Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Si Pelapor


__ADS_3

Informasi yang Panca dengar sangat membuatnya terkejut. Bagai petir di siang bolong. Ia tak percaya dengan kebenaran berita yang disampaikan oleh Lily.


"Beneran Jen?" Panca memastikan kebenaran berita tersebut pada yang bersangkutan.


Jenaka mengangguk. "Benar, Ca. Kak Mandala sekarang resmi jadi suami gue."


Panca menggelengkan kepalanya. Masih tak percaya dengan fakta yang dikatakan Jenaka. "Bagaimana mungkin? Mandala akhirnya jatuh cinta sama lo dan melamar lo gitu? Kayak kisah di novel?"


Jenaka tersenyum getir. "Andai kisah di novel ada dalam hidup gue, Ca. Sayangnya gue nikah sama Kak Mandala bukan karena dia akhirnya jatuh cinta sama gue, karena luluh akan pengorbanan gue selama ini. Aku dan Kak Mandala dijodohkan. Kedua orang tua kami berteman akrab, dan ya... jadilah aku menikah sama Kak Mandala."


"Lalu kenapa lo sama Mandala kemarin terlihat kayak atasan dan bawahan? Bukan kayak sepasang suami istri yang saling mencintai?"


"Yaiyalah, Ca. Mereka kan di kantor. Kelihatannya aja mereka acuh tak acuh, padahal mah kalau di kamar ah uh ah uh... ha...ha...ha..." Lulu tertawa puas bersama Lily. Mereka tak tahu kalau Jenaka masih suci. Mereka tak tahu kalau Jenaka korban penipuan Mandala.


Beda dengan Panca, Ia bisa melihat ada yang tak beres dengan pernikahan Jenaka. Ia memutuskan menyimpannya dulu sampai nanti Ia bisa menanyakannya langsung pada Jenaka.


"Lo kesini udah ijin kan Jen sama Kak Mandala?" tanya Lulu.


"Udah dong! Gue kan cuti sama kayak lo berdua makanya bisa siang-siang begini nongkrong disini. Kalo enggak ijin mana mungkin gue dikasih cuti dadakan dengan alasan enggak urgent begini?"


"Eh Jen, ngomong-ngomong lo udah isi belum sih?" tanya Lily.


"Isi nasi goreng?"


"Bukan itu maksudnya! Lo udah hamil belum?" tanya Lily lagi.


Jenaka tersenyum getir. Hamil? Terlalu mahal baginya. Ia harus dicintai oleh Mandala dulu sebelum memberikan mahkotanya. Lalu kapan hamil? Entahlah, selama Mandala tak kunjung mencintainya, maka hamil akan jadi angan-angannya semata.


"Jen! Jen! Kok lo malah bengong sih!" Lily menepuk bahu Jenaka. Menyadarkannya dari lamunan tentang hamil.

__ADS_1


"Oh... Apa tadi? Hamil ya? Gue belum hamil nih. Doain aja ya!" Jenaka menirukan perkataan temannya yang sampai sekarang belum diberi kesempatan diberi momongan.


"Iya gue doain. Gue kan mau cepet-cepet jadi Auntynya anak lo, Jen. Nanti gue kadoin baju-baju bayi yang lucu dan imut-imut." Lily dan Lulu terus saja berceloteh.


Jenaka melirik ke arah Panca yang sejak tahu Jenaka sudah menjadi milik Mandala hanya diam saja. Matanya terlihat agak merah, seperti menahan kekesalan yang mendalam.


"Ayo makan mie ayam! Gue enggak bisa pulang sore-sore nih! Kak Mandala request dimasakkin nasi tumpeng sama gue!" ajak Jenaka.


"Gila? Nasi tumpeng? Enggak salah?" tanya Lulu.


"Bikin seporsi aja, Lu. Buat dia doang. Itu syarat kalo gue mau pergi. Udah ayo kita makan. Gue enggak bisa lama-lama soalnya."


****


"Gue yang anter lo pulang, Jen. Sekalian gue mau tau lo tinggal dimana?!" ujar Panca setelah mengantar Lulu dan Lily sampai depan rumah Bunda.


"Aduh gimana ya? Tapi sampai depan rumah aja ya, Ca. Gue enggak boleh ajak laki-laki lain masuk ke dalam rumah, apalagi saat suami gue kerja. Takut dosa!"


"Hmm... I... Iya... Cinta." ujar Jenaka dengan terbata-bata. "Eh Ca, jangan kasih tau siapapun di kantor ya kalau Kak Mandala suami gue. Kita berdua sepakat menyembunyikan pernikahan kita agar bisa fokus bekerja tanpa ada rumor segala macem."


"Kenapa harus disembunyiin? Justru kalo lo nikah sama gue, bakalan gue umumin di billboard yang gede. Biar seisi dunia tau kalo lo istri gue! Biar enggak ada yang berani godain lo!"


"Ya, itu kan kesepakatan kita berdua, Ca. Lo mau kan rahasiain?" Panca tak pernah bisa menolak permintaan Jenaka.


"Iya. Gue rahasiain." janji Panca. "Lo... Bahagia enggak nikah sama Mandala? Bukannya Mandala itu dulu gosipnya sama Kinara ya?"


Jenaka terpaksa harus berbohong. Entah bagaimana kalau Panca tau dirinya menjadi orang ketiga di hubungan Mandala dan Kinara. Apa reaksi Panca kalau tahu dirinya dijebak hanya untuk melegalkan pernikahan siri Mandala dan Kinara?


"Iya dong! Bahagia! Masa sih enggak bahagia?" Panca bisa menebak dari jawaban Jenaka yang terlihat dipaksakan tersebut kalau Ia tidak bahagia.

__ADS_1


Panca menutupi semuanya. Ia akan tahu kebenarannya secepat mungkin. Jenaka tidak jago berbohong. Entah dengan tujuan apa Jenaka berbohong, Panca akan mencari tahu secepatnya.


Panca mengantar Jenaka sampai depan rumah mewah berwarna putih. Sesuai janji, Panca hanya mengantar sampai depan pintu. Ia melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan rumah Jenaka.


Cekrek..... cekrek....


Foto saat Jenaka diantar pulang laki-laki lain berhasil diabadikan oleh Mala. Puas bisa mendapat bukti kalau majikannya perempuan kecentilan membuatnya tersenyum.


Ia mengirimkan foto yang Ia ambil pada majikan sesungguhnya, Kinara. Tak lupa ditambahkan kata-kata agar lebih panas lagi.


Bu, Jenaka baru saja pulang diantar cowok lain. Cowoknya kelihatan orang kaya, mobilnya mahal. Orangnya juga ganteng, Bu. Enggak kalah sama Bapak.


Cepat-cepat Mala memasukkan Hp miliknya setelah mengirim pesan pada Kinara. Ia lalu menyambut kepulangan Jenaka dengan senyum palsu yang menghiasi wajahnya.


Jenaka masuk ke dalam rumah dan melihat Mala yang tersenyum padanya. "Enggak usah senyum palsu begitu, Mal. Saya lebih suka kamu pasang muka jutek sambil tangan kamu diem-diem ambil foto saya dan kirim ke majikan kamu!"


Senyum di wajah Mala sirna sudah. Rupanya Jenaka tahu kalau Ia suka mengirimkan laporan pada Kinara. Tapi tau darimana? Perasaan Mala sudah bermain rapi, kenapa masih ketahuan saja?


"Bingung ya aku tau darimana? Aku sih udah feeling kalau kamu selalu laporan sama Kinara. Kemarin saat kamu aku suruh ngulek sambal, aku lihat ada pesan masuk ke Hp kamu dari Kinara. Tulisannya begini: "Jangan biarin Mandala deketin Jenaka! Lapor terus perkembangan mereka!" Begitu kan?" Jenaka tersenyum sinis.


"Aku enggak bisa memaksa kamu untuk berpihak padaku. Meskipun majikan kamu disini adalah aku. Mungkin di mata kamu punya majikan model terkenal seperti Kinara lebih keren dibanding majikan seorang karyawan biasa kayak aku. Tapi satu hal, apa yang kamu lakukan tuh sudah melanggar privacy aku. Mengambil foto tanpa ijin pemiliknya lalu menyebarkan pada orang lain, bisa aku tuntut hukum kalau aku enggak suka loh!"


Jenaka lalu tersenyum lebar, bagi Mala senyum tersebut bukan senyum ramah, melainkan senyuman mematikan sebelum membunuh lawan. Jenaka berjalan pelan lalu saat di samping Mala, Ia berkata : "Aku enggak takut sama Kinara. Kamu laporkan saja! Tapi aku jamin kamu enggak akan betah bekerja disini lagi kalau masih terus menerus melapor pada Kinara!" Jenaka tetap memasang senyum jokernya, menepuk bahu Mala lalu masuk ke dalam rumah dengan tenangnya.


Kini Mala yang wajahnya pucat. Tak menyangka kalau Jenaka yang selama ini jarang melawan Kinara ternyata lebih menyeramkan saat marah. Hiiiyyy....


***


Hi semua...

__ADS_1


Sudah vote Jenaka? sudah like juga? add favorit juga udah? bagusss... yang belum yuk vote, like dan add favorit ya.... maacih 😍😍🥰🥰


__ADS_2