Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Sang Pangeran Makin Marah


__ADS_3

"Bu gimana nih?" Jenaka sedang menelepon Bu Sri, guru spiritualnya.


"Gimana apanya Jen?" tanya Bu Sri.


"Rencana Ibu kayaknya gagal deh. Aku takut jadinya, Bu." aku Jenaka.


"Kenapa? Mandala marah?" tebak Bu Sri.


"Marah pake banget, Bu! Jenaka takut banget, Bu." Jenaka memelankan suaranya. Meskipun Ia berada di balkon atas gedung kantornya tetap saja ada kemungkinan seseorang mendengar percakapannya. "Kalo Jenaka sampai dicerai Kak Mandala gimana?"


"Ha...ha...ha..." Bu Sri tertawa puas dari ujung telepon sana. "Itu memang tujuan saya, Jen."


"Maksudnya Ibu mau saya diceraikan Kak Mandala gitu?" Jenaka agak kaget mendengar jawaban Bu Sri.


"Ish! Bukan itu! Tujuan saya memang mau memancing emosinya Mandala. Bukan mau kamu diceraikan. Kamu sudah melewati beberapa tahap. Mulai dari tahap centil, pengenalan, berteman dan kini kamu dalam tahap mulai mengakui kepemilikan. Mandala pasti ngomong begini deh, "Inget Jen, kamu itu istri aku!". Bener enggak?" tebak Bu Sri.


Jenaka melongo tak percaya. "Bagaimana Ibu bisa tahu? Ibu cenayang ya?"


"Itu mah enggak usah jadi cenayang udah bisa saya prediksi Jen. Itu namanya Mandala mulai mengakui kepemilikan atas kamu. Dia mengakui kalau dia suami kamu. Bukan hanya suami diatas kertas karena jebakan yang Ia buat. Dia mulai mengakui keberadaan kamu sebagai istrinya."


Jenaka manggut-manggut saja mendengar perkataan Bu Sri yang dinilainya sangat realistis dan sesuai dengan kenyataan yang Ia alami saat ini. "Iya sih, Bu. Lalu Jena harus apalagi Bu? Jena takut melihat Kak Mandala marah kayak gitu. Nyeremin. Tadi pas Kak Mandala melihat jena, ih... kayak ada pisau yang nusuk. Tajam bener, Bu."


"Ya memang sifat suami kamu kayak gitu. Inget ya, kamu yang siap dengan konsekuensi rumah tangga kamu yang berselimut duka kayak gini. Jangan nyerah di tengah jalan hanya karena takut Mandala marah."


"Iya... iya... Jenaka enggak nyerah kok. Jadi, Jenaka lanjutin rencana kedua nih? Rencana di dalam rencana?" tebak Jenaka.


"Yup! Pinter! Wah perkembangan kepintaran kamu semenjak bergaul sama saya jadi tambah pesat nih! Bagus!" puji Bu Sri.


"Iyalah. Jenaka gitu. Malam ini juga ya Bu, Jena laksanain rencana kedua?" tanya Jenaka lagi.


"Tergantung. Kamu lihat sikon, Jen. Kalau dia enggak ada niat ngomong sama kamu ya kamu undur dulu. Kalau dia bakalan ngomong sama kamu, cepet-cepet deh kamu laksanain rencana di dalam rencana kita!" perintah Bu Sri.


"Siap Bu, laksanakan!"


***


"Jen, ke ruangan gue sekarang!" pinta Genta melalui sambungan teleponnya.


"Siap, Kak!" Jenaka lalu pamit dengan Bu Yuli dan pergi ke ruangan Genta.

__ADS_1


Bu Yuli yang tahu Jenaka mengemban tugas khusus dari Mandala membiarkannya pergi. Tugasnya bisa Jenaka lakukan dikala senggang, toh tender besar ini lebih berharga daripada tugas audit Jenaka yang bisa dikumpulkan tiap akhir bulan.


Kehadiran Jenaka di ruangan Genta disambut riuh oleh anak buah Genta dan teman-temannya.


"Hi Jena cantik!"


"Jena, senyum dong!"


"Jena lesung pipinya mana?"


"Jena, I love you!"


"Jena, makan malam bareng yuk!"


"Jena, nikah yuk!" semua menatap tajam ke arah yang mengajak nikah Jenaka, Ia pun langsung dijitak oleh teman-temannya yang lain. "Huh! Main ajak nikah anak orang aja lo! Gue duluan!" dan mulailah mereka berebutan yang akan menikahi Jenaka siapa, tanpa mereka ketahui Jenaka sudah menjadi istri orang lain.


Jenaka tertawa puas menertawakan tingkah teman-teman Genta. Jenaka senang diperhatikan begitu, bukan karena merasa sok cantik tapi merasa mereka sangat care dan menghibur.


Jenaka mengetuk pintu ruangan Genta dan terkejut mendapati Mandala yang sedang menatap ke arah luar ruangan dimana Jenaka tadi digoda.


"Eh ada Bapak Mandala." Jenaka menyunggingkan senyumnya yang dibalas dengan tatapan tajam dan wajah yang cemberut.


"Duduk, Jen!" Genta mengambilkan minuman untuk Jenaka.


Dengan jahil Jenaka menggoda Mandala. "Kak, boleh pangku Jenaka enggak?"


Mandala tak menjawab, hanya melempar tatapan setajam pisaunya.


"Yaudah deh kalo enggak boleh. Kak Genta boleh-" belum selesai Jenaka bicara Mandala sudah memotongnya.


"Boleh minta pangku Genta gitu?!" sindir Mandala dengan pedasnya.


"Ih siapa yang minta pangku Kak Genta? Jena mau nanya sama Kak Genta boleh enggak minumannya air mineral aja? Enggak usah yang manis, tenggorokan Jena enggak enak habis makan gorengan. Kak Mandala suudzon aja ih!" gantian Jenaka yang membalikkan perkataan Mandala, membuat Mandala malu dibuatnya.


"Ha...ha...ha... Makanya lo jangan emosian dulu! Dengerin bini lo mau ngomong apa!" Genta menyodorkan air mineral dingin yang Ia ambil dari kulkasnya. "Nih, Jen. Minum dulu, terus lo guyur deh kepala laki lo yang lagi panas tuh!"


"Makasih, Kak. Enggak ah, Jena takut. Kak Mandala lagi sensi. Senggol dikit bacok! Nanti Jenaka kena tendangan dan tonjokkan dia yang bisa bikin preman kabur ha...ha...ha...."


Mandala terdiam. Ia seperti mengingat suatu kejadian. "Preman apa?"

__ADS_1


"Udah ah kita fokus!" Genta membuat pertanyaan Mandala bak angin lalu. Tak dianggap. Jenaka bersyukur Ka Genta membantunya. Kalau Mandala ingat dan menagih cardigan rajutnya gimana?


"Jen, karena tadi gue harus nutupin ulah lo berdua yang suka nyuri waktu buat ketemuan di jam kerja, jadi lo harus mempertanggung-jawabkan alasan yang gue buat!"


"Sebentar, Kak Genta. Kok aku yang tanggung-jawab? Kan Kak Genta yang ngasih alesan tadi. Kenapa aku yang kena getahnya?" Jenaka berusaha membela diri dari tanggung jawab yang harus Ia emban.


"Heh Maemunah, gue tuh tadi bantuin lo. Kalo enggak ada gue, mau alesan apa lo sering bolak-balik ke ruangan Mandala?" tanya balik Genta.


"Ya... aku bilang aja Kak Mandala lagi open BO aku ha...ha...ha...." Jenaka dan Genta tertawa kompak, menertawai lelucon Jenaka yang tak lucu sama sekali di mata Mandala.


"Ssst! Udah ah! Sang Pangeran makin marah tuh!" Genta menyuruh Jenaka berhenti tertawa. "Jadi gue sama Mandala udah mutusin kalo lo yang akan presentasi nanti ke clien kita. Untuk bahan presentasinya nanti kalau sudah selesai dibuat kita kasih copynya sama lo. Untuk sementara, ini!" Genta memberikan sebuah bantex biru tebal pada Jenaka. "Lo pelajarin produk perusahaan dari mulai data produksi sampai pemasaran. Lo harus mengenal perusahaan kita dulu lebih dalam. Selama ini kan lo cuma ngecek barang dan audit aja. Ini lebih mendalam lagi. Lo pelajarin!"


Jenaka menatap horor bantex biru di depannya. "Aku enggak bisa nonton drakor dong, Kak?"


"Yaelah, Jen. Ini lebih penting dari drakor! Mandala bakalan kasih lo hadiah kalo lo bisa presentasi dengan bagus!" kata Genta penuh semangat.


"Serius Kak?" mata Jenaka berbinar mendengar kata hadiah.


"Enggak! Kapan gue pernah janjiin kasih hadiah? Enggak ada kayak gitu!" celetuk Mandala yang mulai muak dengan kedekatan dua orang gila di depannya. Ketawa bareng, nyindir juga bareng.


"Pelit banget sih lo Man sama bini sendiri!" protes Genta. "Kalo sama Kinara aja lo royal!"


"Udah Kak biarin. Aku tadinya cuma mau minta hadiah dengan ngajak Kak Mandala sepedahan pagi. Tapi Kak Mandala pasti mikirnya hadiah yang kuminta barang mahal. Enggak pakai hadiah juga akan aku kerjain kok. Aku kan karyawan disini, apapun yang diperintahkan bos ya aku ikutin." jawab Jena pasrah.


Mandala jadi tak enak hati mendengar jawaban Jenaka. Sebenarnya Ia mau saja membelikan apa yang Jenaka minta. Hanya karena Mandala masih emosi karena kejadian tadi pagi saja membuat Ia tak mengabulkan permintaan Jenaka.


"Jenaka pelajarin dulu ya Kak!" Jenaka pamit dan kembali ke ruangannya. Suasana kerja di bagian Genta kembali riuh saat melihat Jenaka keluar.


"Jen, enggak mampir dulu?"


"Jen, aku punya cokelat nih. Jena mau enggak?"


"Jen, kamu suka warna apa?"


Mandala yang melihat dengan jelas bagaimana Jenaka diperlakukan, hatinya kesal.


"Ta, semua yang godain Jenaka catet namanya! Gajian besok mereka gue potong gajinya dua ratus ribu!" Mandala pergi dari ruangan Genta sambil menatap horor anak buahnya Genta.


Genta geleng-geleng kepala, masa sih Ia harus buat laporan potong gaji? Hadeh... gimana bilangnya ya sama mereka?

__ADS_1


****


__ADS_2