
Mandala sengaja jalan duluan agar tidak menimbulkan banyak prasangka dalam diri Panca. Jujur, Mandala tadi sangat khawatir dengan keadaan Jenaka. Mandala tau, Jenaka lebih suka menahannya dibanding mengungkapkan permasalahan yang menderanya.
Mandala sengaja agak menjauh dari circle pertemanan anak-anak SMA-nya. Sejujurnya Mandala tak mau bergabung lagi, namun salah seorang teman main basket saat SMA dulu mengajaknya.
Mandala mulai bergabung untuk sepedahan. Murni mengisi hari-harinya daripada suntuk di apartemen.
Kemarin Ia mendapat pesan kalau mereka akan gabung dengan komunitas sepeda lain untuk gowes bareng seputaran Bunderan HI sampai Bundaran Senayan. Para cewek memaksa Mandala ikut serta. Mau tak mau Mandala mengiyakan karena merasa tak enak hati.
Sebagai sesama pesepeda, Mandala sudah sering bertemu dengan komunitas sepeda yang diikuti Panca. Namun Mandala tak menyangka kalau hari ini Jenaka ikut serta. Seingatnya, Jenaka tidak terlalu kuat bersepeda jauh apalagi ternyata rute sepedanya tadi diubah jadi agak memutar.
Untunglah Mandala posisinya di belakang Jenaka, jadi bisa tahu keadaan Jenaka saat Ia sesekali melirik ke arahnya.
"Mandala, kamu nanti di samping aku ya sepedahannya. Jangan di sebelah dia terus!" mulailah para cewek memperebutkan Mandala.
Jenaka yang sudah keluar dan berjalan menghampiri Panca melihat mantan suaminya amat dielu-elukan oleh kaum hawa. Sama seperti saat dulu mereka di sekolah.
"Gimana? Udah ke toiletnya?" tanya Panca yang datang menghampiri Jenaka dengan membawakan air mineral. "Minum dulu."
Jenaka mengangguk. "Iya. Makasih."
"Habis ini kita lanjut lagi. Kamu masih kuat kan?" tanya Panca.
Jenaka kembali mengangguk. "Kuat. In sha Allah."
"Nah gitu dong! Hebat! Jenakaku gitu!" Panca mengusap lembut kepala Jenaka yang dibalas senyuman oleh Jenaka.
Mandala melihat pemandangan menyakitkan di depannya. Bagaimana Panca begitu menyayangi Jenaka. Mandala harus mengalihkan pandangannya agar tidak semakin terluka.
"Ca! Ayo! Jangan pacaran terus!" celetuk ketua komunitas.
"Siap!" jawab Panca. "Ayo Jen!" Panca mengulurkan tangannya yang disambut dengan Jenaka.
Rombongan pesepeda pun mulai kembali kegiatan gowes bersama mereka. Panca sesekali saling bercanda dengan teman-temannya. Jenaka yang lebih banyak berdiam diri. Mandala yang masih digandrungi para cewek.
Ternyata Jenaka kuat gowes sampai titik akhir. Cafe tempat mereka biasa nongkrong.
Titik-titik keringat mulai membasahi kening Jenaka. Panca sedang sibuk memesankan minuman untuk Jenaka.
__ADS_1
"Nih, Jen. Buat hapus keringat kamu!" Mandala memberikan tisu yang Ia dapat dari cewek-cewek yang sejak tadi mengerubutinya.
"Oh iya. Makasih, Kak. Aku lupa bawa tisu!" Jenaka mengambil beberapa helai tisu dan menghapus keringat di wajahnya. Saking terburu-burunya ada beberapa tisu yang menempel di wajah Jenaka.
"Pelan-pelan, Jen!" Mandala mengambilkan tisu yang menempel dari wajah Jenaka dengan tangannya.
Jenaka menunduk malu. Wajahnya memerah seketika.
"Oh... Sory, Jen. Kalau gitu aku masuk ke dalam dulu ya. Kamu udah pesan minuman belum?" Mandala tak enak hati karena Jenaka hanya duduk sendirian di dekat sepedanya.
"Panca udah pesenin buat aku, Kak."
"Sebenarnya aku kurang suka nongkrong disini, Jen. Di sana!" Mandala menunjuk ke arah jalan. "Ada tempat makan mie ayam yang enak banget."
"Kenapa Kak Mandala enggak kesana aja?" tanya Jenaka.
"Maunya sih begitu. Tapi anak-anak disini enggak suka makan mie ayam disana. Katanya panas, tempatnya enggak enak buat nongkronglah. Enggak cozy. Banyak alasan deh pokoknya. Males juga aku." Mandala duduk di samping Jenaka tak jadi masuk ke dalam. Lebih baik mengobrol dengan Jenaka saja. Lebih nyambung.
"Aku saja heran, kenapa Kak Mandala gabung sama teman-teman disini. Bukannya Kak Mandala males ngumpul sama teman-temannya Kak Mandala?"
Mandala menurunkan suaranya. "Aku malas sebenarnya, tapi diajakin terus jadi enggak enak nolaknya. Jangan bilang-bilang ya!"
Mandala tak kuasa menahan tawanya. "Kacung kampret? Istilah apa lagi tuh?"
"Itu dikasih tau sama Bu Sri. Katanya dua pasiennya suka bilang kalau mereka tuh kacung kampret. Aku jadi ikutan deh jadinya."
"Bu Sri? Guru spiritual kamu? Masih suka kesana?"
"Loh? Kak Mandala masih inget aja?!"
"Ingetlah! Kamu kan dulu suka cerita. Kira-kira kalau aku kesana boleh ikutan konsultasi enggak ya?"
"Boleh. Boleh banget! Asal bawa upeti ya!"
"Nanti sarannya kayak kamu dulu gitu? Suka godain aku?" ledek Mandala.
"Ih... Iya sih. Udah ah aku malu! Jangan dibahas lagi!" Jenaka menutupi wajahnya yang kembali memanas.
__ADS_1
Mandala tertawa melihat Jenaka malu-malu. Jenaka pun ikut tertawa, bagaimana bisa kenangan pahit di masa lalu mereka tertawakan seperti ini.
"Ehem!" Panca datang membawakan es kopi untuk Jenaka. Ia melihat Jenaka sedang asyik mengobrol sambil sesekali tertawa lepas dengan Mandala. "Ini Jen. Es kopi buat kamu."
"Loh? Enggak pakai whipped cream, Jen?" tanya Mandala heran.
"Enggak. Aku ikutin sarannya Melisa. Karena aku sayang Jenaka. Kebanyakan gula kurang bagus buat kesehatannya. Sama kayak kebanyakan gombalan. Enggak bagus buat hati. Buat jadi semakin berharap banyak." sindir Panca yang malah sengaja ingin duduk diantara Mandala dan Jenaka. Mandala terpaksa menggeser duduknya.
"Iya sih." Mandala mengiyakan saja perkataan Panca. Tak mau mendebatnya.
Jenaka meminum es kopi yang terasa sangat aneh di lidahnya. "Makasih, Ca."
"Jen, Mama dan Papa aku baru bisa ke rumah kamu bulan depan. Maaf ya rencana kita jadi agak pending. Mereka sibuk dengan bisnis disana." Panca sengaja mengangkat topik tentang orangtuanya yang akan datang ke rumah Jenaka di depan Mandala. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menunjukkan kalau Jenaka adalah miliknya sekarang.
"Mandala! Sini dong! Ngopi sama kita-kita!" cewek-cewek kecentilan itu mulai memanggil Mandala.
Mandala tersenyum. Lumayan ada dewi penolong di situasi awkward kayak gini. "Siap Nyonya! Aku pesen kopi dulu ya!" balas Mandala. "Ada yang mau aku pesenin enggak?"
"Yah... Kita udah pesen! Request Mandala aja deh yang ganteng boleh!" goda salah satu cewek yang sejak tadi ngintilin Mandala terus.
Mandala tertawa. Jenaka meliriknya. Jenaka tau, tawa yang dipaksakan. Jenaka merasa kasihan melihatnya. Pasti tak nyaman berada di antara dirinya dan Panca.
"Aku kesana dulu ya, Jen! Jangan lupa tempat yang aku rekomendasiin." Mandala pun berdiri dan memberikan tisu yang Ia pegang untuk Jenaka semua. "Buat kamu aja! Balik ke cafe awal masih agak jauh."
"Iya. Makasih, Kak!" ujar Jenaka.
"Yuk duluan, Pak Panca!" Mandala menepuk bahu Panca lalu masuk ke dalam. Memesan kopi lalu ikut bergabung dengan cewek-cewek yang menyambut kedatangannya dengan senyuman menggoda.
"Ngomongin apa aja sama Mandala? Sampai rekomendasiin tempat segala?" tanya Panca seraya meminum es kopi miliknya.
"Kak Mandala tadi kasih aku tisu terus rekomendasiin tempat makan mie ayam deket sini. Katanya enak. Sayang tempatnya enggak cozy kalau menurut teman-teman sepedahan jadi mereka enggak suka kesana." jawab jujur Jenaka.
"Sampai ketawa-ketawa gitu. Akrab sekali ya kalian. Apa masih mengenang memori lama?" sindir Panca. Ia tak suka melihat kedekatan Jenaka dengan Mandala. Apalagi Mandala begitu perhatian sampai memberikan Jenaka tisu dan agak protes saat pesanan yang Panca bawakan bukan kesukaan Jenaka.
"Aku sama Kak Mandala hanya berteman sekarang, Ca. Enggak salah kan?"
"Enggak ada yang namanya pertemanan antara laki-laki dan perempuan, Jen. Contohnya aku dan kamu. Ada satu pihak yang memendam rasa suka. Aku tahu karena aku merasakannya."
__ADS_1
"Lalu kamu mau aku dan Kak Mandala saling benci gitu?"
****