Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Jangan Terlalu Ribet!


__ADS_3

"Panca.... Tolong dong bantuin gue! Masa sih lo tega sama gue?!" sejak kemarin Melisa terus merengek pada Panca untuk diberikan nomor Hp dan alamat Juna.


"Mau ngapain sih lo Mel? Udahlah jangan ngejar-ngejar cowok sampai sebegitunya!" omel Panca.


"Juna... Arjuna... Dia itu lebih dari sekedar cowok! Dia layak diperjuangin! Dia keren. K e r e n. Cowok paling keren di dunia nyata yang pernah gue lihat! Cara dia nangkep tuh copet kayak Jason Statham. You know, keren banget sumpah!" mata Melisa berbinar-binar saat menceritakan tentang Juna.


"Mel, lo tuh udah beberapa kali ngomong kayak gini sama gue! Percayalah, Juna tuh enggak sekeren yang lo pikir!" bantah Panca.


"Biarin aja! Toh keren atau tidaknya yang terpenting kan pandangan dia di mata gue! Please kasih gue alamat dan nomor Hp dia. Please...."


Panca akhirnya luluh setelah direngek oleh Melisa. "Nih nomornya! Inget, dia tuh abdi negara. Enggak setiap saat ada di rumah. Beda sama lo yang pengusaha muda!"


"Iya. Tenang saja!" Melisa tersenyum melihat Hp miliknya. Ia kini sudah memiliki nomor Hp Juna, tinggal eksekusi langsung. "Makasih ya Panca! Lo tuh baiiiikkk banget!"


****


Juna baru saja pulang bekerja. Agak malas sebenarnya Ia pulang ke rumahnya yang masih kosong tanpa keluarganya yang masih berlibur.


Juna agak heran melihat sebuah mobil mewah terparkir di depan rumahnya. Selama ini yang berteman dan berurusan dengan kalangan kelas atas biasanya adalah Jenaka, dirinya hampir tak ada kenalan selain Mandala dan Panca yang dari kalangan atas. Para atasannya jangan diikutsertakan tentunya, mereka pun tak pernah ke rumahnya.


Melihat Juna datang dan membuka pintu pagar, Melisa juga ikut membuka pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Juna.


"Hi Arjuna!" sapa Melisa.


Juna terkejut mendengar namanya disebut. "Hi? Assalamualaikum kali!"


"Eh iya, assalamualaikum Arjuna!" Melisa mengulangi lagi salamnya.


"Waalaikumsalam. Kenapa nona besar Melisa nyari gue?" Juna tak jadi memasukkan motornya. Memilih berbicara di luar saja.


"Juna masih hapal nama gue? Ah senengnya!" Melisa malah fokus dengan Juna yang hapal namanya dibanding tujuannya menemui Juna.


"Enggak penting. Kemarin kan lo sebutin waktu di mall? Ada perlu apa ke rumah gue?" tanya Juna langsung pada intinya.


Melisa melihat seragam loreng-loreng di balik jaket yang senada dengan celana yang Juna kenakan.


"Jadi Juna beneran seorang aparat negara? Wah keren!" batin Melisa.


"Yeh malah bengong! Mau ngapain lo kesini?" Juna membuyarkan lamunan Melisa.


"Itu... Gue mau traktir lo! Gue kan udah hutang budi sama lo, sebagai bentuk balas budi gue mau traktir lo."

__ADS_1


"Engggak perlu! Gue ngelakuinnya ikhlas kok. Enggak mengharap balas budi dari orang lain." tolak Juna.


"Tapi gue bersikeras mau traktir lo. Mungkin harga Hpnya enggak seberapa, namun banyak catatan penting didalamnya, berisi bisnis dan yang lainnya. Makanya gue ngerasa berterima kasih banget sama lo. Please, mau ya terima traktiran gue?" pinta Melisa dengan agak memaksa.


Juna yang lelah sepulang bekerja tak punya waktu untuk berdebat dengan cewek pemaksa seperti Melisa. "Yaudah pesenin makanan online aja!"


"Pesen online? Jangan dong! Kita makan di restoran aja! Gue tuh kalau mau membalas budi seseorang harus dengan cara yang benar." tolak Melisa. Kalau hanya untuk pesan makan online untuk apa Ia repot-repot datang kesini dan menunggu Juna pulang?


Juna menghembuskan nafas kesal. Tak mengerti apa mau cewek di depannya.


"Gue baru pulang kerja. Capek! Mau makan dimana sih?" tanya Juna dengan sebal.


"Ada restoran steak yang enak banget. Mau ya? Naik mobil gue aja biar enggak capek. Gue yang nyetir!" Melisa membujuk dengan segala cara agar Juna mau menerima ajakannya.


"Yaudah gue mandi dulu. Lo tunggu aja di dalam mobil lo!" akhirnya Juna mengiyakan ajakan Melisa. Pusing jika terus direngek seperti itu.


"Kok di mobil? Lo enggak mempersilahkan gue masuk?"


"Enggak! Bukan mahramnya! Nanti timbul fitnah! Kalo lo mau yaudah, kalo enggak ya enggak masalah."


"Mau! Gue bakalan nunggu di mobil. I will waiting for you!" Melisa masuk ke dalam mobilnya menunggu Juna yang cuek saja masuk ke dalam rumah. Memasukkan motornya dalam garasi lalu masuk ke dalam rumah sambil dikunci pintunya. Benar-benar tak membiarkan Melisa masuk.


Juna mengamalkan apa yang orang tuanya amalkan. Jika tak ada orang di rumah, jangan membawa masuk orang yang bukan muhrimnya, rawan fitnah. Jadi daripada buat dosa dan fitnah, lebih baik Juna hindari sepenuhnya.


"Gila, ganteng banget!" gumamnya pelan.


Juna mengetuk pintu mobilnya. "Restorannya daerah mana sih?" tanya Juna.


"Jakarta Selatan, deket Senopati." jawab Melisa.


"Macet kalo naik mobil! Udah naik motor gue aja!" usul Juna. "Jam segini nanti bareng orang pulang kantor, bisa malam sampai rumahnya."


"Ya enggak masalah kan kalo pulang malam? Memangnya Juna diomelin Mamanya kalo pulang malam?" tanya balik Melisa.


"Gue capek. Tadi kan gue bilang kalo gue capek. Daripada berkutat macet di mobil, mending naik motor gue aja! Gampang selap-selipnya!"


"Naik motor ya? Hmm... Kalo rambut gue kusut gimana?" Melisa mengkhawatirkan dandanannya yang sengaja Ia siapkan untuk bertemu Juna. Kalau naik motor, rambut indahnya bisa kusut.


"Yaudah pesan online aja! Gue kan udah bilang tadi. Gue masuk lagi nih ke dalam kalo lo enggak mau!" Juna mengancam Melisa balik.


"Oke! Enggak masalah kok mau naik motor juga!" Melisa membuka pintu mobilnya. Mengambil tas miliknya dan menghampiri Juna.

__ADS_1


"Nah gitu dong! Jadi cewek jangan terlalu ribet masalah rambut doang! Tinggal disisir beres! Gue ambil motor dulu!" Juna masuk ke dalam dan mengeluarkan motor miliknya.


Kawasakie Ninjha 250 cc miliknya Ia keluarkan. Dua buah helm Ia bawa. Satu Ia pakai dan satu lagi diberikan pada Melisa.


"Nih pake!"


Meski agak ragu, Melisa menerima helm Hillo Kitti pemberian Juna. "Ini helm pacar lo ya? Sweet banget gambarnya!"


"Bukan! Itu helmnya Jena. Jangan sampai rusak! Bisa diomelin gue nanti!"


"Oh...." Melisa senyum-senyum senang.


"Bukan punya pacarnya Juna, semoga saja Juna masih jomblo" batin Melisa.


Melisa lalu naik ke atas motor Juna yang agak tinggi dibanding motor biasa. "Udah?" tanya Juna.


"Iya."


Juna pun tancap gas, Melisa spontan memeluk pinggang Juna dengan erat karena takut jatuh.


"Enggak usah peluk juga kali!" sindir Juna.


"Takut jatuh!" jawab Melisa.


"Pegangan besi motor aja. Jangan deket-deket begini. Gue bawa motornya pelan kok! Santai aja!" omel Juna. Dirinya enggan berdekatan dengan orang baru dikenal, apalagi seorang perempuan.


"Iya... iya..." Melisa pun membenarkan duduknya dan memegang besi sesuai perkataan Juna.


Melisa berpegangan dengan kencang karena Juna ternyata selain jago ngebut juga jago selap-selip diantara mobil. Kadang Melisa memegang jaket Juna dengan kencang jika dianggap Juna terlalu ngebut.


"Disana! Kita udah sampai!" Melisa menunjuk sebuah restoran dengan design interior yang bagus dan terlihat mewah.


"Mahal makan disana mah! Yang murah aja. Disana ada steak murah tapi enak!" protes Juna.


"Tak masalah. Gue yang traktir."


Juna pun mengalah. Setelah memarkirkan motornya mereka pun masuk ke dalam restoran.


****


Hi semua...

__ADS_1


Kita seling sejenak kisah Juna ya. Nanti kisah Panca in sha allah aku tampilin. Biar adil semua kebagian ceritanya.


Jangan lupa like, vote dan add favorit ya. Maacih semua 😘😘😘


__ADS_2