Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Sepedahan Bersama


__ADS_3

"Kak Mandala, ayo dong bangun!" Jenaka menggoyangkan tubuh Mandala yang tertidur pulas di sampingnya.


"Hari ini libur, Jen!" ujar Mandala yang menarik selimutnya dengan malas.


"Sholat enggak ada kata libur, Kak. Memangnya Kak Mandala perempuan yang bisa libur sholat karena menstruasi dan nifas? Ayo cepetan bangun! Habis sholat kita ngelakuin sesuatu yang mengasyikkan!" goda Jenaka.


Mandala membuka selimutnya. "Apa sesuatu yang mengasyikkan? Kawin?" goda Mandala balik.


"Kawan-kawin aja nih pikirannya Abang Maman! Ayo sholat dulu nanti aku kasih tau!"


"Iya... iya.... Awas ya kalo enggak mengasyikkan!"


Setelah menunaikan sholat subuh berjamaah, Jenaka lalu mandi dan mengganti baju dengan dengan baju berbahan dry fit dan celana olahraga dengan rok diluar dan legging di dalamnya.


"Apaan yang mengasyikkan pake baju begitu?" tanya Mandala.


"Main sepeda! Ayo kita sepedahan!" ajak Jenaka.


"Yaelah kirain apaan! Ogah ah! Aku mau balik tidur aja!" baru selangkah Mandala menuju tempat tidur, Jenaka sudah mengancamnya.


"Yaudah kalo Kak Mandala enggak mau, aku pergi sepedahannya sama Panca ya!" Jenaka mengambil Hp miliknya berpura-pura hendak menelepon Panca.


"Aku ikut! Aku mandi dulu!" Mandala yang tak mau Jenaka pergi dengan Panca segera mandi. Jenaka tersenyum puas melihat Mandala yang bak anak kecil, gampang dipancing!


Jenaka sudah meminta Pak Sahrul mengeluarkan dan membersihkan sepeda mahal milik Mandala yang teronggok di gudang. Ada dua buah. Sekarang sudah siap digunakan.


Mandala yang sudah mandi memakai celana pendek dan jaket parasut dengan warna senada. Tak lupa kacamata dan topi yang menambah ketampanannya.


"Masya Allah... Suamiku ganteng banget!" puji Jenaka. "Boleh dong minta cium!" Jenaka menunjuk pipinya.


Tanpa malu meski ada Pak Sahrul dan Mala, Mandala mendekat dan mencium pipi Jenaka. "Udah. Ayo!"


"Ah... So sweet!!!" ujar Jenaka dengan nada menggoda.


Mandala tak kuasa untuk tersenyum. "Udah ah! Ayo kita berangkat!"


"Let's go!" Mandala dan Jenaka menyusuri jalanan komplek lalu keluar ke jalan raya. Jenaka mau pergi sepedahan yang agak jauh. Kalau perlu ke rumah Ayah dan Bunda.


"Kak, pelan-pelan dong! Aku capek nih!" meski menggunakan sepeda mahal, tetap saja yang namanya ngegowes sepeda pasti capek.


"Ha...ha...ha... Tadi semangat banget mau sepedahan. Mana semangatnya? Udah hilang?" puas sekali Mandala menertawakan Jenaka.

__ADS_1


"Capek, Kak!" Jenaka menepikan sepedanya dan duduk di trotoar. Mandala melakukan hal yang sama, duduk di samping Jenaka yang wajahnya berkeringat.


"Kayaknya aku perlu olahraga sering-sering nih, Kak. Udah capek duluan, padahal sepedahannya belum jauh-jauh banget."


"Hmm... Udah lumayan jauh sih, Jen. Kamu hebat juga bisa kuat sepedahan sampai sejauh ini." puji Mandala.


"Iyalah. Aku tuh pengen sarapan di rumah Bunda. Masak apa ya Bunda?" Jenaka mengambil botol minum dan meneguknya. Membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


"Oh... Jadi kamu bangun pagi ngajak sepedahan buat ke rumah Bunda? Kenapa enggak naik mobil aja sih?"


"Kak, kalo naik mobil kapan aku olahraganya?"


"Olahraga malam makanya, Jen!"


"Olahraga malam? Apaan tuh?"


"Kawin. Mau?" goda Mandala sambil menahan senyumnya.


"He...he...he.... Ogah! Ayo kita gowes lagi!" mereka melewati Taman Lenteng Agung dan kebetulan sepi. Mau berkunjung ke rumah Bu Sri tak enak karena masih pagi. Mandala gagal ketemu Master Sri jadinya.


"Ayo sedikit lagi, Jen!" ujar Mandala memberi semangat pada Jenaka. Tak terasa mereka sudah gowes jauh. "Di depan rumah Bunda! Kamu mau cepat sarapan kan?"


"Wah hebat! Nyampe loh ke rumah Bunda!" Mandala tersenyum seraya mengusap kepala Jenaka dengan bangga.


"Apa aku bilang? Aku tuh orangnya gigih! Pasti sampai deh ke rumah Bunda."


"Duh sombongnya! Nanti kita sepedahan keliling Bali gimana?" sebuah ide terlintas di pikiran Mandala.


"Mauuuuuu! Sekalian honeymoon ya?"


Mandala mengangguk sambil tersenyum. "Yeeeeaaayyyy!"


"Ehem! Ngobrolnya di dalam, Jen!" Ayah yang sejak tadi sedang membaca koran dan terusik karena mendengar suara Jenaka keluar rumah.


Ayah mendapati pemandangan yang menyentuh hatinya. Ia bisa lihat kalau Mandala terlihat amat tulus pada Jenaka. Cara Mandala tersenyum dan mengusap rambut Jenaka memperlihatkan betapa Ia menyayangi putri semata wayangnya.


"Ayah! Assalamualaikum! Ya ampun Jena malah asyik ngobrol di depan. Ayah sehat?" Jenaka menaruh asal sepeda mahal Mandala dan menghampiri Ayahnya.


"Waalaikumsalam. Kebiasaan nih anak! Kalau nanya satu-satu!" omel Ayah seraya menyambut uluran tangan Jenaka dengan senyuman, namun senyumnya hilang kala mengulurkan tangannya untuk Mandala.


"He...he...he... Ayah kok makin ganteng aja! Aku laper nih, Yah. Bunda makan apa ya?" Ayah hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan putrinya tersebut.

__ADS_1


"Masuklah! Bunda lagi masak!"


"Iya." jawab Jenaka. "Ayo, Kak!"


Mandala memasukkan kedua sepeda miliknya ke dalam garasi rumah Jenaka. Ayah dan Jenaka sudah masuk ke dalam.


Sebenarnya diantara banyak tempat tak nyaman menurut Mandala rumah Jenaka yang paling tidak nyaman. Bukan karena orang tua Jenaka, tapi karena rasa bersalah yang melingkupi hati Mandala. Bersalah karena sudah membuat anak perempuan satu-satunya di rumah ini memiliki madu.


"Eh ada Nak Mandala! Masuk, Nak! Malah bengong begitu!" ujar Bunda yang menyambut kedatangan Mandala. "Jenaka kalau sudah mau sarapan sampai lupa sama suaminya sendiri! Anak itu memang bener-bener deh!"


"Sehat Bunda?" Mandala menghampiri Bunda dan mencium tangannya sambil tersenyum.


"Sehat alhamdulillah. Ayo kita sarapan!" Bunda lalu mengajak Mandala masuk ke dalam rumah. Di meja makan sudah ada Jenaka yang sudah mengambil piring hendak makan.


"Kak, makan dulu! Aku udah ambilin nih!" Jenaka menunjuk kursi yang sudah ada nasi goreng yang disediakan untuk Mandala.


"Jen, senin besok adik kamu Juna pulang loh! Kamu pulang kerja mampir ya. Nginep sekalian!" kata Bunda disela sarapan bersama mereka.


"Juna pulang? Wah... akhirnya! Aku kangen banget sama dia! Pasti Juna udah eksotis deh sekarang! Iya. Aku nanti nginep, Bun." ujar Jenaka.


Mandala memberi kode pada Jenaka, kalau Ia tak bisa nginep karena Kinara sudah pulang. Ia harus membagi waktunya di rumah Kinara.


"Kak Mandala enggak usah nginep. Kerjaan Kak Mandala kan banyak. Dari kemarin lembur terus. Aku aja yang nginep ya Kak?" Jenaka tanggap dengan isyarat yang Mandala berikan.


"Iya, Jen. Terserah kamu saja!" ujar Mandala.


"Bilang saja kalau ada jadwal di istri lain. Enggak perlu menyuruh Jenaka berbohong seperti itu!" Ayah menyudahi makannya dan meninggalkan meja makan setelah menyindir Mandala dengan pedas.


Jenaka dan Mandala saling pandang. Mereka berdua heran, darimana Ayah tau?


"Sudah! Ayah kamu kan memang kayak begitu! Ayo kita lanjutkan makannya!" ujar Bunda menengahi.


Sikap menengahi Bunda tetap saja tidak membuat perasaan tak enak pada diri Mandala menghilang. Ia merasa Ayah mertuanya amatlah membencinya.


Untuk memperbaiki keadaan, Mandala menghampiri Ayah yang kembali membaca koran di teras rumah. Mandala agak canggung berada di samping mertuanya, kedua orang tuanya bilang, mertuanya adalah orang baik. Namun karena Mandala merasa bersalah, Ia meras ciut di depan mertuanya.


"Ayah, saya-"


"Jenaka itu tidak pandai berbohong. Kalau kamu meminta bantuannya untuk berbohong, dalam sekejap mata saya sudah tau." ujar Ayah sebelum Mandala selesai bicara. "Percuma kamu mendekati saya. Selama kamu masih melakukan poligami, saya tak akan pernah setuju!"


****

__ADS_1


__ADS_2