
Jenaka menatap kotak perhiasan yang kini berada di tangannya. Kotak tersebut tidak terlalu besar, di dalamnya ada sebuah kalung, gelang dan cincin berlian milik Kinara.
Jumlahnya memang tidak banyak, namun melihat dari bentuknya bisa dipastikan harganya mahal. Jenaka terus menatap tanpa berkata apapun. Sementara Mandala sibuk mengemudikan mobilnya.
"Kenapa Kinara mewariskan perhiasannya padaku?" tanya Jenaka saat mereka sudah di dalam mobil dan hendak meninggalkan makam Kinara.
"Sesuai amanat Kinara, rumahnya dijual dan disumbangkan untuk panti asuhan dan rumah yatim. Mobilnya, dijual dan uangnya untuk Mala yang setia mendampinginya saat Ia sehat sampai Ia tak berdaya di tempat tidur. Lalu perhiasannya buat kamu, sebagai tanda maaf karena selalu menyakiti hati kamu selama ini,"
"Kinara bilang, perhiasannya hanya tinggal ini saja. Sisanya sudah dijual untuk diberikan pada Papa tirinya yang selalu memerasnya. Kamu bisa pakai atau jual, semua terserah kamu." Mandala tetap fokus menyetir sambil sesekali melirik Jenaka yang beberapa kali menghapus air matanya.
"Enggak akan aku jual. Akan aku simpan untuk kenang-kenangan." Jenaka menutup kotak perhiasan dan memasukkannya ke dalam tas. "Jadi, tujuan Kak Mandala ngajak aku jalan adalah mau memberi ini?"
Mandala mengangguk. "Yup. Aku seharusnya kasih ke kamu setelah memakamkan Kinara. Butuh waktu bagiku untuk memberanikan diri ketemu kamu, Jen."
Mandala memberhentikan mobilnya di dekat Indodesember. Jenaka sudah menebak akan dibawa kemana oleh Mandala.
"Kita makan disini enggak apa-apa kan?" tanya Mandala.
Jenaka mengangguk. "Enggak apa-apa. Aku juga pengen makan disini, udah lama."
Mereka pun masuk ke rumah makan ayam bakar langganan Mandala. Benar saja kedatangan Mandala disambut hangat oleh Ibu penjual ayam bakar.
"Wah ada Nak Mandala dan istrinya. Lagi jalan-jalan ya? Weekend berduaan aja nih?!" sapa Ibu penjual ayam bakar.
Mandala tersenyum. "Jenaka ini bukan istri saya, Bu. Dia sahabat saya."
Reflek Jenaka menoleh ke arah Mandala. Dulu Mandala mengakuinya sebagai istri. Apa karena mereka sudah bercerai makanya disebut sahabat?
Dulu saat Mandala mengakui Jenaka sebagai seorang istri, ada perasaan bangga dalam diri Jenaka. Kini saat diakui sebagai sahabat mengapa rasanya....
"Wah Nak Mandala bohongin Ibu aja! Ibu udah percaya juga! Padahal kalian cocok loh! Ibu udaj doain juga semoga kalian berjodoh!"
Mandala tersenyum. "Sayangnya Jenaka udah punya calon, Bu. Jangan lupa pesanan saya ya Bu!"
"Siap Nak Mandala. Ditunggu di dalam aja ya."
"Ayo masuk, Jen!" Mandala menyadarkan Jenaka dari lamunannya.
__ADS_1
"Ah... Iya." Jenaka masuk ke dalam rumah yang memiliki sejarah dalam kisah cintanya dulu. Tempat Ia pernah berbagi tawa dengan Mandala. Seakan sedang masuk ke dalam lorong waktu dan tak ingin waktu terus berjalan.
"Kak Mandala tadi bilang, kalau Kak Mandala butuh waktu untuk bertemu denganku. Boleh tau kenapa?" tanya Jenaka.
Mandala tersenyum. "Aku ini manusia, Jen. Punya perasaan. Aku juga punya rasa bersalah. Aku udah dzolim sama kamu. Udah nyakitin kamu dan juga Kinara. Udah jadi suami yang egois. Udah buat keluarga kamu malu. Udah buat Ayah dan Bunda marah dan kecewa. Banyak dosa aku, Jen. Karena itu aku tidak mencari kamu,"
"Aku tuh kayak cerita kamu dulu, pemuda berselimut dusta. Aku juga merangkap pemuda berselimut dosa. Mengangkat wajah aku aja di depan kamu rasanya aku terlalu malu, Jen,"
"Sampai aku diingatkan Mala kalau perhiasan Kinara jangan lupa dikasihkan ke kamu. Aku jadi teringat janji yang aku buat. Pulang ke rumah juga aku tak pernah. Niatnya malah mau stay terus di Singapura. Mami dan Papi yang nyuruh aku pulang. Amanat Kinara yang membuat aku mencari kamu lagi. Maaf, Jen. Aku mau minta maaf atas segala kesalahanku di masa lalu. Maukah kamu memaafkan aku?"
Jenaka terdiam. Mungkin benar apa kata orang, jika terlalu banyak dosa dan salah mengangkat kepala pun rasanya berat. Mungkin itu yang Mandala rasakan.
Sama seperti yang Jenaka rasakan. Ia terlalu terpuruk dengan keadaan, akhirnya hanya bisa menangis.
"Takdir, Kak. Takdir kita yang sudah membuat aku, Kak Mandala dan Kinara berada dalam satu lingkaran menyakitkan. Apapun yang dilakukan akan menyakiti yang lain. Aku hanyalah manusia yang bisa memberikan maaf. Karena aku pun tak luput dari salah. Aku juga minta maaf sama Kak Mandala."
Mandala mengulurkan tangannya dan disambut sama Jenaka. "Kita saling memaafkan ya, Jen."
Jenaka tersenyum. "Iya. Kita saling memaafkan, Kak."
"Nah sekarang ayo kita mukbang!"
****
Jenaka melambaikan tangannya pada Mandala yang melihatnya pergi sambil mengendarai mobil sedannya. Mandala menunduk sedih saat mengucap perpisahan. Mungkin seharusnya perpisahan yang baik yang Ia berikan dulu pada Jenaka.
Sayangnya, dulu Mandala tak punya banyak waktu untuk Jenaka. Ia sibuk mengurus Kinara yang kondisinya makin memburuk.
Kini, melihat mobil Jenaka menjauh seperti membawa kepingan hati terakhir yang Ia sisakan. Yang lainnya sudah hancur berkeping-keping.
"Kamu masih mau kan jadi teman aku, Jen?" tanya Mandala sebelum mereka berpisah di parkiran mobil kedai kopi.
"Tentu, Kak. Kita selamanya berteman. Tak boleh silahturahmi kita putus di tengah jalan."
Mandala menatap telapak tangannya yang terbuka. Ia telah bersepakat dengan Jenaka untuk tetap berteman. Ya, Ia adalah teman yang mencintai Jenaka dalam diam.
****
__ADS_1
Jenaka menghapus air matanya yang terus menerus menetes tanpa henti. Mungkin takdirnya hanya sebagai teman Mandala saja, tak lebih.
Sampai kapan kamu bisa move on kalau caranya kayak gini, Jen? Sampai kapan kamu bisa melupakan Mandala?
****
Hari sudah beranjak siang. Matahari mulai bersinar semakin terang. Namun janda kembang itu masih asik tertidur lelap.
Bunda sengaja tidak membangunkan Jenaka. Bunda tau Jenaka sedang datang bulan dan hari ini Ia libur bekerja. Bunda juga tau kemana Jenaka pergi kemarin.
Jenaka selalu jujur dan bercerita pada Bunda kemana perginya dan dengan siapa. Bunda ingin membiarkan Jenaka bangun lebih siang, sayangnya pangeran berkuda di depan sudah menjemput. Tak enak membiarkan Panca menunggu lama.
"Jen! Bangun!" Bunda menepuk bahu Jenaka. Untung saja Jenaka jarang mengunci pintu kamar, jadi Bunda bisa langsung masuk.
"Jena libur, Bun." Jenaka malah berbalik badan, bukannya bangun. Alhasil, Bunda kembali membangunkannya.
"Ada Panca tuh di depan. Katanya kalian ada janji mau pergi." ujar Bunda.
Dengan malas Jenaka membuka matanya. "Panca? Ya ampun aku lupa!" Jenaka terburu-buru bangun. "Tolong bilangin Panca tunggu 5 eh 15 menit lagi!" Jenaka menyambar handuk dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Bunda hanya geleng-geleng kepala melihat ulah putrinya. Jenaka hampir menginjak usia 24 tahun. Masih terlalu muda untuk menyandang status janda. Terlalu labil. Wajar saja, teman-temannya di luar sana masih asyik bermain sementara dirinya sudah dewasa karena dipoligami dan berujung menjadi janda muda.
"Tunggu Jena dulu ya, Ca. Diminum dulu tehnya." ujar Bunda mempersilahkan Panca.
"Iya, Bun." Panca meminum teh yang Bunda suguhkan.
"Kalian mau pergi kemana?" tanya Bunda lagi.
"Mau jalan-jalan, Bun."
Bunda tersenyum. "Bunda titip Jenaka ya, Ca. Seringlah membuat Jenaka tersenyum. Jenaka itu masih muda, permasalahan yang membuatnya harus berpikir melebihi usianya. Bunda tak peduli mau kamu atau siapapun orangnya, asalkan bisa menjaga dan membahagiakan Jenaka, Bunda udah senang."
"Pasti, Bunda. Panca akan bahagiakan Jenaka. Bunda jangan khawatir."
"Bunda percaya kok."
"Ayo, Ca! Kita berangkat sekarang!" ujar Jenaka yang sudah rapi. "Bunda kita berdua jalan dulu ya. Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Waalaikumsalam!"
****