Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Menjadi Lebih Dekat Lagi


__ADS_3

Jenaka merasa hatinya menghangat. Mandala mau berbagi kisah dengannya. Tak lagi bersikap ketus dan menyebalkan seperti biasanya.


"Apakah ini suatu kemajuan dalam hubungan kami?" harap Jenaka.


"Keluargaku memang sederhana, Kak. Cukup kumpul dan makan bareng, mau makan di angkringan, bakso pinggir jalan atau food court kayak gini enggak masalah. Ayah punya jam malam sendiri, usahakan tiap makan malam kita kumpul dan family time. Curhat dan cerita tentang aktifitas sehari-hari. Receh sih, tapi aku merasakannya setelah berumah-tangga. Rasa kekeluargaan itu yang buat aku kangen pulang."


Mandala kini menatap ke dalam mata Jenaka, dalam ceritanya terselip kesedihan yang mendalam dan Mandala adalah penyebabnya. Mandala membuang pandangannya, merasakan rasa bersalah yang menelusup ke dinding hatinya.


"Biasanya kalau aku pulang kerja, Bunda udah bawel nyuruh mandi, sholat dan makan malam. Sekarang, aku pulang malam pun hanya Mala yang menyambut di rumah."


Perkataan Jenaka kembali membuat Mandala tersindir. Apa yang Jenaka rasakan adalah apa yang Ia rasakan selama ini. Pulang ke rumah yang kosong tanpa ada keluarga yang menyambut, hanya asisten rumah tangga yang setia.


"Mulai sekarang, aku akan bagi waktu kalian berdua dengan adil. Aku yang akan mengatur sendiri waktuku."


"Eh... Aku enggak bermaksud gitu kok, Kak. Aku cuma lagi cerita aja sama Kakak, ya kayak aku bisa merasakan apa yang Kakak rasakan gitu." Jenaka tak enak hati, Ia tak bermaksud menyindir Mandala.


"Iya aku tau kok. Kemungkinan dalam waktu dekat aku juga akan tiap hari pulang ke rumah. Jadwal pemotretan Kinara sudah keluar. Ia akan ke Bali selama 2 minggu."


"Yang bener, Kak? Kak Mandala beneran enggak ngelarang Kinara?"


Mandala menghela nafasnya. "Percuma aku larang, Jen. Dia bilang cuma pemotretan di dalam negeri. Aku bisa apa? Sudahlah, kita pulang! Udah mau maghrib!"


****


Sesuai janji, Mandala mulai membagi waktu secara adil. Tak lagi ditentukan oleh Kinara.


Dalam sebulan, minggu pertama Jenaka kebagian 3 hari dan Kinara 4 hari. Minggu kedua dibalik, Jenaka 4 hari dan Kinara 3 hari. Selang-seling seperti itu terus, kecuali jika Mandala ke luar kota.


Jenaka menerima pembagian jadwal yang Mandala buat. Tak bisa menuntut lebih karena Mandala bukan miliknya seorang.


Apakah Kinara setuju begitu saja? Tentu saja tidak. Meski sempat marah-marah dan menghardik Jenaka dengan omelan dan hinaan, Kinara terpaksa menyetujuinya. Mandala kini bersikap tegas. Jika tidak setuju maka akan dikurangi uang bulanan dan kartu kredit akan dibatasi limitnya.


Tok...tok...tok...

__ADS_1


Jenaka mengetuk pintu ruangan Mandala. Ia sudah minta bantuan Genta sebelumnya dan bilang kalau Ia mau mengantar bekal makanan.


"Kenapa Jen?" tanya Mandala yang sibuk dengan setumpuk berkas di mejanya. Mandala yang biasanya rapi dan klimis kini terlihat agak berantakan.


"Aku bawain Kakak makanan. Udah waktunya makan siang. Pasti Kak Mandala belum makan deh kalo diliat dari mukanya yang kucel dan kusut kayak gitu!" Jenaka menaruh bekal yang Ia bawa di meja lalu menatanya.


"Lagi banyak kerjaan, Jen. Banyak yang harus aku Acc." kini Mandala bisa semudah itu curhat sama Jenaka. Jalan-jalan kemarin ternyata membuat Mandala lebih dekat dengan Jenaka dan menganggapnya teman yang asyik diajak diskusi.


"Makan dulu! Kerjaan bisa dikerjain nanti!" Mandala tak kuasa menolak. Perutnya minta diisi. Sejak tadi hanya kopi yang Ia seruput untuk membuat matanya tetap melek menghadapi angka dan permasalahan di depannya.


"Kamu yang masak?" Mandala memakan makanan yang sudah Jenaka siapkan.


"Iyalah."


"Enak juga." Mandala tak mau membuat Jenaka besar kepala. Padahal masakan Jenaka enak banget. Mandala malu kalau memujinya berlebihan.


"Iyalah. Bunda selalu bilang, anak perempuan itu harus pintar masak. Nanti kalau punya suami dan anak jadi bisa memasak makanan yang bergizi untuk keluarganya."


Mandala menyunggingkan seulas senyum. Ia begitu lahap menikmati masakan yang jenaka masak. Bukan menu khas hotel bintang 5 atau restoran terkenal, hanya masakan rumahan sederhana namun dibuat dengan penuh cinta.


"Nah, itu pinter makannya dihabisin!" puji Jenaka.


Mandala tertawa lepas. "Aku bukan anak kecil, Jen. Masa aku dipuji begitu sih?"


"Yaudah aku mau balik lagi ke ruanganku. Nanti aku dicariin sama Bu Yuli!" Jenaka merapihkan Tupperware bekas makan Mandala dan memasukkan dalam paper bag.


"Nanti malam aku masih di rumah Kinara ya, Jen." ujar Mandala tak enak hati. "Kinara bilang, aku harus di rumahnya sampai Ia pergi ke luar kota."


"Iya, Kak. Tenang aja. Aku nanti mau nginep di rumah Bunda ya Kak. Bunda kangen katanya."


"Iya. Kamu hati-hati pulangnya!"


Jenaka tersenyum dan meninggalkan ruangan Mandala. Ia mengangguk pada Mina, sekretaris Mandala. Genta sudah berpesan pada Mina, kalau Jenaka datang agar tutup mulut dan jangan banyak bertanya. Genta bilang, Jenaka punya tugas rahasia yang Mandala utus.

__ADS_1


****


Semarah apapun orang tua, pasti akan luluh juga. Begitu juga dengan Ayah. Melihat Jenaka pulang kerja dan menginap di rumahnya sambil membawakan cemilan kesukannya, hatinya mencair.


Bukan karena cemilan, tapi karena niat Jenaka membahagiakan orang tua yang membuat Ayah tak bisa berlama-lama marah pada Jenaka. Kalau sama Mandala sih masih marah tentunya.


"Yah, Om Prabu sama Tante Nina tuh sibuk banget ya? Sejak Jena nikah saja baru sekali bertemu mereka." Jenaka sedang mengobrol dengan Ayah dan Bunda sambil memakan kacang kulit rebus buatan Bunda.


"Begitulah, Jen. Prabu tuh karyawannya banyak. Tanggung-jawabnya besar menghidupi ribuan karyawan beserta anak istrinya. Perusahaannya harus maju, agara bisa membayar gaji karyawannya. Sepertinya Prabu belum sepenuhnya mempercayakan perusahaan pada suami kamu Si Sontoloyo itu. Makanya suami kamu bisa punya istri dua. Kalo sibuk kerja kayak Prabu, boro-boro mikir poligami. Enggak pernah libur kerjaannya!" sindir Ayah.


Jenaka tersenyum mendengar sindiran Ayahnya. "Mandala namanya, Yah. Bukan Si Sontoloyo! Kak Mandala tuh baik tau, Yah. Buktinya Jena diurusin, dikasih uang jajan. Kak Mandala berusaha sebisa mungkin jadi suami yang adil, Yah."


"Enggak ada satu pun manusia yang bisa adil, Jen. Makanya Ayah enggak mau poligami. Cukup Bunda kamu seorang yang Ayah cinta!" Bunda yang dipuji Ayah pun tersipu malu.


"Ih Ayah bisa aja!"


Jenaka menatap kemesraan kedua orang tuanya. Benar kata Mandala, Ia juga iri melihat Ayah dan Bunda. Kapan Ia dan Mandala akan seperti Ayah dan Bunda?


****


"Jenaka enggak kesini?" tanya Mandala pada Mina sekretarisnya lewat telepon.


"Belum, Pak. Mau saya panggilkan?"


"Iya. Panggil suruh ke ruangan saya!" Mandala menutup telepon dan menatap jam di dindingnya. Sudah jam setengah 2 siang dan Jenaka tak kelihatan batang hidungnya.


Sudah beberapa hari Jenaka membawakan bekal makan siang buatannya untuk Mandala. Hari ini, Jenaka absen. Mandala juga tak melihat keberadaannya sejak tadi.


Telepon Mandala kembali berdering. Pasti Mina hendak memberitahu tentang Jenaka.


"Siang, Pak. Maaf Pak, Jenaka sedang keluar kantor bersama Pak Genta. Bu Yuli bilang, sedang visit ke outlet." lapor Mina.


"Kamu tolong pesankan saya makan siang di kantin. Apa aja terserah!" Mandala menutup teleponnya.

__ADS_1


"Kenapa baru sehari Jenaka tak datang ada yang kurang ya? Apa aku udah mulai tergantung padanya? Ataukah aku mulai membutuhkan kehadirannya? Enggak... aku tidak mungkin mulai menyukainya. Hanya Kinara yang kucintai. Tapi...."


****


__ADS_2