Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Juna Turun Tangan-2


__ADS_3

"Juna? Juna mau ketemu saya?" Mandala yang baru tiba dari meeting dengan klien terkejut saat sekretarisnya Mina mengatakan kalau ada yang mau bertemu dengan Mandala.


"Betul, Pak. Saya tolak karena belum punya janji sebelumnya. Tapi Bapak Juna bilang kalau Pak Mandala tau dia ingin bertemu, pasti akan diijinkan." Mina menceritakan percakapannya dengan Juna.


"Dimana sekarang? Bilang saya bersedia bertemu!" ujar Mandala.


"Di ruang tunggu bawah, Pak. Saya hubungi resepsionis bawah dulu ya Pak. Semoga orangnya belum pulang." ujar Mina.


Mandala mengangguk dan masuk ke dalam ruangannya. "Juna datang dan mau bertemu denganku? Ada masalah apa? Sampai Juna turun tangan sendiri? Apakah tentang Jenaka? Ada masalah dengan Jena?" dalam hati Mandala dipenuhi banyak pertanyaan.


Tok...tok....tok...


"Permisi, Pak. Ada Pak Juna di depan!" beritahu Mina.


"Tolong suruh masuk!"


"Baik, Pak!" Mina lalu mempersilahkan Juna masuk dan menutup pintu ruangan Mandala.


"Assalamualaikum, Kak!" sapa Juna.


"Waalaikumsalam. Apa kabar, Jun?" Mandala menyambut uluran tangan Juna dan tersenyum menyambut mantan adik iparnya yang pernah menampolnya dulu.


"Baik. Alhamdulillah."


"Silahkan duduk dulu. Kamu mau minum apa? Kopi atau minuman dingin?" tawar Mandala.


"Minuman dingin aja. Di luar panas. Tadi udah ngopi soalnya." Juna memutuskan ke kantor Mandala setelah mengobrol dengan Panca tadi. Agak emosi sebenarnya saat Panca bilang kalau Jena dan Mandala main belakang.


Mandala mengambilkan minuman dingin beserta Pringless dan menaruhnya di depan Juna. "Paling enak kalo pake snack yang asin."


"Wah beneran ya satu aliran sama Jena. Jangan-jangan penganut makan Indomie goreng pake telor dan nasi hangat juga lagi?" tebak Juna.


"Iyalah. Mana enak makan Indomie Goreng tanpa telor dan nasi? Ha...ha...ha..."


Juna ikut tertawa bersama Mandala. Ia bahkan lupa tujuan kedatangannya kesini apa.


"Itu makanan paling enak. The best banget dah!"


"Wah lo mesti dateng ke tempat ayam bakar favorit gue, Jun. Asli enak banget. Jena aja doyan banget kalo makan disana!" cerita Mandala.

__ADS_1


"Boleh. Gue mau nyoba. Nanti pas gue libur ya. Beneran lo ya ngajak gue, Kak!"


"Iya. Bener. Lo chat gue aja kapan libur, nanti gue geser jadwal meeting gue." janji Mandala.


"Ah jadi lupa gue sama tujuan gue dateng kesini." Juna menepuk keningnya. Keasyikan mengobrol yang tak penting membuat lupa dengan tujuan awalnya kesini.


"Kenapa? Gue tebak pasti tentang Jena? Benar?" tanya Mandala yang memakan Pringless miliknya sambil meminum minuman dingin.


"Tentu aja. Kita ngomongin Kakak Kembar gue yang mau diboyong ke Amrik."


"Ke Amrik? Jena mau pindah ke Amrik gitu?" Mandala terkejut dengan informasi yang Juna berikan. Ditaruhnya Pringless dan menatap Juna dengan serius.


Juna mengangguk. "Jena tiba-tiba datang ke kamar gue sambil nangis. Katanya sehabis menikah, Panca akan membawa dia ke Amrik. Gue jadi kasihan liatnya. Dia mana bisa jauh dari gue? Kita tuh udah sama-sama dari dalam perut. Tiap hari Jena bareng sama gue sebelum gue ditugasin ke luar kota. Bakalan sedih banget tuh anak pastinya. Belum lagi Bunda dan Ayah yang manjain dia banget pasti akan sangat kehilangan."


"Maaf, Jun. Gara-gara gue pastinya sampai Panca mutusin mau bawa Jena ke Amrik." sesal Mandala. Ia juga sedih jika sampai tak bisa melihat Jenaka lagi. Ia lebih rela melihat Jenaka bersama Panca daripada tak bisa melihatnya lagi.


🎶Mengapa masih ada sisa rasa di dada


Di saat kau pergi begitu saja


Mampukah kubertahan


Tuhan, sampaikan rindu untuknya🎶


(Sisa Rasa, Mahalini)


"Lo enggak perlu minta maaf, Kak." Juna juga merasa tak enak melihat Mandala yang terlihat menyesal. Ia paham bagaimana perasaan Mandala. Saat tahu Jenaka akan dibawa pergi, pasti hatinya begitu sakit.


"Gue akan jauhin, Jena. Gue enggak akan gangguin Jena lagi. Lo enggak usah khawatir. Jena akan tetap disini, kalau gue enggak mengganggu hubungannya dengan Panca. Lo tenang aja!"


Rasa tak enak kembali mendera Juna. Mandala begitu menginginkan Jenaka tetap di Indonesia sampai rela tak mendekati Jenaka sama sekali. Bukan ini yang Juna mau sebenarnya. Kenapa malah Ia mendapat solusi dari Mandala sedang dari Panca hanya mendapat luapan emosi saja?


"Bukan ini yang gue mau, Kak. Gue mau lo ikutin kata hati lo. Jika memang layak, maka perjuangkan. Jika memang akan tambah menyakitkan maka lepaskan." pesan Juna sebelum pergi meninggalkan ruangan Mandala.


****


"Kita mau kemana, Ca?" tanya Jenaka. Bukannya menuju tempat acara tapi malah berbelok ke sebuah butik yang terlihat amat mahal.


"Beli baju buat kamu. Kita mau ke acara resmi." Panca memarkirkan mobilnya di depan butik.

__ADS_1


"Loh? Aku udah pakai dress batik. Memang enggak cocok ya?" tanya Jenaka. Ia pikir cukup pakai dress batik saja dengan make up minimalis dan rambut yang dikepang kedua sisinya.


"Jujur aja Jen, enggak cocok. Kamu kayak kita mau meeting di klien. Lebih mirip pakaian sekretaris atau baju bebas di hari jumat. Tapi kamu tenang saja. Aku udah memperhitungkannya. Kita masuk ke dalam dan ganti dengan yang bagus ya?" Panca pun turun dan membukakan pintu untuk Jenaka.


"Udah memperhitungkan? Maksudnya baju yang aku kenakan sudah diperhitungkan kalau akan kampungan dan enggak sesuai gitu?" batin Jenaka kesal.


Jenaka turun dari mobil dan mengikuti Panca. Ia bak boneka yang hanya bisa menuruti apa keinginan Panca. Mau menolak pun Panca tak mengijinkan.


"Ca, ini terlalu terbuka. Tanpa lengan gini bajunya! Aku malu!" protes Jenaka.


"Disana banyak yang pakai kayak gini, Jen. Nanti pakai jas aku aja dan dibuka pas sampai sana. Cocok banget kayaknya Jen sama kamu." Panca tak memperdulikan protes Jenaka. Tetap saja memaksa Jenaka memakai baju yang Ia pilihkan.


"Nah begitu dong! Cantik dan anggun!" puji Panca saat melihat penampilan Jenaka sehabis di make over. "Ayo kita pergi!" Panca memakaikan jas miliknya pada bahu Jenaka yang terbuka. Jenaka hanya diam saja. Menahan ketidaknyamanannya sendiri.


Panca bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti alunan musik yang diputar dari radio dalam mobil sportnya. Jenaka sejak tadi malah diam saja seraya melihat pemandangan di luar. Ia merasa dirinya bagai boneka yang harus mengikuti apapun permintaan Panca. Tak ada kebebasan untuk menyuarakan keinginannya sama sekali.


Jenaka menunduk yang menatap dress indah yang dikenakan. Tak bisa dipungkiri memang Ia terlihat sangat cantik dengan dress dan make up hasil pilihan Panca. Hanya saja...


"Ah sudahlah.... Biar kutahan saja ketidaknyamanan ini. Mungkin Panca melakukan ini juga agar aku tidak terlihat memalukan di depan yang lain." batin Jenaka.


Mobil Panca berhenti di lobby sebuah hotel bintang lima tempat diadakannya acara. Panca menyerahkan kunci mobilnya pada petugas vallet lalu menggandeng Jenaka dengan penuh kebanggan.


Kedatangan Panca dan Jenaka menarik banyak perhatian. Semua tahu bagaimana sepak terjang Panca di dunia bisnis. Pengusaha muda yang pintar dengan strategi bisnis. Panca datang bersama Jenaka, sekretaris pribadi yang digandengnya dengan penuh kebanggaan dan kemenangan di depan banyak orang.


Berbeda dengan Panca, Jenaka menunduk malu. "Jen, angkat kepalanya!" bisik Panca.


Jenaka menurut saja. Pandangannya pun mulai menyisir pada banyak tamu yang hadir. Ada Papi Prabu yang tersenyum pada Jenaka dan Mandala tentunya.


"Ingat permintaan aku kemarin, Jen. Akan ada Pak Prabu dan Mandala disini, aku minta kamu jaga sikap dan jangan menghampiri mereka. Tetaplah di dekatku!"


Jenaka hanya bisa menurut pasrah dengan permintaan Panca. Bisa apa kalau calon suaminya sudah bertitah seperti itu?


***


Siap-siap besok aku mau kasih surprise.... Jangan lupa vote dan like yang banyak ya 😁😁


****


Oh iya aku mau promosiin karya sesama author nih. Mampir ya.

__ADS_1



__ADS_2