Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Ayah Murka


__ADS_3

"Sebulan? Untuk apa?" tanya Jenaka.


"Seperti yang kamu tahu, kontrak kerjasama perusahaanku dengan Panca berakhir sebulan lagi. Perusahaan milik keluarga Panca jauh lebih besar dari perusahaanku. Bahkan setelah digabungkan dengan Prabu Group pun masih kalah. Kalah dikit sih,"


"Kalau Panca menuntut perusahaanku, bisa dipastikan aku bisa bangkrut dalam waktu sekejap. Maaf banget Jen, bukan aku tak sayang kamu. Ada ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaanku. Aku akan menghadapi Panca, tapi setelah urusan kami beres."


"Iya. Aku mengerti kok."


"Jen, berperang bukan berarti tanpa taktik. Lebih baik aku mundur sebulan tapi aku langsung melesat maju daripada aku terus maju namun akhirnya kalah. Sebulan ini, aku mau kita menyembunyikan hubungan kita. Jangan sampai Panca tau. Percaya padaku. Aku enggak akan melepaskan kamu."


Jenaka tersenyum. "Aku percaya sama Kak Mandala." kedua lesung pipinya sampai terlihat.


"Ya Allah.... Jen, jangan terlalu menggemaskan begitu ah. Aku takut enggak tahan! Aku udah puasa dua tahun lebih nih. Mau nyium kamu aja aku tahan terus!" Mandala menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya... Aku berarti harus mode marah-marah ya? Jutek? Atau ngomel-ngomel?"


"Enggak gitu juga sih. Mode menggemaskannya jangan banyak-banyak. Takut adikku enggak tahan." Mandala menangkupkan kedua tangannya di wajah Jenaka. "Aku akan menghalalkan hubungan kita lagi. Sabar ya!"


Jenaka mengangguk. "Tentu saja. Aku akan menunggu."


Sesuai janji, Juna datang selepas pulang kerja untuk menjemput Jenaka. Juna terkesima melihat rumah Mandala yang besar dan mewah.


"Wow! Ini rumah keren banget!" puji Juna.


"Dulu aku tinggal disini, Jun!" bisik Jenaka.


"Yang bener? Wah bisa berenang tiap hari dong?" Juna menatap kolam renang seperti anak kecil melihat permen. Ngiler. Ingin rasanya menceburkan diri ke dalam sana.


"Weekend besok Jena mau berenang, Jun. Lo sekalian aja kesini. Biar Jena ada alasan gitu depan Bunda dan Ayah." ujar Mandala yang baru datang setelah menerima telepon dari Mami Nina.


"Ah bisa aja lo, Kak. Lo aja sana yang minta ijin sama Ayah dan Bunda! Tahan mental aja sama Ayah. Kalo lo niat serius pasti Ayah akan luluh juga kok." balas Juna.


"Maunya sih begitu, Jun. Namun gue sama Jena sepakat, akan menyembunyikan hubungan kami selama sebulan ke depan. Gue mau selesein dulu kontrak perusahaan gue dengan Panca. Biar enggak ada masalah di kemudian hari. Kalo udah beres baru gue ke Ayah dan Bunda untuk meminta Jena secara langsung." Mandala lalu duduk di seberang Juna.


"Gue sih ikut aja apa rencana lo berdua. Satu yang pasti, enggak akan ada lagi poligami dalam rumah tangga lo! Awas aja kalo berani duain Jena lagi!" ancam Juna.


"Weits... Tentu! Gue gak bakalan kayak gitu lagi, Jun. Kapok. Pusing kepala gue. Belum lagi harus adil. Ah... Mana bisa gue adil? Gue kan terlalu cinta sama Kakak lo." goda Mandala.

__ADS_1


"Oh... Jadi kalo kepalanya enggak pusing masih ada kemungkinan buat poligami lagi gitu?" sindir Jenaka dengan wajah juteknya.


"Wah mamam lo, Kak. Jena kalo udah ngamuk serem!" Juna ikut mengompori.


"Enggak dong, Sayang. Aku udah kapok. Sumpah!" Mandala begitu takut kalau Jenaka marah.


"Kapok tapi masih suka tebar pesona di depan para cewek!" Jenaka pun memperagakan adegan saat para cewek bermanja ria pada Mandala. "Kak Mandala, aku pegel nih! Kak Mandala, nanti sepedahannya deket aku aja ya jangan deket dia terus! Kak Mandala kok ganteng banget sih? Kak Mandala udah punya pacar belum? Kak Mandala mau enggak jadi suami aku?"


Juna tertawa terbahak-bahak melihat pertengkaran dua orang di depannya. Ekspresi Jenaka yang membuatnya tak kuasa menahan tawa lebih lama lagi.


"Enggak, Jen. Aku kan enggak nanggepin. Aku cuekin loh mereka! Aku mah tetap fokus memperhatikan kamu. Saat kamu sakit makanya aku langsung tau kan?" Mandala berusaha membela diri. Ia tak mau Jenaka marah karena Ia sering menjadi rebutan para cewek.


"Ah alesan! Pokoknya awas ya deketin cewek-cewek lagi!" ancam Jenaka.


"Iya. Aku janji. Aku enggak ikut sepedahan lagi kalau kamu enggak ikut!"


"Beneran?"


"Iya! Nanti kalo kita udah halal dan jadi pasangan resmi lagi, aku bakalan kekepin kamu di rumah terus. Pokoknya kita ngamar, ngamar dan ngamar teroos!"


"Huahahahaha... Jena sekalinya keluar kamar bakalan jalan kayak bebek nanti huahahahaha..." Juna tertawa makin ngakak.


Mandala juga tak kuat menahan tawanya. Jenaka yang polos benar-benar menggemaskan. Ah... Tak sabar rasanya Mandala ingin mempersuntingnya kembali.


****


"Kalian dari mana?" tanya Ayah dan Bunda saat melihat Juna dan Jenaka datang bersama. Rupanya Ayah dan Bunda sudah sampai di rumah lebih dahulu.


"Oh, abis jalan-jalan Yah. Iya kan Jen?" tanya Juna.


"Iya. Mumpung Juna belum berangkat tugas." Jena ikut membantu Juna mengarang alasan. Kalau Ayah tahu semalam Jena enggak pulang, bisa kena omel dia!


"Sudah jangan mengobrol saja. Masuklah ke dalam! Bunda bawa makanan nih. Enak deh!" Bunda datang dan memanggil semuanya untuk makan bersama.


Mereka pun berkumpul di meja makan. Menikmati makanan yang dibawa Bunda dari rumah saudaranya.


"Yah, kalau seandainya Jena enggak berjodoh sama Panca dan malah berjodoh kembali sama Mandala gimana?" tanya Juna tiba-tiba, membuat Jenaka menahan nafas menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Ayah.

__ADS_1


"Jangan harap! Jena udah selesai tali jodohnya sama Si Maman itu! Jangan dihubung-hubungkan lagi!" jawab Ayah tegas.


"Kalau nih Yah, kalau ternyata Si Maman itu lebih bisa membahagiakan Jena gimana?" tanya Juna lagi. Tak ada takutnya Juna bertanya pada Ayah. Jenaka saja sampai tak nafsu makan dibuatnya.


"Ayah yang akan membahagiakan Jena! Kayak enggak ada laki-laki lain saja!" Ayah bertambah marah kini. Semua karena Juna yang tak ada kapoknya memancing emosi Ayah.


"Ayah enggak akan selamanya bisa membahagiakan Jena. Aku pun sama. Aku tak selamanya bisa melindungi Jena. Kita berdua sangat sayang sama Jena. Tak bolehkah Jena bersama dengan orang yang Ia cintai dan sangat mencintainya?" tanya Juna lagi. Suasana di meja makan sangat mencekam kini.


"ARJUNA!" Ayah benar-benar murka sekarang. Jika Ayah sampai menyebut nama lengkap anaknya bisa dipastikan Ayah sangat marah. "Jangan ada yang membicarakan tentang Si Sontoloyo itu lagi di rumah ini!"


Ayah pun bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan. Tak lama terdengar pintu depan rumah ditutup dengan kencang.


"Ayah marah tuh! Kalian ada apa tiba-tiba membahas Mandala? Pasti ada sesuatu yang kalian sembunyikan!" tanya Bunda.


Juna dan Jena saling sikut. "Kamu aja yang bilang!"


"Masa aku lagi sih Jen?!"


"Kan kamu yang mulai!"


"Kamu yang punya masa depan Jen!"


"Hei! Bunda tau kalian kerjasama kan? Ayo cerita sama Bunda, ada apa?" kini Bunda menatap Jena dan Juna bergantian.


Kembali Jena dan Juna saling sikut.


"Jena! Juna!" tegur Bunda.


Setelah menghirup nafas banyak-banyak, Jena pun memberanikan diri menceritakan semua permasalahannya pada Bunda.


"Jadi, kalian memutuskan akan kembali rujuk?" tanya Bunda.


Jenaka mengangguk. "Jena yakin dengan pilihan Jena kali ini, Bun. Saat dulu Bunda nyuruh Jena sholat istikharah, mulai sejak itu Jena mulai ragu pada Panca. Sikap Panca mulai membuat Jena tak nyaman. Justru Kak Mandala yang membuat Jena yakin." Jenaka menatap Bundanya dengan lekat. "Bunda mau kan mendukung Jena?"


****


Happy New Year all....

__ADS_1


Semoga tahun ini kita lebih bahagia, lebih banyak rejeki, hidupnya semakin berkah aamiin...


Jangan lupa tap like yang banyak ya... Luv u gaes 😘😘😘


__ADS_2