Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Jejak Cinta Jenaka


__ADS_3

Rasanya sudah lama sekali Mandala tidak menginjakkan kakinya di rumah pertama yang Ia beli dengan hasil kerja kerasnya. Rumah mewah miliknya yang penuh kenangan.


Meski kini harum parfum Jenaka tak lagi tercium, meski kini suara tawa candanya tak lagi terdengar, meski kini tak ada ulah jahilnya, rumah ini masih tetap menyimpan semuanya. Masih ada jejak cinta Jenaka dalam rumah ini.


Apa mungkin ini semua karena Mandala pada akhirnya menyadari kalau Jenaka adalah wanita pertama yang Ia sukai, sebelum Ia melabuhkan cintanya pada Kinara?


Andai Ia sadar kalau Jenaka adalah gadis berjilbab dengan lesung pipi yang dulu Ia tolong, mungkin kisah mereka tak akan berakhir menyedihkan seperti ini. Namun ternyata takdir Tuhan berbeda, tak ada yang pernah tau apa rencana yang sudah disiapkan untuknya.


Mandala melangkahkan kakinya ke lantai atas. Ia tidak langsung masuk ke kamarnya, langkahnya malah berbelok ke kamar bekas Jenaka dulu.


Tak ada yang berubah dengan kamar Jenaka. Mandala berpesan pada Mala, hanya boleh merapihkan kamar Jenaka namun tak boleh merubahnya sama sekali.


Mandala membuka lemari baju milik Jenaka, meski Ia tahu kalau tak ada yang tersisa disana. Semua sudah Jenaka bawa pergi. Mandala berharap lemari itu akan terisi lagi dengan pakaian Jenaka. Jenaka tak meninggalkan jejak satu pun barang miliknya. Seakan Mandala tak boleh memiliki satu kenangan pun dengannya.


Pandangan Mandala beralih pada sudut kosong tempat biasa Ia dan Jenaka sholat berjamaah. Mandala yang sudah lama meninggalkan kewajibannya, berhasil Jenaka tarik ke jalan yang benar kembali. Kini, tak sekalipun Mandala lalai dengan kewajibannya sholat limat waktu.


Mandala merebahkan tubuhnya diatas kasur milik Jenaka. Meski tak ada lagi aroma tubuh Jenaka yang tertinggal namun mampu membuat Mandala tertidur lelap. Mandala pun memutuskan mulai sekarang akan tidur di kamar Jenaka saja.


****


Mandala sedang melihat pemandangan di luar jendelanya. Kemacetan Jakarta sudah biasa Ia lihat, namun sudut matanya menyipit melihat papan billboard menayangkan iklan film kesukaannya akan tayang sesson ke 2.


Lagi-lagi Mandala teringat Jenaka. Teringat tentang janji mereka yang akan menonton lagi sesion ke 2 di bioskop yang sama dan jam yang sama.


Seulas senyum tersungging di wajah Mandala. Bolehkah Ia berharap Jenaka akan ingat janji mereka dan menepati janji mereka untuk menonton bersama?


Ya, meski Jenaka tak akan datang setidaknya Ia akan menepati janji yang pernah Ia buat dulu. Karena janji adalah hutang yang akan ditagih pertanggungjawabannya di akhirat kelak.


Mandala lalu membuka aplikasi untuk membeli tiket online. Ia pun memesan untuk hari sabtu besok dua buah tiket. Untuk dirinya dan untuk bayangan Jenaka yang masih membekas dalam ingatannya.


****


Jenaka melajukan mobil yang Ia kendarai sambil mengumpat atas kemacetan ibukota hari ini.


"Hallo, Pak Bos! Anak buahmu agak telat nih. Maaf banget ya Pak Bos! Semalam hujan, tidurnya terlalu nyenyak sampai alarm bunyi enggak kedengeran. Jalanan juga tidak bersahabat pada malaikat tanpa sayap sepertiku." kata Jenaka di telepon pada Panca. Ia menyetir sambil berbicara di earphone.

__ADS_1


"Kebiasaan nih! Sekretaris kok telat terus! Jangan bawa mobil kalau telat terus! Mentang-mentang udah punya mobil sendiri ya! Sana naik angkot aja biar enggak telat!" gerutu Panca.


Jenaka bukannya takut malah tertawa cekikikan. Ia tahu Panca tidak benar-benar marah padanya. "Kemarin katanya kalau naik angkot aku bau asap, terus ketiak aku basah karena keringet? Lupa? Hi...hi...hi... Makanya aku bawa mobilnya santai nih. Biar aku enggak keringetan dan tetap cetar membahenol."


"Iya... iya... Inget, ada meeting jam setengah 10 pagi! Datang sebelum meeting!" ujar Panca.


"Siap, Bos! By the way, aku juga enggak sempet sarapan nih! Boleh beliin sarapan juga enggak? Bagusnya kalo sarapan tuh makanan dengan gizi tinggi agar aku semangat bekerja."


"Astaghfirullah! Ini anak buah kenapa kurang ajar banget ya? Oke aku beliin kamu sarapan tapi-"


Jenaka kembali memotong perkataan Panca karena Ia sudah tau apa yang akan Panca katakan. "Tapi aku harus jadi istri kamu kan? Bosen ah ngomong gini melulu! Jangan lupa ya sarapannya Pak Bos! Dadah!"


Jenaka mematikan teleponnya sambil tertawa cekikikan. Panca memang dewa penolongnya. Kalau bukan karena Panca, entah bagaimana hidupnya saat ini.


Jenaka memberhentikan mobilnya di belakang garis putih. Baru saja lampu hijau berganti menjadi lampu merah. "Yah... Telat!"


Jenaka melirik jam di tangannya. Hampir jam setengah 9 pagi dan Ia ada meeting jam setengah 10. Semoga saja masih sempat, kalau tidak Panca akan memakannya hidup-hidup!


Jenaka melihat billboard besar di depannya. Billboard tersebut menayangkan iklan tentang film kesukaan Mandala yang dulu pernah mereka tonton bersama.


Jenaka mengetuk-ngetuk stir mobilnya sambil pikirannya terus menimbang-nimbang apakah akan pergi atau tidak. Namun janji adalah janji, biar bagaimanapun harus Ia tepati.


Jenaka lalu membuka aplikasi tiket online dan membeli dua buah tiket nonton untuk sabtu besok. Jenaka jelas tak akan mengajak Panca. Ia tak mau Panca terluka karena alasannya nonton adalah menepati janji pada Mandala. Biarlah Ia kosongkan kursi di sebelahnya. Anggap saja untuk masa lalu penuh luka namun ada juga sedikit tawa diantaranya.


Jenaka melajukan kembali mobilnya saat lampu merah berganti menjadi lampu hijau. Tanpa Ia ketahuii kalau sejak tadi mobil yang dikendarai berada tepat di samping mobil milik Mandala.


"Pagi Bosqu!" sapa Jenaka dengan senyum lebarnya. "Wah ada roti bakar. Baik bener deh bosqu ini. Udah nyediain sarapan buat sekretarisnya. Makasih ya Bosku tersayang!"


Panca menunjuk pipinya. "Bayarannya cium pipi aja!"


"Dih ogah! Bukan mahram! Dosa!"


"Pelit!"


"Biarin! Pelit aku tuh buat hindarin kamu dari dosa, Ca. Udah ah aku mau sarapan dulu. Meeting dengan siapa sih hari ini?" Jenaka mengambil roti bakar yang Panca berikan lalu mulai memakannya. Susu cokelat panas juga Panca belikan sebagai teman sarapan Jenaka.

__ADS_1


"Dengan Prabu Group."


Uhuk... uhuk... uhuk... Jenaka sampai tersedak mendengarnya.


"Biasa aja! Masih belum move on ya?" Panca membantu menepuk punggung Jenaka agak berhenti batuk.


"Bukan masalah move on." Jenaka meminum hot chocolate miliknya. "Kaget aja. Aku belum nyiapin materinya. Ruang meeting tadi aku lihat udah beres, tinggal pesan cemilan aja."


"Enggak usah cemilan, Jen. Air mineral cukup. Meeting sama bagian marketing doang kok!" ujar Panca sambil tertawa-tawa.


"Ih rese banget jadi orang. Pantas saja di jadwalku enggak ada meeting. Kirain ada meeting dadakan gitu! Nyebelin!"


"Ya jangan marah dong! Aku kan becanda. Sebagai permintaan maafku, besok aku traktir nonton sama makan deh. Gimana?"


"Enggak usah, Ca. Makasih. Besok aku mau ke salon. Luluran sekaligus facial." Jenaka sengaja berbohong. Besok Ia harus menepati janji. Jangan sampai Panca tau.


"Yaudah aku temenin deh lulurannya." Panca tentu tak mau melewatkan weekend bersama Jenaka. Segala penawaran Ia ajukan.


"Ini spa dan salon khusus wanita, Ca. Jangan aneh-aneh deh!


"Yah... Yaudah aku jemput sehabis kamu pulang dari salon gimana? Pasti kamu udah wangi banget tuh!"


"Aku mau pergi ke pameran buku sama Ayah."


"Aku mau sekalian ke Taman Puring juga. Ikut ya. Ayah pasti setuju kalau aku ikut." Panca masih usaha agar Jenaka mau mengajaknya.


"Yaudah, aku enggak jadi kemana-mana deh!"


"Ih aneh! Enggak mau banget jalan sama aku!" rajuk Panca. "Mau kencan buta ya? Janjian sama siapa? Mencurigakan banget!"


"Aku mau menepati janjiku, Ca. Karena sekecil apapun sebuah janji harus ditepati."


"Janji sama siapa?" selidik Panca.


"Maaf, aku enggak bisa bilang sama kamu Ca."

__ADS_1


****


__ADS_2