Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Mengubah Settingan Menjadi Kenyataan


__ADS_3

"Jadi gimana?" tanya Panca.


"Gimana apanya?" Jelita bertanya balik. Tak mengerti apa yang ditanyakan oleh


Panca.


"Kamu mau enggak meneruskan settingan kita menjadi kenyataan?"


Jelita menatap Panca tak percaya. "Kamu serius?"


Panca mengangguk mantap. "Tentu saja! Aku selalu serius dalam setiap langkah yang aku ambil dalam hidup ini."


"Tapi kita belum saling kenal?! Kamu enggak tau siapa aku, dan aku juga enggak tau siapa kamu."


"Kalau begitu kita mulai dari awal. Namaku Panca. Anak tunggal. Keluargaku enggak ada disini. Papa dan Mamaku tinggal di Amrik. Awalnya aku besar disini sampai SMA. Lalu aku pindah ke Amrik melanjutkan kuliah disana dan belajar memimpin perusahaan,"


"Aku kembali lagi ke Indonesia karena harus mengejar sesuatu yang selama ini aku cintai, Jenaka. Sayangnya aku harus patah hati karena Jenaka tak pernah mencintaiku dan hanya menganggapku sebagai sahabat. Pertunanganku dengan Jenaka berakhir di tengah jalan. Saat ini Jenaka sedang berbulan madu dan aku mengenal kamu-"


"Kamu mau meneruskan settingan kita untuk pelampiasan luka hati kamu?" tebak Jelita.


"Salah! Untuk menyembuhkan luka kita bersama."


"Maksudnya?"


"Kamu tau maksudku. Kamu juga terluka. Kemarin aku tahu kamu begitu terluka. Mau datang ke pernikahan sahabat yang menghianati kepercayaanmu sambil melamun dan akhirnya berakhir dengan pertemuan kita,"


"Kita sama-sama terluka." Panca melanjutkan lagi perkataannya. "Bagaimana kalau kita saling menyembuhkan luka diantara kita dengan kisah baru? Aku percaya kalau aku harus menerima takdir dan ikhlas melepas Jenaka. Kamu juga harus melakukan itu bukan?"


Jelita terdiam sejenak. "Kalau kita tidak cocok gimana? Kalau justru kita malah tambah sakit hati gimana?"


Panca menatap ke atas. Melihat indahnya awan yang mulai dihiasi langit kekuningan, pertanda senja semakin tergantikan dengan langit maghrib.


"Kamu masih takut sakit hati setelah merasakan sakit hati? Aku sih enggak! Karena bagiku akan ada cara Allah yang akan menyembuhkan lagi hatiku yang terluka." jawaban Panca benar adanya. Jelita mengamini dalam hatinya.


"Baiklah. Aku mau! Aku juga akan memperkenalkan diriku seperti kamu."


Panca tersenyum. Semuanya begitu mudah. Mungkin ini yang dinamakan jodoh. Sama seperti Jenaka dan Mandala yang meski harus melewati aral melintang tapi pada akhirnya dipersatukan dengan mudah oleh Allah.

__ADS_1


"Namaku Jelita. Aku tinggal berdua ibuku di dekat sini." Jelita menunjuk gang rumahnya. "Disana. Masuk ke dalam gang. Ayahku sudah meninggal saat aku SMA. Aku punya usaha hijab dan aneka aksesorisnya. Ibuku yang menjahit dan aku membuat pola. Aku juga membantu Ibu menjahit kalau pesanan kami membludak. Aku berpacaran dengan Radit sudah setahun lebih. Aku tak pernah punya waktu untuknya dan sibuk dengan bisnisku,"


"Ya... Mau bagaimana lagi, kalau enggak kerja aku dan ibuku tak bisa makan. Saat itu bisnisku belum bisa kulepas karena belum punya uang buat menggaji karyawan, makanya Radit selingkuh dengan Angie sahabatku. Bagiku, laki-laki yang selingkuh itu ibarat sampah yang harus dibuang pada tempatnya. Aku mengikhlaskan kandasnya hubungan sebagai pecut agar aku bisa lebih sukses lagi. Aku tau kamu kaya raya. Kamu masih mau berhubungan dengan cewek miskin yang tinggal di gang seperti aku?"


Panca tersenyum. "Masalahnya dimana? Toh nanti saat kita mati, kita pun hanya menempati lahan seluas 1x2 meter dengan jutaan penghuni lainnya secara berdampingan? Tak masalah dong?"


Kini gantian Jelita yang tersenyum. "Kamu benar. Lalu bagaimana dengan orang tua kamu? Tidakkah mereka memandang rendah orang kecil seperti aku?"


"Kamu tau kenapa aku menjadi anak kedua orang tuaku?" tanya Panca, Jelita menggelengkan kepalanya. "Karena aku begitu mirip dengan mereka, apapun penilaianku aku yakin mereka akan sama. Jadi, kalau aku tak mempermasalahkan maka mereka juga tak akan masalah bukan?"


Jelita kembali tersenyum.


Adzan maghrib mulai bergema. Suaranya sahut menyahut antara satu speaker masjid dengan speaker masjid yang lain. Menyerukan umatnya untuk meninggalkan pekerjaannya dan bersujud kepada Yang Maha Kuasa.


"Aku mau sholat maghrib dulu di masjid. Habis itu boleh main ke rumah kamu? Aku ingin mengenal Ibu kamu yang hebat itu." ujar Panca.


"Tentu. Mainlah. Rumahku di dalam gang sana. Tanya saja rumah Jelita si tukang jahit." ujar Jelita.


"Tunggu aku ya!"


****


"Kita sudah beberapa hari disini. Kabar Juna gimana ya?" tanya Jenaka yang kini sedang berada di pelukan Mandala.


Jangan tanyakan apakah ada sehelai benang yang memisahkan mereka. Tak ada.


Semenjak sepedahan, sisa hari di Bali mereka habiskan dengan ngamar dan ngamar. Mandala bilang Jenaka harus sering dilatih agar tidak mengaduh kesakitan terus.


Mandala yang sudah sayup-sayup matanya hendak tidur pun harus menjawab pertanyaan istrinya, kalau tidak bisa ngambek dan berakibat pada kestabilan negara nantinya.


"Paling Juna lagi sibuk dengan games. Kemarin aku udah transfer dia lima juta buat beli games baru. Biarkan saja dia senang tanpa ada kamu yang gangguin dia main games terus!"


"Hah? Lima juta? Kamu enggak salah? Banyak banget kalau untuk beli games saja!" omel Jenaka.


"Rencananya malah aku mau transfer lagi. Itung-itung sebagai kompensasi karena tak diajak liburan sama kita. Kalau saja Ia bisa ijin dari tugasnya pasti aku ajak!"


"Mau diajak lalu sama siapa disini? Ayah sama Bunda sibuk honeymoon sendiri, awas saja kalau pulang-pulang aku punya adik lagi! Kita berdua juga sibuk, nyoba berbagai gaya sampai jumpalitan. Baru selesai mandi besar, eh udah diajakin nyari pahala lagi. Begitu aja seterusnya sampai Naruto menyerang Doraemon!"

__ADS_1


"Ha...ha...ha.... Naruto menyerang Sailormoon yang benar!" Mandala dan Jenaka tertawa bersama.


"Aku mau video call sama Juna ah!" Jenaka berguling dan mengambil Hp miliknya diatas nakas. "Jen, pakai dulu baju kamu! Jangan sampai Juna melihat kita lagi kayak gini!" omel Mandala.


"Oh iya lupa! Karena keseringan bareng sama Juna aku suka lupa kalau dia laki-laki ha...ha...ha...." Jenaka memakai baju atasannya saja, bawahnya Ia tutupi dengan selimut.


Mandala juga melakukan hal yang sama. Yang penting Juna tak melihat mereka tanpa busana. Jenaka pun menelepon Juna, agak lama teleponnya diangkat, setelah diangkat eh kameranya disembunyikan.


"Jun, kok gelap? Tapi suaranya ramai! Kamu lagi dimana?" tanya Jenaka.


"Assalamualaikum dulu Kakakku yang lagi honeymoon!" sindir Juna.


"Iya. Assalamualaikum Arjuna! Kenapa kamera kamu dimatikan? Kamu lagi dimana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?" Jenaka memberondong kembarannya dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Ha...ha...ha... Itu lirik lagu Jen! Kamu ada-ada aja Sayang!" Mandala menertawakan ulah istrinya.


"Iya! Apa sih kamu pake lirik lagu begitu Jen!" ujar Juna, rupanya Ia mendengar suara Mandala yang menertawakan Jenaka.


"Yaudah jawab! Kamu mencurigakan tau! Aku bilangin Bunda nih kalau kamu menyembunyikan sesuatu dari aku!" ancam Jenaka. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan kembarannya.


"Aku lagi di masjid, Jen. Enggak enak banyak orang." jawab Juna.


"Bohong! Kok enggak ada suara speakernya?" Jenaka masih tak percaya.


"Ya ini udah selesai dari tadi sholat berjamaahnya. Aku lagi nunggu adzan isya biar sekalian sholat berjamaah disini."


"Enggak percaya! Liat pokoknya!"


Huft... Juna menghela nafasnya dan terdengar di telinga Jenaka. Dengan terpaksa Juna menyalakan kameranya.


Kamera menyorot keadaan masjid yang agak sepi, hanya tinggal beberapa jamaah yang ingin melanjutkan sholat isya di masjid. Suara kendaraan karena masjid terletak di pinggir jalanlah yang membuat suara bising.


"Tunggu, kok di belakang kamu ada yang aku kenal ya?"


"Enggak ada! Udah adzan. Aku tutup dulu!"


****

__ADS_1


__ADS_2