Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Call My Name, Baby


__ADS_3

"Bunda sama Ayah mau ikut? Tapi ini kan paket honeymoon untuk dua orang, Bun. Memangnya bisa?!" Jenaka bersuara menyuarakan isi hati Mandala.


Mandala tersenyum melihat Jenaka yang berani speak up mewakilinya. Dalam hati Ia sangat bangga dengan istrinya tersebut.


"Tapi Bunda mau ikut." Bunda pun memasang tatapan eye puppy miliknya.


"Memangnya kenapa sih Jen kalau Ayah dan Bunda mau ikut? Nanti Ayah bayar sendiri! Kamu pikir Ayah enggak mampu apa membayar liburan dengan Bunda kamu?!" Ayah pun ikut-ikutan tersulut emosi.


Mandala harus menengahi. Jenaka sudah membelanya dan mengusahakan honeymoon impian mereka namun apa daya, Bunda juga termasuk salah satu rintangan yang harus dilewati.


"Enggak apa-apa kok Sayang kalau Ayah dan Bunda mau ikut. Nanti aku yang belikan tiket dan bayar hotelnya. Lebih ramai akan lebih seru bukan?" Mandala bertutur kata manis, membelot dari Jenaka dan mencari muka depan mertuanya.


Jenaka memelototinya dengan sebal. Merasa Mandala tak mendukungnya, padahal Mandala bertujuan agar Jenaka tak bertengkar dengan kedua orang tuanya. Nampaknya Mandala salah langkah kali ini.


"Tapi aku disana mau sepedahan sama Kak Mandala. Bunda sama Ayah enggak akan kuat! Pokoknya jangan ikutan ya kalo aku sama Kak Mandala mau sepedahan!" ancam Jenaka.


"Iya kamu tenang aja! Ayah sama Bunda akan keliling pantai aja. Kamu enggak usah khawatir. Bunda kan juga mau ngulang honeymoon sama Ayah." jawab Bunda.


"Nanti Mandala pesankan tiketnya. Mandala cuma masuk kerja sehari aja kok habis itu melanjutkan cuti Mandala. Kita pergi 3 hari lagi ya!" ujar Mandala. Tak apalah mereka ikut, Mandala yakin kalau sudah Ia belikan tiket maka mereka akan sungkan mengganggu acaranya nanti.


"Tuh suami kamu baik sama Bunda!" Bunda mencibir Jenaka. "Makasih ya Nak Mandala. Semoga rejekinya ditambah lagi sama Allah dan kalian cepat punya anak!"


"Aamiin." jawab Mandala dan Jenaka kompak.


"Gimana mau cepat punya anak? Tiap mau unboxing diganggu terus!" batin Mandala, wajahnya tersenyum batinnya mengeluh.


****


"Kamu kenapa sih mengiyakan aja permintaan Bunda? Aku tuh udah melarang mereka eh kamu malah iyain. Jadinya kita enggak kompak kan?" keluh Jenaka setelah mereka memasuki kamarnya.


"Bukan maksud aku mengkhianati usaha kamu. Aku kan enggak mungkin menolak permintaan Bunda dan Ayah. Masa sih aku tega membiarkan Ayah membayarnya? Aku juga masih punya harga diri dong. Tak mau mertua yang seperti orangtuaku sendiri membayarnya. Udah ya jangan dipermasalahkan. Toh nanti kamar kita berbeda. Kita tetap saja bisa menikmati honeymoon kita disana." Mandala mengunci pintu kamar Jenaka lalu memeluk Jenaka dari belakang.


"Malam ini, harus jadi ya!" ujar Mandala.


Mandala mulai melakukan aksinya kembali. Pokoknya, malam ini nggak boleh gagal lagi. Ia mulai mencium jenaka dengan lembut sambil sesekali memainkan lidahnya.

__ADS_1


Mandala mulai mendorong Jenaka perlahan ke tempat tidur. Ibaratnya, kali ini Ia sudah terlalu lama menahan hasrat lelakinya.


Mandala mulai menciumi Jenaka dengan ciuman membara. Bibir mereka mulai berpagutan. Tak mau lama menunggu, Mandala membuka kancing baju Jenaka dan menyusupkan tangannya demi menyentuh chocochip milik Jenaka.


Berhasil... Mandala berhasil menyentuhnya. Sentuhan lembutnya membuat Jenaka mengerang kenikmatan.


Suara erangan Jenaka membuat Mandala semakin bersemangat. Ia lalu membuka pengait bra milik Jenaka. Melepaskan sebentar pagutannya hanya untuk menatap dengan penuh kagum akan dua buah sintal menggoda milik Jenaka.


Mandala kembali menyentuh pucuk chocochip Jenaka dengan lembut, membuat Jenaka kembali melenguh. Senyum di wajah Mandala mengembang. Jenaka menginginkannya, sama seperti dirinya.


Mandala mendekatkan wajahnya ke chocochip Jenaka lalu mulai menciumnya. Membuat Jenaka merasakan sensasi aneh dalam tubuhnya.


Mandala mulai menikmati chocochip Jenaka yang begitu nikmat. Tangannya yang bebas tak Ia biarkan diam begitu saja. Ia biarkan tangan satu lagi memegang chocochip Jenaka.


Jenaka pun mulai mengeluarkan suara penuh kenikmatan. Terpaksa Mandala menyumpal mulut Jenaka dengan ciumannya agar tidak ada yang mendengar suara percintaan panas mereka di rumah ini.


Ciuman Mandala pun turun ke lehernya, mengeksplornya sejenak sebelum kembali ke chocochip nikmat yang sudah terhidang siap dinikmati.


"Kak..." Jenaka memanggil nama Mandala.


"Hmmm... Mandala... Aku.... mmm....." Jenaka menikmati sekali sentuhan Mandala pada kedua chocochipnya.


Mendengar namanya disebut, Mandala pun memberikan Jenaka kenikmatan tiada tara lagi. Ia mulai membuka celana Jenaka. Menyentuh pelan bagian inti Jenaka dengan tangannya.


"Mmm.... Kak.... " suara Jenaka yang seksi saat sedang terbang ke langit ke tujuh membuat gairah Mandala makin bertambah. Adiknya sudah tegak tanpa dikomando.


Mandala mengarahkan tangan Jenaka untuk memegang adik kecilnya. Setelah Jenaka memegangnya, justru Jenaka menghempaskannya. Wajahnya terlihat ketakutan.


"It's ok, Baby. Ini akan membuat kamu merasakan kenikmatan yang haqiqi."


Jenaka menggelengkan kepalanya, mulai terlihat ketakutan. "Aku takut, Kak!"


"Tenang ya. Aku akan membuat kamu rilexs lagi. Kamu tenang saja!" Mandala membujuk Jenaka yang kini tegang.


Mandala kembali menggoda Jenaka. Mencium Jenaka dengan penuh hasrat sambil tangannya memainkan chocochip Jenaka.

__ADS_1


Dengan tanpa suara Mandala mulai menurunkan celana Jenaka, kini Jenaka sudah tanpa sehelai benang pun yang menutupi.


Mandala merasa inilah saatnya. Ia membuka celananya sambil terus mencumbu Jenaka. Membuat pikiran Jenaka teralihkan.


Mandala menyentuh bagian inti Jenaka yang mulai menunjukkan tanda kalau siap untuk melakukan penyatuan.


Mandala pun mengarahkan miliknya untuk melakukan penyatuan dengan milik Jenaka.


"Aww! Kak! Aww!" Jenaka mulai mengadu kesakitan. Jenaka melepaskan dirinya dan mundur sampai headerboard tempat tidur.


"Enggak apa-apa, Sayang! Aku akan pelan-pelan!" bujuk Mandala.


Jenaka menggeleng ketakutan. "Jangan, Kak. Please... Ya ampun itu punya Kakak gede banget. Aku takut! Pasti enggak muat!" Jenaka menutup matanya dengan tangan, tak mau melihat langsung.


Mandala bingung bagaimana menjelaskan pada Jenaka. Ia mendekati Jenaka, tapi Jenaka malah makin menghindar. Jenaka takut melihat milik Mandala yang masih berdiri tegak.


Seakan seluruh alam mengujinya, handphone Jenaka berbunyi. Juna calling.


Jenaka merasa ini cara untuk menghindar dari Mandala. Diangkatnya telepon dari Juna.


"Jen, tolong bukain pintu pagar! Aku enggak bawa kunci! Enggak enak bangunin Ayah dan Bunda!" pinta Juna.


"Iya, Kak Mandala akan bukain pintu pagarnya!" Jenaka menutup teleponnya dan menatap Mandala dengan takut-takut.


"Kak, Juna minta tolong bukain pintu pagar. Kak Mandala mau kan bukain?" pinta Jenaka. Ia merasa ini saatnya menghindar.


"Tapi kita lagi sibuk dengan urusan kita, Sayang!" Mandala terlihat enggak mengikuti perintah Jenaka.


"Kasihan Juna nunggu di depan, Kak. Kalau kelamaan nanti malah bangunin Ayah dan Bunda!"


Mandala menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya dengan kesal. Dipakainya kembali pakaiannya lalu pergi ke depan untuk membukakan pintu pagar.


Jenaka bisa bernafas lega sekarang. Ia masih shock melihat milik Mandala.


"Ya Allah itu gede banget! Gimana caranya masuk? Hiyyy!" Jenaka bergidik ngeri membayangkannya. "Udah ah pakai baju aja dulu!"

__ADS_1


****


__ADS_2