Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Malu-Malu Kucing


__ADS_3

Acara makan malam kali ini sedikit berbeda. Ada tambahan personil yang ikut serta kali ini. Ya, orang tersebut adalah Melisa.


Bunda sudah menambah piring dan mangkok untuk satu orang tamu di keluarganya. Melisa duduk di samping Bunda dan berhadapan dengan Jenaka.


"Jangan malu-malu ya Nak Melisa makannya. Cuek aja kalau disini." ujar Bunda seraya mengambilkan lauk untuk Ayah.


Jenaka melayani Mandala dengan mengambilkan lauk dan menuangkan air putih untuk suaminya tercinta.


"Melisa ini temannya Jena?" tanya Ayah membuka pembicaraan.


Melisa melirik ke arah Jenaka sebelum akhirnya mengangguk dan menjawab pertanyaan yang Ayah ajukan. "Iya, Yah."


"Biasanya yang suka kesini tuh Lulu dan Lily, namun karena mereka sibuk kerja jadi sudah jarang lagi main. Kalian teman satu sekolah atau satu tempat kerja dulu?" tanya Ayah lagi.


"Hmm... Teman bermain sepeda, Yah. Kadang suka ketemu kalau di cafe juga." Melisa menjawab dengan jujur. Jenaka sudah siap membantahnya namun tak jadi saat tau Melisa berkata yang sebenarnya.


"Melisa itu teman aku juga, Yah." Juna akhirnya buka suara. "Lebih tepatnya sahabatnya Panca."


"Wah jadi masih lingkup pertemanan yang sama juga ya. Pantas kalian mudah akrab." sahut Ayah.


Jenaka hendak membuka suara namun Mandala mencegahnya. "Sayang, aku mau tempenya dong!"


Jenaka mengurungkan niatnya membongkar kalau Melisa sebenarnya sedang PDKT dengan Juna. "Iya."


"Makasih." Mandala memberi isyarat lewat matanya agar Jenaka mengurungkan niatnya.


"Kalau Melisa sekarang kerja?" tanya Ayah lagi. Ayah tuh sama kayak Jenaka, kalau sudah mengiterogasi seseorang harus sampai seluk beluknya yang terdalam.


"Iya, Yah. Aku punya bisnis sendiri."


"Oh ya? Bisnis apa?" Bunda terlihat tertarik dan ikut serta dalam percakapan.


"Aku bisnisnya di bidang fashion, Bunda. Macam-macam sih jenisnya. Ada sepatu, baju dan tas juga."


"Wah hebat! Masih muda sudah punya bisnis banyak." puji Ayah.


"Punya modal, Yah. Kalau punya modal apa juga bisa dilakuin." ketus Jena.


"Kamu memang mau ngelakuin apa Sayang kalau aku modalin?" tanya Mandala, lebih baik mengalihkan perhatian istrinya daripada melihat istrinya terus menerus bersikap jutek pada Melisa.


"Hmm... Apa ya? Aku mau bisnis butik. Tapi khusus untuk pakaian hijab."


"Aku juga mau buat kayak gitu. Kamu kenal Jelita enggak, Jen?" tiba-tiba Melisa ikut berkomentar. "Dia punya usaha buat jilbab dan pakaian muslim sendiri. Ibunya yang menjahit dan Jelita yang merancang polanya."


"Jelita? Jelitanya Panca?" tanya Jenaka.

__ADS_1


"Iya. Aku beli jilbab dan aksesoris sama Jelita. Gimana kalau besok kita kesana? Kamu bisa lihat langsung." Melisa begitu bersemangat, Ia tahu ini peluang baginya mendekati Jenaka yang jutek.


"Kayak yang kamu pakai itu?" Jenaka kini mulai tertarik. Jujur saja, sejak tadi Jenaka suka dengan motif jilbab Melisa yang unik, khas buatan rumahan.


"Iya. Bagus kan? Panca bilang, di rumah Jelita masih banyak lagi koleksi lainnya. Aku pengen ngajakkin Jelita kerjasama. Kamu mau ikutan enggak?"


Jenaka melihat ke arah Mandala. "Ikutlah! Aku akan dukung semua usaha kamu. Daripada kamu bosan di rumah saja. Lebih baik mengisinya dengan hal yang bermanfaat." ujar Mandala dengan bijak.


"Betul itu, Jen. Ikut saja. Kamu tuh terbiasa bekerja, jadi ibu rumah tangga pasti berbeda banget dengan kamu yang biasanya bekerja. Isi hari kamu dengan kegiatan yang menghasilkan. Ayah sih setuju saja." Ayah ikut berkomentar.


"Aku ikut kalau besok, Jen. Kebetulan aku libur." Juna juga ikut berkomentar.


Jenaka menatap Mandala, Juna, Ayah dan Melisa bergantian. "Iya. Besok aku ikut. Aku mau belajar bisnis mulai sekarang."


"Nah gitu dong!" Mandala tersenyum bangga pada istrinya.


****


"Maaf ya Jenaka agak jutek sama kamu." ujar Juna saat mengantarkan Melisa sampai depan rumah.


"Enggak apa-apa. Asalkan aku bisa ketemu kamu, dijutekkin Jenaka tak masalah." goda Melisa.


Juna tersenyum. Perempuan didepannya terlalu kentara menunjukkan rasa sukanya terhadap Juna. Dalam sekali lihat, Juna tahu kalau Melisa naksir dengannya.


"Jena itu aslinya baik. Entah apa yang membuat dia begitu bersikap jutek sama kamu. Apa kamu pernah menyinggung perasaannya?" tanya Juna. Ia juga tak paham kenapa Jenaka bersikap ketus dan jutek pada Melisa. Biasanya Jenaka bersikap ramah dan lembut.


"Untuk apa kamu bersusah payah seperti itu?" tanya Juna.


"Untuk kamu."


"Aku?" Juna menunjuk dirinya sendiri.


"Aku suka sama kamu, Jun. Kamu juga tau itu kan?"


Juna melihat ke arah Melisa, masih tak percaya kalau Melisa akan mengatakan dengan begitu terus terang. Biasanya perempuan lebih malu-malu, ini kenapa begitu terus terang?


Juna menggaruk-garuk kepalanya. Bingung mau jawab apa. Menolak secara langsung tapi kasihan. Menerima juga belum ada perasaan yang timbul.


"Hmm... Besok ketemuan disini atau langsung disana?" tanya Juna. Lebih baik mengembalikan ke topik pembahasan tentang rencana besok saja.


"Aku kesini saja. Kita bisa naik mobilku bareng-bareng. Gimana?"


"Oke. Aku setuju aja."


Melisa tersenyum. "You're so cute kalau malu-malu kucing kayak gini. Aku pulang dulu. See you soon! Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Wa-Waalaikumsalam." Juna begitu gugup. Ia melambaikan tangan membalas Melisa yang kini sudah menghilang di tikungan.


****


Keesokan harinya


Juna sudah rapi sebelum Melisa datang menjemput. Jenaka yang belum. Ia masih sibuk di kamarnya.


Bunda yang melihat Juna lalu datang mendekat. "Nunggu Melisa?"


"Ah... Iya, Bun." Juna agak sedikit terkejut.


"Kamu... Suka sama Melisa?" tanya Bunda.


"Suka? Eng... Enggak kok. Kenapa Juna harus suka? Memang kenapa?"


Bunda menyunggingkan senyumnya. Baru kali ini Ia mellihat Juna bersikap grogi seperti ini.


"Maksud Bunda, kamu suka sama Melisa enggak? Bunda bisa lihat kalau Melisa suka sama kamu. Lalu kamunya sendiri gimana?" tanya Bunda.


"Ah Bunda sok tahu nih! Salah nebak kali Bunda!" Juna masih berusaha mengelak.


"Kalau kamu suka juga enggak apa-apa kok, Jun. Kamu sudah dewasa. Kalau pun kamu mau menikah juga sudah waktunya. Jangan cuma main games saja. Pikirkan masa depanmu!"


"Enggak kayak gitu kok, Bun. Juna-"


"Juna sudah dewasa, Juna boleh kok suka sama Melisa. Ayah memang memasukkan Juna ke sekolah militer karena Juna sangat suka sekali bermain games. Sekarang Juna sudah dewasa, tak mungkin hidup Juna hanya terus bermain games. Juna memang tak mau memikirkan masa depan?"


"Bukan enggak mau mikirin masa depan Bun. Juna merasa belum siap saja." aku Juna.


"Bunda tidak memaksa Juna secepatnya berumah tangga. Namun Bunda mau Juna membuka hati Juna. Bunda lihat Melisa anak yang baik. Dia mau berubah dan melakukan apapun demi Juna. Bunda juga yakin, Juna akan membawa Melisa ke jalan yang lebih baik lagi. Belajarlah menyukai Melisa, kecuali kamu ada calon lain maka jangan memberinya harapan."


"Assalamualaikum!" Melisa mengucapkan salam dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Waalaikumsalam. Masuk, Mel! Jena masih di kamar. Mungkin lagi menyiapkan keperluan Mandala. Kamu duduk saja dulu, Bunda buatkan minum." Bunda meninggalkan Juna dan Melisa berdua di ruang tamu.


"Hi Jun!" sapa Melisa.


"Hi Mel!" jawab Juna.


"I have something for you." Melisa mengeluarkan sebuah topi dan memberikan pada Juna. "Kamu pasti cocok deh pakai ini."


"Buat aku? Makasih." Juna memakai topi pemberian Melisa. "Bagus topinya."


Melisa menunduk malu. Ia tak sanggup menatap wajah Juna yang terlihat amat tampan dengan topi yang Ia kenakan.

__ADS_1


*****


__ADS_2