
Jenaka berlari ke pelukan Bu Sri dan menangis. "Bu.... hiks...."
"Sst... cup... cup... Jena kuat... Jena hebat... cup.... cup..." Bu Sri membiarkan Jenaka nangis di pelukannya seraya menepuk punggungnya dengan lembut.
Jenaka seperti sedang menangis di pelukan kakak perempuan yang tak pernah Ia miliki. Harum parfum merk Putri tercium memenuhi paru-paru Jenaka. Entah mengapa Jenaka merasa nyaman dengan sikap Bu Sri.
"Udah? Ayo kita masuk ke dalam!" senyum tulus Bu Sri berikan. Membuat Jenaka merasa lebih tenang.
Jenaka mengikuti Bu Sri masuk ke dalam rumah kontrakan kecil miliknya. Menunggu Bu Sri yang masuk ke dalam membuatkan minuman untuknya.
Jenaka merasa tak enak hati. Ia datang membawa persoalan pada orang yang tidak Ia kenal sebelumnya. Bukan membawa buah tangan seperti layaknya seorang tamu yang tahu diri.
Jenaka menatap foto yang dipajang di dinding ruang tamu rumah Bu Sri. Kebanyakan foto anaknya, ada yang sedang tersenyum memamerkan dua buah gigi dan saat anaknya lulus TK.
Jenaka menatap foto pernikahan Bu Sri dan suaminya. Cantik sekali. Sebenarnya Bu Sri cantik. Bu Sri juga tidak setua yang orang pikir. Usianya belum genap 35 tahun. Karena bergaul dengan ibu-ibu kampung membuat Bu Sri terlihat menyesuaikan teman-temannya padahal Ia masih muda.
"Minum dulu, Jen. Biar lebih tenang." Bu Sri meletakkan air jahe buatannya. "Ada kue dari saudara saya. Makanlah!"
"Jena jadi enggak enak, Bu. Jena enggak bawa apa-apa malah merepotkan Ibu." Jenaka mengambil air jahe hangat dan meminumnya. Rasa hangat menjalari perutnya.
"Kayak sama siapa aja, Jen! Saya sambil buka warung ya. Rejeki datang di pagi hari, makanya harus buka warung pagi-pagi." Bu Sri mengeluarkan Pop Ice dan aneka kopi sachetan lalu menggantungnya di rak jualannya.
"Maaf Jena ganggu waktu Ibu ya?"
"Kata siapa? Saya mah wiraswasta, Jen. Waktunya bebas. Saya jualan juga untuk mengusir waktu, uangnya buat saya dan anak-anak jajan. Bukan untuk membiayai hidup. Itu tugas suami saya."
"Tadi Jena lihat, itu suami Bu Sri? Sayang banget sama Ibu. Bikin Jena iri. Andai Jena jadi wanita satu-satunya dalam hidup Kak Mandala...."
Bu Sri sudah selesai membuka warung kecil miliknya. Kini Ia bergabung dengan Jenaka menikmati air jahe dan mendengarkan curahan hati Jenaka.
"Pantas kamu sedih saat datang, Jen. Sejak awal saya tau kalau permasalahan kamu sangat pelik. Terlalu bermain dengan perasaan. Menguras emosi jiwa. Kamu yang bilang kalau kamu akan mempertahankan rumah tangga kamu dan akan membuat Mandala mencintai kamu seutuhnya. Kenapa sekarang kamu berubah pikiran?"
"Karena Jena mulai serakah, Bu. Jena mau Kak Mandala menjadi milik Jenaka seutuhnya. Jena lupa kalau Jena adalah orang ketiga dalam hubungan Kak Mandala dan Kinara. Kedekatan Jena dan Kak Mandala akhir-akhir ini membuat Jena semakin menginginkan lebih sampai Jena menyadari kalau Kak Mandala masih menyimpan sebagian besar hatinya untuk Kinara." Jenaka menghapus air mata yang kembali menetes tanpa sanggup Ia tahan.
"Kamu tahu, Jen. Diantara yang curhat sama saya cuma kamu yang paling menyakitkan kisahnya. Saya belum pernah punya pengalaman di poligami, amit-amit deh. Mungkin saran saya tidak efektif-" Jenaka memotong ucapan Bu Sri.
__ADS_1
"Saran Ibu efektif kok. Kak Mandala malah bilang kalau akan memotong sayap Jenaka jika Jenaka berniat pergi. Masalahnya ada pada diri Jenaka, Bu. Jenaka yang semakin serakah."
Bu Sri tersenyum. "Kamu enggak serakah, Jen. Kamu hanya terlalu mencintai Mandala. Semua wanita, jika mencintai seseorang akan menginginkan lebih pada pria yang dicintainya. Manusiawi, menurut saya. Sekarang kamu mau nyerah?"
"Tentu saja tidak, Bu. Jena hanya merasa lagi down aja semangatnya karena Kak Mandala semalam begitu mesra dengan Kinara di telepon. Jena enggak mau semudah itu nyerah, Bu."
"Bagus kalau kamu belum nyerah. Pertahankan yang menjadi milik kamu sampai akhirnya kamu berada di akhir kisah. Menang atau menyerah."
"Lalu aku harus apa lagi nih, Bu. Aku udah mancing Kak Mandala. Aku juga udah jadi temannya. Aku harus apalagi dong?" Jenaka terlihat kehabisan ide.
"Sekarang kamu jadi teman tapi mesranya. Tetap berteman dengan Mandala namun sesekali kamu bersikap mesra dan manja padanya."
"Caranya?"
"Ah kamu, begitu aja harus saya ajarin! Hmm... saya pikir dulu sebentar. Tapi inget ya, jangan sampai jebol!"
"Iya, Bu. Iya! Ibu bilang kan, kalau Kak Mandala belum mencintaiku jangan mau menjebol gawang pertahananku? Aku selalu memegang teguh perkataan Ibu!" ujar Jenaka dengan bangganya.
"Jangan jumawa dulu, Neng. Perempuan tuh suka merasa kalau dirinya 'The One' lalu dengan bodoh menyerahkan dirinya. Padahal harus melalui banyak tahapan sampai bisa dikatakan sudah jadi 'The One'." nasehat Bu Sri.
"Oke, mancing udah, berteman udah. Kamu udah beli pakaian dalam yang saya suruh?"
"Udah. Aku sampai malu sendiri pas belinya Bu!"
"Bagus. Besok kamu pakai kemeja putih dan pakai pakaian dalam itu. Jangan pakai tanktop. Biarkan terlihat agak tembus pandang. Biarkan Mandala tak rela auratmu dilihat laki-laki lain. Oke?"
"Iya. Lalu apalagi, Bu. Aku mau stok trik yang Ibu kasih nih. Mumpung Kinara lagi ke luar kota. Aku bisa merayu Kak Mandala sesukaku."
"Ke luar kota? Wah bagus dong! Coba kita mainkan sedikit jiwa lelaki Mandala." Bu Sri membisikkan sesuatu pada telinga Jenaka.
"Ibu yakin?"
Bu Sri mengangguk yakin. "Kasih kucing sedikit bolehlah. Jangan banyak-banyak!"
"Baiklah, Jena akan ikutin!"
__ADS_1
****
Mandala tak tenang. Sejak tadi Ia menghubungi Jenaka namun Hp miliknya tak aktif. Kemana anak nakal itu?
Sejak berbeda pendapat di parkiran, Mandala pikir Jenaka baik-baik saja. Bukannya membolos kerja seperti ini. Mandala jadi cemas dibuatnya.
"Genta! Ke ruangan gue sekarang!" perintah Mandala lewat telepon.
Tak lama Genta datang. Ia melihat raut wajah Mandala tak bersahabat. Senggol bacok.
"Kenapa? Jenaka berulah lagi?" tanya Genta yang kini duduk di depan Mandala.
"Bisa dibilang begitu."
"Bisa dibilang begitu, maksudnya tuh gimana?"
"Tadi pagi Jenaka gue anterin sampai parkiran mobil. Gue pikir dia naik ke atas eh malah bolos kerja!" keluh Mandala.
"Kok bisa? Udah lo telepon belum? Pasti abis berantem deh tadi pagi!" tebak Genta.
Mandala mengangguk lemah. "Awal mula pertengkaran karena gue terima telepon dari Kinara waktu pulang dari pasar-"
"Dari pasar? Lo pergi ke pasar? Beneran? Waduh, bisa hujan badai nih!" celetuk Genta memotong cerita Mandala.
"Udah enggak usah dibahas! Gue lagi cerita nih!" omel Mandala, Genta langsung terdiam. "Jenaka lalu mengurung diri di kamar. Gue enggak perhatiin karena sibuk dengan telepon Kinara. Pagi harinya dia siapin gue sarapan tapi enggak temenin gue makan. Diem aja. Gue tanya dong, gue juga minta maaf tapi dia ternyata tau rencana gue sama Kinara."
"Rencana? Lo punya rencana apa sama Kinara?" Genta makin tak mengerti. Genta pikir rencana melegalkan pernikahan mereka dengan mengorbankan Jenaka sudah cukup tapi ternyata tidak sampai disitu.
"Gue udah berjanji sama Kinara... Akan menceraikan Jenaka suatu hari nanti." takut-takut Mandala mengatakannya.
Genta terdiam. Buku jarinya memerah karena menahan amarah. "Gila lo! Lo sama Kinara pasangan paling gila yang pernah gue kenal! Bang sat lo!" Genta maju menarik kerah baju Mandala, namun semudah itu Mandala melepaskannya.
"Gue emang gila! Tapi itu rencana sebelum gue nikahin Jenaka! Sebelum gue kenal Jenaka lebih jauh lagi!" Mandala menatap Genta dengan tatapan serius. "Sebelum gue mulai menyukai Jenaka."
****
__ADS_1