Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Sakit


__ADS_3

Mala tak menyangka mantan majikannya akan datang lagi ke rumah tempat Ia bekerja. Ia pikir tak akan pernah bertemu lagi selamanya.


Mala segera menyiapkan apa yang diminta oleh majikannya. Tak lupa menelepon dokter langganan keluarga juga.


Mala mengetuk pintu kamar sebelum masuk ke dalam. Nampak majikannya sedang menatap tanpa berkedip Jenaka yang sudah Ia selimuti dengan selimut tebal. Terlihat sekali kekhawatiran dalam diri majikannya.


Mala kembali teringat saat dulu majikan kesayangannya Kinara jatuh sakit. Mandala selalu menemani bahkan sampai begadang. Namun, jiwanya seakan tak ada di tempat. Hanya tubuhnya saja.


Berbeda dengan pemandangan yang Mala lihat kali ini. Mandala memegangi tangan Jenaka sambil menatap penuh kekhawatiran. Terlihat sekali api cinta dalam tatapannya.


"Air hangat dan kompres saya taruh disini ya Pak." Mala menaruhnya di bawah agar tidak tumpah. Lalu air hangat beserta termos untuk diminum Ia taruh diatas nakas. "Ini untuk diminum. Dokternya udah saya telepon dan sedang dalam perjalanan kesini, Pak."


Mandala mengangguk. "Makasih, Mal."


Mala pun meningglkan kamar dan menutupnya rapat. Rumah ini memang lebih banyak jejak cinta dari Jenaka. Berbeda dengan rumah milik Kinara. Tak ada satu pun foto milik Kinara di rumah ini. Mandala yang melarangnya.


Namun di dalam kamar masih terpajang foto pernikahan Mandala dan Jenaka. Terlihat sekali kalau Mandala lebih mencintai Jenaka dibanding Kinara.


"Mala, nanti kamu harus bersikap baik pada Jenaka jika Mandala membawanya pulang kembali. Anggap dia majikanmu, perlakukan dia seperti kamu memperlakukanku. Sayangi dia. Hormati dia. Jenaka baik, kamu pasti tau itu. Hanya dia wanita yang Mandala cintai sejak awal , bukan aku. Jadi, aku minta kamu perlakukan Ia dengan sebaik mungkin." pesan Kinara pada Mala sebelum Kinara pergi untuk selamanya.


Mala pergi ke bawah dan menunggu sampai dokter keluarga datang, sesuai perintah Mandala. Mala berinisiatif membuatkan bubur untuk Jenaka. Berharap dapat meringankan sedikit sakitnya. Tak lupa air jahe juga Ia buatkan. Masalah nanti diminum atau tidak tak masalah.


****


Mandala mengganti kompres handuk di kening Jenaka. Dokter telah datang tadi dan mengatakan kalau Jenaka hanya gejala flu ringan. Cukup minum obat penurun panas dan flu yang diberikan.


Jenaka sempat Mandala bangunkan untuk meminum obat, lalu Ia tertidur lagi. Sepertinya Jenaka juga tak menyadari sedang berada dimana dan bersama siapa. Mungkin efek demam yang Ia rasakan.


Drrt....drrtt....drrt.....


Mandala mendengar suara getar Hp milik Jenaka. Dilihatnya yang menelepon bukan lagi Panca, melainkan Juna. Sejak tadi Panca menelepon namun diacuhkan oleh Mandala. Untuk apa? Kok tega meninggalkan Jenaka dalam keadaan seperti itu? Sekalipun bertengkar hebat ya jangan begitu juga dong!


Mandala mengangkat teleponnya. Tak mau membuat Juna cemas.

__ADS_1


"Hallo, Jen! Kamu dimana?" terdengar nada cemas dari ujung telepon sana.


"Jun, ini gue. Mandala. Jena lagi ada di rumah gue." jawab Mandala.


"Loh kok bisa? Tadi Panca telepon gue. Katanya Jena enggak diangkat teleponnya."


"Jena sakit, Jun. Tadi gue ketemu dia di halte. Badannya panas. Kayaknya masuk angin dan mau flu. Dia bilang kepalanya sakit. Gue udah nawarin mau antar pulang tapi Jena tolak. Jena bilang enggak ada orang di rumahnya. Ayah dan Bunda lagi nginep dan lo lagi tugas. Terus Jena pingsan deh. Makanya gue bawa ke rumah gue."


"Ya ampun! Gila ya itu Panca! Kenapa Jena ditinggalin sendirian lagi sakit gitu? Terus udah dipanggilin dokter?" Juna terdengar sangat khawatir.


"Udah. Lo tenang aja. Jena hanya flu dan agak demam. Udah minum obat dan lagi tidur pulas. Lo jangan khawatir. Gue bakalan jagain Jena."


Juna terdengar menghela nafas lega. "Oke. Gue titip Jena ya! Gue masih di Bandung. Lagi ada tugas antar atasan. Ayah dan Bunda juga belum pulang. Nanti biar gue yang jemput kesana!"


"Iya. Lo fokus kerja aja. Biar gue yang jagain Jena sampai sembuh. Tenang aja ya."


"Oke. Makasih banyak ya, Kak! Titip Jena!"


Juna pun memutuskan sambungan teleponnya. Sama seperti Juna, Mandala juga lega sudah mengabari keluarga Jenaka mengenai keberadaannya. Kini Ia fokus menjaga Jenaka saja.


Jujur Mandala sangat takut. Mandala takut kalau sakit Jenaka parah. Takut kehilangan wanita di sampingnya lagi. Untung saja dokter meyakinkannya kalau Jenaka baik-baik saja.


Sudah jam 2 pagi. Mata Mandala mulai terasa berat. Beberapa kali Ia terantuk-antuk, sampai akhirnya tak kuat lagi menahan kantuk dan Mandala tertidur sambil menelangkupkan kedua tangannya di samping Jenaka. Ya, Mandala tidur dalam posisi duduk dengan tangan tak pernah melepaskan tangan Jenaka, menggenggamnya dengan erat seakan takut Jenaka akan pergi lagi.


****


Jenaka merasakan sesuatu di keningnya. Tangan kanannya mau mengambil yang ada dikeningnya namun seperti ada sesuatu yang menahannya. Jenaka mengambil dengan tangan kirinya dan melihat kalau ternyata adalah handuk yang kini telah dingin.


Jenaka baru menyadari kalau Ia tidak tertidur di kamarnya. Namun Jenaka merasa seperti di kamarnya sendiri.


Jenaka pun mengedarkan pandangannya. Melihat sebuah foto berfigura besar. Foto pernikahannya dengan Mandala dulu. Dimanakah dia?


Jenaka kini melihat seseorang yang terus menggenggam tangannya erat. Mandala. Mandala yang menjaganya disaat Ia sakit. Bukan malah menambah rasa pening di kepalanya.

__ADS_1


Tanpa Jenaka sadari, seulas senyum tersungging di wajahnya. Jenaka mengulurkan tangan kirinya yang bebas untuk mengusap rambut Mandala.


Apa yang Jenaka lakukan membuat Mandala terbangun dari tidurnya. "Kenapa? Pusing? Haus? Mau minum?" Mandala memegang kening Jenaka. "Udah enggak panas tapinya. Laper?"


Jenaka tanpa sadar sudah menitikkan air matanya melihat Mandala begitu memperhatikannya. Perasaan begitu dicintai. Perasaan yang selama ini selalu diharapkan Jenaka. Setelah semua usaha dan kerja kerasnya membuat Mandala mencintainya, kini sudah membuahkan hasil.


"Sakit banget? Mau aku panggilin dokter lagi?" Mandala semakin panik saat melihat Jenaka menangis. "Mana yang sakit? Kepalanya? Apanya?"


Tangis Jenaka bukannya mereda malah makin menjadi.


"Sst! Cup...cup... Jangan nangis dulu. Aku telepon dokter dulu ya." Mandala mengambil Hp miliknya namun Jenaka menggelengkan kepalanya.


Jenaka menghapus air matanya. "Aku udah enggak sakit lagi, Kak."


"Terus kenapa nangis?" Mandala menghembuskan nafas lega.


Mandala membantu Jenaka yang hendak duduk. Menumpuk beberapa bantal di punggung Jenaka agar Ia nyaman.


"Aku mau peluk Kakak."


"Boleh dong!" Mandala hendak memeluk Jenaka namun terhenti. "Eh enggak boleh deh. Kita belum halal lagi. Nanti aja peluknya. Aku enggak mau buat kamu nambah dosa."


Jenaka memanyunkan bibirnya. "Yaudah cium aja!"


Mandala mengernyitkan kening mendengar permintaan Jenaka. "Kayaknya beneran kamu masih sakit deh Jen. Aku telepon dokter aja deh. Takut sakit kamu makin parah!"


"Iihhh! Aku enggak sakit! Udah sembuh!"


"Ya kamu minta peluk terus minta cium. Biasanya juga jaga jarak! Aku pikir kamu makin sakit!"


"Aku enggak sakit. Yaudah cepet halalin aku biar aku bisa peluk dan cium Kak Mandala secepatnya!"


****

__ADS_1


Hmm...Halalin? Siapa takut???


__ADS_2