Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Pertama Mengenalmu


__ADS_3

Flashback


Jenaka


Hari masih sore namun awan gelap yang menggantung membuat sore itu terlihat seperti malam hari yang datang terlalu cepat. Sore yang biasanya cerah dan berwarna orange kini terlihat gelap.


Aku masih menunggu dengan sabar di halte. Menunggu adikku Juna datang menjemput.


Hari ini Juna menawarkan diri mengantar jemputku ke rumah Tante Di, di depan Ayah dan Bunda. Tujuannya apalagi selain menarik perhatian Ayah agar mau membelikannya Play Station.


Ayah awalnya tak setuju. Juna belum 17 tahun. Belum memiliki SIM. Juna bisa bawa motor tentunya, namun masih sekitaran komplek atau keliling kampung. Bukan ke rumah Tante Di yang berjarak hampir 5 Km.


"Juna janji bakalan lengkap pakai helm dan hati-hati, Yah. Juna enggak bakalan ketahuan deh sama polisi. Juna enggak bakalan ngebut!" janji Juna.


Melihat usaha Juna membuatku ingin membantunya. "Biarin aja, Yah. Nanti Jena omelin kalo Juna ngebut!"


"Memangnya Mang Udin kemana sih Jen? Biasanya juga Mang Udin selalu nganterin kamu kemana-mana, termasuk nganterin kamu ke rumah Tante Di. Bunda enggak bisa nganterin Jena apa?" Ayah terlihat khawatir dan mencari opsi lain selain menyuruh Juna.


"Bunda enggak bisa, Yah. Besok ada pengajian di rumah Bu Rohayah. Selametan anaknya mau nikah. Bunda kan deket sama Bu Rohayah, kalo enggak dateng ya Bunda enggak enak dong!" jawab Bunda.


"Enggak bisa diundur aja apa Tante kamu pulangnya, Jen?"


"Enggak bisa, Yah. Tante Di udah mau terbang lagi ke Amerika. Tante beneran minta tolong sama Jena buat ngurus pajaknya." Tante Di adalah adik Bunda yang bekerja di Amerika. Aku diminta oleh Tante Di membayar pajak rumahnya yang Ia kontrakkan karena Ia lebih sering di Amerika dibanding di Jakarta.


Ayah berpikir sejenak sambil menatap Juna. Menimbang-nimbang keputusan yang akan Ia ambil.


"Baiklah! Antar Kakak kamu! Enggak pake ngebut ya!" ancam Ayah.


"Yess!" Juna bersorak senang. Aku dan Juna adalah anak kembar. Arjuna, adik yang beda 10 menit lahirnya dariku. Kami saling menyayangi layaknya saudara kembar.


Kini aku menyesali keputusanku. Sudah hampir satu jam aku menunggu Juna dan Ia tak kunjung datang. Juna tadi ijin mau ke rumah temannya sebentar saat aku sedang membantu Tante Di packing. Tante Di sudah pergi dengan taksi mengejar pesawatnya.


Kami janjian di halte yang tak jauh dari rumah Tante Di. Aku membawa uang yang Tante Di berikan untuk membayar pajak. Tante Di memberi uang cash karena aku belum punya rekening bank.


Di halte bukan hanya aku seorang yang menunggu. Ada seorang pemuda berusia 25 tahunan dengan mata memerah yang sejak tadi terus melihat ke arahku.


Sebagai manusia, aku reflek melindungi benda berhargaku yakni uang yang aku taruh di dalam tas. Hal itu yang membuatnya semakin menatapku penuh maksud.


Aku berusaha menjaga jarak. Dalam hati aku bersungut-sungut kenapa Juna tak juga datang. Kemana anak itu? Apa asyik bermain PS sampai lupa menjemputku? Ah anak itu kalau sudah kecanduan games memang susah nyadarnya. Makanya Ayah berencana memasukkannya sekolah untuk jadi penegak hukum nantinya. Biar menuntut ilmu di asrama dengan serius dan melupakan kecanduannya pada games.


Aku semakin cemas, pemuda itu mulai mendekatiku. Kuputuskan berjalan meninggalkan halte. Itulah kebodohan yang aku sesali.


Pemuda itu terus mengikutiku. Aku malah masuk ke komplek perumahan Tante Di. Komplek tersebut agak sepi, apalagi di cuaca mendung kayak begini.


Benar saja, pemuda itu terus mengikutiku. Kini Ia mencegat langkahku.


"Adek manis, bawa apa tuh?" Ia menunjuk tas yang kubekap dalam pelukanku. Kini aku tau kenapa matanya agak merah. Bau alkohol menusuk hidungku, aku sampai menahan nafas karena tak suka dengan baunya.

__ADS_1


"Bawa buku sekolah." bohongku.


"Masa sih? Sini Abang lihat!" Pemuda itu memaksa menarik tasku. Aku tak mau memberikan tentunya. Kami terlibat saling tarik. "Heh kasih enggak?!" ancam pemuda tersebut.


Meskipun pemuda tersebut setengah mabuk, namun tenaganya sebagai laki-laki jika dibanding denganku amatlah berbeda. Aku kalah tentunya.


Tas yang kupegang hampir saja lepas dari tanganku ketika ada sebuah tangan yang membantuku menariknya. Tangan pemuda itu pun terlepas.


Aku menoleh untuk melihat siapa yang menolongku.


Kak Mandala?


Seniorku di sekolah yang terkenal sangat tampan dan banyak yang mengidolakannya.


"Heh siapa lo?" tunjuk pemuda mabuk itu.


"Bukan urusan lo! Jangan gangguin dia! Pergi sana sebelum gue panggil satpam!" ancam Mandala.


Pemuda itu meludah ke samping. "Cih! Lo pikir gue takut? Gue baru aja keluar dari Lapas. Lo berani sama gue?"


Rasa takut mulai menguasaiku. Ternyata pemuda ini mantan residivis. Apakah Kak Mandala mampu mengalahkannya?


"Berani! Ngapain takut sama lo?" tantang balik Kak Mandala.


"Dasar bocah tengik! Sini lo gue beri pelajaran!"


Kak Mandala malah maju dan terjadilah perkelahian antara Kak Mandala dan pemuda tersebut. Kak Mandala yang pemegang sabuk hitam Taekwondo dengan mudahnya mengalahkan pemuda mabuk tersebut.


"Lo enggak apa-apa?" tanya Kak Mandala padaku.


Aku yang masih tak percaya dengan siapa yang menolongku hanya bisa mengangguk tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.


Kesadaranku datang kala wajahku mulai basah dengan hujan yang mulai mengguyur dengan derasnya.


"Ayo lari!" Kak Mandala menarik tanganku dan membawaku ke pos satpam yang kebetulan kosong. "Kemana sih Pak Satpam? Ngayeng melulu nih ninggalin posnya!"


Kak Mandala seperti sudah kenal dengan security komplek. Apa Kak Mandala memang penghuni komplek mewah ini?


Hujan semakin deras saja. Kami yang berdiri di teras pos mulai kebasahan.


"Kita masuk aja! Nanti gue bilang sama satpamnya. Gue kenal kok sama dia. Daripada lo keujanan!"


Aku menurut saja apa yang Kak Mandala suruh. Masuk ke dalam pos satpam yang berukuran 2x2 meter tersebut.


"Lo mau kemana? Biar gue anter nanti!" Kak Mandala menawarkan dirinya padaku.


"Oh... Enggak perlu, Kak. Adik aku akan jemput di halte depan, tapi karena pemuda tadi mencurigakan makanya aku kabur ke komplek ini. Niatnya mau minta bantuan Pak Satpam eh malah kompleknya sepi begini." jawabku.

__ADS_1


"Loh, kalo lo disini berarti adek lo enggak tau dong? Kalo dia udah di halte gimana? Coba lo telepon dia!"


"Hp-ku low bath, Kak." jawabku jujur. Maklum, hp warisan Ayah. Hp yang baterainya sudah melendung baru dikasih ke anaknya. Kadang baru telepon sebentar sudah mati. Harus ganti baterai baru terus.


"Hp gue juga lowbath. Kita lari aja ke halte. Takut adek lo nungguin gimana?" usul Kak Mandala.


Aku menimbang usul Kak Mandala. Benar juga sih. Kalau Juna udah datang dan enggak melihat keberadaanku, bisa khawatir dia.


"Iya, Kak. Kita lari aja. Kakak enggak apa-apa kehujanan?"


"Justru seharusnya gue yang nanya. Lo enggak apa-apa kehujanan? Gue mah anak laki-laki, kuat. Kalo perempuan kan kena air hujan dikit suka pusing!"


Aku tersenyum. "Aku kuat kok, Kak!"


"Ih lesung pipi lo bagus banget. Gitu dong senyum. Muka lo dari tadi ketakutan gitu!" Mandala mengulurkan tangannya. "Udah siap lari?"


Aku mengangguk dan menyambut uluran tangannya. "Go!" Kami berlari dalam hujan lebat. Untunglah uang dan surat tagihan pajaknya dimasukkan dalam plastik jadi amanlah.


"Ha...ha...ha... Hujannya deres banget!" ujar Kak Mandala dengan suara tersenggal karena sambil berlari. Ia tak melepaskan tanganku sama sekali. Kami terus berlari sampai akhirnya tiba di halte.


Betapa kecewanya aku, Juna ternyata tak ada. "Belum ada?"


Aku mengangguk lemah. Udah lari-larian di tengah hujan eh tuh anak belum datang juga. Akan aku jitak kepalanya kalo datang nanti!


"Nih pake!" Mandala memberikan sweater yang Ia kenakan padaku. "Biar lo enggak kedinginan."


"Tapi Kakak gimana?"


"Rumah gue deket dari sini. Anggap aja lagi main hujan-hujanan." jawab Kak Mandala sambil tersenyum.


Tak lama datanglah Juna. Ia meminta maaf karena tadi motornya habis bensin jadi dorong dulu sampai pom bensin. Aku tak bisa marah karena aku tahu Ia jujur.


Bersamaan dengan itu sebuah mobil mewah berhenti dan memanggil nama Kak Mandala.


"Mandala!" teriak bapak-bapak yang duduk di kursi belakang. "Ayo naik!"


"Iya, Pi!" jawab Mandala. "Gue duluan ya!"


"Iya. Makasih, Kak!" Kami pun berpisah. Aku baru menyadari kalau aku masih memakai sweater yang Kak Mandala berikan.


Aku berniat menyimpan sweater Kak Mandala sebagai kenang-kenangan. Aku bawa kemanapun aku pergi.


Flashback off


Aku mengambil sweater yang berada di belakang baju milikku di dalam lemari. Sengaja aku taruh di bagian belakang agar Kak Mandala tidak menagihku untuk mengembalikannya.


Sweater rajut berwarna cokelat itu terlihat amat hangat. Aku memeluk sweater tersebut seperti sedang memeluk Kak Mandala.

__ADS_1


Air mataku kembali mengalir. Kak Mandala saja tidak mengingatku yang bagai remahan kerupuk ini. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seseorang di hatinya yang hanya dipenuhi oleh nama Kinara seorang?


****


__ADS_2