
"Wah sekarang udah sama menantunya nih kalo sholat subuh?!" ledek Pak Juki setelah selesai sholat subuh berjamaah.
Mandala memakai sandal jepit milik Juna, menunggu Ayah yang mengobrol bersama teman-temannya.
"Iya dong. Anak laki-laki kan sebaiknya sholat berjamaah di masjid. Siapa yang akan meramaikan masjid kalau bukan generasi muda?" jawab Ayah dengan bijak.
"Betul itu! Generasi tua kayak kita meramaikan pos hansip aja ha....ha...ha..." gurau Pak Dodi.
"Hush! Bukannya perbanyak ke masjid malah sering nongkrong di pos hansip! Memangnya mau meninggalnya lagi megang bidak catur? Naudzubillah! Amit-amit deh!" omel Ayah.
"Kalo depan mantu mah memang begitu ya! Ceramah agama, alim. Giliran di pos ronda mah main catur sampai lalai sholat!" sindir Pak Juki.
"Enak aja! Udah ah saya pulang dulu. Mau siap-siap berangkat kerja!" pamit Ayah.
"Ayah mau kerja? Wah bisa berduaan sama Jena nih!" batin Mandala, Ia pun senyum-senyum membayangkan akan bermesraan dengan istri tercintanya.
"Ayo Man! Kita pulang!" ajak Ayah.
"Iya, Yah!" Mandala mengikuti Ayah sampai rumah.
Mandala masuk ke dalam kamar Jenaka dan mendapati istrinya sedang membereskan tempat tidur. Jenaka amat santai mengenakan kaos dan celana pendek selutut.
Mandala kembali memeluk Jenaka dari belakang. "Assalamualaikum istriku tercinta!"
"Waalaikumsalam." Jenaka berbalik badan dan mencium tangan Mandala.
"Cium yang lain juga dong!"
Jenaka menaruh sapu lidi miliknya lalu mencium bibir Mandala. Tak mau kehilangan momen, Mandala membalas ciuman Jenaka.
Jenaka amat bahagia. Waktu dulu belum bercerai, Jenaka teringat kalau Mandala sudah mulai mencium keningnya di depan umum. Kini...
Mandala melingkarkan tangannya di pinggang Jenaka, menarik Jenaka lebih dekat lagi dengan dirinya. Bibir mereka mulai berpagutan, menyesapi manisnya cinta.
Tok...tok....tok...
"Jena! Suruh Nak Mandala sarapan dulu! Bunda sama Ayah tunggu di meja makan ya!" ujar Bunda dari balik pintu.
Dengan malas Mandala melepaskan pagutan mereka. "Huft... Gagal lagi!"
Jenaka tersenyum. "Masih banyak waktu kok, Sayang. Ini masih pagi, kita sarapan dulu ya! Aku lapar nih, semalam enggak makan lagi. Hanya makan pas liwetan aja."
"Kapan ya aku bisa unboxing kamu?!" keluh Mandala. Ia sampai memanyunkan bibirnya.
Jenaka tersenyum, lucu melihat suaminya bertingkah bak anak kecil tidak dibelikan mainan. Pundung sekali.
"Mau sekarang?" tawar Jenaka.
Mata Mandala membulat."I-" belum sempat Mandala menjawab, kembali terdengar ketukan di pintu.
__ADS_1
"Jen, kata Bunda cepetan! Nanti dingin nasi uduknya!" teriak Juna.
Makin cemberut muka Mandala. "Nanti siang kita ke hotel! Aku harus unboxing kamu secepatnya!"
"Iya... iya...."
Jenaka dan Mandala bergabung dengan Ayah, Bunda dan Juna di meja makan. Sudah terhidang nasi uduk yang Bunda beli di dekat rumah, lengkap dengan lauk tempe orek, bihun dan sambal kacang.
"Lama banget sih Jen!" celetuk Juna.
"Hush! Juna! Jangan begitu ah!" omel Bunda.
"Tadi Jena beresin tempat tidur dulu, Jun. Kak Mandala habis dari toilet, makanya Jena tungguin." Jenaka memutar otak mencari alasan yang tepat kali ini.
"Udah ayo sarapan!" ajak Bunda. "Nak Mandala mau pakai gorengan apa? Ayo diambil, jangan malu-malu. Anggap aja kayak di rumah sendiri!"
"Iya, Bunda. Makasih." Mandala mengambil sepotong tempe mendoan dan memakannya bersama nasi uduk.
Mandala merasa sarapannya lebih nikmat. Bisa kumpul bareng keluarga dan bercengkrama sesekali tertawa bersama adalah hal yang mahal untuknya.
Mami dan Papi sangat jarang pulang. Malah rencananya sore ini mereka sudah harus pergi lagi ke Kalimantan untuk melihat bisnis mereka yang disana.
Melihat Juna dan Jena yang saling meledek, membuat Mandala ikut menyunggingkan senyumnya. Ayah yang sesekali mengomeli Juna dan Bunda yang menyuruh mereka nambah gorengan. Benar-benar suasana yang hidup.
"Nak Mandala cuti berapa hari?" tanya Bunda.
"Wuidih keren, mau kerjasama dengan Kusumadewa Group Kak sekarang?" tanya Juna. Ia terlihat amat tertarik mendengarnya.
"In sha Allah. Doakan saja. Ada tender besar diantara perusahaan kami. Semoga bisa sukses dan mendatangkan banyak keuntungan." jawab Mandala.
"Aamiin!" jawab Bunda.
"Hebat! Kamu berarti bisa menambah lapangan pekerjaan baru dong?" Ayah juga ikut berkomentar.
"Iya, Yah. Dengan dibukanya banyak cabang maka tenaga kerja yang dibutuhkan akan banyak. Makin banyak karyawan, makin besar tanggung jawab Mandala memajukan perusahaan. Jangan sampai perusahaan hancur dan lahan mereka mencari rejeki juga hilang." jawab Mandala dengan lugas.
"Bagus itu." jawab Ayah singkat.
"Nah karena Nak Mandala masih cuti, boleh enggak nganterin Bunda ke Pasar Tanah Abang? Juna hari ini masuk kerja, kalau pergi sendiri Bunda enggak berani. Ngajak Jenaka malah lebih ngeri soalnya suka digodain sama cowok."
"Ke Tanah Abang mau ngapain, Bun?" tanya Jenaka. Bunda belum bilang sebelumnya mau ke Tanah Abang.
"Mau beli sejadah. Bunda dan Ayah rencananya mau ngadain selametan untuk pernikahan kalian, nah sejadah itu souvenir yang Bunda mau bagikan untuk yang hadir. Jika sejadah itu dipakai untuk sholat, maka pahalanya akan selalu mengalir. Gimana, mau enggak anterin Bunda?"
Mandala tersenyum dengan terpaksa. "Kemarin dan tadi pagi Ayah, lalu pagi ini Bunda dan Juna. Nanti siang Bunda. Lalu malam hari siapa lagi yang akan mengganggu waktu bermesraan kami?" batin Mandala.
"Mau Bun." jawab Mandala dengan senyum yang kembali dipaksakan.
"Jena ikut juga. Mau beli daster dan jilbab. Jena harus punya stok jilbab nih! Jena sekarang kan berhijab." Jenaka terlihat bersemangat ingin ikut.
__ADS_1
"Ya sudah, kita berangkat jam 7 ya. Jangan terlalu siang, nanti panas." ujar Bunda.
****
Hari kedua menikah, pasangan pengantin baru biasanya sedang memadu kasih. Menikmati indahnya pernikahan nan halal.
Ada juga yang sudah sampai berkali-kali mencoba menembus gawang. Lalu Mandala? Boro-boro gawang, chocochip saja gagal. Huft...
Mandala terlihat berkeringat membawa kantong plastik besar di kedua tangannya. Bunda membeli banyak sekali sejadah. Lalu Jenaka, Ia begitu kalap membeli baju tunik, gamis dan aneka kerudung. Jadilah Mandala yang harus membawa semuanya. Mana mungkin Ia tega menyuruh dua perempuan itu untuk membawa.
"Ya ampun suami aku kegerahan!" Jenaka mengambil tisu dari dalam tas miliknya dan mengelapi keringat di wajah Mandala. "Laper enggak? Kita makan soto tangkar mau?"
"Terserah. Aku ikut aja." jawab Mandala dengan malas.
"Tuh... Ngambek kan? Sini aku bawa satu plastiknya!"
"Enggak usah. Siapa yang ngambek? Aku enggak ngambek kok. Aku bukan laper mau makan soto tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi mau makan kamu!"
Jenaka tersenyum digoda Mandala seperti itu. "Semoga malam ini bisa ya!" bisik Jenaka.
"Aamiin."
"Ayo kita makan dulu baru pulang! Bunda udah selesai nih belanjanya!" Bunda tersenyum puas. Sebijak apapun Bunda, kalau sudah berbelanja pasti lupa waktu. Perempuan gitu loh.
****
Mandala meluruskan kakinya yang terasa pegal sehabis ke Tanah Abang. Ia heran dengan Jenaka dan Bunda yang terlihat santai saja tanpa merasa pegal sama sekali . Mereka berdua asyik menonton TV sambil makan buah.
"Jen, kita nginep di hotel yuk malam ini!" bisik Mandala.
"Ya Allah aku lupa!" Jenaka berdiri tiba-tiba. "Aku punya kado dari Panca!"
"Kado dari Panca?" tanya Mandala, bukannya menjawab pertanyaan Mandala Jenaka malah pergi ke kamar.
Bunda terlihat penasaran dengan kado dari Panca. Ayah pun demikian.
Jenaka datang membawa amplop. Wajahnya terlihat sumringah. "Jeng...jeng..."
"Kado apa sih Jen?" tanya Bunda penasaran.
"Tiket liburan ke Bali!" Jenaka menunjukkannya dengan penuh kebanggaan.
"Asyik!" Bunda ikut berseru kegirangan. "Bunda sama Ayah boleh ikut kan?"
Senyum di wajah Mandala hilang seketika. Bahkan honeymoon pun mereka akan diintilin. Ya Allah kapan unboxingnya?
__ADS_1