
Mandala uring-uringan, rasanya sudah diubun-ubun namun gagal dalam sekejap. Akhirnya Mandala memutuskan untuk mandi di tengah malam, memuaskan dirinya sendiri di tengah hasrat yang sangat ingin dipuaskan.
Saat Mandala keluar dari kamar mandi, Jenaka sudah tidak ada di kamarnya. Ia menghembuskan nafas kesal. Setidaknya Ia berharap Jenaka akan menemani tidurnya malam ini. Mandala lalu tersadar akan pemikirannya sendiri.
Kenapa Ia mau tidur ditemani Jenaka? Sejak kapan Ia menginginkannya? Bukankah selama ini Mandala selalu takut kena tonjok atau tendang saat Jenaka tidur? Kenapa sekarang malah terbersit sedikit harap untuk tidur bersama? Lalu kenapa Mandala kecewa kalau Jenaka balik ke kamarnya?
Apa benar kini Mandala mulai menginginkan Jenaka?
Mandala mengusir pikiran negatif dalam kepalanya. Ia memutuskan mengambil minum, sepertinya penyebab pikirannya oleng karena kurang minum. Ada Aqua?
Mandala menghabiskan dua gelas air mineral. Berharap pikirannya jernih seperti promo air mineral tersebut, sejernih mata air pegunungan.
Gunung?
Mandala kembali terbayang dua gunung padat dan sintal milik Jenaka. Tadi Ia berhasil memegangnya. Sedikit lagi.... Sedikit lagi Ia bisa menikmatinya tapi....
Mandala kembali uring-uringan. Ibarat kucing, sudah memegang ikan namun hanya bisa dilihat tak boleh dimakan. Kesel. Gregetan. Penasaran. Argh....
Mandala mengacak-acak rambutnya sampai berantakan. Kesaaallllll...
Mandala menaruh gelasnya di washtafel lalu berniat kembali ke dalam kamarnya. Langkahnya terhenti. Otak dan hatinya enggak singkron. Sama seperti kaki dan egonya.
Kakinya melangkah ke kamar Jenaka, mengalahkan egonya yang sekuat mungkin menahannya. Kini Mandala berada di depan kamar Jenaka. Terdiam, galau mau melakukan apa. Masuk atau pergi saja?
Terjadi pergulatan batin. Otak dan ego saling bertengkar, keduanya ingin menang. Sampai akhirnya sebuah keputusan pun dibuat.
Masuk.
Keputusan bulat sudah Mandala buat. Ia akan tidur di kamar Jenaka. Toh Jenaka adalah istrinya. Tak masalah dong kalau Ia tidur di kamar Jenaka? Mungkin sedikit bermain-main?
Tidur sambil memeluk dua buah sintal yang sepertinya akan membuat tidurnya makin lelap. Akan membuatnya bermimpi indah tentunya. Who knows?
Mandala pun membuka pintu kamar Jenaka. Sial, sungguh sial. Pintu kamar dikunci dari dalam oleh Jenaka. Mandala sekuat mungkin menahan emosi dan rasa malu, hampir saja Ia menendang pintu Jenaka saking kesalnya.
__ADS_1
Mandala yang kesal pun kembali ke dalam kamarnya. Ditendangnya selimut dengan kesal dan mencoba memejamkan matanya. Selimutlah yang akhirnya Ia tendang! Rasakan! Huh!
Sementara itu di dalam kamar, Jenaka menahan tawanya. Puas sekali Ia mengerjai Mandala. Ia baru tertawa kencang setelah mendengar pintu kamar Mandala ditutup dengan kencang.
"Sukurin! Ha...ha...ha..."
****
Sehabis sholat subuh Jenaka melanjutkan tidurnya dan baru bangun jam 8 pagi. Perut lapar dan butuh sarapan membuat Ia dengan langkah malas pergi ke dapur.
Namun, Ia teringat kalau dirinya belum mandi. Apa jadinya kalau Mandala melihat penampilannya yang bak terkena bom? Rambut acak-acakkan dan muka khas bangun tidur. Bisa ilfeel nanti! Susah payah menjerat Mandala, tak akan Ia menggagalkan rencananya sendiri.
Jenaka pun mandi dan memakai baju seragamnya saat di rumah. Hotpants dan kaos berkerah V. Ia pun melenggang ke meja makan sambil berlenggak-lenggok penuh menggoda.
Sarapan sudah disiapkan, namun terlihat belum ada yang menyentuhnya. Rasa kecewa sedikit melingkupinya. Udah pasang umpan, eh kucingnya enggak ada.
"Kak Mandala belum sarapan, Mal?" tanya Jenaka pada Mala.
"Belum, Bu. Bapak belum bangun sepertinya." mendengar jawaban Mala, Jenaka menahan tawanya. Pasti Mandala enggak bisa tidur semalaman menahan gairah yang gagal dilampiaskan.
Mandala masih bergelung dalam selimut. Rupanya sehabis ditendang Ia pungut lagi selimutnya. Masih berguna selimut itu melindungi dirinya dari hawa dingin akibat AC kamarnya yang super dingin.
Jenaka mendekati Mandala dan membangunkannya. Tangan Jenaka yang terulur hendak membangunkan Mandala berhenti di udara. Rupanya Jenaka teralihkan dengan pesona Mandala.
Mandala memang tampan. Sangat tampan. Dulu Mandala pernah menolong Jenaka, sayangnya Mandala tak pernah ingat kalau Ia pernah menolong Jenaka. Ingat Jenaka saja tidak.
Pertolongan Mandala yang membuat Jenaka makin terpesona dan mabuk dalam kharisma Mandala yang seakan makhluk paling istimewa di mata Jenaka. Bahkan Jenaka begitu bodoh sampai mengagungkan cintanya pada Mandala dan mengesampingkan akal sehatnya.
Jenaka mengusap pipi Mandala dengan lembut. Hatinya sedikit luluh. Namun Ia tak boleh semudah itu menyerah. Bu Sri bilang perjuangannya masih panjang.
Kalau mengikuti hatinya, semalam Ia pasti sudah melepaskan mahkota miliknya untuk Mandala. Ya, Jenaka berbohong. Ia tidak sedang menstruasi. Mandala saja yang bodoh, jelas-jelas Jenaka habis sholat dzuhur berjamaah dengannya. Mau saja dibohongi Jenaka hi...hi...hi....
"Sayang, ayo bangun! Udah siang!" ujar Jenaka dengan lembut sambil mengusap penuh cinta pipi Mandala yang ditumbuhi sedikit bulu halus akibat belum sempat bercukur. Kalau Mandala punya jenggot tiois yang dicukur rapi pasti akan tambah maskulin lagi.
__ADS_1
Mandala membuka matanya. Pemandangannya pagi ini berbeda. Bukan Kinara yang membangunkannya namun Jenaka.
Mandala teringat kejadian semalam, dikala Jenaka kabur darinya, rasa kesal kembali menderanya. Ia menarik selimut dan berbalik badan. Menghindari bertatapan dengan Jenaka dan bermaksud tidur lagi.
"Kok malah tidur lagi sih? Ayo kita sarapan! Aku lapar nih!" ajak Jenaka yang diacuhkan oleh Mandala.
"Ayo dong kita sarapan bareng! Besok kan Kak Mandala enggak bobo disini lagi. Yuk sarapan bareng yuk!" ujar Jenaka dengan nada manjanya.
"Mau aku kasih ciuman pagi dulu?" goda Jenaka lagi.
Mandala kesal. Ikan mulai menggoda kucing lagi. Tak tahukah ikan kalau semalaman kucing susah tidur dan membayangkan betapa lezatnya mencicipi ikan? Tak tahukah ikan dikala hasrat sudah diubun-ubun namun harus dimatikan oleh keadaan?
Mandala lalu bangun dan pergi ke kamar mandi. Tak ada sepatah kata pun yang terucap. Ia mandi dan mendapati Jenaka masih menunggunya sambil duduk di tempat tidur yang sudah Jenaka rapihkan.
"Ish... Ganteng banget suami aku!" puji Jenaka yang dibalas dengan tatapan tajam setajam golok.
"Kenapa sih? Marah?" tanya Jenaka tanpa merasa berdosa sama sekali.
Mandala berjalan ke lemari bajunya dan mengambil celana pendek dan kaos. Memakainya dengan cuek depan Jenaka yang memandangi Mandala penuh kekaguman.
"Huft... Andai tak menuruti nasehat Bu Sri, udah aku terkam tuh Kak Mandala!" rutuk Jenaka dalam hati.
Jenaka masih menikmati pemandangan tubuh indah di depannya. Tubuh yang dianugerahi otot yang begitu menggoda untuk dicicipi. Ia tersadar ketika...
"Jangan kebanyakan ngintip! Nanti bintitan!" juga tatapan setajam golok yang kembali diberikan untuk Jenaka.
"He...he...he... Ganteng-ganteng galak! Nanti cepet tua loh!"
Mandala hanya diam. Ia beneran nyuekkin Jenaka. Wah, Mandala ngambek beneran ya?
****
Ayo biar Vote Jenaka biar bikin semangat authornya ya 😁. Kukasih tau caranya ya:
__ADS_1