Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Taman Bunga


__ADS_3

Kantor Panca berubah menjadi taman bunga saat kiriman bucket bunga dari Mandala datang bertubi-tubi. Semua ditujukan untuk Jenaka seorang.


"Apa-apaan ini?!" umpat Panca.


"Maaf, Pak. Tadi ada yang mengantarkan bucket bunga untuk Mbak Jenaka. Ternyata yang datang banyak tidak cuma satu. Jadi saya menaruhnya disini takut menarik perhatian jika ditaruh di bawah." ujar security yang langsung melapor pada Panca.


Panca kini menatap Jenaka yang terlihat salah tingkah. "Ini ulah salah satu fans kamu, Jen. Kamu pilih, mau kamu buang atau kamu simpan! Kenapa ruangan aku jadi kayak taman bunga begini?!"


Jenaka memasang senyum meminta belas kasihan Panca. Dan terbukti ampuh. "Aku bawa pulang aja ya, Ca. Bagus bunganya. Sayang kalau dibuang. Mubazir."


"Terserah! Aku....ha...hatcim... Ya Allah banyak serbuk bunganya! Bisa-bisa aku seharian bersin-bersin!" kembali Panca bersin-bersin karena banyaknya bunga meski Ia sudah masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu.


Jenaka merasa tak tega dengan Panca. "Juna, bisa tolong aku enggak, Jun?" Jenaka pun menghubungi Juna.


"Ya Allah Kak Mandala! Bener-bener nyusahin orang ya!" Jenaka pun menghubungi nomor telepon Mandala yang ternyata masih tetap sama seperti dulu.


"Hallo Cintaku. Gimana, kamu suka kiriman bunga dariku?" sambut Mandala saat Jenaka meneleponnya.


"Ih Kak Mandala udah gila ya! Ini tuh banyak banget bucket bunganya! Kasian tuh Panca sampai bersin terus karena banyak serbuk bunganya!" omel Jenaka.


"Yeh, Panca saja yang norak! Bunga itu salah satu simbol cinta tau! Memangnya dia enggak pernah kasih kamu bunga seperti aku gitu?" tanya balik Mandala.


"Enggak pernah." jawab Jenaka dengan polosnya.


"Ah pelit itu namanya, Jen. Kamu belum jawab, bagus enggak bunganya?"


"Bagus. Eh kok jadi malah ngomongin yang lain ya? Kak jangan kirim lagi kayak gini ya. Aku enggak enak sama Panca. Please..."


"Yaudah, kalau Jenakaku enggak mau. Aku kirim yang lain aja."


"Mau kirim apa lagi sih Kak? Udah enggak usah kirim apa-apa. Beneran deh enggak usah!"


"Oke. Aku enggak akan kirim apa-apa. Tapi ada syaratnya!"

__ADS_1


"Syarat? Syarat apa?"


"Syaratnya kamu harus jalan sama aku, Jen. Seharian!"


"Ih persyaratan macam apa itu?! Enggak mau! Udah ah aku tutup teleponnya. Aku mau kasih Panca obat dulu!"


"Yah ntar dulu, Jen-" terlambat. Jenaka sudah menutup teleponnya sebelum Mandala selesai bicara. "Jangan terlalu perhatian Jen sama Panca. Kamu hanya boleh perhatian padaku."


Sayangnya Mandala hanya bisa bicara pada dirinya sendiri. Jenaka sudah menutup teleponnya. Mandala mulai resah. Jenaka begitu perhatian pada Panca. Bagaimana kalau rencana pernikahan Jenaka dengan Panca akan cepat terlaksana?


Bagaimana kalau pada akhirnya Ia akan kehilangan Jenaka? Kehilangan Jenaka kemarin sudah membuat semangat hidupnya hilang. Bagaimana kalau Ia kehilangan Jenaka lagi?


Sementara itu Jenaka membawakan segelas air hangat dan obat anti alergi untuk Panca. Ia melihat Panca masih bersin-bersin di ruangannya.


"Minum dulu obatnya, Ca." Jenaka menyuguhkan air dan obat pada Panca. "Maaf ya. Karena aku kamu jadi bersin-bersin kayak gini. Aku udah omelin Kak Mandala. Biar dia enggak kirim kayak gini lagi."


"Jadi benar ya ini semua kiriman Mandala? Mau apa dia kirim semua ini sama kamu? Jangan bilang dia mau ngajak kamu rujuk lagi?!" Panca meminum obat dan membersihkan hidungnya dengan tisu. Dikenakannya masker yang Jenaka berikan agar alerginya tidak makin parah.


"Meminta rujuk secara langsung sih belum, Ca."


Jenaka menyembunyikan permintaan Mandala yang mengajaknya jalan dari Panca. Lagi-lagi alasannya agar Panca tidak sakit hati dibuatnya. Jenaka menjaga hati Panca seperti sebuah kaca yang mudah pecah.


"Enggak ada. Hanya iseng aja mungkin? Udah ya aku balik lagi ke tempatku. Nanti Juna akan datang dan membawa pulang bunga-bunga ini."


Permasalahan dengan buket bunga tidak hanya selesai sampai disitu saja. Saat Jenaka sampai rumah, sudah ada Ayah, Bunda dan Juna yang siap menginterogasinya.


"Duduk dulu, Jen!" pinta Ayah.


"Iya, Yah." Jenaka tau, saat Ayah ingin berbicara sambil memintanya duduk sudah dipastikan pembicaraannya serius.


"Tadi ayah lihat Juna membawa buket bunga banyak sekali. Sampai rumah kita dipenuh bunga seperti ini. Boleh Ayah tau siapa yang mengirimkannya?"


Jenaka bingung mau menjawab apa. Bilang jujur sama saja menggali lubang kubur. Berbohong juga tidak menyelesaikan masalah. Hanya menunda bom atom meledak.

__ADS_1


"Sebenarnya enggak ada pengirimnya, Yah. Tapi Jenaka sudah bisa menduga siapa yang mengirimkannya." Jenaka memutuskan untuk jujur saja lebih baik. Toh antara dirinya dan Mandala tak ada hubungan lagi.


"Siapa?"


"Er... Kak Mandala, Yah." jawab Jenaka dengan jujurnya.


Ayah terlihat mengerutkan keningnya. Kemudian mengambil nafas dalam untuk menenangkan emosinya. Mandala lagi... Mandala lagi...


"Bagaimana dia bisa mengirimkan kamu bunga? Kamu pernah ketemu lagi dengan dia?" tanya Ayah.


"Wah jangan-jangan sabtu kemarin kamu pergi sama Mandala ya, Jen? Pantas saja kamu enggak mau ditemenin!" Juna pun mengadukan perihal weekend kemarin yang ditolak Jenaka. Kini semua pasang mata menatap ke arah Juna.


Jenaka menatap Juna seakan menatap penghianat. Ayah dan Bunda menatap penuh ingin tahu.


"Ja... Jadi begini, Yah. Dulu, waktu Jena menikah kita berdua pernah punya janji. Akan nonton session 2 di bioskop yang sama. Jena datang dong Yah untuk menepati janji yang Jena buat. Enggak nyangka dari sekian banyak orang dan dari penuhnya mall malah ketemu sama Kak Mandala. Jena beneran enggak janjian sama Kak Mandala kok, Yah." elak Jenaka.


"Itu mah sama aja, Jen. Tetap aja kamu janjian sama Mandala! Kamu duluan yang membuka gerbang sama dia. Udah bagus dia lupa sama kamu, eh jadi nguber-nguber lagi deh!" sahut Juna.


"Juna! Memangnya Kakak kamu buka gerbang apa sih?" tanya Bunda pada Juna. "Yah, Jena hanya menepati janji yang dia buat saja! Kalau Jena mau mendekati Mandala lagi, bisa aja kan saat Nina memintanya ketemuan?" bela Bunda.


Mami Nina memang suka mengajak Jenaka ketemuan kalau sedang berada di Jakarta. Bagi Nina, Jenaka sudah seperti putrinya sendiri. Tak jarang, Nina meminta Jena membawa masakan buatannya. Ia selalu kangen masakan Jenaka dan meminta Jenaka memasakkannya.


Pembelaan Bunda sangat masuk akal. Bunda juga membantu Jenaka menyembunyikan fakta bahwa ada surat pemberian Kinara yang meminta Jenaka untuk kembali pada Mandala. Jangan sampai suaminya tahu dan berakhir emosi.


"Pokoknya Ayah enggak mau kamu dekat dengan Mandala lagi!" larang Ayah tanpa banyak kata. Ayah pun pergi dan masuk ke dalam kamar.


Kini Jenaka mengomeli Juna, kembarannya. "Ish! Dasar tukang ngadu! Aku tuh enggak kayak gitu tau!" Jenaka melempar bantal pada Juna.


"Makanya kalau aku mau temenin, kamu tuh mau aja. Biar enggak timbul fitnah kayak gini!" balas Juna.


"Kalau fitnah beda konteksnya. Aku enggak ngapa-ngapain tau! Awas ya kalau Ayah marah!" ancam balik Jenaka.


"Sudah... sudah.... Kalian bertengkar saja kayak anak kecil! Juna, ayo bantu Bunda kita rapihkan buket bunganya. Ada bunga anggrek yang masih bisa Bunda taruh pot. Lumayan. Sering-sering aja Mandala kirim bunga kayak gini. Lumayan nambah koleksi tanaman Bunda... asyikkk..."

__ADS_1


Jena dan Juna saling pandang. Mereka bersitegang tapi Bunda malah senang. Bunda... Bunda....


__ADS_2