
Melisa berusaha membaca apa yang Juna pikirkan, namun tetap saja Juna tak terdefinisikan. Ia menatap lurus ke depan dengan tatapannya yang kosong.
"Apa yang kamu suka dari aku?" tanya Juna.
"Apa yang aku suka dari kamu? Kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya balik Melisa.
"Jawab saja! Apa yang kamu suka dari aku?"
"Tentu saja semuanya." jawab Melisa tanpa pikir panjang.
"Pekerjaanku?"
"Ya, tentu saja aku menyukainya." jawab Melisa penuh keyakinan.
"Keluargaku?"
"Iyalah. Keluarga kamu adalah keluarga yang penuh kehangatan. Aku merasa sudah seperti berada di dekat keluargaku sendiri."
"Lalu diriku?"
Melisa kini tersipu malu. "Enggak perlu ditanya. I love you so much!"
Juna menyunggingkan seulas senyum. "Kalau seandainya aku hanya seorang pemuda yang ingin mengejar mimpinya saja dan bukan seorang abdi negara, apa kamu akan tetap menyukaiku?"
Melisa mengangkat wajahnya. Mata keduanya kini bertemu. "Maksud kamu apa?"
"Bunda pernah bilang, kejarlah impianku. Kamu tau apa impianku?"
Melisa mengangguk. "Punya perusahaan games." jawab Melisa dengan penuh keyakinan.
"Benar. Itu impian aku. Jujur saja, menjadi abdi negara adalah keinginan Ayah dan bukan keinginanku. Kenapa aku memberi kamu waktu sebulan, karena aku mau bertanya sama kamu. Kamu menyukai aku yang seperti apa? Kalau kamu menyukai aku yang seorang abdi negara, aku akan mengikuti keinginan kamu dan kita akan menikah setelah semua syarat terpenuhi. Mungkin agak lama prosesnya, aku akan pergi ke daerah konflik terlebih dahulu, "
"Namun kalau kamu menyuikaiku apa adanya, maukah kamu membantu aku mewujudkan mimpiku? Tentu saja ada konsekuensinya. Kamu akan menikah dengan seorang pemuda pengangguran yang melepaskan pekerjaannya demi menggapai cita-citanya selama ini. Apakah aku masih membanggakan di mata kamu setelah aku melakukan itu? Kalau kamu memilih pilihan kedua, maka dalam waktu sebulan kita bisa menikah."
"Kamu... Kamu beneran mau berhenti jadi abdi negara?" tanya Melisa tak percaya.
"Semua tergantung kamu. Aku akan menjadi seperti yang kamu mau."
"Jangan begitu! Kamu harus menjadi apa yang kamu mau!"
Juna tersenyum. "Aku terbiasa menuruti apa kemauan orang lain. Karena itu aku kembalikan semuanya ke kamu. Aku mau menjadi seseorang yang membuat kamu bangga, bukan membuat kamu malu."
__ADS_1
Melisa menggelengkan kepalanya. "Kamu enggak pernah membuat aku malu! Dengan kamu jujur seperti ini justru membuat aku bangga! Aduh aku pengen pegang tangan kamu nih! Aku takut aku sendiri yang tak kuat membuat keputusan!"
Tak disangka Juna menggamit tangan Melisa dan memegangnya erat. "Jadi bagaimana keputusan kamu?"
"Habis pegangan tangan boleh peluk dan cium?" nego Melisa.
"Nanti kalau sudah sah!" omel Juna. "Jadi bagaimana?" Juna kembali mengulangi pertanyaannya.
"Gimana apanya?" tanya Melisa. Rupanya konsentrasinya buyar karena tangannya dipegang oleh Juna. Rasa deg-degan mengalahkan segalanya.
"Bagaimana keputusan kamu? Aku akan melepas pekerjaanku dan menjadi pengangguran demi mengejar mimpiku!"
Melisa kini mendapatkan kembali kesadarannya. Jika Juna punya syarat seperti itu, maka dirinya juga punya syarat.
"Sebelum aku menjawab pertanyaan kamu, boleh aku mengajukan pertanyaan?" tanya balik Melisa.
"Tentu. Boleh aja." jawab Juna, Ia lalu menarik tangannya dari tangan Melisa yang menggenggamnya erat. "Pegangannya udahan dulu ya."
Dengan terpaksa Melisa melepaskan tangan Juna. "Lumayanlah bisa pegangan tangan walau sebentar saja, sudah melepas rindu." batin Melisa.
"Pertanyaannya apa Mel? Mel? Kok malah bengong sih!" Juna menyadarkan Melisa dari lamunannya.
"Kata siapa aku bengong? Aku tuh lagi mikir!" Melisa mempertahankan harga dirinya. Jangan sampai Juna tahu kalau Ia begitu menginginkan berpegangan tangan lagi dengan Juna.
"Ya kan karena kamu melamarku!" jawab Juna dengan polosnya.
"Bukan itu. Kamu kan bisa menolak lamaran aku waktu itu kalau kamu memang tak mau menikah denganku!" Melisa jadi kesal mendengar jawaban Juna.
"Maaf. Jujur saja aku tidak banyak pengalaman tentang berhubungan dengan cewek. Bunda bilang kalau aku menyukai kamu sedikit saja sudah cukup."
"Lalu?" Melisa melipat kedua tangannya di dada. Menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Juna.
"Ya karena aku menyukai kamu sedikit maka aku mau menikahi kamu."
"Hanya sedikit aja?" tanya Melisa lagi, Melisa menahan dirinya yang ingin bersorak gembira demi terlihat keren di depan Juna. Padahal menurut Melisa, Juna sangat menggemaskan. Cowok paling polos yang pernah dia kenal.
"Sekarang memang masih sedikit. Tapi selama ini hanya kamu yang pernah aku sukai! Sumpah! Aku enggak bohong!"
"Ah... Kamu cute banget! Kamu tau enggak, kata-kata kamu tuh lebih membuat aku melayang daripada kata-kata lelaki jago gombal lainnya!"
"Jadi, bagaimana keputusan kamu? Aku tuh menunggu jawaban kamu tau. Masih ada lagi enggak yang kamu mau tanyain sama aku sebelum aku dengar jawaban kamu apa?"
__ADS_1
"Sabar dong, Sayangku. Aku tuh mau memastikan sesuatu. Saat kamu memilih mengejar mimpi kamu, apakah ada nama aku didalamnya?"
"Ya ada dong! Kamu kan yang membuat aku berpikir kalau impian itu untuk diperjuangkan bukan untuk diratapi!"
"Lalu antara mimpi kamu dan aku, mana yang akan kamu utamakan lebih dahulu?"
"Ya liat prioritasnya dulu dong. Tapi aku selalu prioritasin kamu dulu sih. Mimpi masih bisa dikejar, tapi kalau kamu sampai kenapa-napa aku bisa menyesal seumur hidup aku."
Tanpa pikir panjang Melisa memeluk Juna Membuat Juna sangat terkejut dibuatknya.
"Mel! Jangan begini dong! Kita tuh bukan muhrim!" omel Juna.
"Aku mau cium kamu juga boleh?" tanya Melisa tanpa berusaha melepas pelukannya.
"Mel! Lepasin dulu! Enggak enak! Kita enggak boleh begini!" Juna terlihat panik. Ia baru kali ini skinship dengan perempuan selain dengan Jenaka dan Bunda.
Melisa akhirnya melepaskan pelukannya. "Kalau kamu mau mengejar mimpi kamu, aku dukung! Lakukan apapun yang membuat kamu bahagia! Aku akan bilang sama Daddy untuk mengajarkan kamu menggapai mimpi kamu! Dan mengenai kamu mau keluar dari pekerjaan kamu saat ini, lakukan apapun yang mau kamu lakukan. Dengan syarat, kamu hanya milik aku seorang!"
Juna tersenyum lega. Ia tak menyangka kalau Melisa sangat mencintainya dan menerima segala keadaannya. "Makasih ya Mel. Kamu banyak banget mendukung aku."
Juna merogoh saku celananya. Sebuah kotak berisi cincin emas. "Kemarin aku tak tahu kalau kamu mau melamarku. Aku tak mau mengecewakan kamu, padahal aku mau melamar kamu duluan saat aku sudah yakin dengan keputusanku. Kamu mau menikah denganku?"
Melisa begitu terharu dengan apa yang Juna lakukan. Bukan memberi cincin berlian dan karangan bunga mewah seperti kebanyakan lelaki lain.
Cincin yang Juna berikan juga hanya cincin yang Ia beli di toko emas yang berada di pasar. Namun niat Juna yang tulus membuat cincin tersebut menjadi lebih bernilai mahal dibanding berlian yang Melisa miliki.
Tanpa Melisa sadari air matanya sudah mengalir. Juna mau menghapus air mata Melisa namun tak boleh menyentuhnya.
"Aku mau! Aku mau jadi istri kamu!" jawab Melisa penuh haru.
Juna tersenyum, Ia memakaikan Melisa cincin yang melingkar dengan indah di jari manis Melisa. "Maafkan keterbatasan yang aku miliki. Aku janji akan memberikan yang lebih baik lagi untuk kamu kelak."
"Aku enggak butuh. Kalau kamu mau kasih, boleh dengan cium aku sekarang."
"Enggak boleh! Nanti saja setelah akad nikah!" tolak Juna.
"Sedikit aja deh!"
"Enggak!"
"Sedikiiiiiit aja!"
__ADS_1
"Enggaaaaakkkk!"
****