Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Malu-malu Mau


__ADS_3

Saat di jalan Juna terus berpikir akan mengajak Melisa makan dimana. Ia jadi teringat kala Melisa ikut makan pecel ayam dengan lahap.


Jenaka pernah cerita, Panca begitu terpengaruh dengan perkataan Melisa. Bahkan Panca tak bisa menjadi dirinya sendiri sejak mengenal Melisa.


Juna sadar, sejak awal Melisa sudah tertarik dengannya. Namun Ia tak punya perasaan padanya.


Sebuah ide muncul di kepala Juna. Makan yang membuat Melisa akan berpikir untuk mengajaknya jalan lagi.


Juna memberhentikan motornya di angkringan pinggir jalan. Hari ini lumayan ramai, mereka tak kebagian duduk di atas meja. Tapi itu justru yang Juna mau.


"Pak pesan nasi kucingnya 6, isinya campur aja. Sate ususnya 4, ati ampela 4 juga. Sosisnya boleh deh 2. Tempe mendoannya 2 aja. Lalu minumnya es teh manis 2."


Melisa yang mendengar apa saja pesanan Juna terlihat terkejut. "Makan nasi kucing? Nasi isi daging kucing atau nasi untuk makanan kucing? Kenapa dari sekian banyak tempat malah pilih makan disini sih?" batin Melisa.


"Ayo Mel!" ajak Juna.


Jujur saja dalam waktu 3 hari ini sejak mengenal Melisa, Ia tidak terlalu merasa kesepian di rumah.


Melihat ekspresi Melisa yang kadang memandang sesuatu dengan jijik, kadang penasaran dan tak jarang memandang rendah seseorang malah membuat Juna menahan tawa. Ia seperti anak kampung yang diajak ke kota, agak norak. Tak terbayang betapa kaya keluarganya sampai anaknya senorak itu bergaul dengan kehidupan rakyat jelata seperti dirinya.


"Sini duduk!" Juna menepuk alas duduk yang terbuat dari terpal di sebelahnya.


Sudah bisa diduga, Melisa bingung mau duduknya. Rasa gengsi dan jijik terlihat jelas di matanya, Juna menahan tawa melihat ekspresi Melisa. Norak abis.


"Kenapa? Enggak mau? Kalau kamu enggak mau aku bungkus aja terus aku makan di rumah."


"Mau! Kata siapa enggak mau? Memangnya kamu pikir aku enggak pernah makan kayak gini?" Melisa berbohong demi menjaga gensinya.


Juna kembali menaha tawanya. "Yaudah sini duduk."


Rasa iba menelusuk hati Juna. Ia sadar dirinya terlalu kejam pada anak manja dan putri kaya seperti Melisa.


Melisa duduk juga meski awalnya agak ragu. "Jun, nasi kucing tuh maksudnya apa?"


"Lo emang enggak pernah?" tanya Juna.


Melisa menggelengkan kepalanya. "Aku lama tinggal di Amrik. Baru beberapa tahun ini aku tinggal di Indonesia mengurus bisnis Papi."


"Pantas saja lagaknya tengil banget, ternyata memang beneran anak Papi yang dimanja!" batin Juna


"Ini tuh makan makanan khusus buat kucing. Tuh kamu lihat kucing di depan sana! Mereka nanti makan bareng sama kita." Juna makin senang menggoda Melisa.


Benar saja, ekspresi jijik langsung tepancar dari wajahnya. Ia terlihat kesulitan menelan salivanya. Membayangkan akan makan bersama kucing.


Juna tak kuasa menahan tawanya. "Bukan makan bareng satu meja. Mereka mah makan makanan sisa. Kita makan disini."

__ADS_1


Pesanan mereka pun datang. Melisa makin mengerutkan keningnya.


"Ini nasi kucing namanya, porsinya kecil seperti porsi makan kucing. Ada lauknya di dalam. Mau nyoba enggak?" Juna membuka nasi kucing miliknya lalu mengambil sate usus.


"Jun, usus bukannya enggak sehat ya?" bisik Melisa, tak mau ada yang mendengarnya.


"Mau coba enggak? Gue suapin nih biar lo enggak bawel!"


Mendengar Juna mau menyuapinya membuat Melisa menjawab penuh semangat. "Mau! Aaa... " Ia membuka mulutnya lebar-lebar. Membuat Juna tertawa terbahak-bahak.


"Mana? Malah ketawa aja!" protes Melisa.


"Iya. Aaaa...." Juna menyuapi Melisa. Tanpa ragu Melisa memakan makanan yang Juna suapi.


"Hmm... Enak! Lagi dong! Ternyata enak banget! Karena kamu suapin atau karena memang rasanya enak ya?" tanya Melisa.


Juna tersenyum. Cewek di depannya sungguh tanpa sungkan menampilkan rasa sukanya pada lawan jenis. Tak jaim, mungkin itu sisi positif yang akhirnya Juna ketahui dari cewek manja ini.


"Makan sendiri! Rasanya memang enak kok! Nih!" Juna menyerahkan piring dan sendok yang tadi Ia pakai untuk menyuapi Melisa agar Melisa bisa makan sendiri. "Gue juga mau makan."


Melisa memakan sendiri makanan dengan lahap. Ia bahkan cuek nambah nasi kucing dan aneka sate, memakannya dengan lahap seperti belum pernah makan saja.


Selesai makan, Juna tak langsung mengajak pergi. Ia duduk sejenak menikmati pemandangan jalanan yang macet.


Melisa melihat scarf cantik yang Ia kenakan. Sudah Ia duga, scarf ini akan membuat perhatian Juna teralihkan. Motifnya yang bunga- bunga dengan warna dasar biru laut telihat cocok dengan blouse putih yang Melisa kenakan.


"Iya. Bagus ya?"


"Boleh lihat?"


"Boleh dong." Melisa melepas scarf seharga lima juta yang Ia beli tanpa pikir panjang dan menyerahkannya pada Juna.


Juna membuka scarf lebar-lebar lalu menutupi rambut Melisa dengan scarf yang Ia kenakan. Ia menekuknya seperti memakaikan Melisa hijab. "Kalau kayak begini lebih bagus lagi."


"Begini? Maksudnya berjilbab?" tanya Melisa.


Juna mengangguk dengan yakin. "Ini baru trakiran awal dari gue. Kalau lo datangnya sambil pakai hijab, maka gue akan traktir lagi di tempat yang berbeda."


"Aku pake! Kapan? Besok? Aku siap saja!" Melisa menjawab dengan penuh semangat, membuat Juna tak kuasa menahan tawanya. Juna tertawa melihat kelucuan cewek di depannya. Tak pandai menyembunyikan perasaannya, seperti tak pernah jatuh cinta saja sebelumnya!


"Hari Rabu. Gue dapat libur hari rabu. Bisa?"


"Bisa. Pasti bisa!"


"Tetttt! Jawabannya salah! Bukan pasti bisa, tapi in sha Allah bisa. Coba ulangi lagi!"

__ADS_1


"In sha Allah bisa!"


Juna kembali tersenyum. "Bagus. Jangan dilepas hijabnya!!! Lo cantik kalau begitu!" Juna lalu berdiri dan membayar makanan mereka.


Tanpa Juna ketahui, jantung Melisa berdetak dengan kencangnya.


"Aku dibilang cantik? Benarkah? Fix, mulai besok aku akan pakai hijab!"


****


Panca agak telat sampai di taman tempat Melisa seharusnya janjian dengan Jelita. Semua karena jalanan yang macet. Jika tidak mengantar Melisa dahulu mungkin Ia tak akan setelat ini.


Panca celingukan mencari keberadaan Jelita. Lalu Ia melihatnya, begitu bersinar dan terlihat begitu indah.


Jelita sedang duduk di salah satu bangku sambil memangku plastik besar bertuliskan logo usahanya,. Ia mengenakan hijab warna cokelat dengan atasan tunik cokelat dan rok panjang warna hitam. Sederhana namun terlihat cantik.


"Loh Jelita?" tanya Panca pura-pura tak tahu.


"Panca? Kamu sedang apa di sini?" tanya balik Melisa.


"Aku lagi dimintain tolong sama sahabatku, katanya janjian dengan Ukhti Fashion." Panca menyebutkan nama usaha yang Jelita miliki.


"Kamu disuruh Melisa?" tanya Jelita.


"Kok kamu tau?" Panca berakting dengan natural kali ini.


Jelita mengangkat plastik di pangkuannya. "Ini pesanan Melisa."


"Yang benar? Kok bisa kebetulan ya? Melisa ada janji dengan pacarnya mendadak, makanya tadi minta tolong sama aku." ujar Panca.


"Oh... Kirain Melisa pacar kamu?" Jelita memberikan tas di pangkuannya pada Panca.


"Bukan. Kami sahabatan karena sama-sama anak perantauan. Aku enggak punya pacar, tapi punyanya tunangan."


Jelita agak kecewa mendengar Panca bilang kalau Ia punya tunangan. "Oh... "


"Kamu lupa? Kemari kan kita udah tunangan! Di depan teman-teman kamu lagi!" wajah Jelita malu-malu mendengar perkataan Panca.


"Itu kan cuma sandiwara."


"Bukan berarti tak akan terjadi kan?"


Wajah Jelita kini bersemu merah. Ia menundukkan kepalanya, menembunyikan wajahnya yang malu-malu tapi mau.


***

__ADS_1


__ADS_2