
Jenaka menatap mata Mandala yang penuh dengan kesungguhan. Mandala yakin dengan apa yang Ia katakan.
"Kamu mau, Jen?" tanya Mandala lagi karena Jenaka tak juga memberikan jawabannya.
"Aku... Aku udah punya Panca." jawab Jenaka lemah.
"Aku enggak peduli. Yang aku tanya, kamu mau atau enggak aku perjuangin?" Jenaka tak menjawab lagi pertanyaan Mandala.
"Oke. Aku tahu bagaimana cara kamu mau menjawabnya." Mandala semakin menarik tubuh Jenaka mendekat. Mandala sudah tergiur dengan bibir ranum milik Jenaka yang Ia tahu pasti, sekali coba akan terus terbayang dan sulit melepasnya.
Jarak diantara semuanya semakin terkikis. Wajah Jenaka semakin memerah. Ia tahu Mandala amat menginginkannya.
Lalu Jenaka melakukan kebodohan. Ia menutup matanya. Bersiap menerima apapun yang akan Mandala lakukan.
Namun Mandala hanya tersenyum. "Ini udah jadi jawaban untukku, Jen."
Jenaka membuka matanya. Agak kecewa karena apa yang dibayangkannya ternyata tidak terjadi. Ya, jujur saja Jenaka mengharapkan Mandala menciumnya.
"Kamu kecewa? Aku juga kesal karena harus menahan hasrat untuk mencium kamu! Nanti, Jen. Aku akan mencium kamu setelah kita sudah kembali menikah. Aku akan menjaga kehormatan kamu sekarang. Kamu tunggu saja aku, dan beri aku kesempatan untuk memperjuangkan kamu kembali!"
Mandala meregangkan pegangannya. Membuat jarak kembali terbentang diantara dirinya dan Jenaka. Meski enggan, Ia harus melepas Jenaka.
Momen yang tepat sekali karena Richard baru saja keluar ke balkon. "Panca sedang mencari pacarnya. Kita pura-pura mengobrol, oke?" atur Richard.
Mandala dan Jenaka malah terdiam. Tidak ikut serta dalam rencana yang dibuat Richard. Mereka berdua sibuk menenangkan debaran jantung keduanya yang bertalu semakin kencang.
"Kalian habis ngapain? ******* ya? Uhuy... Masih cinta ternyata?" ledek Richard.
"Eng...Enggak kok!" elak Jenaka.
"Enggak, Cat. Kita cuma ngobrol doang." bela Mandala.
"Ish! ******* juga enggak apa-apa. Sikonnya mendukung kok. Gue sama Adel aja enggak boleh liat tempat strategis dikit langsung nyosor."
Mandala geleng-geleng kepala dibuatnya. Kenapa keluarga Kusumadewa semuanya gesrek begini ya?
__ADS_1
"Loh kok jadi pada canggung begini sih? Jadi gimana? Jadi rujuk enggak nih?" Richard menatap bergantian Jenaka dan Mandala. "Ah mukanya masih pada cinta begini! Udah rujuk aja! Kalian kalau terus menjaga gengsi, kapan kalian bahagia? Apa kalian tahu berapa lama kalian hidup di dunia ini? Daripada terus memendam rasa dan mengedepankan ego, lebih baik menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai. Kalian bisa lebih menikmati hidup. Kalau kalian terus begini, kalian sendiri yang akan rugi!"
Jenaka dan Mandala kini saling tatap. Aneh juga rasanya diceramahi oleh orang yang baru dikenal tapi sudah begitu akrabnya. Tapi apa yang dikatakan Richard memang benar adanya.
"See? Kalian galau. Udah satukan keputusan!" ujar Richard lagi.
Tak lama Leo datang dengan tergesa. "Panca udah mendekat. Dio lagi nahan sambil nanya tentang bisnis. Gimana Cat? Mereka mau rujuk?"
Richard menggelengkan kepalanya. "Masih galau."
"Gue punya ide! Coba kalian ke Bu Sri deh!" usul Leo.
"Bu Sri?" Mandala dan Jenaka terkejut bersamaan.
"Bu Sri yang di Taman Lenteng Agung?" tanya Jenaka.
"Loh? Lo kenal juga?" tanya Leo bingung. "Dulu Maya banyak konsul sama Bu Sri."
"Adel juga." sahut Richard.
Richard dan Leo mengangguk. "Sampe lupa, gue Richard Kusumadewa dan dia Leo Kusumadewa." Richard menunjuk Leo.
"Lalu katanya ada dua cewek yang suka curhat. Yang oon dan yang minder. Itu siapa?" tanya Jenaka penasaran.
"Yang minder itu Adel, istri gue. Tapi udah enggak minder lagi sekarang." jawab Richard.
"Yah jadi enggak enak ngakuinnya. Yang oon istri gue, Maya. Sampai sekarang masih sih oonnya, tapi Maya cantik dan selalu on fire jadi-" belum selesai Leo berceloteh, Richard sudah memotong ucapannya.
"Stop! Dio enggak akan bisa lama nahan Panca. Kalo lo mau rujuk ya lo salip di tikungan lah!" Richard menghentikan omongan Leo dan kembali fokus pada Mandala.
"Gue enggak bisa frontal. Masih ada kerjasama dengan perusahaan Panca. Sebulan lagi selesai kontraknya. Dia salah satu tender besar gue-" kini Mandala belum selesai bicara sudah dipotong oleh Richard.
"Enggak usah mikirin tender. Leo, lo kerjasama sana sama perusahaannya Mandala. Sekali lihat juga gue tau kalo dia pinter bisnisnya. Enggak bakalan rugi lo nanti! Nanti gue bilang sama Papa Dibyo!" perintah Richard seenaknya.
"Niat gue juga begitu sih. Selama ini kita berkecimpung di dunia f&b kenapa enggak kerjasama?" Leo menyetujui ide Richard.
__ADS_1
"Nah lihat kan? Jodoh nih lo berdua. Jalan lo berdua dimudahin! Udah jangan kebanyakan mikir!" Richard lagi-lagi begitu bersemangat menjodohkan kembali Jenaka dan Mandala.
Jenaka dan Mandala saling tatap. "Walaupun Jena bilang enggak, gue akan tetap maju. Gue enggak mau menyesal belakangan... lagi." ujar Mandala dengan yakin.
"Nah gitu dong! Baru pejuang sejati!" puji Richard.
"Kayak kita berdua ya, Cat?" sahut Leo.
"Iyalah! Harus itu diperjuangkan!" Richard dan Leo pun berhigh five. Jenaka tersenyum melihat keakraban kedua kakak beradik tersebut. Senyum di wajah Jenaka sekejap lenyap saat mendengar....
"Kamu disini rupanya, Jen?" Panca datang dan menatap tidak suka karena Jenaka berdiri di samping Mandala.
Panca melihat jas milik Mandala yang tersampir di bahu Jenaka. Ketidaksukaannya semakin bertambah.
"Kenapa kamu pakai jas milik Mandala, Jen?" tanya Panca. Tak bisa lagi menyembunyikan ketidaksukaannya.
"Gue yang nyuruh!" Richard yang menjawab sebelum Jenaka menjawab. Semua yang disana sontak melihat ke arah Richard. Berani menjawab berarti Richard punya jawaban. Jena yakin itu!
"Gue lihat pasangan lo tadi keluar kayak kedinginan. Pas mau gue kasih jas punya gue eh gue inget kalo gue enggak pake kaos dalam! Kemeja doang tanpa jas dingin, apalagi kayak pasangan lo. Dress tanpa lengan begitu!" Richard menepuk bahu Panca dengan sok akrab. "Pas banget ada Mandala yang mau ngerokok, yaudah gue suruh aja Mandala kasih jasnya!"
Panca sebenarnya tidak percaya dengan alasan receh yang Richard kemukakan. Namun mengingat Richard adalah seorang Kusumadewa, rasanya tak mungkin berbohong hanya demi membela Mandala Wangi.
Panca memutuskan mempercayai perkataan Richard. "Pakai jas aku aja, Jen!" Panca melepaskan jas miliknya dan menukar jas milik Mandala. Menyampirkannya di bahu putih mulus milik Jenaka.
"Oh iya, gue belum memperkenalkan pasangan gue ke kalian. Jenaka, ini Richard dan Leo Kusumadewa. Dan.... Ini Dio. Mereka pengusaha muda sukses. Kalau sama Mandala kamu enggak perlu aku kenalin ya." Panca lalu tersenyum sinis. "Jenaka ini adalah calon istriku. My first and my love forever."
Richard, Leo dan Dio pun menyalami Jenaka satu persatu. "Nama yang cantik. Jenaka. Pasti dipanggilnya Jena." puji Richard sang mantan cassanova sejati.
"Iyalah! Kalo dipanggilnya Adel mah istri lo, Cat!" celetuk Dio. Semuanya menertawakan celetukan Dio. Hanya satu yang sejak tadi diam saja, siapa lagi kalau bukan Mandala.
Mandala memegang jas yang tadi dikembalikan Panca tanpa mengucap kata terima kasih sekalipun. Dalam hati Mandala bertekad. Ia akan memperjuangman kembali Jenaka.
Mandala melihat tiga orang pria di depannya. Mereka membuatnya yakin untuk memperjuangkan cintanya. Kalaupun nanti kalah, setidaknya Ia sudah berjuang. Memperjuangkan cinta Jenaka.
****
__ADS_1