
"Gimana menurut kamu pesta tadi, Jen? Aku enggak pernah menyangka kalau aku bisa gabung di lingkungan para pengusaha muda. Kalau saja sejak dulu aku tahu kalau kakekku tajir, sudah aku paksa Papa pulang ke Amrik." Panca terlihat begitu antusias menceritakan kebanggaannya bisa ikut pesta pengusaha muda.
"Memangnya tahun sebelumnya kamu belum pernah ikut, Ca?" tanya Jenaka. Meski malas, rasanya tak sopan kalau membiarkan Panca ngomong sendiri tanpa ada yang menanggapi.
"Belum. Sebelumnya masih Papa yang memegang perusahaan, Jen. Undangannya ditujukan untuk Papa, meski aku bisa saja datang dengan undangan milik Papa tapi aku enggak mau. Aku hanya mau datang jika aku sendiri yang diundang. Ternyata aku tahun ini baru dapat undangannya."
Jenaka membalasnya dengan seulas senyum. Malas menanggapi lagi. Badannya terasa tak enak. Mungkin masuk angin. Memakai dress terbuka di ruangan dengan AC yang sangat dingin. Wajar saja kalau Ia sampai masuk angin.
"Tadi kamu juga keren, Jen. Kamu bisa akrab sama Richard Kusumadewa. Dia pengusaha hebat. Merintis usaha sendiri tanpa bayang-bayang Keluarga Kusumadewa. Kapan ya aku bisa kayak Richard?"
"Richard yang ngajak aku ngobrol. Orangnya juga asyik." puji Jenaka.
"Jelas aja asyik. Mantan cassanova ya pinter memikat hati para wanita. Entah masih bandel di luaran atau enggak. Kasihan juga sih yang jadi istrinya. Punya suami kayak gitu enggak tenang mungkin hidupnya?"
"Jangan menarik kesimpulan sebelum kita tahu sendiri kebenarannya seperti apa, Ca. Apa yang menurut kita tidak bahagia belum tentu kenyataannya seperti itu. Aku lihat Richard sangat mencintai istrinya kok. Beberapa kali Ia bercerita memamerkan istrinya dengan tatapan penuh cinta. Aku yakin dia sudah tobat dan istrinya adalah orang yang berhasil membuatnya berubah. Wanita hebat seperti apa ya dia? Aku jadi pengen ketemu!" Jenaka malah memuji Richard. Berbeda sekali dengan Panca yang underestimate duluan.
Merasa tak suka karena jenaka malah membela laki-laki lain, Panca pun mulai mencari masalah. Ia kini mengungkit tentang Mandala dan jas yang diberikan kepada jenaka.
"Kenapa tadi kamu nggak menolak jas pemberian dari Mandala? Kamu kan bisa aja meminjam jas aku lagi kalau memang kamu kedinginan?!
Jenaka tidak menjawab pertanyaan dari Panca. Kepalanya sangat sakit sekarang. Sepertinya Ia akan terkena flu juga. Ia pun berbalik badan dan menatap jendela. "Aku ngantuk, Ca. Tolong bangunkan kalau sudah sampai rumah ya!"
"Bahkan sekarang menjawab pertanyaan aku pun kamu enggak mau? Kenapa? Males? Setelah tadi dipakaikan jas sama mantan? Atau malah sejak tadi kamu di balkon dan sempat bermesraan dengan mantan kamu?" Panca semakin mendesak Jenaka dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Dengan malas Jenaka kembali berbalik badan dan menatap Panca. Air mata kini menetes dari pelupuk matanya. Sedih dan merasa kali ini Panca benar-benar sudah keterlaluan.
"Turunkan aku sekarang, Ca!" pinta Jenaka dengan tegas.
"Enggak! Kalau ada masalah kita selesaikan sekarang! Aku mau kamu jujur, jangan menyembunyikan perselingkuhan kamu dibalik aku!"
__ADS_1
"Cukup, Ca! Cukup! Aku enggak pernah selingkuh! Percuma menjelaskan ke kamu! Hentikan mobil ini sekarang juga!"
Panca menepikan mobilnya namun tetap tak membukakan pintu untuk Jenaka. "Aku enggak akan membukakan pintu!" ujar Panca dengan sorot mata marah.
"Kali ini kamu keterlaluan, Ca! Aku rasa kamu enggak benar-benar mencintaiku. Kamu hanya terobsesi mendapatkanku, Ca. Padahal selama ini aku tulus sayang sama kamu! Namun setelah mengenal kamu sebagai kekasih, kamu malah berubah, Ca. Kamu tak lagi menyayangiku. Kamu lebih menunjukkan keegoisan kamu! Kamu mau menunjukkan pada semua orang kalau aku punya kamu!"
Jenaka merasa tak sanggup lagi memendam semuanya. Bayangan akan tinggal di Amrik dan bergaul dengan teman-teman yang berbeda status sosial sudah membuatnya sangat tertekan. Apalagi ditambah sikap memaksa Panca yang semakin menjadi-jadi.
"Egois? Aku terlalu mencintai kamu, Jen. Bukan egois namanya. Bahkan aku lebih mencintai kamu dibanding diri aku sendiri! Wajar saja kalau aku tak mau kamu dengan yang lain. Kamu milikku, Jen!"
"Aku udah bilang sama kamu, Ca. Berkali-kali. Aku sayang sama kamu. Aku mau memulai semua yang baru. Namun bukan berarti kamu terus memaksakan keinginan kamu! Aku bukan benda yang memiliki kepemilikan. Lebih baik kita pikirkan lagi hubungan kita, Ca. Jika kita lanjutkan, maka kita akan semakin saling menyakiti nantinya. Aku enggak mau kehilangan sahabat yang aku sayang selamanya."
"Jen, aku minta maaf. Tolong lupakan perkataan aku barusan ya. Aku enggak curiga sama kamu. Aku percaya sama kamu. Aku-" Panca terlihat mulai panik dan tak mau Jenaka melaksanakan ancamannya.
"Bukakan pintunya, Ca!" Jenaka bahkan memotong perkataan Panca. Kepalanya sudah teramat sakit sekarang. Dilihatnya ada halte di seberang jalan. Ia akan naik taksi saja dari sana.
"Jen, please... Kita selesaikan semua baik-baik ya. Sudah malam. Kamu mau kemana?"
"Bukakan sekarang!" perintah Jenaka dengan tegas. Tak terbantahkan.
"Biarkan aku mengantar kamu sampai depan rumah ya! Sudah mendung! Kalau kamu kehujanan gimana?" bujuk Panca lagi. Jenaka menatapnya dengan penuh kemarahan. Akhirnya Panca menyerah dan membukakan pintu mobil untuk Jenaka.
Jenaka turun dari mobil dan menutupnya dengan amat kencang. Ia pun menyebrangi jalan dan menunggu taksi datang.
Panca sudah pergi, sejak tadi mobilnya terus diklaksonin oleh pengguna jalan yang lain. Mau tak mau Ia harus jalan karena dianggap membuat kemacetan jalan.
Jenaka menunggu taksi yang tak kunjung datang. Pusing yang Ia rasakan semakin menjadi saja. Kini malah badannya terasa greges-greges akibat udara dingin karena hujan akan turun.
Halte yang semula ramai kini mulai sepi. Namun taksi yang ditunggu tak kunjung datang.
__ADS_1
Saat Jenaka hampir menyerah, sebuah klakson mobil mengagetkannya. Jenaka memicingkan matanya karena silau dengan cahaya sorot lampu yang mengarah padanya.
Pemilik mobil keluar dan menghampiri Jenaka. "Jena? Kenapa disini? Mana Panca?"
Jenaka tak menjawab pertanyaan Mandala. Kepalanya semakin pusing. Ia mulai terhuyung namun masih bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Kamu kenapa? Ayo masuk ke dalam mobil dulu!" Jenaka pun digendong oleh Mandala dan mendudukkannya di dalam mobil.
"Mau ke rumah sakit atau langsung pulang?" tanya Mandala saat di dalam mobil.
"Kepalaku pusing, Kak. Jangan pulang deh. Ayah dan Bunda enggak ada di rumah. Juna juga lagi tugas." tolak Jenaka.
"Hmm... Ke rumah aku aja dulu ya Jen. Nanti kalau semakin parah sakitnya kita ke rumah sakit! Lebih dekat ke rumah aku soalnya. Ke rumah sakit harus putar balik. Macet. Ada pohon tumbang kayaknya!"
Jenaka mengangguk lemah. "Iya, Kak."
Mandala pun membawa Jenaka ke rumahnya. Lebih tepatnya rumah saat mereka menikah dulu.
Jenaka tampak tertidur lelap dengan beberapa keringat di keningnya. Saat sampai di depan rumah, Jenaka tak menyahut saat Mandala bangunkan. Terpaksa Mandala menggendongnya dan mengangkatnya sampai ke dalam kamar.
Mandala terlihat begitu khawatir dengan keadaan Jenaka. Dalam hatinya terus bertanya, kenapa Jenala bisa berada di halte dan bukannya bersama Panca?
Apa yang sudah terjadi? Apakah mereka bertengkar? Lalu kenapa Panca membiarkan Jenaka pulang seorang diri dalam keadaan sedang sakit seperti ini?
"Mala, tolong ambilkan air hangat dan telepon dokter suruh datang!"
Mala agak kaget mendapati Mandala pulang sambil membopong seorang perempuan. Mala menutup mulutnya saat tau siapa perempuan dalam pelukan Mandala. "Ibu Jenaka?"
****
__ADS_1