
Ada yang belum Jenaka ceritakan pada Bunda. Saat Bunda menyuruhnya sholat istikharah, petunjuk belum Jenaka dapatkan. Jenaka tak putus asa. Ia kembali sholat istikharah dan mimpi itu akhirnya muncul.
Jenaka masih ingat malam itu Ia bermimpi aneh. Ia bertemu Kinara dalam mimpinya. Kinara memakai baju putih dengan wajah yang amat bercahaya.
"Assalamualaikum, Jena." sapa Kinara.
"Waalaikumsalam, Kinara. Kamu kok disini?" tanya Jenaka.
"Aku kangen sama Mandala namun tak bisa menemuinya lagi. Karena dalam hatinya Mandala hanya ada nama kamu!" ujar Kinara dengan sedih.
"Maafkan aku Kinara." sesal Jenaka.
"Oh kamu enggak salah Jenaka. Jangan merasa sesal dalam diri kamu. Aku justru ingin melihat kamu dan Mandala bahagia. Aku titip Mandala ya Jenaka. Bahagiakan dia. Kamu juga harus bahagia. Aku tahu kalian saling mencintai. Hiduplah bahagia bersama-sama."
Kinara tersenyum setelah mengucapkan keinginannya dan perlahan bayangnya menghilang. Jenaka terbangun saat Bunda membangunkannya karena Panca akan mengajaknya sepedahan.
Kini, Jenaka semakin mengenal Panca dan tak yakin untuk menjadi istrinya. Ia pun menceritakan mimpinya dan ketidakyakinan hubungannya dengan Panca pada Bunda dan Juna.
"Jujur aja, Bun. Kemarin Jenaka pergi ke pesta sama Panca dan berakhir dengan bertengkar hebat. Jena minta diturunkan di tengah jalan. Untung saja Kak Mandala melihat Jena, kalau tidak mungkin Jena udah pingsan di halte, Bun." cerita Jenaka.
"Loh kenapa kamu mau pingsan?" Bunda terlihat khawatir mendengar cerita Jenaka.
Jenaka mengeluarkan Hp miliknya dan menunjukkan foto yang menampilkan dirinya dan Panca. Foto tersebut diambil saat Jenaka selesai dimake-up. Tampak wajah Jenaka yang tak nyaman dengan gaun yang dikenakannya.
"Terbuka sekali gaunnya, Jen? Kalau Ayah tau kamu bisa diomeli habis-habisan! Kebanyakan mengumbar aurat ini!" omel Bunda.
"Jena awalnya merasa tak enak kalau tidak menuruti keinginan Panca, Bun. Jena tak mau mempermalukan Panca di acara para pengusaha besar. Tapi malah jadi bumerang buat Jena sendiri. AC di gedung dingin banget. Belum lagi Jena belum makan karena dari siang banyak kerjaan. Hanya sarapan pagi saja. Jadi deh Jena masuk angin. Flu juga. Badan sakit semua. Kepala pusing. Ah paket lengkap deh, Bun."
__ADS_1
"Ya kan Bunda selalu bilang, jadilah diri kamu sendiri. Kalau suka ya jalani. Kalau enggak suka jangan mengikuti kata orang. Akibatnya kamu sendiri yang tanggung kan? Terus kelanjutannya gimana?" tanya Bunda. Dalam hati Bunda juga kesal karena sikap Panca yang mengorbankan putrinya hanya demi nama baiknya saja.
"Ya terus Jena pingsan, Bun. Kak Mandala bawa Jena ke rumahnya. Maksudnya rumah kami dulu. Jena soalnya takut di rumah enggak ada siapa-siapa. Kak Mandala yang ngerawat Jena semalaman. Kasih Jena obat dan kompres kepala Jena yang demam. Pas Jena bangun Kak Mandala lagi kelelahan karena ngerawat Jena. Siapa yang enggak luluh, Bun? Kak Mandala waktu sepedahan juga perhatian saat Jena nabok."
"Nabok itu apa Jen?" tanya Bunda bingung.
"Nabok itu nahan bok er, Bun!" Juna yang menjawab sambil tertawa-tawa.
"Ih Jena mah jorok! Terus gimana lagi ceritanya?" Bunda makin penasaran.
"Iya. Kak Mandala yang berhentiin rombongan di cafe terdekat. Panca mah cuek bebek aja. Asyik ngobrol sama teman-temannya. Jena dicuekkin! Belum lagi dia sama teman-teman high classnya kalo ketemu cipika cipiki. Berasa masih di Amrik kali! Kak Mandala yang biasanya dikerubutin cewek-cewek aja malah keliatan risih !"
"Kamu kali Jen yang kebanyakan membandingkan mereka berdua!" sindir Bunda.
"Karena Jena-nya yang enggak nyaman, Bun. Biasa petakilan disuruh gabung di pergaulan kelas atas yaudah susah deh. Memangnya pas kamu jadi sekretaris enggak pernah diajak ke pesta-pesta gitu, Jen?" Juna kini yang semakin penasaran.
"Ya bedalah, norak!" celetuk Juna.
"Belum pernah kan kamu Jun ikut ke pesta kayak gitu? Pasti kamu nanti lebih norak dari aku deh. Tadi aja kamu ngeliat kolam renang kayak ngeliat cewek pake bikini. Mukanya ngiler gitu!" ledek Jena.
"Heh aku mah enggak ngiler! Aku cuma pengen nyebur aja liat air bening kayak gitu!" balas Juna.
"Heh sudah- sudah! Kalian berdua kalau udah main ledek-ledekkin enggak kelar-kelar deh! Terus gimana? Mandala ngajak kamu buat rujuk lagi?" tanya Bunda penasaran.
Jenaka mengangguk. "Kak Mandala minta waktu sebulan, Bun. Nanti Kak Mandala akan datang dan menemui Ayah dan Bunda langsung. Bunda tolong rahasiakan dari Panca dan Ayah dulu ya, Bun."
"Bunda tak akan bertanya kenapa butuh waktu sebulan lagi. Pasti Mandala punya rencana sendiri. Kalau memang kamu yakin dengan Mandala, Bunda dukung. Ingat ya, kali ini pernikahan terakhir kalian. Bunda enggak mau lihat dia menyakiti hati kamu lagi seperti dulu!"
__ADS_1
"Iya, Bun. Makasih ya, Bun."
Tanpa ada yang mengetahui, sejak tadi Ayah menguping pembicaraan mereka. Ayah tidak pergi keluar. Ayah hanya membanting pintu dan bersembunyi di ruang tamu. Ia mendengar semua percakapan keluarga dibelakangnya.
Beragam perasaan berkecamuk dalam diri Ayah. Marah, kesal, kecewa dan sebuah asa demi kebahagiaan putri malangnya yang harus menyandang status janda di usia yang masih tergolong muda.
Diam-diam Ayah membuka pintu dan keluar dari rumah. Ayah duduk di pos hansip tempat nongkrongnya sambil mendengarkan celotehan teman-temannya.
"Eh lo udah tau belum ada janda semok yang baru aja pindah di RT kita? Anaknya udah pada gede. Bolehlah jadi gebetan nih!" ujar Pak Udin, duda centil yang ditinggal meninggal istrinya 6 bulan yang lalu. Ngebet banget pengen nyari istri baru lagi rupanya dia.
"Wah boleh tuh kita kenalan. Lumayan kalo semok mah. Masih bisa bikin si otong bangun." sahut Pak Dodi, pensiunan yang punya dua istri dan masih centil di usianya yang tak lagi muda.
"Gue ikutan dong! Mumpung bini gue lagi pulang kampung nih!" tak mau kalah Pak Juki yang tukang selingkuh namun selalu ketahuan istrinya..
"Ah... Kalo lo pada ikutan, saingan gue makin banyak dong? Kali ini jandanya mantep banget, coy! Bodynya kayak gitar Spanyol. Punya bisnis salon, muka selalu terawat. Anak udah pada gede, enggak ada tanggungan lagi. Calon yang mumpuni ini mah. Gue mau nikahin ah. Lo pada jangan ikutan deketin pokoknya! Gue belum ada bini kayak lo semua!" ujar Pak Udin tak mau kalah.
"Bini lo baru meninggal 6 bulan kali, Din. Udah lupa aja lo! Dulu aja nangis-nangis pas bini lo meninggal. Pake bilang, gimana gue bisa hidup tanpa bini gue? Boong banget lo! Nih lo mau nikah lagi! Dasar laki-laki kerdus!" balas Pak Juki.
Ayah hanya diam saja memperhatikan ketiga rekan sejawatnya bertengkar memperebutkan seorang janda. Dalam hatinya timbul kekhawatiran.
Jenaka juga adalah seorang Janda. Benar kata Juna, Ia tak selamanya bisa melindungi Jenaka. Juna juga tak selamanya bisa berada di sisi Jenaka. Juna nantinya akan menikah dan punya keluarganya sendiri. Sedangkan dirinya?
Ayah menatap tangannya yang kini sudah keriput. Mampukah Ia terus melindungi Jenaka dari laki-laki seperti teman-teman di depannya. Yang memandang seorang wanita menjadi target karena statusnya yang seorang janda?
Namun melepaskan Jenaka pada Mandala hatinya sangat khawatir. Ia takut Jenaka kembali disakiti Mandala. Jika dengan Panca, Ia takut Jenaka semakin tertekan. Apa yang harus dilakukan?
****
__ADS_1