Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Menata Hati


__ADS_3

Se**tahun kemudian**....


"Jen! Yang bener dong kalo kerja! Jangan baca novel terus!" omel Panca yang datang membawa dua es kopi, seperti biasa satu es kopi dengan banyak whipped cream untuk Jenaka.


"Berisik ah Pak Boss ini! Aku lagi baca novel tentang Berbagi Cinta nih. Bagus ceritanya, karangan Mizzly. Bikin aku nangis bombay!" jawab Jenaka seraya mengambil es kopi yang Panca belikan.


"Dasar anak buah enggak ada sopan-sopannya sama atasan! Kamu aku hukum, Jen! Hukumannya-"


Sebelum Panca mengatakan apa hukumannya, Jenaka memotong perkataannya dan menjawabnya sendiri. "Kamu harus jadi istri aku! Harus jadi milik aku!" Jenaka meminum es kopi kesukaannya sambil tersenyum senang, sesuka itu Ia pada whipped cream. "Kamu ngomong kayak gitu udah ribuan, Ca. Ribuan! Sampai hafal aku!"


Sejak menerima ajakan Panca bekerja di perusahaannya, Jenaka mulai ber-aku-kamu dengan Panca. Ia harus membiasakan diri, takut keceplosan di depan karyawan lain. Enggak lucu kan kalau tiba-tiba manggil gue-lo di depan karyawan Panca?


"Ca, kamu enggak lelah apa nungguin aku? Cari atuh cewek lain! Sayang tau punya kamu cuma dipakai pipis doang!" ledek Jenaka.


"Heh nih anak ya! Biar begini aku banyak yang naksir. Cuma nungguin kamu aja makanya aku tetap gunain buat pipis ha...ha...ha..."


"Ih... Kayak gitu bangga!"


"Biarin weekkk!"


Suara dering telepon membuat becanda mereka terhenti. "Aku angkat telepon dulu, Ca! Jangan berisik!" omel Jenaka.


"Dasar sekretaris enggak tau diri! Atasannya lah disuruh diem!" gerutu Panca sambil menahan senyumnya.


"Selamat pagi Reel Group dengan Jenaka ada yang bisa dibantu?" tanya Jenaka dengan sopan.


"Pagi, Bu Jenaka ada perwakilan dari Prabu Group yang hendak bertemu dengan Bapak Panca. Bisa diterima, Bu?" tanya resepsionis di ujung telepon.


Deg... Perwakilan Prabu Group? Apa jangan-jangan...


"Hallo! Bu Jenaka!" resepsionis itu kembali bertanya karena Jenaka tak juga menjawab.


"I-iya. Boleh. Silahkan, suruh masuk saja!" jawab Jenaka agak gugup.


"Baik, saya persilahkan naik ya Bu. Terima kasih, selamat pagi."


Deg...

__ADS_1


Jenaka mengusai degupan jantungnya yang bertalu kencang setiap nama Prabu Group disebut. Ya, kisah masa lalunya dengan CEO Prabu Group masih membekas di benaknya.


Mandala tak lagi Jenaka temui sejak terakhir mengembalikkannya pada Ayah. Saat sidang cerai pun Mandala tak datang sama sekali, hanya diwakilkan oleh pengacaranya saja. Menurut berita di TV, Kinara dirawat di Singapore dan telah meninggal dunia.


Jenaka tak lagi mendengar kabar tentang Mandala. Ia bagai hilang ditelan bumi. Perusahaan Prabu Group dan Reel Group masih bekerja sama, namun Panca yang menanganinya sendiri bersama team yang Ia bentuk. Jenaka tak boleh ikut campur sama sekali.


Kini, mendengar perwakilan dari Prabu Group datang dan hendak bertemu Panca timbul rasa penasaran dalam diri Jenaka. Bagaimanakah kabar Mandala? Apakah Ia baik-baik saja? Apakah yang datang sekarang adalah Mandala? Bagaimana Ia harus bersikap? Pura-pura enggak kenal atau....


"Siapa Jen yang telepon?" tanya Panca membuyarkan lamunan Jenaka.


"Hah? Yang telepon? Itu... Mm... Resepsionis." Jenaka yang kaget sampai gelagapan sendiri. "Katanya ada perwakilan dari Prabu Group yang mau datang, Ca."


Panca memperhatikan Jenaka yang semula santai sambil membaca novel, berubah tegang saat mendengar nama Prabu Group. Ia bisa mengerti, mendengar nama perusahaan mantan suaminya disebut membuat Jenaka gelisah. Sudah lama Panca sengaja membuat Jenaka menjauh dari Prabu Group, kini malah perwakilannya datang sendiri kesini. Mau apa coba?


"Aku saja yang hadapin, Jen. Kamu ke atas saja sana baca novel!" ujar Panca.


Jenaka menggelengkan kepalanya. "Aku enggak mungkin selamanya menghindar, Ca. Kita hidup di kota yang sama, bisa saja saling bertemu kan?"


"Kamu siap memangnya?" tanya Panca lagi.


Jenaka mengangguk mantap. "Aku siap. Aku udah melupakan dia. Kamu tenang saja!"


"Baiklah. Jangan memaksakan diri kamu, Jen! Aku masuk ke dalam!" Panca pun masuk ke dalam ruangannya, menunggu perwakilan dari Prabu Group datang.


Jenaka meminum es kopi banyak-banyak. Membuang rasa gugup yang datang menguasainya. Jenaka melirik bayangan dirinya di cermin. Cantik.


Semenjak menjadi sekretaris Panca, Ia memang lebih mengutamakan penampilannya. Sekretaris pimpinan adalah wajah perusahaan yang menghadapi klien langsung. Jika Ia tak memperhatikan penampilan, bisa membuat Panca malu nantinya.


Gaji yang diberikan Panca sesuai dengan yang Ia janjikan. Bonusnya malah sangat besar, bahkan bisa membantu Ayah membeli rumah baru yang lebih besar. Rumah lamanya sudah dijual, namun mereka tetap tinggal di lingkungan yang sama hanya pindah rumah saja.


Jenaka bahkan bisa membeli barang-barang branded sendiri, meski tak semahal yang Mandala belikan dulu. Lumayanlah. Toh Jenaka juga tidak terlalu suka barang-barang mahal.


"Selamat pagi!" ujar suara laki-laki yang Jenaka sangat kenal.


Jenaka bangun dan menyambut tamunya dengan senyum ramah. "Pagi! Kak Genta?!" Jenaka terkejut karena yang datang adalah Genta, bukan Mandala. Senyum lebar langsung terpasang di wajahnya.


"Jenaka? Ya Allah, Jen! Lo disini?" Genta tersenyum dan menjabat tangan Jenaka. "Geulis pisan kamu, Jen!"

__ADS_1


Jenaka tersenyum malu-malu. Genta masih saja seperti dulu. "Iya. Aku kerja disini, Kak. Kak Genta apa kabar?"


"Baik Jen. Alhamdulillah. Gue masih belum dikasih kepercayaan sama bokap gue buat mimpin perusahaan. Kesel banget gue! Padahal Prabu Group juga gue yang pegang pas Si Man-" Genta tak melanjutkan lagi perkataannya. "Sorry, Jen. Lama enggak ketemu sama lo, gue jadi curhat deh."


"Enggak apa-apa, Kak. Mau langsung ketemu sama Pak Panca atau mau ngobrol sama aku dulu nih?"


"Ketemu sama Pak Panca dulu aja kali ya Jen. Nanti habis ketemu Pak Panca kita ngobrol. Makan siang bareng juga boleh!"


"Boleh, Kak. Nanti aku ajak makan siang ke tempat yang enak!"


"Beneran ya? Aku masuk ke dalam dulu nih!"


Jenaka kini dapat tersenyum lega. "Huft... Kak Genta ternyata!"


Bukan takut bertemu Mandala. Jenaka hanya tak siap untuk jatuh hati lagi. Susah payah Ia membangun hidupnya kembali.


Masih teringat bagaimana hancurnya Jenaka setelah Mandala mengembalikannya pada Ayah. Rasanya air mata tak pernah berhenti mengalir dari pelupuk matanya.


Juna tak bosannya membujuk Jenaka agar mau makan. Bunda yang terlihat begitu khawatir dan Ayah yang diam memendam amarahnya. Bahkan saat Papi Prabu dan Mami Nina datang untuk meminta maaf, Ayah hanya diam saja menahan sakit hatinya.


Semua sudah berusaha menyemangatinya, Jenaka pun harus bangkit. Dengan dibantu Panca, Jenaka mulai menata hidupnya. Resign dan pindah ke perusahaan yang baru, fokus bekerja dan menikmati gajinya yang sangat besar.


"Jen! Ayo kita makan siang! Gue udah ijin sama Pak Panca katanya boleh ngajak lo! Ayo kita cus!" ajakan Genta menyadarakan Jenaka dari lamunannya.


"Tapi masih lama jam makan siang, Kak!"


Panca datang menghampiri. "Pergilah, Jen. Kamu pasti mau mengobrol banyak dengan Pak Genta bukan?"


"Ya ampun, Ca. Kamu tuh bos terbaik sejagat raya!"


"Enggak usah bokis deh, Jen! Apapun untuk calon istriku, pasti aku kasih!" goda Panca.


"Aku pergi dulu ya, Ca. Jangan nakal selama aku pergi!" ujar Jenaka.


"Iya!"


"Jenaka akan menikah dengan Panca? Beneran?" batin Genta.

__ADS_1


****


__ADS_2