Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Selamat Tinggal Cintaku


__ADS_3

Mandala melihat Jenaka pergi dengan Panca yang langsung mengejarnya. Ia ingin mengejar Jenaka, namun ada Kinara yang kini membutuhkanya.


Mandala masuk ke dalam kamar Kinara. Melihat Kinara menangis sesegukan, sama seperti Jenaka. Apa yang sudah mereka bicarakan?


"Apa yang terjadi?" tanya Mandala.


"Kamu milik aku! Aku enggak mau kamu mencintai wanita lain! Selamanya kamu cuma punya aku!" ujar Kinara seraya menangis dalam pelukan Mandala.


Mandala terdiam. Ia penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Kinara pada Jenaka sampai Jenaka berlari sambil menangis seperti itu?


Mandala menunggu Kinara tenang dan akhirnya menceritakan apa yang sudah Ia katakan pada Jenaka. Betapa terkejutnya Mandala saat mengetahui apa permintaan Kinara. Maka saat Mala datang membawakan baju ganti untuk Kinara yang sedang tertidur pulas karena pengaruh obat, Ia pun pamit pulang.


Mandala menyetir sendiri membelah kemacetan Jakarta. Pikirannya tak enak. Permintaan Kinara pasti sangat menyakiti perasaan Jenaka.


Mandala harus segera sampai rumah. Ia harus menemui Jenaka secepatnya. Ia harus memberi pengertian pada Jenaka. Ia tak mau Jenaka mengambil keputusan sepihak.


Mandala memarkirkan mobilnya di samping Lamborghini milik Panca yang terparkir di depan rumahnya. Rupanya Panca masih menemani Jenaka.


Panca yang menunggu Jenaka nampak terkejut dengan kedatangan Mandala. Mandala tak peduli pada Panca dan langsung mencari Jenaka. Tanpa perlu bertanya dimana Jenaka pada Panca, Mandala naik ke lantai atas menuju kamar Jenaka.


Jenaka baru saja selesai memasukkan semua baju miliknya ke dalam koper yang Ia bawa saat pertama kali pindah kesini dulu. Benar apa yang dikatakannya dulu di depan lemari pakaiannya. "Toh aku tak akan berada lama dalam rumah ini."


"Mau kemana kamu, Jen?" Jenaka terkejut mendapati kedatangan Mandala yang membuka pintu dengan sedikit emosi.


"Aku... Aku akan pergi, Kak!" ujar Jenaka.


"Enggak! Aku enggak ijinin kamu pergi!" Mandala menahan koper milik Jenaka.


"Kak, biarkan aku pergi..." pinta Jenaka sambil berurai air mata.


"Enggak, Jen! Kamu jangan dengarkan perkataan Kinara! Dia lagi sakit, Jen. Pasti dia tertekan. Kamu jangan dengerin dia! Kamu enggak boleh pergi!"


"Kak, tolong.... Tolong biarkan aku pergi. Aku enggak mau terus menerus berada diantara Kak Mandala dan Kinara. Aku enggak mau jadi orang ketiga dalam hubungan kalian, Kak. Aku enggak mau jadi figuran selamanya, Kak!"


"Kamu bukan figuran, Jen. Kamu istriku! Istri yang aku cintai. Jen, kamu bilang kamu mau memberi aku waktu. Kasih aku kesempatan, Jen. Jangan pergi! Tolong jangan tinggalkan aku! Bagaimana aku menjalani hidupku tanpa kamu, Jen?" pinta Mandala.


Seharusnya Jenaka bahagia ketika akhirnya mendengar kalau Ia adalah istri yang Mandala cintai. Tapi kenapa harus sekarang? Disaat Ia memutuskan untuk pergi?


"Jen, tetap disini ya? Tetap temani aku, Jen!" pinta Mandala dengan air mata yang mulai menetes dari kedua matanya.


"Kak Mandala ingat, aku pernah bilang sama Kakak. Saat aku sudah tidak kuat dan memilih pergi, aku akan pergi. Ini saatnya, Kak. Aku akan mengembalikan Kak Mandala pada Kinara. Seperti aku mengembalikan ini." Jenaka menyerahkan sweater rajut milik Mandala.


Mandala terkejut mendapati sweater miliknya yang Ia lupa pernah memberikan pada seorang gadis berjilbab dengan lesung pipi yang sangat cantik. "Jadi kamu?"


Jenaka menganggguk. "Aku gadis berjilbab yang Kak Mandala tolong waktu itu. Mungkin Kak Mandala tak mengenalinya, karena Tante memakaikanku jilbab sebelum Ia berangkat ke Amerika. Terima kasih Kak Mandala sudah menolongku waktu itu. Terima kasih Kak Mandala sudah menjadi penyemangatku selama ini.


Jenaka menghapus air matanya, Ia mengambil nafas dalam memenuhi seluruh paru-parunya seakan tak akan bisa bernafas lagi. "Tolong talak aku, Kak!" pinta Jenaka dengan suara bergetar.

__ADS_1


Mandala tersentak kaget. "Jen..."


"Tolong... Kak!" ujar Jenaka dengan suara lirih.


Mandala menghapus air matanya. Ditariknya Jenaka dalam pelukannya. "Aku mencintaimu Jenaka. Aku sangat mencintaimu. Aku... " Mandala tak kuasa lagi menahan tangisnya.


Mandala menangis dalam pelukan Jenaka. Istri nakalnya adalah gadis cantik yang sempat menarik perhatiannya sebelum Ia mulai mencintai Kinara. Cinta pertama yang selama ini Ia cari.


Mandala tau, membiarkan Jenaka terus berada disisinya disaat Ia akan mencurahkan seluruh perhatiannya saat pengobatan Kinara hanya akan membuat hatinya semakin tersakiti nantinya.


🎶Berat bebanku.....


Meninggalkanku...


Separuh nafas jiwaku.....


Sirna...


Bukan salahmu...


Apa dayaku....


Mungkin benar cinta sejati...


Tak berpihak pada kita...


Jangan tangisi keadannya


Bukan karna kita berbeda...🎶


(Januari, Glenn Fredly)


"Bismillah, Jenaka Putri Binti Lukman Hadi saya jatuhkan talak atasmu." ujar Mandala dengan suara bergetar karena menangis. Mandala seakan tak mau melepas Jenaka. Tak mau kehilangan wanita dalam pelukannya saat ini.


Jenaka yang akhirnya melepaskan pelukan dari mantan suaminya. "Terima kasih, Kak. Aku pergi. Jaga diri Kakak!"


Jenaka membawa koper miliknya dan berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi. Dengan langkah gontai, Mandala melepas kepergian Jenaka.


Panca menyambut kedatangan Jenaka yang menangis sesegukan. Ia tahu ending kisah Jenaka akan seperti ini. Ia tahu Jenaka akan kalah dalam pertarungan melawan kisah cinta sejati.


"Ayo, Ca!"


🎶Aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku 'tuknya


Bahagiakan dia, kau sayangi dia

__ADS_1


Seperti ku menyayanginya🎶


(Aku Bukan Jodohnya, Tri Suaka)


***


Keesokan harinya Mandala datang ke rumah Ayah dan Bunda untuk mengembalikan Jenaka pada kedua orang tuanya dengan baik-baik.


"Sialan lo! Dari awal gue udah duga lo punya niat enggak baik sama Jena!" Juna yang sudah kembali langsung mencengkram leher Mandala dengan emosi.


"Jun, please... Lo udah janji sama gue!" ujar Jenaka yang terlihat amat pucat dengan mata yang bengkak akibat menangis tanpa henti.


Saat Jenaka pulang dengan membawa koper ditemani Panca, Ayah dan Bunda sudah tau kalau putrinya sudah menyerah dengan pernikahan yang menyesakkannya tersebut. Mereka menonton berita di TV tentang Kinara dan Mandala. Mereka tau ada hati putri mereka yang tersakiti.


Kini putri yang Ayah dan Bunda pilihkan sendiri jodohnya malah menjadi istri yang menderita dan tersakiti. Ayah dan Bunda sangat menyesali keputusan mereka menikahi Jenaka dengan Mandala.


Mereka menyambut kepulangan Jenaka dengan pelukan hangat. Membiarkan Jenaka menenangkan diri dahulu sebelum bertanya apa yang sudah terjadi dari mulut Jenaka langsung.


Namun Jenaka tak mau keluar kamar. Terus mengurung diri di kamar. Sampai saudara kembarnya Juna datang dan membujuknya.


Di dalam kamar Jena menangis mencurahkan semuanya pada Juna. Tak ada yang bisa Ia sembunyikan pada saudara kembarnya tersebut. Ikatan batin diantara mereka terlalu kuat.


Juna menyesal karena membiarkan Jenaka menikahi laki-laki brengsek seperti Mandala. Ia tak punya kuasa karena memang dalam tugas. Ia tak bisa pulang untuk mencegah semuanya.


Maka saat melihat Mandala datang siang itu, jangan salahkan Juna yang lepas kendali.


Bugghh...


Sebuah bogem mentah berhasil Juna berikan. Mandala hanya diam tak membalasnya.


"Jun! Cukup!" Jenaka maju di depan Mandala. "Lo udah janji, Jun! Please! Kita selesaikan baik-baik!"


Ayah hanya diam saja melihat anaknya menampol Mandala. Baginya Mandala layak mendapatkan tampolan, lebih dari itu malah lebih layak lagi.


"Jun... Ayo jaga amarahmu. Bunda enggak mau melihat kekerasan di rumah ini!" Bunda yang akhirnya turun tangan. Juna paling lemah jika Bunda sudah meminta sesuatu. Bukan karena Bunda menyeramkan, namun tak mau menyakiti hati Bunda.


Juna pun mundur dan duduk di kursi yang agak jauh. Jenaka membantu Mandala bangun. Mandala pun duduk di kursinya semula. Jenaka juga kembali ke dalam. Ia tahu maksud Mandala datang apa. Ia tak akan sanggup mendengarnya sambil melihat wajah Mandala.


"Tujuan saya datang kesini hari ini adalah untuk mengembalikan Jenaka pada Ayah dan Bunda. Saya meminta Jenaka secara baik-baik dan mengembalikan Jenaka setelah kemarin sudah menjatuhkan talak padanya secara baik-baik pula." Mandala menunduk tak berani mengangkat wajahnya selama berbicara. CEO yang biasanya terlihat galak itu tampak menunduk dan merasa amat bersalah. Hilang sudah kesombongan dan keangkuhannya di depan Ayah yang hanyalah seorang karyawan biasa.


Jenaka menahan suara isak tangisnya. Juna yang melihatnya pun mendekat dan memeluk saudara kembarnya tersebut. Hatinya ikut hancur bersama Jenaka. Masih muda namun sudah menyandang statis sebagai seorang Janda.


"Saya terima Jenaka kembali. Terima kasih sudah menorehkan banyak luka di hati anak saya. Kelak, jangan pernah ada lagi hubungan dengan anak saya lagi!" ujar Ayah dengan nada suara yang dingin.


Mandala lalu pulang setelah menghapus air mata di wajahnya. Pergi meninggalkan istri yang baru saja Ia sadari kalau Ia sangat mencintainya.


****

__ADS_1


__ADS_2