
Suasana bahagia setelah ijab kabul dilaksanakan berubah menjadi suasana panik manakala Jenaka yang habis mengucapkan selamat pada Panca mendadak pingsan.
Untung saja Mandala berdiri di belakangnya langsung sigap menangkap istrinya dan menggendongnya. Jenaka di baringkan di kamar pengantin yang sudah di dekor cantik.
Memang rencananya Jelita dan Panca akan menghabiskan malam pengantin di hotel, namun sudah menjadi tradisi di daerah sekitar untuk menghias kamar pengantin meski nantinya tidak akan digunakan.
Kini, kamar yang sudah dihias dan seharusnya diperuntukkan bagi pengantin baru justru dipakai oleh Jenaka. Mandala membaringkan istrinya dengan hati-hati.
Bunda datang dengan membawa minyak kayu putih dan ada saudara Jelita yang membawakan air teh hangat.
"Dibuka saja dulu jilbabnya agar tidak engap." saran saudaranya Jelita.
"Iya." Mandala membukakan jilbab istrinya sembari mengipasinya dengan kardus bekas air mineral. Tak ada AC di kamar Jelita, hanya kipas angin yang tak mampu menghalau udara yang panas.
"Jena tadi ngeluh sakit, Nak Mandala?" tanya Bunda.
"Enggak, Bun. Sehat-sehat saja sejak tadi. Mungkin karena enggak sarapan pagi makanya dia pingsan." jawab Mandala.
"Loh dia enggak sarapan dulu? Bukannya tadi mengambil sarapan dan dibawa ke kamar ya?" tanya Bunda.
"Itu buat Mandala, Bun. Jenaka enggak mau sarapan katanya mau makan karedok saja di resepsi. Dia dari kemarin udah bilang mau makan karedok hajatan, makanya sengaja ngosongin perut buat makan karedok."
"Ah Jena mah suka aneh! Kalau tadi sarapan dan siang makan disini juga enggak ada yang ngelarang! Sekarang malah nyusahin orang! Mana ini kamar pengantin dia yang perawanin lagi! Bener-bener deh Bunda heran sama anak Bunda yang satu ini!" omel Bunda.
Mandala hanya tersenyum mendengar keluhan mertuanya tentang istri tersayangnya. Ia menutupi kekhawatirannya dengan tersenyum.
Mandala tak yakin penyebab pingsan Jenaka adalah karena tidak sarapan. Jenaka sering lupa sarapan dan baik-baik saja. Ini sampai pingsan berarti ada sesuatu.
"Bunda ke depan dulu ya. Enggak enak disini lama-lama. Bunda titip Jena ya, nanti Bunda ambilkan makanan. Karedoknya juga Bunda ambilin biar banyak!"
"Iya, Bunda. Makasih."
Mandala memegang jari tangan Jenaka yang semula dingin kini mulai menghangat. Matanya sudah mulai bergerak-gerak, pertanda Ia sudah sadar dari pingsannya.
"Kak... Ini dimana?" tanya Jenaka dengan suara lemah.
"Di kamarnya Jelita." jawab Mandala.
"Kok bagus sekali sih? Ada hiasannya?" Jenaka sepertinya belum sepenuhnya sadar.
"Iyalah bagus. Ini kan kamar pengantin mereka!"
"Hah?" Jenaka terkejut dan membuka matanya lebih lebar. Melihat keadaan sekitar dan benar saja kini Ia berada di kamar pengantin Jelita dan Panca. "Ya Allah, aku pasti ngerusuh deh!"
__ADS_1
"Udah jangan dipikirkan." Mandala membantu Jenaka duduk dan bersandar di header board. "Minum dulu air hangatnya."
Mandala mengambilkan air hangat dan memberikan pada Jenaka.
"Udah. Lama enggak aku pingsannya?" tanya Jenaka yang menolak minum banyak.
"Sebentar. Paling 15 menit. Kamu kenapa pingsan? Lapar?" Mandala memeriksa kening Jenaka, takut demam.
"Entah. Mungkin saja karena aku lapar. Tadi tiba-tiba pandanganku terasa gelap. Aku enggak ingat apa-apa lagi dan saat terbangun sudah berada disini."
Tok...tok...tok...
"Bunda bawa makan nih. Karedoknya udah Bunda ambilin juga." Bunda masuk ke dalam kamar dan menyerahkan sepiring nasi dan lauk yang isinya lumayan banyak.
"Makasih, Bunda. Wah... Karedok! Ya ampun, seger banget ini kayaknya. Jena makan ah." Jenaka mengambil piring yang Bunda bawa lalu memakannya dengan lahap. Seperti orang yang tak pernah makan sebelumnya.
"Pelan-pelan Sayang. Nanti kamu tersedak!" omel Mandala penuh kasih.
"Aku lapar banget karena tadi pagi enggak sarapan dan asli... karedoknya enak banget!"
"Iya. Kalau kurang kamu bisa nambah, tapi pelan-pelan ya makannya!" Mandala mengambil sehelai tisu dan membesihkan pipi Jenaka yang terkena bumbu kacang.
Kembali terdengar pintu kamar diketuk. Kali ini Melisa yang datang. Ia terlihat khawatir dengan keadaan Jenaka.
Jenaka yang mulutnya penuh dengan makanan hanya menjawab dengan anggukan.
"Baik, Mel." Mandala yang membantu menjawabnya.
"Syukurlah. Tadi aku mau ikut masuk ke dalam, tapi kata saudanya Jelita lebih baik di luar saja karena di dalam agak gerah. Kasihan kamu kalau aku ikut masuk juga."
"Enggak apa-apa Mel. Aku hanya lapar karena belum sarapan. Ini aku lagi makan karedok. Enak banget deh. Kamu mau?"
Melisa menggelengkan kepalanya. "Buat kamu aja. Kalau kurang, biar aku ambilkan lagi. Di depan ramai. Banyak tamu dari tetangga Jelita yang datang. Padahal mereka sebentar lagi harus pergi ke hotel."
"Iya. Aku juga harus ke hotel!" Jenaka ingat dengan tugasnya.
"No! Kamu baru saja pingsan! Kita ke dokter dulu baru kalau keadaannya baik-baik saja kita nyusul ke hotel!" kata Mandala dengan tegas.
"Tuh denger kata suami kamu! Toh kamu sudah menghadiri akad nikahnya. Tak masalah kalau tak datang di resepsinya juga. Kesehatan kamu lebih utama, Jen!" Melisa mendukung apa yang Mandala katakan.
"Iya...iya... Aku udah baik-baik saja loh sekarang!"
"Enggak boleh! Tetap ke dokter dulu!"
__ADS_1
Sesuai perintah Mandala, sehabis makan Jenaka ijin pulang duluan karena mau ke dokter untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.
Untung saja masih ada dokter yang praktek. Kalau hari sabtu biasanya jadwal praktek dokter tidak full dan lumayan antri.
Mulanya Jenaka ke dokter penyakit dalam yang akhirnya dirujuk ke dokter kandungan.
"Kenapa ke dokter kandungan?" tanya Jenaka heran.
Mandala hanya menjawab dengan senyuman, Ia tahu apa alasannya.
Setelah diperiksa oleh dokter kandungan, Jenaka dinyatakan positif hamil. Senyum di wajah Mandala semakin lebar saja. "Alhamdulillah." ucap syukurnya seraya mengecup kening istrinya.
"Tolong banyak istirahat dulu ya Pak. Jangan terlalu kelelahan dan banyak makan yang bergizi. Nanti saya resepkan vitamin dan jangan lupa minum susu hamil juga ya. Biar kebutuhan vitamin dan mineralnya tercukupi." pesan dokter yang memeriksa.
"Baik, Dok!"
Mandala memperlakukan Jenaka seperti bayi yang tak boleh tergores sedikitpun. Sesekali Ia mengecup kening Jenaka di depan banyak orang. Membuat Jenaka menutupi wajahnya karena malu.
"Kita kasih kejutan Ayah dan Bunda setelah mereka pulang dari gedung." ujar Mandala.
"Loh kita enggak ke gedung juga?"
"Enggak! Kamu harus banyak istirahat! Pokoknya aku enggak mau kamu kecapekan! Mulai besok aku akan membayar jasa asisten rumah tangga. Kamu enggak boleh melakukan pekerjaan rumah. Kamu harus menjaga kesehatan kamu dan anak kita. "
"Iya... Iya..."
****
Melisa menatap resepsi pernikahan Panca dengan sejuta impian . Ia juga akan segera berada di pelaminan dengan Juna, segera. Ia yakin itu.
Melisa kembali menghubungi nomor ponsel Juna dan harus menelan rasa kecewa karena hanya operator yang menjawab panggilannya.
Melisa menatap layar Hp miliknya dengan hampa. Sudah sejak kemarin Juna tak bisa dihubungi. Apakah Juna baik-baik saja?
"Ada apa Nak Melisa?" tanya Bunda yang sejak tadi memperhatikan kekhawatiran Melisa.
"Juna... Hp-nya enggak aktif, Bun."
Bunda tersenyum. "Melisa baru mengalami sekarang ya? Bunda sudah sering mengalaminya. Dulu malah Jenaka yang sampai sakit karena tak bisa menghubungi Juna. Sabar ya, salah satu kekhawatiran tentang Juna adalah saat Ia tak bisa dihubungi. Jadi, hanya Allah yang menjadi tempat Bunda menitipkan Juna."
****
Hi semua!
__ADS_1
Jangan lupa vote dan likenya ya... Maacih 🥰🥰🥰😘😘😘