Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Mandala yang Bodoh


__ADS_3

Mandala


Aku hanya bisa melepas kepergian Jenaka dengan tangisan. Saat Jenaka meninggalkan rumah, kakiku terasa lemas untuk menopang berat badanku. Aku menatap kepergiannya, seperti aku sudah kehilangan separuh jiwaku.


Air mataku tumpah. Aku kehilangan seorang wanita yang amat berarti dalam hidupku. Wanita yang selama ini kusia-siakan.


Kupeluk erat sweater pemberian pengasuhku yang sudah meninggal. Pengasuh yang merajutkan sweater ini khusus untukku, karena itulah ada inisial namaku.


"Nanti pakaikan wanita yang kamu sukai sweater ini dikala hujan ya! Jangan biarkan Ia kedinginan. Jangan biarkan Ia sendiri dan kesepian. Siapapun yang kamu berikan sweater ini semoga menjadi wanita yang akan membahagiakan kamu kelak disaat nenek renta ini sudah tak ada." begitulah pesan pengasuh yang selalu menemaniku sejak aku dilahirkan ke muka bumi ini.


Aku masih teringat dengan gadis cantik berkerudung yang sedang ketakutan karena diikuti oleh preman mabuk. Aku sebenarnya tidak mau ikut campur dengan preman kampung seperti itu. Namun, sorot wajah ketakutan dari gadis cantik itu membuatku harus turun tangan.


Aku tak bisa melupakan gadis cantik itu. Wajahnya yang memakai jilbab terlihat sangat cantik, karena itu aku memberikan sweater pemberian pengasuhku pada gadis yang ku tolong.


Aku pikir akan bertemu lagi dengan gadis berkerudung itu. Nyatanya, aku tak pernah menemukan gadis berlesung pipi dengan senyum paling memukau dimataku. Aku sering menunggunya di halte, namun Ia tak pernah datang. Apakah Ia bukan penghuni komplek tempat tinggalku?


Kini baru kuketahui, ternyata gadis itu adalah wanita yang selama ini sudah aku sakiti hatinya. Wanita yang begitu tegar berada di sampingku. Wanita yang membuat hari-hariku berwarna dan cemas karena hal sepele.


Air mata kembali menetes dari kelopak mataku. Aku sudah melepas wanita itu pergi. Wanita yang selalu mengisi ruang hatiku, pergi dengan luka yang selamanya tak pernah ada kesempatan untuk aku menghapusnya.


Aku memeluk sweater yang kini tercium wangi Jenaka. Aku kembali teringat tentang dongeng yang Jenaka ceritakan padaku. Pemuda berselimut dusta. Kini, aku baru sadar kalau aku adalah pemuda jahat dalam kisah cerita Jenaka. Terlambat memang, karena mendengar cerita Jenaka sungguh membuatku tidur dengan nyenyak dan lelap.


Suara dering Hp membuatku tersadar. Hari sudah mulai gelap. Sudah lama ternyata aku larut dalam kesedihanku sendiri.


Aku menatap sekeliling kamar Jenaka. Begitu banyak jejak cinta Jenaka dalam kamar ini. Akankah aku bisa menghapus satu demi satu jejak yang Jenaka tinggalkan?


Bagaimana aku harus menebus kesalahkanku, meski hanya sedikit? Ya, aku harus meminta maaf pada Jenaka dan keluarganya.


Aku telah menalak Jenaka. Sudah kewajibanku mengembalikan Jenaka pada keluarganya. Suara dering Hp milikku membuyarkan lamunanku. Ternyata Mala yang menelepon.


Mala mengabarkan kalau kondisi Kinara memburuk. Ia mencari keberadaanku yang tak juga kembali. Takut aku pergi meninggalkannya. Katanya terus menangis.


Aku kembali ke rumah sakit, menghadapi Kinara yang sangat posesif. Entah kenapa kini aku merasa diriku ingin menjauh. Kinara yang kucintai tega membuat Jenaka pergi dari sisiku. Membuatku merasa marah namun tak berdaya.


"Sayang! Kamu kenapa sih melamun aja?" tanya Kinara yang kini sedang menatapku yang sejak tadi diam tanpa semangat.


"Aku telah menalak Jenaka." kataku dengan lemah.


Kinara terdiam, aku tak peduli mau Ia senang atau tertawa puas. Aku saat ini sangat berduka karena kehilangan Jenaka. Sampai aku mendengar Kinara berkata:

__ADS_1


"Ternyata kamu sudah mencintainya ya? Aku pikir selamanya hanya aku yang ada di dalam hati kamu. Ternyata posisiku sudah Ia gantikan." Kinara menunduk sedih.


Aku terdiam. Aku yang sedang sedih tak bisa menghiburnya. Malah aku yang butuh dihibur. Kinara pun menyadari sikap acuhku. Ia mulai menggunakan kemampuannya memanipulasiku.


"Kalau aku sudah tak ada di dunia ini. Kamu pasti akan mencari Jenaka lagi kan?" ujarnya dengan suara pilu.


Aku masih tak menanggapinya. Aku tak mau menambah luka apalagi Kinara sedang sakit.


"Diamnya kamu, aku artikan sebagai iya." Kinara merebahkan tubuhnya di kasur, tak lama terdengar suara isak tangis tertahan.


Ya Allah... Aku kembali menyakiti hati wanita yang mencintaiku. Jenaka dan Kinara. Aku memang sebrengsek itukah? Apa salah kalau aku serakah dan mau mempertahankan keduanya? Apa salah kalau aku tak mau kehilangan mereka?


Kuselimuti Kinara yang tertidur karena lelah menangis. Aku membuka Hp milikku. Kucari foto Jenaka, namun hanya ada foto pernikahan kami.


Baru kusadari, ternyata aku tak memiliki foto lain dengan Jenaka. Satu lagi kebodohanku. Mandala bodoh!


***


"Nara, aku pamit mau ke rumah Jenaka dulu." kataku saat Kinara sudah selesai mandi pagi dan sarapan. Mala yang selalu setia menemaninya, mengurus Kinara dengan baik.


"Mau ngapain kamu ke rumah Jenaka? Mau mengemis cintanya?" Kinara kembali tersulut emosinya.


Emosi Kinara mereda, berganti kekhawatiran. "Kamu akan baik-baik saja kan? Bagaimana kalau keluarga Jenaka marah lalu melampiaskan kemarahannya sama kamu?"


Memulangkan anak perempuan pada keluarganya pasti akan memercik api pertengkaran. Aku sadar itu dan aku siap dengan segala konsekuensinya. "Aku akan baik-baik saja." kataku menenangkan Kinara.


Dengan berat hati, Kinara melepas kepergianku. Aku pun dengan yakin berangkat ke rumah Jenaka.


Pintu rumah Jenaka terbuka namun tak ada orang di depan. "Assalamualaikum!" kataku seraya mengetuk pintu rumah.


"Waalaikumsalam!" jawab Ayah, sepertinya Ayah cuti karena masalah Jenaka.


Aku masuk dan mencium tangan Ayah, namun Ayah menarik tangannya seakan jijik dengan manusia sepertiku. "Duduklah!"


"Siapa Yah?" tanya Bunda yang melihatku seperti melihat hantu. "Nak Mandala?"


"Siapa Bun?" seorang laki-laki berwajah mirip Jenaka keluar. Aku ingat laki-laki ini. Dia yang menjemput Jenaka di halte waktu dulu dengan sepeda motor. Kalau saja aku bertemu Juna sebelumnya, pasti aku akan menjadi suami yang adil dan mencintai Jenaka sejak awal pernikahan.


Tak ada yang menjawab pertanyaan yang diajukan Juna membuat Juna sadar siapa aku. Emosi Juna mulai tersulut, tak lama Jenaka keluar.

__ADS_1


Jenaka terlihat lemas, wajahnya pucat dengan mata yang bengkak karena kebanyakan menangis. Baru sehari aku tak bertemu dengannya namun rasa rindu begitu membuncah dadaku.


Jenaka, istri yang selalu menghiburku dengan tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. Yang sering menggodaku namun takut saat kutantangi balik. Yang mengajarkanku banyak hal dalam hidup ini.


Aku terus menatap ke arah Jenaka, istri yang kemarin sudah kutalak dengan tak ikhlas. Aku tak peduli dengan keributan di rumah Jenaka. Aku tak peduli saat Juna mencengkram kerah bajuku.


Aku baru tersadar saat sebuah bogem mentah mengenaiku. Membuat bibirku robek dan mengeluarkan darah segar. Rasa sakit mulai kurasakan. Ya, Juna yang seorang tentara pasti memiliki tonjokkan yang mampu membuat lawannya roboh dalam sekali tonjok.


Aku tersungkur ke lantai. Kudengar Jenaka marah pada Juna lalu membantuku bangun. Ia tetap memperdulikanku. Ia tetap membelaku. Ia tetap melindungiku. Aku merasa sangat malu pada diriku sendiri. Bagaimana dulu aku tak pernah menghargainya?


Namun semua sudah terlambat. Mungkin jodoh kami sudah usai sampai disini. Dengan suara bergetar menahan tangis, aku kembalikan Jenaka pada kedua orang tuanya. Aku tak kuasa menahan air mataku, apalagi saat Ayah yang tak pernah menyukaiku meminta agar jangan berhubungan lagi dengan Jenaka.


Aku pergi dari rumah Jenaka sambil menghapus air mata di wajahku. Masih terngiang tangis pilu Jenaka yang mendengar percakapanku dengan Ayah dari dalam rumah. Maaf Jen... Maafkan aku...


Aku kembali ke rumah sakit, Kinara yang melihatku datang dengan bibir yang robek sangat khawatir. Aku hanya diam saja. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulutku.


Dulu aku selalu bermimpi dapat menjalani hidupku berdua dengan Kinara. Tapi kenapa kini sesuatu yang kuimpikan tak lagi aku inginkan? Malah aku menginginkan Jenaka diatas segalanya.


Sayangnya, aku sudah kehilangan Jenaka. Aku tak mau kehilangan kesempatan untuk merawat Kinara Aku mau fokus merawat Kinara. Pekerjaan di kantor aku serahkan pada Genta. Aku juga tak mau pulang ke rumah, aku tak siap. Aku masih butuh waktu untuk menata hatiku. Meyakinkan kalau Kinara seorang istriku sekarang yang perlu aku urus.


3 minggu lebih aku tak ke kantor. Menemani Kinara yang harus menjalani serangkaian pemeriksaan yang berujung harus kemoterapi.


Meyakinkan Kinara untuk kemoterapi bukan hal yang mudah. Efek samping kemoterapi bagi Kinara adalah rambutnya yang akan rontok. Selain itu, kemungkinan untuk memiliki anak juga semakin tipis.


Aku merasa semua ini adalah karma yang kudapatkan karena menyakiti Jenaka dulu. Aku teringat saat ingin melegalkan pernikahan dengan Kinara, aku berbohong pada Papi tentang Jenaka yang belum diberi kesempatan hamil. Padahal, Jenaka tak mungkin hamil karena aku tak pernah menidurinya.


Kini, aku hanya bisa menyesali kesalahanku di masa lalu. Semua kesedihan, semua resah, semua sesal aku tumpahkan dalam setiap sujudku.


Ya, lagi-lagi karena Jenaka aku mulai menunaikan sholat 5 waktu kembali. Aku menemani Kinara sambil membacakannya lantunan ayat suci Al-Quran. Menyirami hatiku yang sudah banyak menyakiti orang yang sangat menyayangiku.


*****


Udah 2 bab ya aku Up hari ini. Jangan lupa like tiap babnya dan vote juga. Makasih 🥰🥰🥰


Hi Semua... aku mau promosiin novel teman-teman aku nih. Mampir juga ya...



__ADS_1



__ADS_2