
Segalanya terasa amat berat bagi Jenaka. Kehilangan orang yang sangat dicintainya membutuhkan keikhlasan yang mudah untuk dikatakan namun sulit untuk dilakukan.
Jenaka berusaha ikhlas menerima takdirnya yang baru, yakni sebagai seorang janda di usia yang masih relatif sangat muda. Meski sempat down beberapa hari sampai tidak masuk kerja, akhirnya Jenaka menguatkan diri untuk menghadapi dunia luar.
Jenaka sudah memutuskan kalau Ia akan berhenti bekerja di perusahaan Mandala. Di perusahaan ini, terlalu banyak kenangan tentang mereka yang hanya membuat Jenaka semakin berselimut duka mengenang rumah tangganya yang sudah hancur.
Banyak yang khawatir dengan keadaan jenaka. Berat badannya turun drastis hanya dalam waktu beberapa hari tidak masuk kerja.
"Kamu sakit apa sih, Jen?" tanya Bu Yuli yang begitu perhatian pada Jenaka.
"Cuma masuk angin biasa, Bu." Jenaka berusaha menyembunyikan permasalahannya dari rekan sekantor.
"Beneran? Kamu tuh kurus tau, Jen. Baru sakit beberapa hari kamu udah kurus begini. Udah ke dokter? Coba cek, sakit apa?" Bu Yuli masih penasaran dengan keadaan Jenaka. Biasanya, Jenaka bersikap riang dan mau tersenyum kepada siapa saja yang menyapanya. Kini, untuk tersenyum pun rasanya Jenaka terlalu memaksakan diri.
"Aku baik-baik aja kok, Bu." Jenaka lalu mengeluarkan sebuah amplop berisi surat pengunduran dirinya. "Maaf Bu, aku mau berhenti dari perusahaan ini."
"Loh? Kenapa? Kamu enggak betah? Tuh kan bener, pasti kamu ada sesuatu deh. Cerita sama saya kalau kamu ada sesuatu. Jangan memutuskan berhenti bekerja dengan kepala panas. Pikirin dulu baik-baik Jen. Kamu kenapa sih Jen?" Bu Yuli jelas tak mau kehilangan karyawan yang membuat suasana kerjanya ceria. Jenaka juga pekerja yang rajin dan bertanggung jawab. Siapa yang mau kehilangan karyawan seperti Jenaka?
"Aku betah, Bu. Betah banget malah. Aku dapat tawaran untuk bekerja di perusahaan lain yang lebih menjanjikan, Bu. Aku harus berkembang, Bu. Masa sih Ibu mau mengekang aku disini sementara di perusahaan lain aku ditawari gaji yang lebih besar?" Jenaka memasang senyuman untuk menutupi kesedihannya.
"Iya juga sih. Kalau memang kamu dapat kerjaan yang lebih baik lagi, kenapa enggak?"
"Makasih ya, Bu." Jenaka memeluk Bu Yuli seperti memeluk kakaknya sendiri.
Jenaka tak bisa semudah itu resign. Ada one month notice yang harus Ia jalani sebelum resign. Itu artinya Jenaka harus menahan dirinya selama sebulan bekerja di perusahaan mantan suaminya. Menyiapkan diri kapan saja bertemu Mandala.
Setiap pagi, Jenaka diantar Juna yang kini ditempatkan di Jakarta. Kalau pulang kerja, terkadang Panca yang menjemput. Semua orang di sekitar Jenaka tak membiarkan Jenaka pulang dan pergi kerja seorang diri.
__ADS_1
Mandala sudah tak pernah masuk bekerja lagi. Ia menyerahkan perusahaan pada Genta dan tetap mengontrolnya dari rumah sakit. Ya, Mandala sibuk dengan pengobatan Kinara.
Jenaka mensyukuri ketidakhadiran Mandala di kantor. Itu membuatnya lebih bisa menata hatinya. Ia tak mau pertahanan yang Ia buat jebol dalam sekejap.
****
Mandala
Sudah sebulan aku tidak ke kantor. Semua pekerjaan kantor kulakukan di rumah sakit, sisanya aku meminta Genta untuk menghandlenya. Namun ada satu meeting yang tak bisa Genta wakilkan. Meeting penting dengan klien dari luar negeri. Aku harus datang langsung ke kantor, menghandlenya sendiri.
Aku pamit pada Kinara, namun Kinara tak mau aku tinggal. Ia tak mau jauh dariku. Ia selalu merasa kesepian. Tak ada keluarga yang menemani selain aku dan Mala. Ayah tirinya hanya menyayanginya karena uang.
Darimana aku tahu? Jujur saja aku menaruh curiga pada Kinara. Tidak seperti Jenaka yang tak pernah memakai kartu kredit pemberianku, Kinara selalu melakukan transaksi dengan kartu kreditku di berbagai merchant yang aku tak tahu. Aku penasaran apa yang Ia beli.
Pernah aku sengaja datang dan mengecek toko tempat Ia berbelanja, ternyata toko tersebut adalah tempat gesek tunai kartu kredit ilegal. Kinara butuh uang untuk apa?
Aku harus ke kantor karena klien juga sudah di jalan. Aku yakinkan Kinara kalau aku akan kembali secepatnya. Setelah aku bujuk, akhirnya Kinara mau aku tinggal dengan syarat ditemani Mala.
Meeting dengan klien yang dilakukan di kantor berjalan sukses. Aku memutuskan kembali ke ruanganku untuk mengambil beberapa berkas sebelum kembali ke rumah sakit.
Tok...tok...tok...
Mina mengetuk pintu ruanganku. "Kenapa, Min?" tanyaku sambil merapihkan beberapa berkas yang mau aku bawa.
"Ini, Pak. Tadi semuanya dibagikan oleh Jenaka." Mina meletakkan nasi kotak diatas meja kerjaku.
"Dibagikan? Dalam rangka apa?" seingatku sekarang bukan tanggal lahir Jenaka.
__ADS_1
"Hari ini Jenaka terakhir bekerja di perusahaan ini, Pak. Jenaka pamit, sayangnya Bapak tadi lagi meeting." perkataan Mina membuatku terkejut dan menjatuhkan berkas yang kupegang.
"Jenaka resign? Hari ini terakhir? Yang benar kamu?" tanyaku tak percaya.
"Iya, Pak. Jenaka sudah mengajukan surat pengunduran dirinya ke HRD sebulan yang lalu. Hari ini adalah hari terakhirnya disini."
Aku masih tak percaya dengan apa yang Mina katakan. Jenaka juga akan pergi dari perusahaan ini?
Ya Allah... Aku pikir setidaknya aku masih bisa bertemu Jenaka di kantor ini. Setidaknya aku masih bisa melihat wajahnya meski dari jauh.
Aku teringat perkataan Jenaka, "Aku enggak tau sampai kapan aku kuat mengejar Kakak. Mungkin saat Kakak terlalu jauh untuk kukejar maka aku akan berhenti berlari. Mungkin aku akan menumpang mobil cowok lain dan tak lagi berlari mengejar cinta Kakak? Siapa yang tahu?!"
Aku tak mau Jenaka pergi, aku harus mencegahnya. Belum sampai langkahku menuju pintu, Hp-ku berdering. Mala meneleponku, Ia bilang Kinara kembali mimisan tanpa henti sudah satu jam lebih.
Aku kembali secepatnya ke rumah sakit. Aku khawatir keadaan Kinara memburuk.
"Pak, Ibu sejak tadi mimisan. Sudah satu jam lebih, belum lama baru berhenti. Sampai satu plastik Pak isinya tisu bekas darahnya Ibu semua." Mala menunjuk plastik yang berisi tisu bekas Kinara.
Aku menghampiri Kinara yang meringkuk lemah di tempat tidur. "Nara..." aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku merasa kasihan melihat keadaan Kinara.
Pengobatan yang kami lakukan hampir sebulan ini rasanya sia-sia. Kinara tak mengalami banyak kemajuan. Kondisi kesehatannya malah menurun drastis.
"Aku mau kamu sembuh, Sayang!"
Akhirnya sebuah keputusan aku ambil. Aku akan membawa Kinara pergi berobat ke Singapura.
Mungkin aku tak akan bertemu Jenaka lagi, itulah hukuman terberatku. Aku tak bisa meninggalkan Kinara meski kini hatiku hanya milik Jenaka seorang. Aku akan menemani Kinara, seperti Kinara yang menemaniku saat aku susah dulu.
__ADS_1
****