layar handphone Mas Abyan, mereka semua saling berbicara untuk pergi dari depan pintu.
Kami berdua terduduk lemas, di atas ranjang dengan kaki di luruskan. Tubuh kami penuh dengan keringat dan nafas yang tidak beraturan.
Gue memang jarang olahraga semenjak akhir-akhir ini banyak pasien di ruang rawat inap.
Mas Abyan tibanya membuka pakaian. "Mas jangan porno di sinilah." terkejutku melihat secara langsung tubuh polos atas Mas Abyan dengan cepat melihat ke arah lain.
Sebenarnya mau-mau aja gue liatin, tapi di kata mesum sama Mas Abyan malukan gue ketahuan tabiat aslinya.
"Panas, Ay." jawab Mas Abyan sambil mengelap tubuhnya dengan kaos, akibat keringat yang mengalir.
"Ac-nya bisa di besarin, Mas." jelasku dengan wajah memerah, merasa malu.
"Bentar aja, Ay." pintanya.
Gue merasa kurang nyaman. "Iya udah aku keluar aja nih." inginku berdiri, tangan langsung di pegang Mas Abyan.
"Iya, Mamas pakai lagi." mengikuti ke inginanku.
__ADS_1
Bersambung...