Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Cobaan Belum Berakhir


__ADS_3

Benar yang Bunda katakan, berdoalah dengan sering. Berdoa terus. Jangan pernah bosan. Sampai Allah bosan mendengar doa kita dan mengabulkan permintaan kita.


Ada suatu ceramah yang Mandala pernah dengar, kenapa doa si fulan lebih di dengar?


Jawabannya adalah si fulan selalu berdoa. Tak pernah berhenti berdoa. Allah makin mengenal si fulan karena sering hadir dalam setiap doa yang dipanjatkan. Allah sampai hapal setiap doanya dan akhirnya mengabulkan.


Si fulan amat dicintai sama Allah. Ia selalu menyapa Allah dengan cara berdoa. Ibaratnya orang pacaran, rasa sayang akan tumbuh jika selalu ingat orang yang dicinta dan selalu melihatnya. Allah pun begitu, semakin kita sering berdoa meminta pada sang pemilik kuasa, maka kita pun akan disayang.


Hal itu pula yang Mandala amalkan. Ia rajin sholat malam untuk meminta agar Allah melembutkan hati Ayah agar mau menerimanya kembali sebagai menantu.


Usahanya tak sia-sia, Ayah merestui Mandala dan Jenaka kembali membangun mahligai rumah tangga. Mengenai permintaan Ayah agar mereka tetap tinggal di rumah Ayah selama 6 bulan bukanlah masalah. Yang penting bisa menyatukan ikatan pernikahan mereka kembali.


"Saya terima nikah dan kawinnya Jenaka Putri binti Lukman Hadi dengan mas kawin emas sebesar 100 gram dibayar tunai!" Mandala mengucapkannya dengan penuh keyakinan. Suaranya bergetar menahan gugup dan rasa haru yang tiba-tiba menyeruak.


Mandala menikahi Jenaka seperti saat pertama kali dulu, namun situasi kali ini berbeda. Ada ikatan cinta diantara mereka.


Jika mengingat dulu Ia begitu mempermainkan makna pernikahan, Ia sangat menyesal. Ia baru menyadarinya setelah kehilangan Jenaka. Ia lebih menyesal saat tahu kalau sulit mendapatkan Jenaka kembali. Banyak aral melintang yang harus Ia hadapi.


"Sah?" tanya pak penghulu.


"SAAHHH!" teriak Genta dengan suara paling lantang diantara yang lain.


"SAAAAHHH" Juna juga tak mau kalah. Teriakan Juna dan Genta membuat perhatian yang hadir teralihkan, mereka menertawai ulah mereka berdua yang begitu bersemangat.


Mandala tersenyum. Dalam hatinya mengucap syukur. Ia kini sudah halal dan sudah menjadi suami Jenaka yang sah.


"Silahkan memakaikan cincin pernikahan. Boleh dicium sedikit pengantinnya." goda Pak Penghulu.


"Maunya banyak, boleh Pak?" gurau Mandala.


"Nanti malam aja, Tong! Udah halal ini!" celetuk Pak Penghulu yang membuat Mandala menuai tawa.


Mandala mengambil cincin pernikahan yang baru, dengan ukiran nama keduanya di dalam. Mandala memakaikan cincin di jari manis Jenaka lalu mencium kening Jenaka.


1...


2...


3...

__ADS_1


"Woy! Lama banget nyiumnya! Udah laper nih!" sindir Genta.


"Iya bener! Jangan lama-lama, kasihan yang jomblo!" celetuk Juna yang kini satu kubu dengan Genta.


"Sirik aja lo berdua!" keluh Mandala yang akhirnya melepaskan ciumannya.


Jenaka tersenyum melihat interaksi Mandala, Genta dan Juna yang saling meledek padahal Pak Penghulu masih ada didepan Mandala.


Seusai pembacaan doa, semua tamu melakukan makan bersama. Sesuai permintaan Ayah, acara dilangsungkan dengan sederhana. Hanya keluarga dekat saja.


Bunda juga mendukung keputusan Ayah. Bunda mau acara pernikahannya ditutup dengan liwetan bareng, biar seru katanya. Cukup keluarga dan orang terdekat saja yang hadir. Yang penting syarat sah pernikahan bisa terlaksana.


Jenaka pun hanya mengenakan kebaya yang dipesankan oleh Mami Nina. Ada yang berbeda kali ini. Jenaka mengenakan hijab di acara pernikahannya.


Jenaka membuat janji dengan dirinya sendiri, jika memang Ia diberi kesempatan untuk berumah-tangga kembali dengan Mandala, maka Ia akan belajar memakai hijab sampai akhirnya bisa menutup rapat seluruh auratnya kelak.


"Masya Allah istriku cantik sekali." puji Mandala tak bosan-bosannya. Ia juga sering sekali memandang Jenaka sampai diledekkin Juna dan Genta.


"Lumer deh tuh Jena dipandangin terus!" ledek Juna.


"Kayak kucing garong lo Man, lagi liatin ikan yang diincer. Jangan sampai lengah dikit aja, tuh ikan udah disamber sama lo!" tambah Genta.


"Sombong bener! Kemarin aja mukanya sedih banget belum dapetin Jenaka! Sekarang udah sombong! Ingat, cobaan belum berakhir Bos!" sindir Genta seraya melirik ke arah Ayah. Genta lalu berbisik pelan, "Mamam lo enggak bisa main freestyle dan agak frontal! Mendesah dikit si Jenaka dikira lagi disiksa sama lo! Bisa didobrak tuh pintu!"


"Enggaklah!"


"Yakin?"


"Enggak sih! Udah ah gangguin gue lagi memandang istri cantik gue aja!" usir Mandala.


"Ayo semuanya duduk yang rapi. Daun pisangnya mau digelar. Kita liwetan!" Mami Nina memberi pengumuman.


Benar-benar acara pernikahan yang beda dari yang lain. Halaman rumah Jenaka kini diubah menjadi lesehan tempat makan liwetan bareng.


Daun pisang pun mulai digelar. Lalu Bunda, Mami Nina dan dibantu Mala beserta saudara Bunda mulai mengisinya dengan nasi liwet dan lauk.


Tak lupa sebelum mulai makan didahulukan dengan berdoa bersama. Mereka pun makan bersama sambil bercengkrama. Sesekali menggoda pengantin baru.


"Nanti malam belah duren nih! Eh bukan belah duren lagi ini mah! Langsung tancap gas!" ledek paman Jenaka.

__ADS_1


"Jangan gas dulu. Pemanasan dulu. Maklum udah dua tahun enggak dipanasin. Biar lebih mantap aja!" ledek yang lain. Mereka saling sahut-sahutan meledek namun Jenaka dan Mandala hanya senyum-senyum saja.


Boro-boro tancap gas, belah duren aja belum pernah sama sekali!


Lulu dan Lily yang hadir ternyata duduk di depan Juna dan Genta. Mereka saling mengobrol dengan akrab sesekali menunjuk ke arah Mandala dan Jenaka. Jelas sekali siapa yang jadi subyek pembicaraan mereka.


Acara pun berakhir, satu per satu tamu yang hadir mulai pulang. Meninggalkan rumah Jenaka yang kembali sunyi.


Mandala hendak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, bersiap untuk malam pengantin mereka yang sebenarnya. Mandala sampai senyum-senyum sendiri membayangkan hal indah bersama Jenaka.


"Maman! Bantu Ayah sapuin halaman depan rumah!" perintah Ayah sambil mengetok pintu kamar Jenaka.


Mandala membukakan pintu, "Kenapa, Yah?"


"Jangan tidur dulu! Ayo bantu beresin depan rumah! Udah enggak ada tamunya. Kita rapihin!" perintah Ayah.


"Iya, Yah." Mandala pun nurut. Bisa apa dia? Mau dipecat jadi menantu? Toh semua berantakan karena pesta pernikahannya, masa sih Mandala enggak membantu sama sekali?


"Nih sapunya! Sapuin!" Ayah memberikan sapu lidi untuk Mandala bekerja membersihkan halaman.


Mandala yang dibesarkan dengan manja oleh Mami Nina, menyapunya agak berantakan. Beberapa kali Ayah menegurnya.


"Nanti buang sampahnya di depan. Jangan sampai ada yang ketinggalan! Ayah mau mandi dulu!" Ayah pun meninggalkan Mandala yang menyapu halaman seorang diri.


Mandala meregangkan pinggangnya yang terasa pegal karena tak terbiasa menyapu halaman. Kalau bukan Ayah yang menyuruh, Mandala lebih baik membayar orang deh buat mengerjakannya.


"Ehem!" suara deheman seorang pria membuat Mandala menengok ke asal suara.


Panca?


"Assalamualaikum." ucap Panca.


"Waalaikumsalam. Eh ada Pak Panca. Masuk!"


"Panca aja manggilnya." Panca mengulurkan tangannya. "Selamat ya. Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah."


Mandala membalas uluran tangan Panca. "Aamiin." Mandala tersenyum didoakan oleh mantan saingan cintanya.


"Boleh ketemu Jena?"

__ADS_1


****


__ADS_2