Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Karena Kamu Milikku


__ADS_3

Panca meninggalkan Jenaka untuk memesankan es kopi untuknya. Ia sedang di depan kasir saat Melisa menghampirinya.


"Hayo! Mau pesenin es kopi dengan whipped cream yang banyak ya buat Jenaka? Katanya sayang, tapi kok kasih minuman yang enggak sehat?" sindir Melisa.


Panca pun berubah pikiran. Benar apa yang Melisa katakan. Ia sayang Jenaka, maka mulai sekarang harus membatasi konsumsi Jenaka terhadap gula.


"Mbak, pesan es kopi dengan gula low calorie aja dua!" Panca memberikan kartunya untuk membayar pesanannya.


"Nah gitu dong! Baru namanya peduli." puji Melisa. Ia pun memesan menu yang sama. Mereka menunggu pesanan dibuatkan barista sambil mengobrol.


"Eh Ca, itu Jenaka sama Mandala kan? Kok mereka akrab banget ya? Ketawa bareng gitu. Hati-hati loh, Mandala itu kan playboy disini. Banyak cewek-cewek yang demen banget deket Mandala. Jenaka kayak gitu juga?" Melisa mulai memanas-manasi Panca.


"Enggak kok. Mandala itu kakak kelasnya Jenaka saat di SMA. Sama kayak aku juga. Mungkin mereka hanya ngobrol biasa aja." Panca mengambil minumannya yang sudah dibuatkan. "Aku duluan ya, Mel."


Panca semakin tak suka melihat keakraban Jenaka dan Mandala. Apalagi saat Jenaka malah membela Mandala.


"Lalu kamu mau aku dan Kak Mandala saling benci gitu?" tanya Jenaka.


"Bukan gitu, Jen. Kamu kan bisa menjaga jarak dari dia. Kenapa malah kamu biarin dia deketin kamu?"


"Memangnya aku enggak jaga jarak, Ca? Kamu pikir aku gelendotan meluk-meluk Kak Mandala? Kamu lihat sendiri kan, tadi aku ngobrol dan jarak duduk kita berdua enggak deket, kamu aja bisa nyempil duduk disana. Aku enggak suka ah sama sikap negatif thinking kamu!" Jenaka meminum banyak-banyak es kopi yang terasa anyep di lidahnya. Kalau bukan karena ingin mendinginkan hatinya malas juga Ia minum kopi kayak gitu.


"Kamu sekarang punya aku, Jen. Aku enggak mau kamu goyah dan kembali sama Mandala lagi!"


Jenaka tersenyum sinis. "Aku adalah milik diri aku sendiri, Ca. Aku menerima pinangan kamu juga bukan berarti aku milik kamu seutuhnya. Aku udah bilang sama kamu, aku dan Kak Mandala hanya berteman. Kak Mandala juga enggak maksain perasaannya sama aku. Kamu aja yang mikirnya kejauhan! Lebay tau enggak kamu, Ca!" Jenaka menaiki sepeda Panca dan mengowesnya.


Mandala memperhatikan saja pertengkaran dua sejoli di depannya. Saat Jenaka pergi dengan menggowes sepeda, Mandala mulai khawatir. Apalagi melihat Panca bukannya mengejar Jenaka malah masuk ke dalam cafe.


"Maaf ya. Aku harus pergi dulu." Mandala mengambil sepeda miliknya dan mengejar Jenaka. Kebetulan sekali tempat duduknya tadi bisa melihat ke arah mana Jenaka pergi.


Jenaka sangat kesal dengan Panca. Mereka berteman lama. Kalau Jenaka marah, Panca selalu membujuk Jenaka. Kini mana? Apa karena dirinya sudah dianggap sebagai milik Panca makanya agak acuh?


Tanpa Jenaka sadari ternyata Jenaka menuju ke arah tempat mie ayam yang tadi Mandala tunjuk. Ternyata otak suka enggak singkron kalau lagi emosi. Malah arah yang ditunjuk Mandala yang Ia pilih.


"Mau kemana, Neng?" tanya Mandala yang berhasil menyusul Jenaka dengan keringat mengucur di keningnya. Jenaka mengayuh sekuat tenaga, membuat Mandala harus lebih kuat lagi mengejarnya.

__ADS_1


Jenaka menggelengkan kepalanya. "Enggak tau mau kemana."


"Kita makan mie ayam aja, oke? Udah deket kok. Gimana?" tanya Mandala.


"Yaudah ayo! Aku mau makan saos dan sambal yang banyak biar seger!"


Mandala tersenyum. Tak sia-sia Ia mengejar Jenaka. Keinginannya untuk makan mie ayam favoritnya bersama Jenaka akhirnya terwujud.


"Jangan banyak-banyak Jen sambalnya! Perut kamu nanti mules!" omel Mandala seraya mengambil tempat sambal yang Jenaka pegang.


"Enak tau, Kak. Asli ini mie ayamnya rekomen banget. Asli lebih enak dari makanan cafe!" puji Jenaka yang memakan lahap mie ayam miliknya.


"Bener kan kata aku! Aku tuh cocok jadi youtuber makanan. Kalo menurut lidah aku enak ya enak." ujar Mandala dengan jumawa.


"Aku akuin sih ayam bakar dan mie ayam ini enak. Apalagi yang menurut lidah Kak Mandala enak?" Jenaka mengambil tisu dan mengelap mukanya yang keringetan saking pedasnya mie ayam yang Ia makan.


"Ya... kamu lah ha...ha...ha..." Mandala tertawa puas sekali.


Jenaka mencibirkan bibirnya. "Makanan, Kak. Kalau aku mah bukannya enak tapi gurih kayak mecin."


"Ada slogannya tuh Jen, bikin mau mau lagi ha...ha...ha..."


"Ajak aku juga dong! Biar aku ada temennya kalo kesini. Masa sih sama Sahrul terus kesininya!"


"Iya. Aku ajak nanti. Tenang aja. Aku mah orangnya baik, siapa aja aku ajak."


"Beuh sombongnya!"


Tawa di wajah Jenaka dan Mandala menghilang kala Panca datang. Ternyata Panca menyusul setelah dinasehati ketua komunitasnya untuk menyusul Jenaka.


"Aku pikir kamu kemana, ternyata lagi melanjutkan ketawa kamu, Jen." sindir Panca.


"Udah ah, Ca. Perut aku kekenyangan. Nanti aku muntah kalo kesel." Jenaka tak mau meneruskan pertengkaran mereka. Apalagi ada Mandala di sampingnya.


"Ayo kita pulang! Masih mau gowes atau naik taksi aja?" tanya Panca.

__ADS_1


"Nanti dulu. Aku kan bilang masih kekenyangan. 10 menit lagi. Kita gowes aja." jawab Jenaka.


Merasa tak enak hati terus berada diantara Jenaka dan Panca, Mandala pun pamit. "Aku duluan ya, Jen. Enggak enak sama anak-anak nanti nyariin." Mandala membayar semua makanan lalu pamit pergi.


"Kamu mau makan mie ayam dulu enggak, Ca?" tanya Jenaka.


"Enggak mau." tolak Panca. Kekesalannya kini bertambah. Dua kali melihat Jenaka mengobrol akrab sampai tertawa lepas membuatnya merasa ada dinding pemisah antara dirinya dan Jenaka. Ia merasa dirinya masih dianggap orang luar oleh Jenaka, bukan calon suaminya.


"Ya maaf deh kalau selera aku makanan kayak gini. Kalau kamu enggak mau enggak apa-apa. Ayo kita pulang!" Jenaka pun mengambil sepeda milik Panca dan menggowesnya ke cafe tempat mereka bertemu tadi pagi.


Jenaka menggowes sepeda dalam diam. Sampai di cafe pun Jenaka tetap diam, menunggu Panca yang melipat dua sepeda dan memasukkannya dalam koper sepeda.


Pandangan Jenaka tertuju pada Mandala yang sedang berpamitan pada yang lain lalu naik mobil Range Rovernya. Entah mengapa hatinya merasa sepi. Kebersamaannya yang hanya sebentar dan saling melepas tawa laksana air di tengah gurun. Membuatnya terus ingin minum.


Kini Jenaka menatap Panca. Sahabatnya. Banyak yang belum Jenaka ketahui tentang Panca. Pertama tentang sikap Panca yang ternyata suka pamer. Kedua tentang menganggap Jenaka miliknya, membuat Jenaka tak boleh bergaul dengan lawan jenis lainnya. Entah apalagi yang akan Jenaka ketahui.


"Ayo Jen kita pulang!" ajak Panca.


Jenaka menurut dan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Panca beberapa kali mengajaknya mengobrol. Mencoba mencairkan suasana diantara mereka. Namun Jenaka sudah malas menanggapinya. Jenaka merasa hatinya kosong.


🎶Lumpuhkanlah ingatanku


Hapuskan tentang dia....


Hapuskan memoriku tentangnya...


Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia.


Kuingin kulupakannya... 🎶


(Geisha, Lumpuhkan ingatanku)


Panca mengantar Jenaka sampai rumah. "Jen, aku minta maaf sudah emosi hari ini. Aku... aku hanya enggak suka melihat kamu sama Mandala." ujar Panca sebelum Jenaka turun dari mobilnya.


"Kamu benar, Ca. Aku kini 'milik' kamu. Aku yang salah, Ca. Aku menganggap berteman dengan Kak Mandala bisa membuatku berdamai dengan masa lalu. Tapi aku hanya membuat keadaan makin rumit dan berujung pertengkaran kita." sesal Jenaka.

__ADS_1


Panca tersenyum. "Tak apa, Jen. Aku sudah bahagia menjadikan kamu milikku. Aku akan menjaga milikku, Jen. Tak akan kulepas sampai kapanpun."


****


__ADS_2