
"Pak, Jenaka mau ketemu." ujar Mina di telepon yang menghubungkannya dengan Mandala.
"Suruh masuk aja!" Mandala sedang sibuk memeriksa pekerjaan sehubungan dengan tender baru dengan Panca. Ada beberapa bagian yang belum memberikan laporan yang Ia minta dengan alasan butuh waktu mengerjakannya. Jadilah Mandala pusing sendiri karena data-datanya kurang akurat.
"Sore, Pak Mandala!" sapa Jenaka dengan penuh senyum di wajahnya.
"Kenapa kamu udah mau pulang kerja kesini? Enggak sabar nunggu ketemu aku di rumah?" goda Mandala tanpa mengangkat wajahnya dari tumpukan berkas yang Ia periksa.
"Justru karena aku mau pulang duluan makanya aku kasih sekarang. Kak Mandala kelihatan sibuk banget. Pasti lembur deh malam ini." Jenaka memberikan paper bag yang Ia bawa pada Mandala. "Buat Kak Mandala."
"Buat aku?" Mandala mengangkat wajahnya dan penasaran isi paper bag yang Jenaka berikan apa. "Dalam rangka apa?"
"Iya. Dalam rangka memenuhi janji, memberi hadiah buat Kak Mandala sesuai janjiku tadi."
"Beneran? Aku buka ya?" Mandala membuka paper bag di mejanya. "Apa ini?"
Mandala mengeluarkan satu demi satu pernak-pernik bergambar kucing yang Jenaka belikan. "Kucing?"
"Iya. Tadinya aku mau beliin Kak Mandala belalang sembah alias cengcorang, tapi susah dapetinnya."
"Kenapa mau kasih aku belalang sembah?" Mandala makin tak mengerti maksud Jenaka.
"Kakak browsing aja tentang belalang sembah, aku enggak mau jawab! Aku beliin Kak Mandala hadiah semua serba kucing, ya karena Kak Mandala kayak kucing garong ha...ha...ha..." Jenaka tertawa puas sekali.
"Puas ya kamu ngetawain aku kayak gitu!" Mandala memanyunkan bibirnya. Ia melihat ada figurin keren di salah satu hadiah yang Jenaka belikan. "Ini bagus nih! Aku taruh disini aja ya!"
Mandala menaruh figurin kucing pemberian Jenaka di dekat monitor miliknya. Bersebelahan dengan figura milik Kinara. Hal tersebut sudah cukup membuat Jenaka bahagia. Setidaknya barang pemberiannya akan sering dilihat oleh Mandala.
"Yaudah aku mau siap-siap pulang, Kak."
"Kamu enggak nungguin aku? Pulang naik apa?"
"Aku duluan aja, Kak. Masih banyak kerjaan Kak Mandala, aku enggak mau ganggu. Naik ojek online kayaknya. Aku pulang duluan ya, Kak!" Jenaka menghampiri Mandala hendak salim. Mandala pun memberikan tangannya untuk disalimi.
"Kissnya belum?" Jenaka menunjuk pipinya. "Yaudah kalo enggak-" belum selesai Jenaka bicara Mandala sudah mencium pipinya.
"Sudah sana pulang. Hati-hati di jalan! Enggak usah masak. Nanti aku beli makan di luar aja!"
__ADS_1
"Oke deh! Jangan lupa cari tahu tentang belalang sembah ya, Kak. Aku duluan, assalamualaikum!" Jenaka pun pergi meninggalkan ruangan Mandala.
"Waalaikumsalam!" Mandala geleng-geleng kepala dibuatnya. Jenaka memang selalu membuat suasana jadi ceria.
"Oh iya! Belalang sembah!" Mandala lebih tertarik mencari tahu tentang belalang sembah daripada melanjutkan pekerjaannya.
Ia mengetik di kolom pencarian di komputernya. Banyak foto tentang belalang sembah atau lebih dikenal dengan cengcorang.
"Kenapa Jenaka bilang aku kayak belalang sembah ya?" rasa penasaran membuat Mandala mengulik lebih dalam tentang belalang sembah. Sampai Ia menemukan fakta yang membuatnya gemas pada istri nakalnya.
Belalang Sembah atau Belalang Sentadu merupakan serangga dalam ordo Mantodea. Serangga yang dalam bahasa Inggris disebut Praying Mantis ini mempunyai kebiasaan mengatupkan kedua kaki depannya seperti orang yang sedang menyembah.
Selain itu, serangga ini juga mempunyai kebiasaan yang menyeramkan dalam bercinta, belalang betina segera memakan kepala belalang jantan begitu mereka selesai kawin.
Jika Burung Maleo setia dan anti poligami, Sang belalang sembah jantan ini bahkan rela mati demi cinta. (Source: Galamedianews.com)
"Arrgghhhh... Jenaka!!!!!"
Maksudnya apa coba? Mandala mencoba mengingat-ingat, sepertinya maksud Jenaka adalah ketika Ia sedang berhasrat seperti kemarin dan Jenaka menyudahinya saat hasratnya di ubun-ubun. Tak ada bedanya Jenaka seperti belalang sembah betina yang memakan kepala belalang jantan.
****
Jam 10 malam, Mandala belum juga pulang. Jenaka merasa tak bisa tidur sebelum Mandala pulang.
Meski mereka tak satu kamar, kebiasaan menggoda Mandala bagai hobby baru Jenaka. Baru bisa tenang setelah puas menggoda Mandala.
Jenaka menatap jendela kamarnya yang menghadap ke luar. Mobil Mandala belum ada di garasi. Rumah besar ini terasa sepi.
Pak Sahrul masih menunggu Mandala pulang kantor, sementara Mala sudah tertidur setelah menyelesaikan banyak pekerjaan rumah dari Jenaka. Kelelahan seharian bekerja dan sekarang Ia tertidur pulas.
Jenaka berniat akan menghukum Mala lagi jika masih melaporkan setiap hal yang Ia lakukan pada Kinara. Semoga saja hukuman yang Jenaka berikan akan membuat Mala kapok dan menyadari kesalahannya.
Sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah. Mandala sudah pulang. Hati Jenaka berbunga-bunga.
"Jadi begini rasanya menyambut suami pulang bekerja?" gumam Jenaka sambil senyum-senyum sendiri.
Dengan langkah riang, Jenaka menuruni tangga dan menyambut kedatangan Mandala. Mandala yang melihat Jenaka menyambutnya sudah mau protes karena ada Pak Sahrul juga disana.
__ADS_1
"Kamu-" Mandala menatap baju yang Jenaka kenakan. Tidak nampak chocochipnya. Berarti Jenaka mengenakan bra hari ini. "Syukurlah!"
"Ih apaan sih Kak Mandala? Mau aku buatin minum apa? Susu hangat, teh manis, sirup, cola, boba atau es teller?" tanya Jenaka sambil menggandeng tangan Mandala.
"Memangnya ada es teller?" tanya Mandala serius.
"Enggak ada. Aku lebih-lebihin aja biar kayak di restoran gitu he...he...he..."
Mandala menjitak kepala Jenaka pelan. "Udah jahil, tukang bohong pula! Aku mau langsung mandi aja. Kalau mau, ambilkan aku air mineral aja!"
"Siap, Bos!"
****
Tok...tok...tok...
Jenaka mengetuk pintu kamar Mandala. Tak juga mendapat jawaban, Jenaka pun memberanikan diri masuk ke dalam kamar Mandala dan menaruh air mineral di atas nakas.
Kamar Mandala terlihat rapi, tentu Mala membersihkannya dengan benar tak mau membuat bos besarnya marah. Tak bedanya kamar Jenaka di rumah Ayah, banyak figura terpajang di kamar Mandala.
Meski tau hatinya akan tercubit, Jenaka tetap saja memperhatikan figura berisi foto bahagia Mandala dan Kinara. Jenaka mengangkat figura dimana Mandala menggendong Kinara yang tertawa lebar memamerkan deretan gigi putihnya. Mereka sepasang kekasih yang bahagia.
Timbul rasa sesal diantara rasa sakit yang Jenaka rasakan. Ia tak mau jadi orang ketiga diantara mereka. Ia juga tak mau menjadi janda dan mempermalukan orang tuanya. Ia berada pada persimpangan dimana segala jalan yang Ia pilih salah.
Tes... Setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk mata Jenaka. Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Jenaka cepat-cepat menghapus air matanya.
Mandala keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai boxer dan handuk putih yang Ia pakai untuk mengeringkan handuknya. Ia menatap Jenaka yang berdiri sambil memegang figura dengan bekas air mata di pelupuknya.
Mandala cuek saja berjalan mendekati Jenaka meski tubuh kekarnya nan menggoda membuat Jenaka susah mengalihkan pandangan. "A-aku taruh minumnya diatas nakas, Kak."
Mandala tak menjawab, malah mengambil figura di tangan Jenaka. "Jangan dilihat kalau cuma bikin hati kamu makin sakit, Jen." Mandala menaruh figura tersebut di tempatnya semula.
"Maaf, Kak. Aku enggak bermaksud kurang sopan. Aku-"
"Aku bukan melarang kamu melihatnya, Jen. Aku cuma enggak mau hati kamu semakin terluka."
****
__ADS_1