Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Penawaran yang Menggiurkan


__ADS_3

Rupanya keterkejutan Jenaka tak berhenti sampai dimana Ia mengetahui kalau Panca adalah pemimpin Reel Group. Masih ada keterkejutan lain yang menantinya.


Penampilan Panca yang berubah 180⁰ membuatnya tidak Jenaka kenali. Jenaka masih belum percaya kalau laki-laki ganteng yang sedang menyetir mobil Lamborghini yang Ia tumpangi adalah sahabatnya, Panca. Jenaka bagai sedang berada dalam mimpi yang terlalu indah untuk dipercaya.


Panca adalah CEO Reel Group!


Panca si cowok berpenampilan cupu, memakai baju kebesaran yang dimasukkan ke dalam celana dan berkacamata yang selalu mengikuti kemanapun Jenaka pergi adalah cowok tampan yang kini berada di sampingnya. Siapa yang akan mempercayainya?


"Mm... Panca, kok lo enggak pakai kacamata sih?" Jenaka memang sepolos itu. Bukan nanya tentang perusahaan atau harta milik Panca, malah nanya kenapa enggak pakai kacamata?!


"Gue udah operasi lasik, Jen. Sebenarnya waktu sekolah dulu minus gue enggak terlalu gede. Gue suka aja penampilan pakai kacamata, kayak Superman." Panca tetap fokus mengemudikan mobilnya di jalanan yang mulai padat.


"Terus, lo selama ini kemana? Kok menghilang bagai ditelan bumi? Gue, Lulu dan Lily nyariin lo terus loh! Kita bahkan sampai datengin rumah lo, ternyata itu rumah kakek nenek lo yang udah kosong sejak lo pindah. Kita bertiga juga hubungin Hp lo tapi udah enggak pernah aktif lagi!" Jenaka teringat kala Panca menghilang tanpa kabar. Ia bersama kedua sahabatnya bagai orang linglung yang kehilangan sahabat mereka tersayang.


Panca tersenyum, hatinya menghangat mengetahui kalau banyak sahabat yang menyayanginya. "Gue pindah, Jen. Ikut bokap nyokap ke Amerika. Waktu itu kondisi kakek gue dari bokap udah kritis. Gue sekeluarga langsung terbang kesana. Sesampainya disana, bokap disuruh pimpin perusahaan. Niatnya gue mau balik lagi, namun bokap ngelarang. Udah enggak ada yang tinggal di rumah kakek nenek gue yang selama ini gue tinggali. Gue nurut permintaan bokap. Gue kuliah disana dan baru 2 tahun gue megang perusahaan kakek gue,"


"Bokap bilang ada temannya, namanya Om Prabu yang ngajakkin kerjasama, gue disuruh jadi perwakilan bokap untuk melihat prospek kerjasamanya. Baru aja seminggu gue di Jakarta. Niatnya mau nyari keberadaan lo sama Lulu dan Lily eh kayak takdir, malah ketemu sama lo disini."


"Iya ya... Kita kayak takdir. Gue tadi sumpah enggak ngenalin lo. Gue cuma ngerasa sorot mata lo kayak gue kenal. Tapi asli, lo ganteng banget sekarang! Kayak artis! Superman mah lewat sama lo saat buka kacamata kayak gini!" tak ada kecanggungan lagi sekarang. Jenaka sudah seperti mengobrol dengan Panca seperti dulu saat mereka satu sekolah.


"Tapi tadi presentasi lo bagus loh! Ayo lah pindah ke perusahaan gue! Gue kasih 2x lipat gaji lo di Prabu Group deh!" Panca menawarkan penawaran yang begitu menggoda Jenaka.


"Yah... cuma 2x... Masa sih CEO kayak lo cuma berani kasih penawaran 2x gaji! Huh!" ledek Jenaka.


"Oke, 5 kali! Misalnya gaji lo sepuluh juta, gue kasih sebulan lima puluh juta! Kalo lo bagus gue naikkin lagi, gimana?" mata Jenaka berbinar mendengar nominal yang Panca sebutkan. Penawaran yang fantastis. Apa rasanya ya sebulan gajian lima puluh juta?


"Wow! Lima puluh juta! Tapi gaji gue cuma enam juta cuy! Kalo lima kali lipat paling dapet tiga puluh juta!"


"Dih murah banget lo digaji! Udah besok pindah! Gue suruh sekretaris gue siapin kontrak kerja buat lo!"


Jenaka tersenyum sinis. "Sayangnya, gue enggak yakin bisa pindah di perusahaan lo apa enggak!"


"Loh? Kenapa enggak?" Panca memarkirkan mobilnya di parkiran yang disediakan mall untuk mobil sport milik Panca. Hanya tinggal jalan sebentar ke lobby. Benar-benar beda ya perlakuannya antara si kaya dengan si miskin.


Panca menggandeng tangan Jenaka. Mengajaknya masuk ke dalam mall. "Ke cafe itu aja! Lo kalo mau makan ada makan siangnya juga kok!"


Jenaka mengangguk setuju. Sebenarnya Panca ingin merangkul Jenaka seperti yang biasanya Ia lakukan saat SMA dulu. Namun kini, Jenaka sudah menjelma jadi wanita cantik yang harus dijaga kehormatannya. Tidak sembarangan main gandeng saja.


Panca memesankan menu untuk dirinya dan Jenaka. "Jadi gimana? Lo mau kan pindah ke perusahaan gue?" Panca menagih jawaban Jenaka. Sejak tadi Jenaka tidak menjawab pertanyaannya. Malah terlihat murung.


"Gue... Enggak bisa semudah itu pindah." Jenaka ingin mengungkapkan kalau alasannya tak bisa pindah karena Mandala pasti tak akan setuju. "Nanti deh kalo gue enggak betah, gue bakalan kabarin lo!"


Jenaka pun menurut. Ia memasukkan nomor Hp miliknya. Panca menelepon Jenaka. "Itu nomor Hp gue! Simpan ya!"


Jenaka mengangguk. Percakapan mereka terjeda oleh datangnya pelayan membawakan kue dan es kopi dengan banyak whipped cream diatasnya. Benar-benar kesukaan Jenaka.


"Wah! Whipped creamya banyak banget! Masih inget aja lo kalo gue suka minuman yang banyak whipped creamnya!" Jenaka begitu antusias dan langsung mencoba minumannya.


"Inget dong! Lo tuh cewek yang enggak peduli akan berat badan saat mengkonsumsi whipped cream. Enggak kayak cewek lain yang udah khawatir berat badannya bakalan naik. Gue juga masih hafal, lo kan mengidolakan Mandala sejak SMA. Jangan-jangan karena sekarang lo satu kantor sama Mandala, makanya lo enggak mau pindah ke perusahaan gue?" tebak Panca.


"Mengidolakan Kak Mandala mah masih tetap sama. Meskipun dia udah jadi suami gue, tetap saja gue mengidolakan dia!" jawab jujur Jenaka.


"Ih masih halu aja lo! Malah halu lo makin enggak terobati!" Panca tak percaya dengan apa yang Jenaka katakan. Padahal Jenaka sudah jujur padanya. "Gimana kabar Ayah dan Bunda? Gue mau main ke rumah lo ah! Kangen sama Bunda! Pulang kerja aja gimana? Gue jemput lo di kantor!"

__ADS_1


Jenaka bingung bagaimana menjelaskannya. Ia sudah mengatakan dengan jujur kalau Ia sudah menikah dengan Mandala namun Panca masih tak percaya. Sekarang malah Panca mau ke rumah Ayah dan Bunda!


"Ya ampun gue lupa! Gue ada makan malam nanti sama Pak Mentri! Kita reschedule aja ya! Sorry Jen, gue sekarang sibuk. Enggak kayak dulu. Mau pergi tinggal pergi!" Panca membatalkan sendiri janji yang Ia buat.


Jenaka menghela nafas lega. "Iya, enggak apa-apa kok. Santai aja!"


****


Mandala dengan gelisah melihat jam tangannya. Sudah jam 1 dan Jenaka belum kembali. Kemanakah perginya istri nakalnya tersebut?


"Bu Yuli, Jenaka kalau sudah kembali tolong suruh ke ruangan saya ya!" perintah Mandala pada Bu Yuli atasan Jenaka.


"Baik, Pak. Eh itu Jenaka baru datang, Pak. Saya suruh ke ruangan Bapak sekarang ya Pak!"


Mandala sedikit lega. Jenaka sudah kembali. Namun hatinya masih dihinggapi perasaan aneh. Bayangan Jenaka dipeluk laki-laki lain di depannya membuatnya gusar.


"Apakah aku segitu cemburunya melihat Jenaka dipeluk laki-laki lain? Aku memang mulai menyukai Jenaka. Aku bahkan tertarik secara fisik padanya. Tapi kalau cemburu... berarti aku sudah mencintai Jenaka dong?


Mandala semakin cemas dikala Jenaka tak juga datang. Mau menelepon Bu Yuli tak enak, terlalu mencolok rasanya.


Cemas, marah, gelisah dan cemburu. Semua bercampur jadi satu. Waktu seakan berhenti disaat Ia menunggu kedatangan Jenaka.


Ia baru bisa bernafas lega saat Mina mengabarkan kalau Jenaka ingin menemuinya. Jenaka baru saja masuk ke dalam ruangannya sudah Mandala sambut dengan pertanyaan penuh selidik.


"Dari mana saja kamu Jen?!" Mandala melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap tajam pada Jenaka.


***


Rupanya keterkejutan Jenaka tak berhenti sampai dimana Ia mengetahui kalau Panca adalah pemimpin Reel Group. Masih ada keterkejutan lain yang menantinya.


Penampilan Panca yang berubah 180⁰ membuatnya tidak Jenaka kenali. Jenaka masih belum percaya kalau laki-laki ganteng yang sedang menyetir mobil Lamborghini yang Ia tumpangi adalah sahabatnya, Panca. Jenaka bagai sedang berada dalam mimpi yang terlalu indah untuk dipercaya.


Panca adalah CEO Reel Group!


Panca si cowok berpenampilan cupu, memakai baju kebesaran yang dimasukkan ke dalam celana dan berkacamata yang selalu mengikuti kemanapun Jenaka pergi adalah cowok tampan yang kini berada di sampingnya. Siapa yang akan mempercayainya?


"Mm... Panca, kok lo enggak pakai kacamata sih?" Jenaka memang sepolos itu. Bukan nanya tentang perusahaan atau harta milik Panca, malah nanya kenapa enggak pakai kacamata?!


"Gue udah operasi lasik, Jen. Sebenarnya waktu sekolah dulu minus gue enggak terlalu gede. Gue suka aja penampilan pakai kacamata, kayak Superman." Panca tetap fokus mengemudikan mobilnya di jalanan yang mulai padat.


"Terus, lo selama ini kemana? Kok menghilang bagai ditelan bumi? Gue, Lulu dan Lily nyariin lo terus loh! Kita bahkan sampai datengin rumah lo, ternyata itu rumah kakek nenek lo yang udah kosong sejak lo pindah. Kita bertiga juga hubungin Hp lo tapi udah enggak pernah aktif lagi!" Jenaka teringat kala Panca menghilang tanpa kabar. Ia bersama kedua sahabatnya bagai orang linglung yang kehilangan sahabat mereka tersayang.


Panca tersenyum, hatinya menghangat mengetahui kalau banyak sahabat yang menyayanginya. "Gue pindah, Jen. Ikut bokap nyokap ke Amerika. Waktu itu kondisi kakek gue dari bokap udah kritis. Gue sekeluarga langsung terbang kesana. Sesampainya disana, bokap disuruh pimpin perusahaan. Niatnya gue mau balik lagi, namun bokap ngelarang. Udah enggak ada yang tinggal di rumah kakek nenek gue yang selama ini gue tinggali. Gue nurut permintaan bokap. Gue kuliah disana dan baru 2 tahun gue megang perusahaan kakek gue,"


"Bokap bilang ada temannya, namanya Om Prabu yang ngajakkin kerjasama, gue disuruh jadi perwakilan bokap untuk melihat prospek kerjasamanya. Baru aja seminggu gue di Jakarta. Niatnya mau nyari keberadaan lo sama Lulu dan Lily eh kayak takdir, malah ketemu sama lo disini."


"Iya ya... Kita kayak takdir. Gue tadi sumpah enggak ngenalin lo. Gue cuma ngerasa sorot mata lo kayak gue kenal. Tapi asli, lo ganteng banget sekarang! Kayak artis! Superman mah lewat sama lo saat buka kacamata kayak gini!" tak ada kecanggungan lagi sekarang. Jenaka sudah seperti mengobrol dengan Panca seperti dulu saat mereka satu sekolah.


"Tapi tadi presentasi lo bagus loh! Ayo lah pindah ke perusahaan gue! Gue kasih 2x lipat gaji lo di Prabu Group deh!" Panca menawarkan penawaran yang begitu menggoda Jenaka.


"Yah... cuma 2x... Masa sih CEO kayak lo cuma berani kasih penawaran 2x gaji! Huh!" ledek Jenaka.


"Oke, 5 kali! Misalnya gaji lo sepuluh juta, gue kasih sebulan lima puluh juta! Kalo lo bagus gue naikkin lagi, gimana?" mata Jenaka berbinar mendengar nominal yang Panca sebutkan. Penawaran yang fantastis. Apa rasanya ya sebulan gajian lima puluh juta?

__ADS_1


"Wow! Lima puluh juta! Tapi gaji gue cuma enam juta cuy! Kalo lima kali lipat paling dapet tiga puluh juta!"


"Dih murah banget lo digaji! Udah besok pindah! Gue suruh sekretaris gue siapin kontrak kerja buat lo!"


Jenaka tersenyum sinis. "Sayangnya, gue enggak yakin bisa pindah di perusahaan lo apa enggak!"


"Loh? Kenapa enggak?" Panca memarkirkan mobilnya di parkiran yang disediakan mall untuk mobil sport milik Panca. Hanya tinggal jalan sebentar ke lobby. Benar-benar beda ya perlakuannya antara si kaya dengan si miskin.


Panca menggandeng tangan Jenaka. Mengajaknya masuk ke dalam mall. "Ke cafe itu aja! Lo kalo mau makan ada makan siangnya juga kok!"


Jenaka mengangguk setuju. Sebenarnya Panca ingin merangkul Jenaka seperti yang biasanya Ia lakukan saat SMA dulu. Namun kini, Jenaka sudah menjelma jadi wanita cantik yang harus dijaga kehormatannya. Tidak sembarangan main gandeng saja.


Panca memesankan menu untuk dirinya dan Jenaka. "Jadi gimana? Lo mau kan pindah ke perusahaan gue?" Panca menagih jawaban Jenaka. Sejak tadi Jenaka tidak menjawab pertanyaannya. Malah terlihat murung.


"Gue... Enggak bisa semudah itu pindah." Jenaka ingin mengungkapkan kalau alasannya tak bisa pindah karena Mandala pasti tak akan setuju. "Nanti deh kalo gue enggak betah, gue bakalan kabarin lo!"


Jenaka pun menurut. Ia memasukkan nomor Hp miliknya. Panca menelepon Jenaka. "Itu nomor Hp gue! Simpan ya!"


Jenaka mengangguk. Percakapan mereka terjeda oleh datangnya pelayan membawakan kue dan es kopi dengan banyak whipped cream diatasnya. Benar-benar kesukaan Jenaka.


"Wah! Whipped creamya banyak banget! Masih inget aja lo kalo gue suka minuman yang banyak whipped creamnya!" Jenaka begitu antusias dan langsung mencoba minumannya.


"Inget dong! Lo tuh cewek yang enggak peduli akan berat badan saat mengkonsumsi whipped cream. Enggak kayak cewek lain yang udah khawatir berat badannya bakalan naik. Gue juga masih hafal, lo kan mengidolakan Mandala sejak SMA. Jangan-jangan karena sekarang lo satu kantor sama Mandala, makanya lo enggak mau pindah ke perusahaan gue?" tebak Panca.


"Mengidolakan Kak Mandala mah masih tetap sama. Meskipun dia udah jadi suami gue, tetap saja gue mengidolakan dia!" jawab jujur Jenaka.


"Ih masih halu aja lo! Malah halu lo makin enggak terobati!" Panca tak percaya dengan apa yang Jenaka katakan. Padahal Jenaka sudah jujur padanya. "Gimana kabar Ayah dan Bunda? Gue mau main ke rumah lo ah! Kangen sama Bunda! Pulang kerja aja gimana? Gue jemput lo di kantor!"


Jenaka bingung bagaimana menjelaskannya. Ia sudah mengatakan dengan jujur kalau Ia sudah menikah dengan Mandala namun Panca masih tak percaya. Sekarang malah Panca mau ke rumah Ayah dan Bunda!


"Ya ampun gue lupa! Gue ada makan malam nanti sama Pak Mentri! Kita reschedule aja ya! Sorry Jen, gue sekarang sibuk. Enggak kayak dulu. Mau pergi tinggal pergi!" Panca membatalkan sendiri janji yang Ia buat.


Jenaka menghela nafas lega. "Iya, enggak apa-apa kok. Santai aja!"


****


Mandala dengan gelisah melihat jam tangannya. Sudah jam 1 dan Jenaka belum kembali. Kemanakah perginya istri nakalnya tersebut?


"Bu Yuli, Jenaka kalau sudah kembali tolong suruh ke ruangan saya ya!" perintah Mandala pada Bu Yuli atasan Jenaka.


"Baik, Pak. Eh itu Jenaka baru datang, Pak. Saya suruh ke ruangan Bapak sekarang ya Pak!"


Mandala sedikit lega. Jenaka sudah kembali. Namun hatinya masih dihinggapi perasaan aneh. Bayangan Jenaka dipeluk laki-laki lain di depannya membuatnya gusar.


"Apakah aku segitu cemburunya melihat Jenaka dipeluk laki-laki lain? Aku memang mulai menyukai Jenaka. Aku bahkan tertarik secara fisik padanya. Tapi kalau cemburu... berarti aku sudah mencintai Jenaka dong?


Mandala semakin cemas dikala Jenaka tak juga datang. Mau menelepon Bu Yuli tak enak, terlalu mencolok rasanya.


Cemas, marah, gelisah dan cemburu. Semua bercampur jadi satu. Waktu seakan berhenti disaat Ia menunggu kedatangan Jenaka.


Ia baru bisa bernafas lega saat Mina mengabarkan kalau Jenaka ingin menemuinya. Jenaka baru saja masuk ke dalam ruangannya sudah Mandala sambut dengan pertanyaan penuh selidik.


"Dari mana saja kamu Jen?!" Mandala melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap tajam pada Jenaka.

__ADS_1


***


__ADS_2