Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Kita Berbeda


__ADS_3

"Jun, aku pulang bareng sama Panca aja ya. Hari ini aku rencananya mau minta anterin Panca ke rumahnya Kak Mandala. Mau ngambilin baju kerja Kak Mandala, di rumah soalnya stok bajunya cuma dikit." ujar Jenaka.


"Yakin kamu enggak mau bareng karena alasan itu? Bukan mau membiarkan aku dan Melisa punya waktu berdua aja?" sindir Juna.


"Bener. Kalau kamu enggak percaya aku telepon Kak Mandala nih! Tadi pagi stok kemejanya udah habis. Aku disuruh ambilin ke rumahnya. Enggak percayaan banget sih jadi kembaran!"


"Yaudah. Aku sama Melisa pulang duluan ya!" Juna mengajak Melisa pulang duluan meninggalkan Jenaka.


Kini tinggallah Jenaka yang berada di antara Jelita dan Panca. "Ya Allah, kenapa nasibku begini banget ya? Tadi jadi obat nyamuk Juna dan Melisa, eh sekarang jadi obat nyamuk kalian berdua!"


Jelita tersenyum mendengar keluh kesah Jenaka. "Aku senang bisa mengenal kamu Jenaka. Kalau dilihat dari orang-orang disekeliling kamu yang begitu menyayangi kamu, pasti kamu orangnya sangat baik."


"Ah jadi malu! Aku enggak sebaik itu kok!" Jenaka tersenyum malu.


"Tapi memang Jenaka itu bak superhero, Ta. Dulu dia tuh berani melawan teman-teman yang jahatin aku!" puji Panca.


"Udah ah, Ca! Jangan kebanyakan muji aku! Nanti Jelita salah paham! Aku sama Panca sahabat sejati, Ta. Kamu jangan khawatir, aku tenang kalau jodohnya Panca tuh kamu." Jenaka mengambil tasnya dan bersiap pergi. "Aku mampir dulu ke rumah sahabat aku. Nanti pulangnya aku naik taksi aja. Mau kasih surprise ke suami aku tersayang, kalau dia macam-macam biar langsung ketahuan!"


"Loh , tadi kan katanya aku yang nganterin kamu? Gimana sih? Nanti Juna marah loh!" protes Panca.


"Udah santai aja! Aku enggak mau jadi obat nyamuk untuk kedua kalinya! Aku tunggu undangan pernikahan kalian ya secepatnya!"


****


"Jun, mau jalan-jalan dulu enggak? Kita ke Mall atau ke tempat yang menurut kamu asyik, gimana?" tanya Melisa.


"Kamu maunya kemana? Aku ikut aja. Kalau ngikutin kemana tempat yang aku suka, takutnya enggak cocok sama selera kamu." ujar Juna.


Melisa menghela nafasnya. Mengumpulkan stok sabar menghadapi laki-laki sedingin Juna. "Yaudah ke tempat yang aku rekomendasiin ya. Gimana kalau kita ke Saung Mamang? Kayaknya kamu bakalan suka deh."


"Saung Mamang? Dimana tuh?" tanya Juna.


"Bogor. Sekalian kita menghirup udara segar di sana. Ini masih belum jam 11, enggak akan macet karena office hour. Mau?" tanya Melisa.


"Yaudah kamu setting alamatnya di Map aja, nanti aku ikutin."


Melisa tersenyum. "Oke."


Suasana sunyi kembali tercipta diantara mereka. Melisa menatap pemandangan dari luar jendela sedangkan Juna menyetir sambil menikmati alunan lagu yang diputar dari radio.

__ADS_1


Melisa bukan tak mau mengajak bicara. Ia masih memikirkan perkataan Juna yang mengatakan kalau mereka terlalu banyak perbedaan.


Melisa pernah bertanya pada Daddynya. "Dad, what do you think about this?"


Melisa menunjukkan foto Juna yang berhasil Ia stalking dari FB milik Juna.


"Do you like this man?" tanya Daddy.


"Sure. I love him so much." jawab Melisa dengan yakin.


"How about me? You don't love me anymore?" tanya Daddy.


"No, Dad. You're my first love, and I always love you forever. But, aku cinta sama Juna."


Daddy tersenyum. "I know, you loved him. Kalau kamu bahagia, do it!"


"Daddy setuju? I mean, Juna bukan pengusaha atau orang kaya seperti Daddy. Juna hanya abdi negara. Apa tak masalah?" tanya Melisa lagi.


Daddy kembali tersenyum. "Kebahagiaan kamu yang utama. Kalau kamu mencintai dia and he love you too, jalani! Hiduplah dengan orang yang kamu cintai. Apapun, siapapun, asalkan kamu bahagia, Sweety!"


Melisa memeluk Daddynya dengan erat. "Thanks Dad!"


Melisa menggelengkan kepalanya. "Aku disini aja."


Juna pun keluar dari mobil dan menuju toilet. Melisa memandang laki-laki berpunggung tegap itu pergi.


"Apa Juna tau kalau aku sangat mencintainya?" gumam Melisa.


Melisa asyik dengan lamunannya sampai tak sadar kalau Juna sudah masuk kembali ke dalam mobil.


"Mel!"


"Ah iya. Kamu udah balik?" Melisa terkejut.


"Aku beliin kamu kopi, mau?" Juna mengulurkan segelas kopi dari IndoJanuari yang ada di SPBU.


"Makasih." Melisa menerima kopi pemberian Juna. Tak banyak protes mengenai kandungan kopi seperti yang biasa Ia lakukan.


"Kenapa kamu diam saja? Marah sama aku?" tanya Juna.

__ADS_1


Melisa menggelengkan kepalanya. Kopi yang Juna berikan masih Ia pegang erat di tangannya.


"Aku enggak punya hak untuk marah. Kita lanjutin aja yuk jalannya. Nanti keburu kesorean."


"Oke." Juna kembali mengemudikan mobil Melisa, sementara Melisa masih asyik menikmati pemandangan dari luar jendela sambil sesekali menyeruput kopi hangat yang menurutnya terlalu kemanisan, Ia sudah terbiasa membatasi konsumsi gula berlebihan dalam tubuhnya. Tidak menghabiskan minuman yang Juna berikan juga rasanya tak sopan, takut menyinggung perasaan Juna.


Akhirnya mereka sampai di sebuah restoran bernama Saung Mamang. Restoran keluarga yang biasanya ramai saat weekend.


"Ayo, Jun!" ajak Melisa.


Dengan patuh, Juna mengikuti langkah Melisa yang memilih tempat sebuah saung yang dibawahnya terdapat kolam ikan. Tak lama seorang pelayan datang membawakan menu.


"Kita lihat-lihat dulu ya, Mbak. Nanti kami panggil saat mau pesan." ujar Melisa.


"Disini yang enak tuh sambel dadakannya. Pedesnya tuh bikin pengen nambah nasi terus. Lalu ikan bakarnya juga enak. Bumbunya meresap sampai ke dalam. Itu aja sih rekomendasi dari aku, kamu mau pesan yang mana?" tanya Melisa.


Juna melihat-lihat menu yang terlihat menggoda di depannya. "Aku nyoba ikan bakarnya deh. Tambah tahu goreng dan minumnya es teh manis."


Melisa memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan Juna. "Kalau aku, mau ikan bakar tapi tambahannya tempe goreng. Minumnya aku pesan kelapa muda tanpa gula dan es batu ya Mbak."


"Baik. Mohon ditunggu!"


"Hmm... Restorannya enak. Viewnya juga bagus. Rekomen nih menurut aku." Juna membuka percakapan.


"Iya. Aku suka sekali kesini sama Daddy. Selera Daddy tuh Indonesia sekali, beliau lebih suka makan kayak gini dibanding makanan di Mall." cerita Melisa.


"Jujur aja, aku tuh jarang ke Mall. Kurang suka aja, paling kalau beli CD games atau kalau disuruh temenin Jena belanja. Sisanya lebih suka ke rumah teman untuk main games bareng." Juna menyunggingkan senyumnya. "Hidup aku tuh membosankan ya?"


"Oh enggak! Kata siapa? Itu kan menurut kamu! Selama kamu asyik dan menikmatinya, hidup kamu akan terasa indah kok." ujar Melisa.


Juna kembali terdiam. Matanya kini menatap ikan di dalam kolam yang berebutan saat ada yang melempar makanan.


"Kamu... Jangan terlalu berharap banyak sama cowok kayak aku. Takutnya aku enggak sesuai sama kamu dan malah buat kamu sakit nantinya. Kalau Jenaka dan Jelita, mereka perempuan. Tak masalah punya pasangan yang jauh lebih mapan, toh mereka akan menggantungkan hidup mereka sama suami mereka sendiri,"


"Kalau aku berbeda. Aku laki-laki, aku bertugas mencari nafkah. Berapa besar sih gaji aku? Mungkin untuk membeli tas yang kamu pakai saja harus mencicilnya selama setahun lebih. Kalau aku gajinya besar, mungkin kerjanya enggak jujur. Aku enggak mau itu, karena itu aku bilang kita berbeda." ujar Juna.


"Tak masalah bagiku." ujar Melisa. "Aku akan mengikuti kamu. Sama seperti Jenaka dan Jelita, aku akan menggantungkan hidupku sama kamu."


****

__ADS_1


__ADS_2