Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Resah


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Lembayung senja mulai menghiasi langit disertai suara adzan yang berkumandang. Saling bersahut untu menunaikan kewajiban bersujud pada Sang Pencipta alam semesta.


Jenaka masih belum terlihat batang hidungnya. Mandala yang biasanya sudah pulang memilih lembur dan menghabiskan waktu lebih banyak di kantor. Hal yang jarang sekali Ia lakukan.


Mandala biasanya lebih suka membawa pulang pekerjaan yang masih tersisa. Namun hari ini berbeda. Ia tak mau pulang.


Jam 8 malam, Mandala akhirnya menyerah. Kantor sudah sepi. Mina, sekretarisnya sudah Ia suruh pulang sejak tadi.


Mandala menghubungi Pak Sahrul dan menyuruhnya menjemput di lobby. Baru saja mobil yang Mandala tumpangi keluar kantor, matanya melihat Jenaka yang sedang tertawa lepas bersama Genta dan teman-temannya sambil menikmati bakso pinggir jalan.


"Berhenti di depan dulu, Pak!" perintah Mandala pada Pak Sahrul.


Mandala mengeluarkan Hp miliknya lalu menghubungi istri nakalnya tersebut. Panggilan pertama tak diindahkan Jenaka. Ia tetap asyik bercengkrama dengan para fans beratnya.


Hati Mandala dilanda rasa kesal yang tak tertahan. Istri nakalnya tertawa dan bersenda gurau sementara dirinya sejak tadi menunggu kedatangannya. Tidak bisa dibiarkan!


Mandala kembali menelepon Jenaka. Dalam hati mengancam, jika Jenaka tak jua mengangkat teleponnya, Ia akan menelepon Genta!


"Hallo assalamualaikum!" jawab Jenaka di ujung telepon sana.


Mandala menghembuskan nafas lega. Akhirnya anak nakal ini mengangkat teleponnya juga.


"Udah malam kenapa masih nongkrong aja? Mau pulang jam berapa?"


"Kakak ada disini? Kok tau Jena masih nongkrong?" Jenaka celingukan dan mencari keberadaan Mandala. Mobil Mandala terlihat di tikungan.


"Udah lihat?" Mandala tau Jenaka melihat ke arahnya. "Sekarang pulang!"


"Tanggung, Kak. Nanti aku pulang dianterin sama Kak Genta!" jawab Jenaka sambil menaruh mangkok bekas makan baksonya di bawah.


"Aku bilang pulang sekarang! Aku tunggu di depan!" Mandala menutup teleponnya setelah memberi perintah tak mengenal bantahan miliknya yang terkenal sakti mandraguna.


Jenaka menghela nafas kesal. Sedang asyik mengobrol malah disuruh pulang.


"Kenapa? Disuruh pulang?" tebak Genta.


Jenaka mengangguk lemah. "Aku duluan ya!"

__ADS_1


"Yaudah duluan aja! Nanti gue yang bayarin!" ujar Genta. "Dijemput deket sini kan?"


Jenaka kembali mengangguk. Matanya memberi kode dimana Mandala berada. "Aku pulang dulu ya semua!"


Jenaka meninggalkan keluhan teman-teman Genta yang masih ingin menghabiskan waktu dengannya. Jenaka pun tak mau cepat pulang. Malas bertemu sepi dalam rumah besar yang kosong.


Jenaka membuka pintu mobil dan mendudukkan bokongnya dengan wajah menahan kesal.


"Jalan, Pak!" perintah Mandala pada Pak Sahrul.


Jenaka membuang pandangannya dan memilih untuk melihat pemandangan luar. Tak ada sifat centil yang biasanya. Hanya diam sambil memeluk dirinya sendiri.


"Ngapain kamu kumpul sama Genta dan teman-temannya? Cewek sendirian lagi!" Mandala yang tak kuat menahan kekesalannya pun mulai protes.


"Cuma makan bakso doang, Kak. Teman-teman Kak Genta asyik-asyik orangnya!" jawab Jenaka masih tetap membuang pandangannya.


"Bukannya langsung pulang malah nongkrong dulu! Apa kata orang nanti kalau melihat istriku sedang nongkrong dengan laki-laki lain di depan kantor? Bukankah akan memberi penilaian jelek nantinya?"


Kini Jenaka berani mengangkat pandangannya. Menatap tajam ke dalam mata Mandala yang terlihat kesal.


"Istri? Enggak ada yang tau kalau aku istri Kak Mandala selain Kak Genta! Kak Mandala tak perlu khawatir. Aku bisa jaga diri!" Jenaka kembali membuang pandangannya.


Jenaka menepis tangan Mandala dari lengannya. "Aku dengar, Kak. Sekarang aku balik tanya sama Kakak. Kalau aku pulang lalu aku ngapain di rumah? Sepi, Kak. Kakak udah lama enggak pulang, Kakak lupa sama janji Kakak! Aku udah nginep di rumah Bunda. Aku juga udah patuh, langsung pulang ke rumah. Baru hari ini Kak, baru hari ini aku nonkrong di depan dan Kakak sudah semarah ini? Enggak adil tau enggak?!"


Jenaka kembali membuang pandangannya. Mandala juga tidak membalas perkataan Jenaka, semuanya benar. Ia memang tidak adil, setidaknya sampai besok. Besok Kinara akan pergi ke luar kota dan Ia akan menebus ketidakadilannya pada Jenaka selama dua minggu kedepan.


Jenaka turun dari mobil Mandala dan menutup pintu dengan kesalnya. Ia bahkan tak menoleh lagi ke belakang. Meninggalkan Mandala yang dilanda rasa kesal seorang diri.


***


"Pokoknya selama aku pergi, kamu harus sering kasih kabar sama aku! Jangan terlalu dekat sama anak kampung kegatelan itu! Jangan sampai jatuh dalam jerat yang Ia pasang!" Kinara sudah beberapa kali berpesan pada Mandala sebelum Ia pergi.


"Iya... iya... Aku sampai hafal apa pesan kamu! Ingat ya, jaga kesehatan! Kamu juga jangan lupa telepon aku!" pesan Mandala pada istri tercintanya.


"Aku pergi dulu ya! I love you, Sayang!" Kinara mengecup bibir Mandala, tak peduli kalau apa yang Ia lakukan membuat beberapa pasang mata melihat ke arahnya. Ia tak peduli.


Kinara lalu meninggalkan Mandala yang menatap punggungnya menghilang dan memutuskan langsung berangkat ke kantor saja. Hari masih terlalu pagi saat Ia mengantarkan Kinara ke Bandara.

__ADS_1


Mandala memutuskan untuk tidur sejenak di ruangannnya sambil menunggu ofiice hour dan pekerjaan datang. Tidurnya agak terganggu dengan suara Mina yang sedang berbicara dengan seseorang.


Jenaka? Mau apa anak nakal itu di depan ruangannya? Biasanya Genta mengabari Mandala dulu sebelum mengutus Jenaka datang.


"Biarkan saja dia masuk, Mina!" ujar Mandala yang langsung menghubungi telepon Mina.


Tok...tok...tok...


"Masuklah!"


Jenaka menutup pintu di belakangnya agar tidak ada yang tahu apa yang Ia bicarakan. Jenaka membawa sebuah map, Mandala tau itu hanya alibi saja.


"Ada apa?"


Jenaka menaruh kotak bekal yang Ia bawa. "Buat Kak Mandala sarapan! Tadi pagi Pak Sahrul sudah berangkat nganterin Kinara ke Bandara. Mala yang bilang. Aku buatkan Kak Mandala sarapan. Makanlah!"


Mandala menatap istri nakalnya, dalam hati terus bertanya. Terbuat dari apakah hatinya? Semalam Ia sudah memarahinya, namun pagi ini malah membuatkan sarapan. Apakah Jenaka memang sebaik ini makanya banyak yang menyukainya?


"Kemarilah!" Mandala meminta Jenaka mendekat.


Jenaka menurut tanpa banyak membantah. "Kenapa Kak?"


"Rapikan dasiku!" perintah Mandala.


"Tapi dasi Kakak masih rapi-" Mandala menarik Jenaka dan membuatnya duduk di pangkuannya.


"K-Kak?" Jenaka agak risih dengan yang Mandala lakukan. "Ini di kantor!"


"Terus? Memang kenapa kalau ini di kantor?"


"Tapi...."


"Apa yang kamu pikirkan, Jen? Aku mau nyuruh kamu suapin aku. Bisa kan?"


Jenaka yang sudah berpikir terlalu jauh jadi malu sendiri. Wajahnya memerah.


"Jen.... Jen... Mikir apa sih?"

__ADS_1


****


__ADS_2