
Kinara
"Apa hal yang paling membuat Kinara bahagia?" tanya wartawan salah satu infotainment yang mewawancaraiku.
"Tentu saja berada di samping orang yang sangat mencintai dan kucintai." jawabku dengan yakin.
"Apakah orang tersebut adalah Mandala, CEO dari Prabu Group?" tanya wartawan itu lagi.
Aku tersenyum, aku menjawab dengan isyarat senyuman. Kalau aku menjawab terus terang, kasihan Mandala. Takut Ia kena masalah dengan Papinya.
"Nara, kamu mimisan!" ujar wartawan yang mewawancaraiku.
"Ah... Iya. Aku panas dalam. Kelelahan." aku mengambil tisu yang diberikan oleh manajerku dan menyumpal hidungku agar darahnya tidak menetes.
Sudah sering aku mimisan. Biasanya kalau aku kelelahan bekerja. Namun makin lama semakin sering saja. Kayaknya aku harus periksa deh.
Ada panggilan masuk yang aku terima. Om Ben. Aku menghela nafas kesal. Mau apa laki-laki itu meneleponku terus.
Sesi wawancaraku telah selesai. Aku lalu mengangkat teleponku. "Ada apa, Om?" tanyaku dengan nada ketus.
"Jangan galak-galak sama Ayahmu ini!"
"Maaf, Om bukan ayahku. Ayahku sudah meninggal!" kataku lebih ketus lagi.
"Dasar anak tak tahu diri! Mana uang bulananku? Kenapa kamu enggak kirimkan?" Huft.... lagi-lagi Ia memalakku. Pasti sebentar lagi akan mengancam kalau aku tidak menurutinya.
"Aku akan cari dulu. Setelah dapat aku akan kasih!"
"Jangan lama-lama! Ayah mau malam ini!"
Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Sudah jam 3 sore. Semoga masih sempat. "Aku usahakan. Nanti aku telepon lagi. Kita bertemu di SPBU biasa!"
"Cairkan lagi uangnya. Sepuluh juta saja!" pintaku pada manajerku.
"Lo yakin, Nar? Udah sering lo kayak gini. Apa Mandala enggak akan curiga?" tanya Manajerku.
"Udah tenang aja. Ada hal yang lebih gawat lagi."
Manajerku pun nurut. Ia pun pergi ke tempat gesek tunai kartu kredit ilegal. Hasilnya Ia transfer ke rekeningku.
Aku melajukan mobilku ke SPBU dekat rumah. Om Ben dan aku janjian disana. Aku mengambil uang yang ditransfer manajerku.
"Hallo." kujawab telepon dari manajerku. "Kamu jangan khawatir. Ini hanya sementara. Kalau rencanaku berhasil si tua itu enggak akan mengancamku lagi. Satu-satunya cara lepas dari semua ini adalah dengan menjadi istri sah Mandala."
__ADS_1
Manajerku menceramahiku panjang lebar dari ujung telepon sana. "Iya aku tahu. Kamu tenang saja. Aku yang akan menggantikan posisinya sebagai istri sah Mandala!"
Aku menunggu ayah tiriku di dalam mobil. Tak lama Om Ben datang dengan senyum lebar. Senyum karena melihat tambang uangnya datang membawa uang yang Ia ingikan.
"Nah begitu dong! Jangan diundur-undur. Atau Ayah akan memanggil wartawan dan menceritakan pernikahan poligami Mandala dan status kamu yang hanya istri sirinya ha...ha...ha..."
Aku tak menanggapi hanya mencengkram erat stir mobil. Aku ingin membunuh laki-laki brengsek ini rasanya!
Aku harus kembali bekerja. Aku butuh banyak uang untuk menyumpal mulut Om Ben. Selama Mandala masih poligami, selama itu pula Om Ben akan terus mengancamku.
Saat Mandala di rumah Jenaka, aku mengambil jadwal pemotretan. Lumayan uangnya untuk menutup mulut Om Ben. Sayangnya, aku lagi-lagi mimisan.
Manajerku marah-marah dan menyuruhku check up. Aku terpaksa melakukannya. Serangkaian pemeriksaan pun dilakukan. Sampai tiba waktunya hasil pemeriksaanku keluar.
"Apakah buruk?" tanyaku duluan.
"Ya." ujar Dokter Budi.
"Kalau gitu jangan katakan. Aku tak mau dengar! Aku masih mau menikmati hidupku!"
"Tapi, Nara-"
"Aku enggak mau tau, Dok. Itu hak aku kan?" Aku pun meninggalkan ruang periksa dokter tanpa tahu apa penyakitku.
****
"Aku udah kasih kan? Baru minggu lalu!"
"Udah habis lah! Kamu pikir judi itu enggak butuh modal?!"
Sumpah, aku mau membunuh laki-laki ini! Darimana aku dapat uang lagi? Aku enggak mau minta sama Mandala lagi. Sudah cukup aku menghabiskan limit kartu kreditnya.
"Kamu mau Ayahmu ini menyebarkan berita kalau kamu hanyalah istri siri Mandala?"
"Aku akan kasih! Jangan ganggu hidupku lagi!" aku mematikan sambungan telepon dari Om Ben.
Aku harus mengambil pekerjaan lagi. Ya, terpaksa. Dokter bilang penyakitku sudah parah, nanti saja aku fokus mengobatinya. Yang penting aku menyumpal mulut Om Ben!
Aku pun mengambil pekerjaan di luar kota. Meninggalkan Mandala bersama Jenaka. Tak masalah toh Mandala hanya cinta padaku.
Namun, Mala yang setia padaku memberikan informasi yang membuatku terkejut. Mandala meminta dimasakkin Jenaka, padahal selama ini Mandala tak masalah dengan masakan Mala. Apa Jenaka berusaha mengambil hati suamiku?
Berita yang Mala berikan semakin membuatku panas. Aku enggak bisa terima. Aku enggak mau Mandala jatuh hati pada Jenaka. Aku yang lebih segalanya. Aku yang lebih banyak berkorban demi kebahagiaan Mandala.
__ADS_1
Aku pun mempercepat kepulanganku. Rasa amarah tak bisa kubendung saat Jenaka tengah asyik bersikap bak nyonya besar. Kenapa jadi Jenaka yang menikmati semua usahaku? Sementara aku harus kerja keras demi menyumpal mulut Om Ben? Enggak! Ini semua enggak adil!
Lalu aku mulai mimisan dan kehilangan kesadaran. Saat aku terbangun, Mandala ternyata sedang berbicara dengan Dokter Budi.
Kanker Nasofaring stadium 4. Aku bagai terkena kutukan. Sakitku ternyata separah itu. Apakah aku akan mati?
Dokter Budi menyarankan aku untuk melakukan kemoterapi. Enggak, aku enggak boleh kemo! Kalau aku jelek gimana? Kalau rambutku botak dan kulitku kusam gimana?
Lalu pemenang semuanya datang tanpa merasa berdosa. Jenaka. Ia hendak menjengukku, kumanfaatkan kesempatan langka ini.
"Tolong lo tinggalin Mandala. Tolong kembaliin Mandala sama gue. Hanya Mandala yang gue cinta. Tak bisakah gue memiliki Mandala hanya seorang diri?"
Cewek kampung itu pun menyerah. Aku rasanya mau bersorak saat Mandala mengatakan kalau Ia habis menalak Jenaka. Namun bukan bahagia yang kudapat melainkan rasa sakit hati yang amat besar.
Aku melihat Mandala yang sangat terluka karena kehilangan Jenaka. Kenapa jadi begini? Baru aku sadari, Mandala sudah berpaling dariku.
Tes... tes....
Air mataku mulai mengalir. Kenapa? Kenapa dunia ini begitu tak adil bagiku? Kenapa aku harus kehilangan semuanya?
Sebulan Mandala menemani pengobatanku. Ia terus berada disisiku, namun aku tahu Ia hanya menyibukkan diri untuk menghapus luka hatinya.
Keadaanku semakin memburuk. Selama hampir satu jam aku mimisan tanpa henti. Mala menangis melihat keadaanku. "Bu, saya bilang sama Bapak ya, Bu."
Aku melarangnya, namun Mala tetap memberitahu Mandala. Ia datang dengan wajah khawatir. Hatiku semakin sakit rasanya.
Aku bisa lihat dari sorot mata Mandala, Ia hanya khawatir akan keadaanku sebagai istrinya bukan sebagai wanita yang Ia cintai. Sejak kapan cinta Mandala berpaling dariku?
Kami lalu pindah ke Singapore. Melanjutkan pengobatanku disana dengan harapan tenaga dokter yang ahli mampu memperpanjang usiaku.
Aku melihat Mandala amat berubah. Ia rajin mengaji dan selalu sholat lima waktu. Saat aku tertidur, Ia rajin membaca Al-Quran di sampingku. Aku merasakan ketenangan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Suara Mandala yang merdu saat membaca Al-Quraj baru kuketahui sekarang. Hey, kemana aja aku selama ini?
Mandala bilang, Jenaka yang menuntunnya untuk kembali melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Jenaka, lagi-lagi Jenaka.
Aku terlalu benci padanya karena telah merebut Mandalaku. Namun aku juga berterimakasih. Aku mulai tergerak untuk menunaikan sholat. Saat keadaanku semakin memburuk, aku hanya bisa pasrah namun dzikir dan doa selalu aku panjatkan dalam hati.
****
hi semua...
jangan lupa vote dan like yang banyak ya 😁😁
aku mau promosiin karya author temanku nih. mampir ya....
__ADS_1