
"Udah baikkan." jawab Jenaka datar. Tak ada lagi senyum di wajahnya.
"Mau aku antar ke dokter? Aku ada kenalan dokter juga. Melisa aku rekomendasiin dan cocok kok. Kita kesana aja ya. Biar kamu cepat sembuh." Panca bukannya memperbaiki kesalahan malah memicu emosi Jenaka.
"Kamu pacaran sama Melisa ya, Ca? Atau kamu naksir sama dia? Kayaknya hidup kamu selalu Melisa, Melisa dan Melisa." sindir Jenaka.
"Maaf kalau buat kamu cemburu, Jen. Melisa tuh teman yang baik makanya aku dekat sama dia. Hanya teman dan enggak-" belum selesai Panca bicara Jenaka sudah memotongnya.
"Aku enggak peduli ya Ca. Aku enggak cemburu tuh. Aku hanya kesal aja sama kamu! Dulu kamu tuh pergaulannya sederhana. Sekarang apa-apa Melisa. Gaya hidup kayak Melisa, sampai kamu kehilangan jati diri kamu tau enggak?!"
"Aku enggak kehilangan jati diri, Jen. Aku masih sama kayak Panca yang dulu. Atau kamu mau aku berdandan kayak dulu lagi? Aku akan kayak dulu lagi Jen kalo kamu yang memintanya."
Jenaka membuang pandangannya. Rasa kesal masih menyelimutinya. Untung saja dia belum mandi, nanti selepas Panca pulang Ia akan keramas pakai air dingin agar semua mumet dan kekesalannya hilang.
"Percuma, penampilan bisa kamu ubah jadi kayak dulu. Namun kepribadian kamu udah banyak berubah. Mungkin uang memang mengubah seseorang, Ca. Mau apa kamu kesini?" tanya Jenaka dengan juteknya. Ia tak mau menghabiskan waktu berlama-lama dengan Panca. Bikin naik darah saja.
"Aku enggak berubah, Jen. Aku masih Panca yang sama! Gini aja deh, kamu mau aku kayak gimana pasti aku ikutin. Mau rambut aku dibuat kayak dulu, aku akan buat. Mau aku pakai kacamata lagi, aku akan-"
"Kamu mau apa kesini, Ca?" lagi-lagi Jenaka memotong ucapan Panca. Ia tak mau membalas Panca yang masih mengungkit tentang penampilan.
Jenaka tak mempermasalahkan penampilan Panca. Dia malah beruntung, Panca terlihat lebih tampan dibanding sebelumnya. Ia hanya mau sifat dan sikap Panca seperti dulu. Bukan Panca yang egois dan seenaknya sendiri seperti sekarang.
Panca terdengar menghela nafas, mungkin menambah stok sabar menghadapi wanita di depannya yang sedang dalam mode galak.
"Tadi Juna ke kantor. Mengantarkan surat dokter kamu dan surat pengunduran diri. Kamu beneran mau resign? Kenapa? Masih marah karena pesta kemarin? Aku minta maaf kalau buat kamu marah, Jen. Aku janji enggak akan mengulanginya lagi! Kamu jangan resign ya, Jen."
Jenaka merasa ini kesempatannya. Mengambil kesempatan sebelum menorehkan luka. Agak kejam sih, tapi mau bagaimana lagi? Tagihan banyak bos!
__ADS_1
"Oke aku enggak akan resign. Tapi aku mau pindah bagian."
"Pindah bagian? Em... Oke. Kamu mau pindah di bagian apa?" Panca rupanya masih mau Jenaka bekerja di perusahaannya.
"Jadi admin biasa aja. Aku enggak masalah kok dengan penurunan gaji."
"Oh tenang aja, gaji kamu tetap sama kok. Masa sih aku ngasih calon istri aku gaji sama kayak yang lain."
"Ca, kamu ingat apa yang aku bilang kemarin. Aku bilang sama kamu, aku meragukan hubungan kita. Aku-"
"Hubungan kita baik-baik saja, Jen! Dan akan tetap baik-baik saja. Orang tua aku akan segera datang dan melamar kamu! Aku akan menghubungi mereka agar cepat datang!"
"Ca. Aku mohon... Kamu akan semakin tersakiti nantinya dan aku enggak mau itu. Kamu tau bagaimana aku sangat menyayangi kamu. Kamu tau aku begitu takut kamu terluka. Jangan seperti ini, Ca."
"Jen. Aku enggak akan tersakiti selama kita masih bersama. Aku bersama kamu, wanita yang paling aku cintai."
"Kamu hanya tidak berusaha lebih keras, Jen. Kamu bisa jika kamu mau. Apa karena Mandala? Karena kamu masih mencintai dia?" sikap memaksa Panca kembali datang.
"2 tahun lebih, Ca. Kamu pikir aku enggak berusaha dengan lebih keras? Kamu pikir aku enggak berusaha move on? Tapi aku enggak bisa. Bukan karena Kak Mandala. Namun semakin mengenal kamu, semakin aku sadar kalau kamu tak akan pernah bisa aku cintai. Kamu terus memaksa aku. Kamu bilang akan membuatku bahagia, namun apa? Aku hanya harus mengikuti apa yang kamu mau! Aku cuma piala yang kamu pamerkan dengan rasa bangga pada setiap orang. Itu bukan cinta namanya, Ca. Itu obsesi. Dan kamu menjadikanku sebagai obsesi kamu!" Jenaka akhirnya mengeluarkan segala unek-uneknya selama ini.
"Oke. Aku akan berubah. Aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Aku akan menjadi seperti yang kamu inginkan. Tapi aku mohon, jangan akhiri hubungan kita Jen. Aku mohon!"
Jenaka menggelengkan kepalanya tak percaya. "Aku bukan menginginkan kamu jadi yang aku mau, Ca. Apa bedanya aku sama kamu kalau aku melakukan itu? Cinta tuh enggak kayak begitu. Cinta tuh menerima diri pasangan kamu apa adanya!"
"Aku akan menerima kamu apa adanya, Jen. Aku saja tak mempermasalahkan status kamu yang seorang janda. Apa kurangnya aku coba?"
Deg....
__ADS_1
Panca tak sadar sudah menarik pelatuk....
"Memangnya aku mau jadi seorang janda, Ca? Aku tak pernah mau menjadi seorang janda! Itu jalan hidupku, takdirku." Jenaka terlihat menghirup nafas banyak-banyak untuk menguasai dirinya dari gelombang amarah yang besar. "Aku semakin yakin kalau hubungan kita enggak bisa diteruskan kembali, Ca. Terlalu banyak perbedaan di antara kita. Kamu sudah terlalu banyak berubah. Atau aku yang memang tak pernah benar-benar mengenal kamu yang sebenarnya?" Jenaka pun berdiri.
"Jen, aku mohon! Kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku minta maaf karena telah mengungkit status kamu! Maafkan aku, Jena!" Panca memegang pergelangan tangan Jenaka namun Jenaka tepis. Jenaka tetap masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Panca seorang diri di ruang tamu.
Bunda yang sejak tadi mendengarkan percakapan Jenaka dan Panca pun turun tangan. Bunda duduk di kursi dan hendak mengajak Panca berbicara.
"Maaf kalau Bunda sejak tadi menguping pertengkaran kalian." Bunda menatap Panca dengan lekat. "Panca tau kenapa setiap botol berbeda tutupnya? Karena ukuran dan kegunaan tutup tersebut. Apabila tutupnya terlalu besar, maka isi dalam botol akan tumpah. Begitu pula kalau tutupnya kekecilan. Tidak akan bisa menutup semua lubang dan akhirnya sama, isi dalam botol akan tumpah juga,"
"Maaf Bunda menyamakan perumpamaannya dengan botol minuman. Ini hal yang sederhana. Sepasang kekasih layaknya botol dengan tutupnya. Harus saling mengasihi dan menyayangi agar bisa menyatu dengan sempurna. Bagaimana kalau dipaksakan? Seperti yang Bunda tadi bilang, hanya akan membuat isi dalam botol tumpah. Isi itu maksudnya emosi. Botol dan tutupnya yang sesuai akan dapat meredam emosi. Namun botol yang tutupnya tidak sesuai malah akan membuat emosi terus tumpah ruah,"
"Apa jadinya kalau isinya tumpah ruah? Rumah jadi kotor. Sama seperti rumah tangga, jika emosi terus tumpah ruah maka rumah tangganya akan panas tak akan harmonis. Apa Panca menginginkan rumah tangga yang seperti itu?" tanya Bunda.
"Tapi Panca sangat mencintai Jena, Bun. Bunda tau kan, sejak dulu hanya Jena yang Panca cintai. Kemanapun Jena pergi, Panca selalu ikut. Apa salah kalau Panca mencintai Jena dan ingin memperistrinya?"
Bunda tersenyum. "Enggak ada yang salah dengan mencintai seseorang. Bunda sangat senang kalau putri Bunda dicintai oleh banyak orang. Tandanya Bunda berhasil mendidik putri Bunda jadi pribadi yang disayangi. Namun beda cerita kalau memperistri. Harus dengan seijiin putri Bunda. Tidak bisa dipaksakan. Sama seperti botol dan tutupnya yang tadi Bunda bilang."
"Apa Bunda lebih rela Jenaka dengan Mandala dibandingkan dengan Panca?"
"Kalau memang Mandala adalah tutup botol yang sesuai untuk Jenaka, kenapa tidak?" tanya balik Bunda. "Justru Bunda lebih enggak rela kalau kamu memaksa kehendak kamu pada Jenaka. Karena apa? Karena kalian berdua yang akan terluka nantinya!"
***
Hi Semua...
Selamat hari senin, selamat beraktifitas kembali. Yuk mampir ke IG aku: Mizzly_ dan juga FB aku: Mizzly
__ADS_1
Tetap dukung aku dengan vote, like, komen dan add favorit ya. Makasih banyak semuanya. Luv i all 😘😘😘