Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Penolakan Ayah


__ADS_3

Pagi hari seperti biasanya Ayah yang bertugas membukakan pintu pagar rumah pertama kali jika Juna belum berangkat tugas. Menyiram tanaman dan membantu Bunda menyapu halaman dari daun-daun kering yang berguguran.


Ada yang berbeda hari ini. Sebuah mobil sudah terparkir di depan rumahnya. Ayah Membuka pagar sambil matanya tertuju pada laki-laki tampan yang keluar dari dalam mobil.


Ya, lelaki tampan itu adalah Mandala. Mantan menantunya yang telah membuat Jenaka merasakan rasa sakit yang teramat dalam selama menikah dengannya.


"Assalamualaikum, Yah." sapa Mandala yang datang menghampirinya. Mandala mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Ayah memasang wajah masamnya. Namun menjawab salam adalah kewajibannya sebagai seorang muslim. "Waalaikumsalam." Tanpa senyum dan tak ada kata sapa lain. Singkat, jelas dan padat.


Ayah menjawab salam namun tak menyambut uluran tangan Mandala. Rasa sakit hati dan kesal masih meghantuinya. Menatap Mandala pun Ayah enggan.


Mandala menarik kembali tangannya yang diacuhkan oleh Ayah. "Sehat, Yah?" tanya Mandala sekedar berbasa-basi.


"Memangnya kamu mengharapkan saya sakit-sakitan gitu?" ketus Ayah.


"Oh enggak dong, Yah. Mandala senang melihat Ayah sehat dan segar bugar seperti sekarang."


"Enggak usah kebanyakan basa-basi deh. Ada perlu apa pagi-pagi sudah datang kesini?" Ayah bertanya meski sudah tau apa jawabannya. Ya, apalagi kalau bukan untuk menemui putri kesayangannya.


"Aku mau menjemput Jenaka dan mengantarkannya ke kantor, Yah." ujar Mandala terus terang.


"Enggak usah! Jenaka punya mobil sendiri. Dia bisa kok berangkat kerja sendiri tanpa harus ada yang antar!"


Mandala seperti di skakmat sebelum melangkah. Ayah seperti membangun tembok besarnya sendiri. Sulit untuk Mandala tembus.


"Biar lebih aman, Yah." kembali Mandala memberi alasan.


"Justru saya lebih khawatir kalau Jenaka pergi kerjanya diantar sama sontoloyo macam kamu! Lebih menyeramkan malah!" balas Ayah.


Mungkin ini yang membuat Papi Prabu takut. Bukan marah-marah lalu baku hantam yang dilakukan Ayah kalau marah, tapi kata-kata yang lumayan pedas dan sikap yang mengacuhkan membuat orang lain segan dengannya.


"Mandala-"

__ADS_1


"Kamu pulang saja sana! Meski kamu anaknya Prabu tak menjamin dapat membahagiakan dan melindungi Jenaka. Biar Jenaka berangkat sendiri saja ke kantornya!" usir Ayah. Tak Ayah biarkan Mandala menyelesaikan perkataannya.


Mandala kini terdiam mematung. Mau membalas, tapi dengan kata apalagi? Kalah rasanya. Mandala jadi teringat perkataan Papi Prabu, lebih baik meeting proyek dengan tender besar daripada menghadapi Ayahnya Jenaka yang marah. Jadi kayak gini toh?!


"Eh ada Kak Mandala?! Udah lama Kak nunggunya?" Jenaka datang dengan senyum di wajahnya. Tak tahukah Ia ketegangan yang terjadi antara Ayah dan Mandala sejak tadi? Atau Jenaka memang pura-pura tak tahu hanya agar suasana menjadi lebih santai saja?


"Kamu tahu kalau dia akan datang? Udah janjian sebelumnya?" tanya Ayah sambil menunjuk ke arah Mandala.


"Udah tau, Yah. Sekarang kan Mandala dan Jenaka mulai kembali dekat. Boleh kan Jenaka berangkat kerjanya bareng Kak Mandala, Yah?" Jenaka mulai membujuk Ayah dengan sikap manjanya.


"Enggak! Kamu berangkat sendiri saja!"


"Tapi Yah-" Ayah kini tak membiarkan Jenaka merajuk.


"Ayah bilang enggak ya enggak, Jen. Kamu sekarang tanggung jawab Ayah. Ayah berhak melarang kamu sekarang. Apa kamu lupa kalau dia sudah mengembalikan kamu ke Ayah dua tahun silam?" sindir Ayah.


"Yah... Kak Mandala sekarang-"


Jenaka kini tak bisa berbuat apa-apa untuk melawan Ayah.


"Ayah, kok ada tamu bukannya disuruh masuk malah dibiarin di depan aja sih?" Bunda yang sejak tadi menguping akhirnya turun tangann. Sebenarnya tadi Jenaka dan Bunda mendengarkan dari dalam percakapan Mandala dan Ayah, namun Bunda meminta Jenaka dulun yang keluar baru dirinya.


"Enggak perlu, si Sontoloyo ini mau pulang kok." ucap Ayah dengan ketus.


"Jangan begitu dong, Yah. Kita harus memperlakukan tamu dengan baik. Ayah lupa kalau Ayah yang mengajarkan Bunda hal itu?" Bunda pun menceramahi Ayah. Seakan tak peduli dengan kemarahan suaminya, Bunda malah mengajak Mandala masuk. "Ayo masuk dulu, Nak Mandala. Kita sarapan bersama!"


Bunda menggandeng lengan Ayah. Kalau Ayah marah, cukup Bunda menggandeng tangannya sambil mengusapnya dengan lembut maka kemarahan Ayah akan mereda. "Kita sarapan bersama ya Yah." pinta Bunda dengan suaranya yang lembut.


Ayah pun masuk ke dalam.


"Ayo, Kak. Kita masuk. Tenang aja, ada Bunda. Pawangnya Ayah!" Jenaka mengulurkan tangannya dan disambut oleh Mandala.


"Pantas saja Papi begitu takut menghadapi Ayah kamu. Auranya nyeremin. Kamu kalau marah jangan nyeremin kayak gitu ya?!" pinta Mandala.

__ADS_1


"Tenang, aku mah enggak kayak gitu kok." tak tahu saja Mandala kalau Jenaka marah seperti apa? Panca saja sampai kapok dibuatnya!


Bunda lalu menyediakan piring tambahan untuk Mandala yang ikut serta sarapan bersama. Jenaka sudah mewanti-wanti Mandala untuk membahas rujuk mereka setelah selesai sarapan saja. Jangan coba-coba mengusik ketentraman Ayah saat makan. Bisa kejadian kasus sepeti Juna kemarin yang kena omel.


Ayah sudah selesai dengan sarapannya. Ia juga sudah menghabiskan teh manis buatan Bunda. Mandala merasa inilah saat yang tepat untuk mengutarakan maksud dan tujuannya.


"Maaf kalau kedatanganku mengganggu Ayah. Aku tahu kalau aku sempat gagal membina rumah tangga dengan Jenaka. Jujur saja, aku sama sekali tak mau menceraikan Jenaka. Aku terpaksa melakukannya hanya agar Jenaka tak lebih terluka lagi. Aku tak mau Jenaka menahan perasaan karena aku harus mengurus Kinara saat itu, maka saat Jenaka meminta talak dengan terpaksa aku ucapkan,"


"Yah, aku sangat mencintai Jenaka. Sebenarnya Jenaka adalah cinta pertamaku yang selama ini kucari keberadaannya. Bahkan aku sudah mencintai Jenaka sebelum akhirnya menyukai Kinara. Aku dan Jenaka masih memiliki perasaan yang sama. Kami berdua masih saling mencintai. Aku... Aku dan Jenaka, kami berdua akan kembali rujuk."


Ayah yang sebelumnya sudah menguping pembicaraan Jenaka dan Bunda tidak terlalu terkejut saat mendengar perkataan Mandala. Ayah bersikap biasa saja malah terkesan acuh dan bodo amat.


"Bolehkan aku dan Jenaka kembali membina rumah tangga, Yah?" pinta Mandala dengan tatapan penuh harap.


Ayah kini melihat Mandala. Menatapnya seakan mau mengulitinya hidup-hidup.


"Mengantarnya saja saya tidak ridho, apalagi kembali rujuk?! Kamu hari ini saya perbolehkan sarapan disini, besok jangan pernah menginjakkan kaki kamu di rumah ini lagi!" tegas Ayah.


Mandala sudah menduga tak akan semudah ini meyakinkan Ayah Jenaka. Setelah luka yang Ia berikan pada Jenaka, tidak mendapat tampolan di wajah saja sudah beruntung.


"Jika sudah selesai silahkan tinggalkan rumah ini!" usir Ayah. "Kamu Jenaka, jangan coba-coba menemuinya di belakang Ayah! Kamu masih Ayah yang bertanggung-jawab! Berangkat kerja sendiri atau lebih baik kamu tidak usah bekerja jika dia yang antar!"


Ayah pun berdiri dan pergi meninggalkan semuanya. Jenaka dan Mandala saling tatap. Usaha mereka gagal.


"Ayah memang keras kepribadiannya, kalau sudah memutuskan sesuatu, susah untuk mengubah keputusannya." ujar Bunda. "Maaf sekali Bunda tak bisa bantu banyak. Bunda hanyalah seorang istri yang harus menuruti perintah suaminya. Bunda hanya bisa mendoakan, jika memang kalian berjodoh maka akan kembali dipersatukan. Usaha dan berdoalah tanpa henti, teruslah meminta sampai Allah bosan dengan permintaan kalian dan akhirnya mengabulkannya." nasehat Bunda.


Jenaka dan Mandala keduanya lesu. Semangat kembali rujuk rupanya cepat padam dalam waktu singkat.


"Aku tak akan menyerah begitu saja, Jen. Aku pastikan akan segera menikahi kamu. Kamu tunggu aku ya."


"Pasti. Aku akan selalu menunggu Kak Mandala."


***

__ADS_1


__ADS_2