
"Perkenalkan, nama aku Panca. Kamu?" tanya Panca.
"Jelita. Nama aku Jelita." jawab perempuan yang kini duduk di kursi penumpang mobilnya.
Jelita setuju diantar oleh Panca sebagai wujud tanggung jawab Panca selaku penabrak. Jelita sebenarnya baik-baik saja. Ia jatuh karena kaget bukan karena tersenggol mobil Panca. Hanya rok miliknya yang agak kotor namun tak ada luka sama sekali.
"Boleh tau kamu mau ke gedung itu untuk apa?" tanya Panca membuka percakapan. Tak enak rasanya hanya mendengar suara dari radio mobil saja.
"Aku mau menghadiri pernikahan sahabatku. Acaranya sih jam 11, tapi aku mau menjadi sahabatnya yang hadir saat dilaksanakan ijab kabul." jawab Jelita.
"Baik sekali kamu. Sudah lama kalian sahabatan?" Panca terus membuka obrolan. Tak mau suasana akrab yang sudah mencair kembali kaku.
"Hmm... Sudah lumayan lama sih. Kami kenal sejak masih SD sampai Ia akhirnya nikah duluan. Udah puluhan tahun sahabatan." Jelita tersenyum membayangkan persahabatannya yang sudah berpuluh tahun tersebut. Banyak kenanan manis dan pahit mereka alami berdua.
"Dia nikah duluan, berarti kamu belum? Maksud aku, kalau dalam pelajaran bahasa jika dibilang dia nikah duluan berarti kamu belum dong. Iya kan?" Panca yang grogi malah berkata berputar-putar.
"Maksudnya kamu mau ngetawain aku yang telat nikah gitu?" ledek balik Jelita. Rupanya Jelita tipikal cewek asyik yang tak mudah baperan.
"Ha...ha...ha... Enggak kok. Enggak ngetawain. Malah kamu yang seharusnya ngetawain aku karena aku baru saja ditinggal nikah sama tunanganku! Ups... Malah jadi curhat ha...ha...ha...."
Tak disangka Jelita malah ikut menertawakan perkataan Panca. "Belum jodoh itu mah. Tapi aku turut sedih sih mendengarnya. Kenapa? Dia selingkuh?"
Jelita terlihat nyaman mengobrol dengan Panca, Ia bahkan tak sungkan menanyakan kehidupan pribadi Panca meski mereka tak memiliki hubungan yang dekat.
"Hmm... Dibilang selingkuh, enggak juga sih. Dia udah mutusin aku duluan tapi aku enggak mau. Lalu saat hubungan kita sudah dianggap berakhir eh ternyata dia rujuk sama mantan suaminya." Panca mencurahkan isi hatinya tanpa ada yang disembunyikan lagi, mungkin ini yang seharusnya Ia butuhkan. Teman curhat.
"Wait! Maksudnya mantan tunangan kamu itu... jendes?" tebak Jelita.
"Yup! Anda benar! Dia adalah sahabatku sejak SMA. Aku yang terlalu menyukai dia, sementara dia sudah mentok cintanya sama satu orang saja. Mau aku usaha tetap saja tak bisa. Aku pikir saat Ia bercerai, aku punya kesempatan. Ternyata jalannya berbeda yaudah... berakhir sudah."
Lalu lagu yang diputar di radio seakan menyindir Panca.
🎶 Kini harus aku lewati
Sepi hariku tanpa dirimu lagi
Biarkan kini ku berdiri
Melawan waktuku 'tuk melupakanmu
__ADS_1
Walau pedih hati namun aku bertahan🎶
(Glenn Fredly, Akhir Cerita Cinta)
"Wah kamu disindir pakai lagu nih! Ha...ha...ha... " Jelita tertawa ngakak menertawai kemalangan Panca.
Panca tak marah, Ia justru heran kenapa Ia bisa ikut tertawa menertawai sakit hatinya? Sungguh sebuah cara yang aneh menyembuhkan luka hati.
"Itu gedungnya?" tanya Panca.
"Iya." jawab Jelita. "Aku turun di depan saja!"
"Jangan dong! Aku tuh laki-laki gentle, masa sih nurunin perempuan di pinggir jalan? Aku juga akan ikut turun."
Jelita terkejut. "Loh mau apa?"
"Mau numpang ke toilet. Aku nahan sejak di taman, mau ke toilet dari tadi antri. Sekalian ganti baju. Aku rencananya mau jalan-jalan habis ini." Panca memberitahu rencananya meski Jelita tak bertanya.
"Oh yaudah." Jelita tak enak hati. Dipikirnya Panca mau mengikutinya ke dalam gedung.
Panca memarkirkan mobilnya di parkiran mobil. Mereka berpisah di depan gedung. Panca mengambil arah ke kiri arah toilet, sedangkan Jelita ke arah kanan.
Panca tersenyum kecut, "Cuma mau jalan-jalan sendiri di Mall dandananku udah kayak mau ngapel. Sedih sekali!" batin Panca.
Panca lalu keluar dari toilet dan mendapati sudah banyak orang di depan gedung. Jelita nampak dikerubuti oleh teman-temannya.
"Kapan nih Jelita nyusul Anggie?" ledek teman-temanmya. "Temenan dari SD, nikahnya juga barengan dong!"
Jelita tersenyum menanggapi ledekkan temannya. "In sha Allah. Doakan saja!"
"Jelita beneran dateng sendirian? Masih jomblo setelah ditinggal Radit?" ada lagi temannya yang bertanya tanpa sadar sudah melukai hati Jelita.
Radit adalah mantan pacar Jelita yang akan menikah dengan Anggie, sahabatnya. Sejujurnya lagu di radio Panca tadi lebih menyindir dirinya dibanding Panca.
Jelita awalnya tak mau datang ke nikahan mereka, tapi dengan absennya ke acara nikahan Anggie malah akan membuat rumor tentang dirinya yang belum move on makin tersebar luas di circle pertemanannya.
"Kamu disini, Sayang?" Panca yang datang langsung bersikap sok akrab dengan Jelita. Matanya mengedipkan kode kalau mereka harus bekerja sama.
"Eh... I-iya. Kamu nyariin aku ya?" Jelita memainkan perannya dengan baik. Tak terlihat kebohongan sama sekali.
__ADS_1
Teman-teman Jelita langsung heboh setelah kedatangan Panca.
"Wah... Ternyata diam-diam Jelita sudah punya pacar ya? Eh kamu pacaran? Bukannya kamu enggak mau pacaran?" tanya salah seorang teman Jelita.
"Kami enggak pacaran, sudah tunangan malah." jawab Panca tanpa pikir panjang. Dalam hatinya hanya berniat menolong Jelita bagaimanapun caranya.
"Beneran? Gokil sih Jelita, begitu dateng bawa berita heboh. Selama ya!" ujar temannya Jelita.
"Iya, calonnya ganteng banget lagi! Ketemu dimana?"
Jelita dan Panca saling beradu pandang. Siapa yang akan mengarang kebohongan berikutnya?
"Em... Ketemu di jalan. Aku enggak sengaja keserempet mobil nya dan ... yah begitulah akhirnya jadi seperti ini." Jelita tak sanggup berbohong. Panca tau itu. Karena itu sejak tadi Panca yang mewakili Jelita untuk berbohong.
"Ih so sweet banget. Kisah kalian kayak FTV gitu. Cintaku berawal dari keserempet mobil ha... ha... ha... " teman-temannya menertawakan joke yang dibuat teman satu team mereka sendiri.
Jelita tersenyum kecut. Entah akan menjadi apa kisah kebohongan ini nantinya.
"Eh udah mau mulai tuh acaranya! Ayo masuk!" ajak teman Jelita. "Ajak tunangan lo juga, Ta!"
Mau tak mau Jelita mengajak Panca. Mereka jalan paling belakangan. Tujuannya apalagi kalau untuk membicarakan kebohongan mereka sambil berbisik pelan.
"Maaf! Aku cuma mau nolongin kamu!" ujar Panca.
"Huft... Kenapa jadi seperti ini?" keluh Jelita.
"Udah tenang aja. Bilang aja nanti kita putus atau apa kek. Itu mah urusan belakangan! Yang penting kamu enggak diledekkin sama mereka lagi!" bisik Panca.
"Makasih. Aku tau niat kamu baik."
Mereka berdua pun duduk bersebelahan. Anggie melihat ke arah Jelita dengan terkejut, tak menyangka Jelita sudah punya tunangan tanpa sepengetahuannya. Sementara Radit hanya mampu menunduk, tak berani melihat Jelita yang sudah Ia khianati.
"Itu mantan kamu?" tanya Panca sambil berbisik.
Jelita menjawabnya dengan anggukan.
"Angkat wajah kamu! Hari ini kamu sama aku! Kamu menang, tidak kalah. Lihatlah dengan jelas, setidaknya aku lebih tampan dari mantan kamu! Kamu sudah menang satu poin dari sahabat kamu!" ujar Panca penuh percaya diri.
Jelita tersenyum, Ia harus menahan tawanya mendengar ocehan Panca. Ya, setidaknya hari ini Ia bisa menghadiri pernikahan sahabatnya dengan senyuman bukan dengan derai air mata.
__ADS_1
***