Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Kerjasama Baru


__ADS_3

Jenaka memutuskan untuk kembali masuk bekerja keesokan harinya. Tak bisa selamanya menghindari Panca.


Meski kemarin Panca sudah mendapat ceramah dari Bunda secara panjang lebar, bukan berarti Panca menyerah begitu saja. Contohnya saat Jenaka datang pagi ini.


Panca menyambut kedatangan Jenaka dengan senyum mengembang. Di meja Jenaka sudah tersedia roti bakar dan es kopi dengan banyak whipped cream diatasnya. Kesukaan Jenaka sekali.


"Sarapan dulu, Jen. Udah sehat kan sekarang? Nanti siang mau makan di luar?" tanya Panca seakan pertengkaran mereka kemarin tak ada artinya.


"Makasih. Aku bawa makan. Dan..." Jenaka mengembalikan es kopi dan roti pada Panca. "Enggak sehat nih minumannya. Kamu lupa, Melisa yang bilang." sindir Jenaka sambil tersenyum.


"Ah itu kan kata Melisa?! Kata aku mah enggak apa-apa. Enak. Bergizi. Kalau kurang nanti aku belikan whipped cream lagi!" tak mudah menyerah rupanya Panca ini.


"Jadi aku kapan dipindahin ke bagian admin?" tanya Jenaka. Ia sedang merapikan barang-barangnya dan membutuhkan kardus agar mudah dibawa nanti.


"Hm... Ada perubahan rencana. Admin sedang full saat ini. Kamu akan tetap jadi sekretarisku!" kembali Panca memaksakan kehendaknya.


"See? Watak enggak akan pernah bisa dirubah. Kamu bilang kalau kamu enggak akan memaksa tapi lagi-lagi kamu memaksakan kehendak kamu!" protes Jenaka. "Oke. Berarti surat pemberhentianku kembali aku ajukan."


"Aku sudah merobeknya! Aku anggap surat itu tak ada!" Panca pikir bisa mengancam Jenaka dengan hal seperti itu?


"Oh tenang aja. Aku akan mengirim ke bagian HRD by email. Aku udah menduga sih kamu akan melakukan hal ini. Aku banyak belajar sama kamu dan kini aku tahu bagaimana sifat kamu sebenarnya!" kini Jenaka tersenyum puas karena berhasil membuat Panca makin kesal.


"Aku bisa membatalkannya!" Panca masih berusaha menahan Jenaka.


"Terserah. Tinggal aku kirim surat ke serikat pekerja atau kementrian tenaga kerja. Bisa panjang urusannya tapi enggak masalah. Calon pengangguran kayak aku mah enggak ada yang ditakutin!" inilah Jenaka kalau sudah marah. Seperti kata Juna, tak ada yang ditakutin!


Panca terlihat mengatur nafasnya. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sudah lama berteman dengan Jenaka masih saja belum mengenal keras kepalanya Jenaka seperti apa!


"Jen, aku minta maaf ya. Udah ya kita berantemnya. Kita tuh akan segera menikah. Masa sih kita masih kayak anak kecil begini?"


Jenaka mengernyitkan keningnya. "Aku lupa!" Jenaka mencopot cincin pemberian Panca dan mengembalikan pada pemiliknya. "Pernikahan kita batal!"


"Enggak bisa begitu dong, Jen! Papa dan Mamaku akan segera kesini! Mereka akan melamar kamu!" Panca mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Terkejut akan sikap Jenaka yang mengembalikan cincin pemberiannya. "Aku minta kamu pikirin lagi ya, Jen. Aku akan lakuin apapun, apapun untuk kamu!"

__ADS_1


"Udah ya Ca, aku bosen kita bahas kayak gini terus. Jadi, karena aku udah ngajuin resign hari ini lalu dikurangi 8 hari tanggal merah, jadi aku kerja disini tinggal 22 hari lagi." Jenaka menghitung di kalender miliknya. "Sip. Udah bener. Aku mulai bekerja, aku mau periksa jadwal kamu hari ini!"


"Jen!" Panca tetap berada di depan meja Jenaka. Tak kembali ke ruangannya.


"Pak Panca, jadwal hari ini ada meeting dengan Pak Bambang. Nanti dari bagian keuangan akan ikut serta. Lalu ada meeting sekalian makan siang di Restoran AB dengan Perusahaan DHA. Hmm... Menu yang rekomen di Restoran AB sih pastanya. Jangan lupa pesan ya, Pak."


Panca menghembuskan nafasnya dengan kesal lalu kembali ke ruangannya. Meski bersikap menyebalkan, namun dalam hati Jena tetap saja merasa tak enak. Kalau Ia tidak tegas, maka Panca akan semakin berharap dan malah akan tambah menyakitinya nanti.


Jenaka menatap layar Hp miliknya yang sejak tadi terus menyala.


Mandala My Love Calling


Jenaka tersenyum dibuatnya. Ia memasang headset dan menggeset tombol hijau di Hp.


"Assalamualaikum." jawab Jenaka.


"Waalaikumsalam, Cantik. Kamu lagi apa?" sapa Mandala di ujung telepon sana.


"Lagi kerja dong! Kamu lagi apa?" tanya balik Jenaka.


"Enggak mau ah! Maunya makan siang di dalam rumah Ibu penjual ayam bakar!" goda Jenaka.


"Owh... Kamu sudah menyukai ayam bakarnya ya? Oke deh aku siap. Aku jemput ya!" ujar Mandala.


"Jangan! Kita kan lagi backstreet. Jangan sampai ketahuan siapapun. Kita ketemu di Indojanuari aja. Gimana?"


"Yah... Padahal aku mau jemput kamu! Yaudah deh kita ketemu disana. Aku mau meeting dulu nih. See you later, Baby! Muach!"


"Muach too!" Jenaka yang senyum-senyum sendiri nampak menarik perhatian Panca.


Mereka baru saja putus, namun Jenaka malah senyum-senyum sendiri seakan tak ada kesedihan sama sekali.


"Apa Jenaka segitu tidak mencintaiku ya?" batin Panca.

__ADS_1


****


"Selamat siang Bapak Richard Kusumadewa!" Mandala menyalami Richard yang hari ini datang dengan mengenakan setelan jas berwarna cokelat gelap. Aura casanova dan Kusumadewa sejati begitu menguar dari dirinya.


"Siang juga Bapak Mandala Wangi! Apa kabar? Kalau dilihat dari raut wajahnya, sepertinya jadi nih rujuk?" sindir Richard.


"Yah... Belum berhasil 100% sih. Hanya sepakat aja akan rujuk." jawab Mandala malu-malu.


"Wah bagus dong! Selamat... selamat!"


"Nanti aja selamatnya ya, Pak. Perjuangan masih berat. Medannya terjal. Semua ini tak akan terjadi tanpa bantuan Bapak Richard dan teman-teman yang lain."


"Ah bisa aja! Muka kalian udah sama-sama pengen. Mupeng gitu! Rujuk udah jalan satu-satunya!"


"Maunya sih begitu. Tapi nunggu selesai kontrak dengan Reel Group dulu. Kalau sampai dituntut bisa habis Prabu Group."


"Tenang aja! Kedatangan gue kesini juga mau lanjutin pembicaraan kita tentang bisnis waktu itu. Maaf berhubung Leo lagi jadi suami siaga, jadi gue yang akan menggantikan Leo. Boleh gue lihat penawaran lo kayak gimana?"


Richard dan Mandala pun mulai mendiskusikan perihal kerjasama dua perusahaan. Richard membaca laporan keuangan Mandala yang mengalami kenaikan signifikan sejak Mandala memimpin langsung.


"Hmm... Tertarik gue! Siapin aja kontraknya nanti gue tanda-tanganin!" jawaban Richard membuat Mandala bisa bernafas lega.


"Kontraknya udah ada dong!" Mandala mengeluarkan kontrak yang sudah Mina buat. "Coba dibaca dulu."


Richard membaca isi kontrak dengan teliti. Menanyakan hal yang Ia tidak mengerti dan kembali membaca sampai selesai. Inilah pebisnis sejati. Tidak sembarangan tanda tangan kontrak tanpa dipelajari apa isinya.


"Menguntungkan. Rencananya malah Leo mau buat satu lokasi dimana isinya tempat makan dan hangout semua. Kalo liat dari lo yang pernah nanganin proyeknya Panca sih udah pas banget nih. Kita bikin tempat kayak gini di beberapa daerah juga. Gue yakin akan berkembang, apalagi yang konsepnya tempat nongkrong anak muda!" usul Richard.


"Wah jadi melebar nih kontrak kita!" Mandala tersenyum lebar. Proyek bisnisnya dengan Kusumadewa Group bahkan lebih besar dari yang ditawarkan oleh Reel Group.


"Iyalah. Kalau bisa dapet kue satu loyang, kenapa pilih satu slice?" ujar Richard.


"Enggak salah deh kerjasama dengan Kusumadewa Group. Mantap!" mereka lalu saling menandatangani kontrak perjanjian kerjasama. Tak lupa saling berjabat tangan demi kemajuan bisnis mereka kelak.

__ADS_1


Mandala siap menemui Jenaka dengan senyum di wajahnya. Satu usahanya berhasil. Ia yakin, semua akan dimudahkan juga nantinya.


****


__ADS_2