
Bukan Jenaka namanya kalau tidak melaksanakan ancamannya. Sebagai balasan terhadap Mala yang suka mengadu pada Kinara sambil memanas-manasi, Ia berikan hukuman yang setimpal.
Jenaka yang sedang membuatkan nasi tumpeng untuk Mandala mulai berulah. "Hmm... Mal, kayaknya gorden di jendela samping agak berdebu deh Mal. Besok tolong dicuci ya!"
Mala menatap gorden yang baru dua minggu Ia pasang dan sudah dibilang kotor. Selain mencucinya agak berat, memasang gorden baru juga agak ribet karena lokasinya yang tinggi.
Jenaka menatap Mala tanpa berkedip, membuat Mala tak bisa protes. "Baik, Bu!"
"Mal, Mandala selalu nyuruh aku masak nih. Tolong bawangnya kamu kupasin ya? Biar aku cepat kalo masak!"
"Berapa banyak, Bu?"
"Setengah kilo aja cukup."
Mala mengangguk, setengah kilo kecil baginya. "Baik, Bu!"
"Maksudnya bawang merah dan bawang putih masing-masing setengah kilo ya!"
Mala kembali mengangguk, kali ini lebih lemah dibanding sebelumnya. "Baik, Bu!"
"Oh iya, aku besok mau numis kangkung, tolong kamu siangin ya. Sekalian mau buat ayam ungkep lagi. Besok beli ayam 3 ya di pasar lalu ungkep. Taruh yang rapi di kulkas. Terus sekalian kamu beli ikan, udang dan sayuran lalu....." Jenaka menyebutkan semua tugas yang harus Mala lakukan besok sebagai hukuman karena sudah menjadi tukang ngadu.
"Jangan lupa ya dikerjain semua!" pesan Jenaka sambil tersenyum puas. Mala mengangguk lemah. Hukuman dari Jenaka benar-benar membuatnya kapok mengadu lagi.
****
"Jen!" Mandala mengetuk pintu kamar Jenaka. Agak lama Jenaka membukanya dan pemandangan indah itu kembali Mandala lihat saat Jenaka membuka pintu.
Jenaka memakai tanktop dan hotpant, lagi-lagi tanpa memakai bra. Membuat chocochipnya kembali terlihat.
Mandala menelan salivanya sekuat tenaga. Ikan terus menggoda pertahanannya. Menggoda dikala dirinya berada di padang tandus yang butuh air untuk melepas dahaga.
"Kenapa, Kak?" tanya Jenaka sambil membuka setengah pintu kamarnya.
"Temani aku makan!"
"Tumben banget minta temenin?"
"Udah temenin aja! Aku lapar nih!" Mandala kali ini berjalan duluan. Tak mau tergoda saat melihat leher jenjang Jenaka.
Jenaka mengikuti Mandala dan menyiapkan makan malam untuk Mandala. Lagi-lagi Mandala menahan hasratnya saat beberapa kali chocohip Jenaka terlihat begitu menggoda untuk di....
"Udah cukup, Jen. Jangan banyak-banyak lauknya!" Nasi tumpeng yang Jenaka buat sengaja belum dikasih lauk. Agar Mandala bebas memilih mau lauk yang mana.
"Aku boleh kembali ke kamar enggak, Kak?"
Mandala menatapnya tajam. "Aku bilang kan temani aku makan! Ya kamu duduk aja disana!"
"Duduk doang bosen tau, Kak!"
__ADS_1
"Ya kamu ikut makan aja!" Mandala mulai memakan masakan Jenaka yang sangat Ia sukai rasanya.
"Enggak ah, itu udah aku kasih racun!"
Uhuk... uhuk...
Mandala tersedak mendengar perkataan Jenaka. Cepat-cepat Jenaka bangun dan menepuk punggung Mandala. Tanpa Jenaka sadari chocochipnya menempel di tangan Mandala membuat Mandala batuk tak berhenti- berhenti.
Jenaka mengambilkan minum setelah batuknya reda. "Kalau udah enggak batuk baru minum! Aku cuma becanda, Kak. Aku cuma masukkin racun cinta aja kok ke dalam makanan Kakak!" goda Jenaka lagi.
Uhuk... uhuk... Mandala kembali tersedak. Ternyata Ia dikerjai istri nakalnya!
"Udah tenangin diri dulu! Lebay banget sih!" Jenaka kembali menepuk punggung Mandala, membuat chocochipnya menempel di lengan Mandala.
Mandala tersedak kembali. Ia sampai mengeluarkan air mata karena menahan perihnya. Akhirnya Mandala berhasil menenangkan diri.
"Duduklah! Malah bikin aku tersedak makin parah kamu!" omel Mandala.
"Ih memangnya aku ngapain?" Jenaka kembali duduk di tempatnya semula tanpa merasa berdosa sama sekali.
"Jadi pergi sama Panca?" sejak di kantor, Mandala tak tenang memikirkan Jenaka akan pergi bersama Panca. Ia bisa melihat sebagai sesama lelaki kalau Panca mencintai Jenaka. Bagaimana kalau Jenaka pada akhirnya mencintai Panca?
"Jadi dong!"
"Jadi ditemenin sama Lulu dan Lily?"
"Iya. Kita pergi berempat. Pulangnya aku dianterin sama Panca sampai depan rumah." cerita Jenaka dengan polosnya.
"Iya. Tadi Lulu dan Lily yang kasih tau. Aku kan enggak bisa bohong. Yaudah aku jawab jujur aja. Terus Panca maksa mau anterin aku sampai depan rumah, aku iyain aja deh. Tadi Mala juga lihat kok. Pasti Mala udah laporan sama Kinara juga!" adu Jenaka. Masalah Mala suka mengadu pada Kinara harus Ia laporkan pada Mandala.
"Mala laporan sama Kinara? Apa yang dilaporin?" tuh kan beneran Mandala enggak tau!
"Ya semua yang aku lakukan dilaporin sama bos besarnya." Jenaka memajukan dirinya lalu menurunkan suaranya sampai berbisik. "Kalau dia ada di rumah saat Kakak lagi mupeng sama aku waktu itu, pasti Kakak udah diaduin sama Kinara juga. Terus Kakak yang laki-laki takut istri langsung mengelak deh ha...ha...ha..."
"Siapa yang laki-laki takut sama istri? Aku enggak kayak gitu kok. Sama kamu aja aku berani!" Mandala tak mau kalah. Ia sebal Jenaka malah menertawainya sampai puas.
"Iya sama aku berani. Sama Kinara berani enggak?" tantang Jenaka. Sebuah ide terlintas di benaknya saat ini. Yakni, memanas-manasi Mandala.
"Berani!" Mandala pun terpancing.
"Yaudah buktiin!"
"Kamu mau bukti apa?" tantang balik Mandala.
"Bilang sama Kinara, jangan suruh Mala jadi mata-matanya lagi!"
"Itu mah kecil." Mandala mengeluarkan Hp miliknya dari saku dan menghubungi Kinara.
"Hallo Sayang. Kamu nyuruh Mala mematai-matai apa yang aku dan Jenaka lakukan? Aku enggak mau ya kamu nyuruh dia kayak gitu lagi! Atau aku bakalan pecat Mala dan blokir kartu kredit kamu!" Mandala terdengar tegas pada Kinara. Jenaka tersenyum licik. Mandala masuk dalam jebakannya.
__ADS_1
Meski sempat agak bertengkar di telepon tapi Mandala keluar sebagai pemenangnya. "See? Aku berani kan? Apa hadiah buat aku?"
"Hadiah? Aku enggak nawarin hadiah buat Kak Mandala!" elak Jenaka.
"Aku sampai bertengkar sama Kinara dan kamu enggak kasih hadiah sama aku?" protes Mandala.
"Oke. Aku kasih hadiah deh!"
"Apa hadiahnya?" Mandala berpikir Jenaka akhirnya mau memberikan apa yang menjadi haknya.
"Aku akan menunaikan kewajiban aku yakni...."
"Melayani aku?"
Jenaka mengangguk. "Tentu saja."
"Ayo!"
"Bukan melayani itu maksud aku, Kak!"
"Terus apa?"
"Aku akan... buatin makan sarapan dan makan siang untuk Kak Mandala."
Mandala terlihat kecewa, apa yang Ia harapkan tidak kesampaian. "Yah... Itu mah bukan hadiah namanya!"
"Itu hadiah pertama. Hadiah kedua...."
"Apa?" Mandala tak sabaran mendengarnya.
"Tunggu setelah pesan-pesan berikut ini! Ha... ha... ha..." Jenaka lalu kabur meninggalkan Mandala yang merengut sebal karena Ia kerjai.
"Dasar istri nakal!" teriak Mandala yang tanpa sadar tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan ulah Jenaka.
"Huft..."
****
"Kamu beli itu Jen? Sebanyak itu?" tanya Bu Yuli saat mereka sedang jalan-jalan di Mall sehabis survey outlet yang berada di dalam Mall.
"Iya, Bu. Buat kado!"
"Kado untuk siapa?"
"Untuk Pak Mandala. Kata Pak Genta, Pak Mandala suka sama kucing. Mumpung ada yang lucu disini sekalian aja aku beliin!" Jenaka membeli gantungan kunci, boneka, pulpen dan pajangan bergambar kucing.
"Dalam rangka apa kamu beliin Pak Mandala, Jen? Perasaan Pak Mandala enggak ultah deh!" selidik Bu Yuli.
"Aku... Kalah taruhan, Bu. Aku kemarin taruhan bola dan kalah. Makanya aku beliin pernak-pernik kucing sesuai yang Pak Mandala minta!" kebohongan pun Jenaka buat. Bu Yuli percaya saja dengan kebohongan Jenaka. Mandala suka enggak ya dengan hadiah dari Jenaka?
__ADS_1
***