
Jenaka kembali tertidur dengan air mata yang mengering di wajahnya yang cantik. Tangannya memeluk sweater rajut berwarna cokelat yang selama ini selalu menemani hari-harinya.
Suara alarm dari Hp miliknya membuat Jenaka terbangun dengan malas. Ia selalu menyetel alarm agar tak lupa sholat subuh.
Masih bermalas-malasan di tempat tidur, Jenaka menatap jaket cokelat dalam dekapannya. Sweater dengan ukiran huruf M di dada sebelah kirinya seakan membuktikan kalau sweater itu adalah pemberian seseorang khusus untuk Mandala. Apakah Kinara yang memberikannya? Berarti Jenaka memeluk Kinara dong?
Jenaka bangun dan menegakkan tubuhnya. Ia menggelengkan kepalanya. Mengusir pikiran menyebalkan seperti itu.
"Sweater ini punya Kak Mandala. Selamanya punya Kak Mandala!" gumam Jenaka. Ia lalu bangun dan sholat subuh sebelum memasak di dapur.
Mala terlihat sedang menyiapkan roti dan aneka selai di meja makan. "Aku mau masakkin Kak Mandala, Mal. Enggak usah banyak-banyak buat rotinya."
"Tapi Bapak biasanya sarapan roti, Bu. Bu Kinara juga berpesan untuk menyiapkan Bapak sarapan roti karena lebih bergizi." sanggah Mala. Jenaka sudah tau sejak awal kalau Mala adalah mata-mata yang diutus untuk mengawasi gerak-geriknya di rumah ini oleh Kinara. Sejak awal Mala sudah amat kentara terlihat memihak pada Kinara, bukan dirinya.
"Yaudah kalo Kak Mandala enggak mau makan biar aku bawa ke kantor saja. Gampang kan?" Jenaka tak mau kalah dengan Mala. Ia merasa posisinya menang, istri sah pertama. Bahkan sebenarnya jauh lebih berkuasa dari Kinara yang statusnya hanya istri kedua.
"Baik, Bu." Mala akhirnya menurut. Memang sudah seharusnya Ia bersikap seperti itu. Sudah 3 bulan sejak Jenaka menjadi istrinya Mandala. Selama ini Jenaka tak mempermasalahkan kalau Mala lebih memihak pada Kinara, namun saat Jenaka mau melakukan sesuatu, maka tak ada yang bisa melarangnya.
Jenaka mengambil bahan-bahan yang semalam Ia beli di pasar. Memasak beberapa menu masakan dalam waktu singkat sebelum Mandala bangun dan Ia harus siap-siap berangkat ke kantor.
Nasi goreng kampung jadi pilihan Jenaka. Ia menambahkan terasi dalam bumbu yang Ia ulek sendiri. Bunda bilang, rasanya akan lebih sedap kalau pakai sedikit terasi.
Untuk makan siang Jenaka membuatkan Mandala telur gulung ala Korea dengan parutan wortel di dalamnya, menyertakan sayuran agar menu masakkannya lebih menyehatkan.
Jenaka juga membuat ayam pok-pok saus asam manis. Ia terbiasa memasak cepat dan semuanya telah matang saat Mandala turun dengan memakai setelan warna abu-abu dan menenteng jas di tangan kanannya.
"Wah kamu masak apa, Jen?" tanya Mandala yang sudah mencium aroma masakkan yang menggugah seleranya tersebut.
"Masak nasi goreng kampung buat sarapan Kak Mandala." Jenaka menaruh Tupperware yang berisi lauk yang masih panas lalu menaruhnya di meja makan dalam keadaan belum ditutup. "Ini buat bekal makan siangnya. Aku siap-siap dulu ya, Kak!"
"Loh kamu enggak nemenin aku sarapan?" tanya Mandala.
"Enggak sempet, Kak. Aku belum mandi. Aku ke atas dulu ya, Kak!"
Mandala mulai memakan nasi goreng buatan Jenaka yang sudah terhidang di depannya.
"Hmm... Enak banget!" puji Mandala dalam hati.
Mandala memakan sarapannya dengan lahap. Nasi goreng masih hangat dengan racikan khas rumahan memang tak ada duanya. Tanpa sadar Mandala sudah menghabiskan seporsi nasi goreng tanpa sisa.
Mandala melirik roti bakar yang Mala buatkan. Rasanya melihat roti bakar setelah memakan nasi goreng buatan Jenaka jadi tidak menarik lagi.
__ADS_1
"Mal! Mala!" panggil Mandala.
"Iya, Pak!" Mala datang seraya melirik piring kosong milik Mandala.
"Besok jangan buat roti bakar banyak-banyak! Selama ada Jenaka, biar dia yang masakkan buatku!"
"Tapi Pak, Bu Kinara pesan katanya Bapak harus sarapan roti yang bergizi sebelum pergi dan menyuruh saya memasak untuk makan malam Bapak." Mala rupanya masih berusaha menuruti perintah Nyonyanya.
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan!" tegas, jelas dan tak terbantahkan. Begitulah Mandala kalau menghadapi orang-orang yang suka membantahnya dan bersikap ngeyel.
"Baik, Pak."
Jenaka yang sedang menuruni tangga mendengar percakapan antara Mandala dan Mala. Sudut bibirnya menyunggingkan seulas senyum penuh kemenangan.
"Gimana Kak masakkanku?" tanya Jenaka yang kini merapihkan bekal untuknya dan Mandala lalu menaruhnya dalam tas.
"Enak banget. Aku baru bilang sama Mala, biar kamu saja yang masakkin aku! Kamu enggak sarapan?"
"Nanti saja di kantor, Kak. Sekarang udah siang, aku bisa kesiangan. Belum order ojek yang suka susah kalau di jam sibuk kayak gini."
"Loh untuk apa order ojek? Kamu bareng sama aku aja! Kita sekantor, untuk apa berangkat sendiri-sendiri?"
"Biarkan saja. Bilang saja tadi kamu ketemu aku di jalan dan aku tawarin bareng karena enggak dapet ojek. Mudah kan? Ada segudang alasan kalau mau dikemukakan!"
"Baiklah kalau Kakak maunya kayak gitu."
****
Jenaka menatap pemandangan di sebelah kanannya. Terlihat jalanan mulai padat dengan banyaknya kendaraan bermotor menuju pusat kota.
Lebar jalanan yang tak sesuai dengan volume kendaraan yang terus bertambah membuat titik kemacetan semakin banyak saja.
"Jen!" panggil Mandala setelah suasana hening tercipta sejak mereka berangkat tadi.
"Iya, Kak." Jenaka mengalihkan pandangannya dan menatap lurus ke dalam mata Mandala.
"Kamu semalam kenapa mengunci diri di kamar? Kamu marah?"
Jenaka terdiam. Ia memang mengunci diri di kamar. Rupanya hatinya tidak sekuat dan setegar batu karang. Hatinya rapuh melihat percakapan mesra Mandala dengan Kinara di telepon.
Jenaka membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan kalau Ia terbiasa melihat kemesraan Mandala dan Kinara, namun nyatanya hati tidak bisa berbohong. Luka dan sayatannya terasa perih.
__ADS_1
"Aku ngantuk, Kak. Mau langsung tidur." Lagi-lagi Jenaka berbohong.
"Tumben. Biasanya juga kecentilan sendiri. Kamu sakit? Aku enggak percaya dengan alasan kamu. Sebelumnya di pasar kamu enerjik banget, tawar sana sini eh pas sampai rumah langsung murung,"
"Aku-" Jenaka mencoba memotong ucapan Mandala tapi Mandala malah yang memotong ucapannya duluan.
"Karena aku menerima telepon dari Kinara?" rupanya Mandala sadar diri.
Jenaka terdiam. Bukan Mandala tak punya hati, Mandala tau kalau Ia menyakiti Jenaka tapi hanya terlalu pintar menyembunyikan rasa bersalahnya.
"Aku minta maaf telah menempatkan kamu dalam hubunganku, Jen. Tapi kalau aku boleh mengulang waktu, aku akan tetap mengambil keputusan yang sama. Menikahi kamu adalah solusi yang menurutku paling tepat, meski aku tahu kalau kamu yang paling terluka disini,"
Jenaka kembali membuang pandangannya. Matanya kembali memanas.
"Seribu kata maaf yang aku ucapkan mungkin tak akan bisa menghapus kesalahanku karena sudah menipu kamu, Jen. Kamu wanita baik. Aku beruntung bisa mempersunting kamu,"
Mobil Mandala sudah sampai di kantor dan Pak Sahrul sedang memarkirkannya di parkiran khusus milik Mandala seorang. Percakapan harus segera diakhiri dengan satu keputusan, begitu pikir Mandala.
"Kamu bilang kalau kamu suatu hari akan lelah dan pergi menumpang mobil yang lain. Ketahuilah Jen, sebelum kamu pergi aku akan mematahkan sayapmu. Membuatmu tetap disisiku."
Jenaka kembali menatap Mandala. Ia mengerutkan keningnya sambil tertawa sinis. "Bukankah Kak Mandala berjanji pada Kinara akan menceraikan aku suatu hari nanti?"
Mandala tersentak dengan apa yang Jenaka katakan. Bagaimana Jenaka bisa tahu?
"Kamu-"
"Aku tahu, Kak. Baik Kakak maupun aku enggak ada yang tahu bagaimana suratan takdir akan mempermainkan kita nantinya. Bisa saja bukan Kak Mandala yang menceraikanku. Bisa saja Kak Mandala yang menceraikan Kinara, atau bisa saja aku yang menceraikan Kakak. Aku masuk duluan, Kak!" tanpa salim Jenaka membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan Mandala.
****
Jenaka rupanya tak masuk kerja. Ia bukan masuk ke dalam gedung melainkan menyetop taksi dan pergi ke tempat yang membuatnya tenang.
Jenaka melihat dari kejauhan saat guru spiritualnya sedang mencium tangan suaminya. Terlihat sekali mereka adalah sepasang suami istri yang saling mencintai.
Bu Sri mengenakan baju yang masih agak nyambung, sedikit. Kaos kuning dengan celana orange. Tumben sekali.
Suaminya Bu Sri menengadahkan tangannya seperti sedang berdoa lalu mengecup kening Bu Sri dan pergi dengan lambaian tangan serta senyum penuh cinta dari Bu Sri. Iri. Jenaka sangat iri melihat pemandangan di depan matanya.
"Jena? Sini masuk!" panggil Bu Sri dengan senyum tulusnya.
****
__ADS_1